Obsesi Cinta Pertama

Obsesi Cinta Pertama
96. Tanggung jawab


__ADS_3

Seminggu sudah Mama Erika berpulang ke rahmatullah, seminggu itu pula Andrea terus mengurung diri di kamar seperti mayat hidup yang mati segan hidup tak mau. Mitha dengan sabar menemani Andrea yang terpuruk kehilangan mamanya.


Seperti malam ini setelah selesai acara tahlilan, Andrea masih dengan tatapan kosongnya meski semua sodara dan kerabat terus memberinya semangat dan dukungan untuk bangkit dan mengikhlaskan kepergian Mama Erika.


"Sayang, lihat dede bayinya gerak-gerak. Mereka kangen sama papanya" cerocos Mitha


Andrea melihat kearah Mitha dan perutnya yang sudah besar hingga lelehan air mata itu memaksa untuk keluar.


"Sayang, aku tahu kamu sangat kehilangan begitupun aku. Tapi kita harus bangkit dari keadaan ini. Aku ,anak-anakmu, dan adik bayimu sangat membutuhkanmu." ucap Mitha


"Maaf, maafkan aku Tha" lirih Andrea


"Kamu tidak salah sayang, kamu hanya perlu bangkit jangan seperti ini terus" tutur Mitha


"Mau pegang?" tawar Mitha


Tanpa menunggu jawaban Andrea, Mitha langsung mengambil tangan Andrea yang sedang duduk di sofa kamar dan menempelkannya di perut buncitnya.


"Sayang, papa pasti jagain kalian" ucap Andre lalu mencium perut buncit Mitha lama


"Aku harus bangkit demi anak dan istriku juga adik bayiku" batin Andrea


"Sayang, tidur yuk! aku ngantuk" ajak Mitha


Tanpa aba-aba, Andrea langsung menggendong Mitha ke kasur. Dibaringkannya tubuh Mitha perlahan lalu ditutup dengan selimut sampai ke dada.


"Tidurlah" ucap Andrea setelah mencium kening Mitha lama.


Andrea pun beranjak akan pergi, namun tangannya ditahan oleh Mitha.


"Sayang tidur sini, aku mau ditemenin" rengek Mitha dengan menepuk-nepuk kasur disebelahnya.


Ada seulas senyum terbit di sudut bibirnya melihat kemanjaan Mitha. Sangat jarang istrinya yang mandiri itu bersikap manja padanya kalau tidak Andrea pancing terlebih dahulu


"Dedenya mau ditengokin?" tanya Andrea, dan Mitha langsung mengangguk antusias


"Tunggu sebentar! papa mau ke kamar mandi dulu ya sayang" ucap Andrea dengan mencium bibir Mitha sekilas.


Malam panjang pun mereka lalui bersama, Mitha yang sengaja memancing Andrea untuk mengalihkan fokus Andrea dari kesedihannya. Entah berapa kali pelepasan Andrea dan Mitha nikmati bersama hingga menjelang dini hari barulah kegiatan panas hareudang itu selesai.


Drrttt drrttt drttt


Suara getaran handphone itu pun membangunkan Andrea yang baru terlelap dari tidurnya.


Terlihat di layar 'Papa is calling' hingga Andrea langsung mengangkat telepon dari papanya.

__ADS_1


"Hallo Assalamu'alaikum"


"......."


"Iya aku segera kesana"


Klik


Sambungan pun terputus dari pihak seberang.


"Ck! kebiasaan papa main matiin aja" dengus Andrea


Andrea pun langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah semuanya rapi, Andrea terlebih dulu membangunkan Mitha untuk memberitahukan kepergiannya ke negeri papanya. Karena diminta oleh Papa Jae Sung untuk membantu mengusut kematian Mama Erika.


Andrea mencium bibir Mitha sekilas untuk membangunkannya.


Mitha mengerjapka matanya kaget karena ada benda kenyal menempel di bibirnya


"Sayang bangun, aku pamit mau ketemu papa dulu" ujar Andrea


"Papa kesini?" tanya Mitha


"Nggak, aku yang kesana sekalian jengukin adik bayi dan kalau udah bisa dibawa naik pesawat nanti pulangnya aku bawa sekalian." terang Andrea, "maukan merawat adikku?" lanjutnya


"Jagain anak kita ya, aku pasti segera pulang" pesan Andrea lalu dia mengecup kening Mitha lama.


Meski berat meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar tapi papanya saat ini juga membutuhkannya.


"Tidurlah lagi, belum masuk waktu subuh." ujar Andrea.


Setelah mencium punggung tangan kanan Andrea, Mitha pun melanjutkan tidurnya karena badannya masih terasa lelah.


***


Sementara di lain tempat, tepatnya di ruang tamu sebuah rumah megah bergaya classic terlihat dua muda-mudi yang sedang disidang oleh seorang pengusaha sukses di bidang kontruksi. Dia Andika Wijaya ayah dari gadis bernama Cyntia Bella Wijaya.


Terlihat Aryana dan Bella diam menunduk dengan perasaan was-was. Pasalnya Tuan Wijaya mengetahui tentang kehamilan Bella entah tahu dari siapa.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan anak itu" tanya Tuan Wijaya


"Bella akan merawatnya pah" ujar Bella


"Meski tanpa seorang ayah? dan kamu anak muda, apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah mengetahui putri saya mengandung benihmu" cecar Tuan Wijaya

__ADS_1


"Saya akan mengakuinya anak yang dikandung Bella sebagai anak saya" jawab Aryana


Bingung? iya Aryana bingung harus bagaimana. Disatu sisi dia ingin merawat anak itu tapi disisi lain Aryana tidak ingin menikah dengan Bella gadis yang tidak dicintainya.


"Hanya mengakuinya? tanpa ingin bertanggung jawab terhadap putriku" murka Tuan Wijaya.


"Kalian tahu, bagaimana kehidupan anakmu tanpa sosok seorang ayah. Apalagi seorang anak yang lahir diluar pernikahan. Dia akan jadi cemoohan masyarakat, cemoohan teman-temannya karena dianggap sebagai anak haram. Padahal bukan anaknya yang haram tapi kelakuan kalian yang haram" bentak Tuan Wijaya


"Maafin Bella pah, Bella yang salah. Bella tidak berpikir sampai kesana" sesal Bella sambil terisak


"Bella akan tinggal di Paris pah sampai anak ini besar" terang Bella


"Saya akan bertanggung jawab tapi saya minta Bella mengikuti aturan saya sebagai suaminya dan mungkin saya tidak bisa memberikan kemewahan seperti yang Bella dapatkan selama ini dari Tuan" tutur Aryana.


"Tapi Ar, bukannya lo gak cinta sama gue?" tanya Bella


Aryana diam tidak menjawab karena jawabannya sudah pasti akan menyinggung Tuan Wijaya sebagai ayah Bella.


"Gue emang gak cinta sama Lo Bel, tapi gue gak akan biarin lo misahin gue dari anak gue"


"Sudah Bella, cinta akan menyusul seiring berjalannya waktu" tukas Tuan Wijaya


"Baiklah Tuan, mungkin besok saya akan datang bersama mama untuk melamar Bella" ucap Aryana


"Saya tunggu kedatangan keluargamu anak muda" ujar Tuan Wijaya.


Setelah berpamitan pada Tuan Wijaya, Aryana pun pulang dengan diantar Bella sampai tempat mobil Aryana terparkir.


"Ar, seriusan lo mau nikahin gue. Kalau tahu lo bakal tanggung jawab sama gue, kenapa gak dari dulu ya gue perkosa lo. xixixixi" kekeh Bella cekikikan dengan ide gilanya.


Pletak


Aryana langsung menyentil jidat Bella sehingga si empu jidat meringis kesakitan


"Otak lo tuh harus sering-sering dicuci pakai bayklin biar gak kotor pekat kayak gitu" sungut Aryana.


"Belum apa-apa udah KDRT sama calon istri." gerutu Bella


Aryana berjongkok di depan Bella lalu menempelkan tangannya di perut Bella.


"Papa pulang dulu ya, baik-baik sama mama jangan nakal" ucap Aryana mengajak bicara pada calon anaknya


Bella yang mendapat perlakuan manis dari Aryana diam mematung. Sungguh diluar dugaannya Aryana akan bersikap begitu meski Bella tahu sikap manis Aryana untuk anak yang dikandungnya dan bukan untuknya.


...*****...

__ADS_1


...Happy reading...


...Jangan lupa ya kawan like comment vote rate dan masukin juga ke favorite....


__ADS_2