
Mitha seketika mendongak melihat orang yang berbicara dengannya, dengan kasar dia menghapus air matanya.
"Terima kasih tapi anda tidak perlu repot-repot, permisi" sahut Mitha kemudian beranjak pergi
"Gadis aneh, udah jelas rapuh tapi sok kuat" sahut Zidan yang kebetulan tadi dia melihat seorang gadis menuju taman yang sepi seorang diri, karena rasa penasarannya hingga dia mengikutinya dan mendapati gadis itu sedang menangis dalam diam. Karena dia tidak tahan melihat gadis itu menangis dalam diam hingga Zidan pun menghampirinya.
Sementara Mitha saat keluar dari taman dia mendapati bis yang akan lewat apartemennya Andrea hingga dia pun mencopot sendal berhak 7 cm nya dan berlari mengejar bis. Dengan nafas terengah dia memasuki bis.
"Untung masih bisa ke kejar"( batin Mitha)
Penumpang yang melihat penampilan Mitha merasa aneh, dress yang cantik, mata sembab tak lupa sendal yang ditenteng. Benar-benar hanya dress nya saja yang cantik sedang yang memakainya sangat berantakan.
Drtt drtt drtt
Handpone Mitha terus saja bergetar tapi Mitha enggan untuk mengangkatnya hingga dia hanya membiarkan saja. Tapi karena merasa risih akhirnya Mitha pun mengangkatnya. Belum juga Mitha bicara handponenya sudah mati karena kehabisan daya.
*****
Sementara itu selepas Mitha pergi, Juliea melanjutkan langkahnya ke arah Andrea
"Brengsek lo Andrea!" seru Juliea kemudian dia cepat-cepat menyusul Mitha tetapi sesampainya di lobby Juliea dan teman-temannya kehilangan jejak Mitha hingga mereka terus menghubungi Mitha tapi tak satupun panggilannya diangkat
"Gimana nih? ga satupun panggilan dari kita diangkatnya, gw khawatir banget nih" ucap Juliea yang panik karena tidak bisa menemukan Mitha.
"Iya gw juga khawatir banget, gimana kalo kita minta tolong para cowok buat nyari Mitha" sahut Shiren yang disetujui oleh sahabatnya
Saat berbalik mereka berpapasan dengan Andrea yang sedang terburu-buru dengan sesekali melihat handphonenya.
"Kalian jangan khawatir! gw pasti menemukannya" sahut Andrea saat berpapasan dengan mereka.
Andrea terus melacak gps hp Mitha tapi jejak terakhir di sekitar halte bis hingga dia pun mulai meretas cctv dan mendapati Mitha naik bis dengan berlari mengejar bis. Tak hanya sampai disitu, Andrea mulai melihat cctv apartemennya yang memang terhubung dengan handponenya karena dia yakin Mitha pasti pulang ke apartemen miliknya. Saat dilihatnya Mitha memasuki apartemennya, Andrea langsung menancap gas menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai.
Brakk... dengan terburu-buru Andrea membuka pintu kamarnya. Didapatinya kamar yang masih gelap dan isakan lirih yang terdengar kadang kadang.
Disingkapnya selimut yang menutupi seluruh tubuh Mitha. Terlihat mata Mitha yang sembab
__ADS_1
"Kamu kenapa Tha? siapa yang menyakitimu?" gumam Andrea yang masih belum menyadari kesalahannya. diciumnya kening dan mata Mitha yang sembab.
Teringat tadi Mitha berlari mengejar bis tanpa alas kaki, Andrea pun mengecek telapak kaki Mitha. Dilihatnya ada beberapa bagian yang lecet mungkin menginjak kerikil kecil yang tajam. Kemudian diambilnya kotak P3K dan mulai membersihkan lukanya kemudian diberi betadine.
Selesai mengobati kaki Mitha, Andrea kemudian mencari handpone Mitha untuk mengabari teman-teman Mitha kalo Mitha sudah di rumah.
Karena rasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Mitha, Andrea pun mulai mengecek cctv gedung dimulai saat datang hingga Mitha pergi dengan setengah berlari dari ruangan.
"Shitt....dia pasti salah paham" umpat Andrea kesal, "Mitha pasti mengira kalo gw ada hubungan sama irene" gumamnya.
*****
Keesokan harinya Andrea bangun dengan tidak mendapati Mitha tidur disampingnya.
Dicarinya di kamar mandi tapi tidak ada dan saat mencarinya ke dapur dia hanya mendapati sebuah note dan sepiring roti untuk sarapan lengkap dengan susu hangatnya.
"Selamat sarapan suamiku♡, aku minta ijin ke rumah kakek"
"Kenapa dia tidak menungguku bangun dan berangkat bersama" gumam Andrea kemudian dia pun memakan sarapannya dan melanjutkan kembali tidurnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" sahut kakek dan nenek Mitha yang kebetulan sedang ada di warung kemudian Mitha pun menyalami kakek dan neneknya.
"Andrea ga ikut?" tanya Kakek Jo
"Dia sedang ada urusan kek" sahut Mitha dengan sedikit gugup karena berbohong
"Ada Mitha, kapan datang?" tanya bude Risma yang datang ke warung untuk belanja
"Barusan bude" sahut Mitha kemudian menyalami bude risma yang sudah seperti ibu keduanya karena selain masih memiliki hubungan saudara, sedari kecil Mitha dekat dengan bude Risma yang merupakan keponakan neneknya.
"Betah ngkos di kota" tanya bude Risma lagi
"Lumayan bude jadi jarang kesiangan apalagi sekarang suka ada pelajaran tambahan jadi pulang sorean juga ga takut kemaleman dijalan" sahut Mitha yang tidak semuanya berbohong
__ADS_1
"Hati-hati Tha jangan mau masukin teman laki-laki ke dalam kost an, noh si lusi juga hamil baru kemarin dinikahkan. Itu juga karena si lusinya ngancam mau bunuh diri, tadinya pacarnya gak mau tanggung jawab karena sama-sama masih sekolah" tutur bude Risma panjang lebar
Glek
Mitha menelan salivanya kasar " bagaimana kalo tetangga tahu aku udah nikah, siri lagi. pasti mereka ngira kalo aku hamil sebelum nikah padahal mah kan nyampe sekarang masih tingting" ( batin Mitha) sambil bergidik ngeri
" Iya bude tenang aja, aku bisa jaga diri kho" sahut Mitha sementara nenek dan kakek Mitha hanya senyum-senyum mesem
" Iya memang harus begitu, jangan sampai bikin malu keluarga kita" ucap bude Risma, " ya udah bude mau masak dulu buat makan siang" sambungnya.
"Iya bude, Mitha juga mau ke rumah dulu beres-beres mumpung pulang." sahut Mitha
Seperginya bude Risma, Mitha pun ke rumah untuk membereskan rumah karena pasti neneknya sibuk di warung.
Selepas dzuhur Mitha pamit pulang tapi dia tidak langsung pulang malah pergi ke pantai.
Setiap Mitha sedih ataupun rindu dengan ayahnya, Mitha selalu pergi ke pantai berharap akan bertemu dengan ayahnya meski semua itu tidak akan pernah terjadi.
Di sebuah batu besar Mitha duduk dengan lutut menyangga wajahnya, dia memandang lautan lepas. Sedari tadi dia hanya diam, pikirannya kosong hatinya hampa setiap kali dia teringat ayahnya
"Ayah aku kangen ayah...hiks hiks hiks..."
"Ayah apa aku akan medapatkan cinta seoranlg lelaki sebesar ayah mencintaiku?"
"Ayah kenapa mencintai sesakit ini, aku harus bagaimana? aku ga siap kalo dia meninggalkanku seperti ayah meninggalkanku"
Matahari sudah beranjak ke ufuk barat tapi Mitha masih tak bergeming dari tempatnya.
Takut, rasa takut kehilangan menguasai dirinya sehingga mengalahkan logikanya karena cintanya yang begitu besar.
Sebesar apa kita mencintai seseorang, sebesar itu pula rasa sakitnya saat dikecewakan.
...*****...
...Happy reading...
__ADS_1
Jangan lupa like comment vote dan favorite ya!