Obsesi Cinta Pertama

Obsesi Cinta Pertama
61. Berpulang ke rahmatullah


__ADS_3

Jedarrrr terasa disambar petir disiang hari seketika Mitha hanya diam mematung dengan buliran air mata jatuh di pipinya. Bagaimana bisa kakeknya masuk rumah sakit sedangkan tadi pagi sebelum berangkat masih sempat memberinya nasihat.


"Tha Mitha hallo Mitha masih disitu tidak"


"Iya bude aku masih disini hiks..."


"Cepat balik lagi kesini"


"Ta tapi kenapa bisa masuk rumah sakit bude? tadi pagi masih sehat gak kenapa napa hiks.."


"Kakek kena serangan jantung setelah rumah kalian disita bank."


"A apa bude disita? kho bisa?" pekik Mitha


"Ngomongnya jangan teriak Tha, budeg telinga bude. udah sekarang cepat pulang kesini"


"Iya bude besok pagi-pagi Mitha berangkat dari sini"


"Ya udah bude tutup dulu, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Tut


Hiks hiks hiks


Seketika Mitha menangis sesegukan mengingat kakek dan neneknya. Bagaimana bisa rumahnya disita sementara kakeknya tidak pernah sekalipun terlibat pinjaman pada bank, apa mungkin budenya tapi bagaimana mungkin sementara sertifikat rumah kakeknya yang pegang.


"Sayang kenapa?" tanya ibu Sinta yang baru datang setelah menutup kedainya.


"Kakek bu hiks hiks hiks..." tangis Mitha pecah dalam pelukan bu Sinta.


Bu Sinta hanya membiarkan saja Mitha meluapkan kesedihannya dengan terus mengelus punggung putri pertamanya.


Setelah terlihat agak tenang, bu Sinta pun kembali bertanya pada Mitha


"Kakek kenapa Tha?" tanya bu Sinta lembut


" Kakek kakek kakek masuk rumah sakit bu...hiks hiks" jawab Mitha dengan terbata


"Kakek kena serangan jantung setelah rumah disita bank bu hiks hiks hiks" ucap Mitha masih dengan tangisannya.

__ADS_1


Bu Sinta hanya menghela nafas dalam mendengar cerita putri sulungnya. Bagaimanapun mantan mertuanya adalah orang yang paling berjasa buat putrinya.


"Sayang tenang dulu yah, nanti ibu bicara dulu sama ayah kamu baiknya gimana.


Setelah bu Sinta berdiskusi dengan suaminya, akhirnya malam itu juga Mitha kembali ke ibu kota bersama bu Sinta, pak Erwan suami bu Sinta dan si kembar Reyna Reyno dengan mencarter mobil tetangganya bu Sinta.


Sesampainya di ibu kota terdengar sayup-sayup azdan shubuh dari mesjid yang dilewatinya.


"Assalamu'alaikum...nek nenek" panggil Mitha pada nenek Sri karena kata bude Risma nenek Sri tinggal di rumah karena darah tingginya lagi naik


Tak ada jawaban Mitha pun menggedor pintu rumah namun tetap tidak ada jawaban dari dalam. Hingga Mitha pun teringat kalau dia menyimpan kunci cadangan di tasnya.


Ceklek


"Assalamu'alaikum, nek nenek" Mitha terus memanggil tapi masih saja tidak ada yang menjawab salamnya.


Mitha mencari ke kamar nek Sri tapi tidak ada lalu ke tiap kamar ke dapur ke kebun belakang pun tapi tetap tidak ada. Saat teringat ada satu tempat yang belum dilihatnya, Mitha bergegas menuju kesana.


Dengan perasaan kalut Mitha membuka pintu kamar mandi


"Nenekkkkkk"


Mitha langsung memburu badan yang hanya berbalut handuk sedang terbaring dilantai kamar mandi dalam keadaan pingsan.


Bu Sinta, pak Erwan pak Supir dan kedua adik kembarnya langsung menuju arah teriakan Mitha


"Astgfirullah ibu" bu Sinta langsung menutup mulutnya dengan airmata yang terus memaksa untuk keluar.


Sedang pak Erwan dan pak Supir langsung mengangkat nek Sri dan membaringkannya di kamar.


Dengan air mata yang tak bisa berhenti keluar, Mitha memakaikan baju nek sri kemudian mencoba mengembalikan kesadaran nek sri dengan memberinya minyak kayu putih sembari menunggu dokter datang.


***


"Bagaimana dok keadaannya" tanya bu Sinta setelah dokter memeriksa keadaan nek Sri.


Sebelum menjawab pak Dokter menghela nafas terlebih dahulu


"Bu Sri harus dibawa ke rumah sakit, sepertinya dia koma" jawab pak dokter yang memeriksa nek Sri.


Setelah menghubungi bude Risma dan bude Rani, akhirnya nek Sri dibawa ke rumah sakit tempat dimana kakek Jo dirawat.

__ADS_1


Nenek Sri dan kakek Jo dirawat diruangan yang sama atas permintaan keluarga meski sebelumnya dipersulit oleh pihak rumah sakit karena ruang yang tersedia kelas Vip. Mengingat biaya yang fantastis yang harus dikeluarkan sedangkan asuransi yang kakek Jo miliki untuk kelas 2. Beruntung sebelum berangkat Mitha dikasih kartu sakti warna hitam oleh Andrea untuk keperluan yang mendesak. Sehingga akhirnya pihak rumah sakit menyetujui setelah Mitha memberikan black card untuk membayar deposit biaya.


***


Lima hari telah berlalu tapi kakek Jo maupun nenek Sri tidak ada perubahan sama sekali.


Ayah Erwan, Reyna dan Reyno sudah kembali sedang bu Sinta menetap karena tidak tega meninggalkan putri sulungnya dalam keadaan terpuruk. Meskipun dia tidak ikut merawat dan membesarkan Mitha tapi bu Sinta tetap seorang ibu yang telah melahirkan Mitha kedunia ini. Rasa sayangnya pada Mitha sama besarnya dengan rasa sayang pada kedua anaknya dari pernikahannya yang kedua.


Sudah lima hari Mitha menginap di rumah sakit dengan keluarga yang menemaninya secara bergantian.


"Assalamu'alaikum" ucap kakek Danu adiknya nek Sri yang baru datang untuk menjenguk.


"Wa'alaikumsalam kek" jawab Mitha kemudian menyalim tangan kakek Danu


"Bagaimana keadaannya Tha"


"Masih sama kek, kakek sama nenek tidak mau bangun dari tidurnya."


"Jangan ditinggalin, dijaga sambil bimbing baca Laa ilaaha illallah muhamadur rasulullah" ucap kakek Danu setelah memeriksa denyut nadi dan telinga nenek Sri dan Kakek Jo.


Mitha mengikuti apa yang kakek Danu katakan, dia bergantian membimbing nenek kakeknya membaca laa ilaaha illallah muhamadur rasulullah dengan sesekali mengajaknya bicara sedang kakek Danu terus mengaji duduk diantara kakek Jo dan nenek Sri.


"Nek, kek cepat bangun. jangan tinggalkan ade sendiri. ade sayang sama nenek dan kakek, maafin ade sering nyusahin kakek dan nenek. Ade mohon bangun nek kek, kasih ade kesempatan buat bahagiain nenek dan kakek" ucap Mitha dengan air mata yang terus menetes dipipinya


Namun semua orang sudah memiliki takdirnya masing-masing, selepas adzan ashar kakek Jo menghembuskan nafas terakhirnya.


Hancur hati Mitha hancur berkeping-keping mendapati pahlawannya gugur, namun dengan sedikit harapan dia berusaha tegar karena masih ada nenek Sri meskipun keadaannya masih belum sadar.


Tapi manusia hanya bisa berharap berusaha dan berdo'a karena guratan takdir tidak bisa rubah. Selepas magrib nenek Sri pun menyusul suami tercintanya menghadap sang pencipta.


Terasa runtuh seketika dunia Mitha harus menerima kenyataan kakek neneknya pergi untuk selama-lamanya.


Mitha membisu hanya deraian air mata yang tiada henti. Bu Sinta terus berada disamping Mitha berusaha menguatkan putrinya.


Keesokan harinya kedua jenazah di kebumikan di TPU dekat kediaman Mitha. Banyak saudara , teman dan kerabat jauh mengantar nenek dan kakek Mitha ke peristitahatan terakhirnya, begitupun dengan mama Erika dan papa Jae Sung yang menyempatkan hadir di pemakaman kakek Jo dan nenek Sri.


Semua pelayat sudah pulang tinggalan Mitha sendiri yang masih berjongkok diantara makam kakek Jo dan nenek Sri.


Tanpa Mitha sadari, ada seseorang yang ikut berjongkok disamping Mitha ikut mendo'akan kakek dan nenek Mitha.


...*****...

__ADS_1


...Happy reading...


...Jangan lupa like comment vote rate dan favorite ya!...


__ADS_2