
Setelah selesai mengobati luka bakar di tangan Mitha, Andrea dan Mitha langsung menuju ke kamarnya karena tadi teman-temannya sudah pamit pulang.
Mitha langsung menuju meja belajarnya sedang Andrea ke balkon memandang jauh ke arah kebun buah yang ada di belakang rumahnya sebagai penghalang rumah yang ditempatinya sekarang dengan mansion yang dibangun papanya. Tidak ada yang tahu dibalik rimbunnya pepohonan itu ada sebuah mansion yang megah dengan fasilitas lengkap dan penjagaan yang ketat.
Libur semester tinggal sebentar lagi, itu artinya dia harus mulai bersiap kalo dia ingin pulang dalam keadaan utuh setelah menjalani serangkaian test yang diberikan kakeknya.
Mungkin semua orang yang melihatnya bonyok sering mengira dia habis tawuran atau berantem termasuk juga Mitha tapi yang sebenarnya dari usianya 7 tahun Andrea sudah mulai belajar bela diri dan berbagai ilmu lain dengan pelatih khusus yang disiapkan untuknya dan saat libur sekolah tiba dia akan terbang ke negeri papanya untuk menjalani serangkaian test yang telah disiapkan oleh kakeknya. Belum pernah sekalipun Andrea pulang dalam keadaan fisik yang tanpa lecet atau tanpa lebam karena saat Andrea melakukan kesalahan dalam testmya sudah dipastikan dia akan mendapatkan hukuman fisik.
Kakeknya Andrea tuan besar Lee menginginkan pewaris yang kuat fisik dan mental makanya dia memaksa Andrea untuk mengikuti pelatihan khusus yang telah disiapkan.
Bahkan pernah saat dia berusia 15 tahun, Andrea dikurung di hutan lindung kakeknya selama satu minggu dengan bekal seadaanya. Andrea harus bertahan dari serangan hewan buas peliharaan kakeknya hingga pas terakhir masa testnya, Andrea berhasil keluar dengan keadaan hidup dengan luka disana sini dan berakhir tak sadarkan diri.
"Yang udah mau magrib, ga baik melamun." ucap Mitha sambil menyenderkan badannya ke pagar dengan wajah menghadap Andrea.
Sebenarnya dari tadi Mitha disitu tapi sedikit pun Andrea tidak menyadari keberadaan Mitha karena dia terlalu asyik dengan lamunannya.
"Aku gak ngelamun yang, aku hanya sedang merancang masa depan untuk kita." sahut Andrea sambil berpindah hingga mengungkung Mitha.
"Memang ingin seperti apa masa depan kita?" tanya Mitha
"Aku ingin cepat-cepat punya anak, agar ada yang nemenin kamu saat aku gak ada," sahut Andrea sambil mengelus-elus perut Mitha.
"Tapi aku ingin kamu selalu ada disamping aku Ndre," ucap Mitha sendu
"Aku juga sama yang," ucap Andrea sambil membawa Mitha ke pelukannya.
Andrea mulai melonggarkan pelukannya, dan dua benda kenyal itu saling menempel hingga saling mengecap menyalurkan semua rasa yang membuncah di dada. Lama mereka saling menikmati dengan semilir angin dan langit yang semakin gelap hingga sayup-sayup terdengar adzan magrib mereka pun melepaskan pagutannya.
Andrea langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Mitha kembali le meja belajarnya melanjutkan tugasnya sambil menunggu Andrea untuk sholat berjamaah.
*****
"Yang, ingin tahu gak siapa yang tadi membuatmu jatuh?" ucap Andrea saat keduanya sudah kembali dari makam malamnya.
"Siapa emangnya?"
"Kita lihat yuk rekaman cctvnya, aku juga penasaran," sahut Andrea sambil duduk di sofa kemudian menyalakan televisi.
Terlihat Mitha yang pergi ke dapur dan tak lama Resha menyusul tapi dia tidak masuk melainkan menunggu depan pintu dapur hingga pas Mitha mau keluar, Resha menjegal dengan kakinya hingga Mitha jatuh dan Resha langsung masuk dapur.
"Mungkin dia cemburu yang, karena tadi kamu cium aku depan dia." sahut Mitha santai
"Kho kamu gak marah yang, padahal aku marah banget sama dia. Kalo aja dia cowok udah ku ajak adu jotos" seru Andrea
__ADS_1
"Aku kasihan malah sama dia, karena dia menginginkan hal yang bukan haknya" sahut Mitha
"Udah akh yang mending kita bobo yuk bikin dedek bayi" sahut Andrea
"Berani emang?" sahut Mitha sambil pergi ke ranjang
"Wah nantanging, ayo sini kumakan kau" seru Andrea kemudian menyusul Mitha dan malah menggelitik Mitha.
Hahahaha
"Ampun bang ampun" sahut Mitha disela-sela tertawanya.
"Gak ada ampun kalo gak ada bayarannnya"
"Iya aku pasti bayar, udah ampun lepasin"
Andrea pun menghentikan aksinya dan bersiap meminta bayaran dengan mencondongkan pipinya.
Cup
Bukan pipi yang kena tapi bibir Andrea karena saat Mitha akan membayarnya, Andrea langsung menengokkan mukanya dan Andrea pun mendapatkan apa yang menjadi candunya.
Tok tok tok
"Ganggu aja sih" gerutu Andrea dan Mitha hanya tersenyum melihat kekesalan Andrea.
Ceklek! Andrea membuka pintu kamarnya dan terlihat bi Sumi ada di depan pintu.
"Itu den ada tuan Bens dan keluarga di depan," ucap bi Sumi memberitahukan kedatangan keluarga Mahardika yang akan menjenguk Andrea.
Ya memang Andrea selalu melarang keluarga Mahardika menjenguk Andrea saat dia di rawat di rumah sakit, meskipun dia selalu ditempatkan di ruangan khusus keluarga Mahardika tapi dia tidak mau orang tahu kalau dia bagian dari keluarga Mahardika.
"Iya bi nanti aku turun" sahut Andrea yang kemudian dia berbalik untuk pamit sama Mitha.
"Yang aku turun dulu ya! kamu kalo ngantuk tidur aja," sahut Andrea yang kemudian mencium kening Mitha sekilas sebelum berlalu pergi.
Tiba di ruang tamu terlihat pak Bens, bu Sarah istrinya pak Bens dan Felly yang sedang ngobrol dengan mama Erika.
"Nah ini jagoan om, sudah sehat boy?" tanya Bens
"Alhamdulillah om sudah segar bugar" sahut Andrea sambil menyalami pak Bens dan bu Sarah sedang pada Felly, Andrea hanya mengusak kepalanya.
Dan mereka pun terlarut dalam obrolan saling melepas kerinduan karena sangat jarang sekali kedua keluarga kakak beradik itu bisa menikmati waktu bersama.
__ADS_1
*****
Pagi pun menjelang Mitha dan Andrea sudah bersiap dengan seragam sekolahnya, mereka menikmati sarapan bertiga dengan mama Erika.
"De berangkat sekolahnya diantar supir aja ya!" ucap mama Erika setelah menghabiskan makannya.
"Gak mah aku mau bawa motor, mama kan ada motor matic." sahut Andrea, " nanti aku yang dibonceng sama Mitha, iya gak yang?" sambungnya.
"Mitha bisa bawa motor sayang?" tanya mama Erika
"Kalo matic sama bebek bisa mah." jawab Mitha
"Ya udah kalian berangkatnya hati-hati" ucap mama Erika, " mama berangkat duluan ya!" sambungnya. Andrea dan Mitha pun langsung menyalami mama Erika.
Tak berselang lama setelah mama Erika berangkat, Andrea dan Mitha pun berangkat ke sekolah dengan motor matic milik mama Erika.
"Yang aku peluk ya takut jatuh" ucap Andrea yang sudah ada di boncengan sedang Mitha pegang kemudi
"Iya tapi jangan kencang-kencang, nanti aku sesak" sahut Mitha sambil membenarkan helm.
Grep
Awww
Mitha langsung teriak saat Andrea bukannya memeluk ke pinggangnya tapi malah naik ke si kembar.
Hahahahaha
Sontak saja Andrea ngakak melihat reaksi Mitha.
"Aku gak mau boncengin kamu kalo kayak gitu mah," sahut Mitha cemberut
"Iya maaf deh yang, tadi aku sengaja hehehehe" sahut Andrea, "nih aku udah peluk pinggang kamu, ayo jalan nanti kita kesiangan." sambungnya sambil melingkarkan tangannya dipinggang Mitha.
Dasar Andrea sepanjang perjalanan ke sekolah tak hentinya dia mengelus perut rata Mitha berharap akan ada benihnya tumbuh disitu tapi bagaimana bisa tumbuh kalo menabur benihpun belum pernah.
...*****...
...Happy reading...
...Ditunggu ya like comment vote gift dan favoritenya, rate juga boleh!...
...Makasih untuk semua dukungannya, Author senang sekali mendapat dukungan dari reader semua....
__ADS_1