
Andrea yang mendengar suara papanya langsung membalikkan badannya dan menghambur memeluk papa yang sangat dirindukannya.
"Putra papa tambah ganteng ", ucap papa Jae setelah melepas pelukannya
"Mirip papa kata mama", sahut Andrea yang dibalas dengan senyum lebar papanya.
"Mana yang mau dikenalkan sama papa boy", tanya papa Jae
Mitha yang sedari tadi bengong melihat interaksi Andrea dengan papanya seketika tersadar dari lamunannya dan berubah jadi gugup
"Sayang sini", ajak Andrea pada Mitha dan Mitha pun mendekat ke arah Andrea dan papanya kemudian dia menyalami papa Jae
"Mitha om", ucap Mitha kikuk
"Bukan om Tha tapi papa sama kayak manggil ke mama, masa mama pasangannya om?", sahut mama Erika dan Mitha hanya teesenyum malu di depan papa Jae, sedang papa Jae masih terdiam memperhatikan Mitha dari atas sampai bawah kaki.
Papa Jae memang selalu waspada dengan orang yang baru dikenalnya.
Sedang Mitha yang ditatap seperti itu menjadi semakin gugup, dia hanya menunduk dengan telapak tangan yang menjadi dingin. Andrea yang tahu kegugupan istrinya segera menggenggam tangan Mitha untuk memberi ketenangan.
"Kenapa takut? menjadi pasangan Andrea tidak boleh menundukkan kepala", ucap papa Jae, " kau tahu dengan siapa kau menikah?", sambungnya.
Mitha seketika mendongak melihat ke arah papa Jae dan menjawab dengan anggukan.
"Tahu om eh pah", jawab Mitha
"Siapa Andrea?", tanya papa Jae ingin tahu sejauh mana Mitha tahu tentang jati diri putranya.
Sebelum menjawab Mitha melirik ke arah Andrea yang disuguhkan senyum manis suaminya, dengan anggukan Andrea mengisyaratkan untuk Mitha menjawabnya.
"Saya menikah dengan Andrea Nata Wiratama putra tunggalnya mama Erika dan kami sudah saling mengenal dari saat masih sekolah menengah pertama", jawab Mitha seadanya.
Papa Jae hanya tersenyum miring mendengar jawaban dari menantunya, "benar benar gadis yang polos seperti Erika dulu yang tidak tahu siapa laki-laki yang dinikahinya",(batin papa Jae)
__ADS_1
"Sudah yuk kita mulai makan malamnya", ucap mama Erika menengahi
Dan mereka pun makan dengan tenang, setelah selesai makan seluruh keluarga berkumpul di di ruang keluarga berbincang-bincang melepas rindu.
"De tidur disini saja, ini udah malem", ucap mama Erika saat jam sudah menunjukkan angka sembilan
"Gimana yang mau tidur disini gak, tapi kamu gak ada baju sekolahnya buat besok", tanya Andrea meminta persetujuan Mitha
"Gimana kamu aja, aku ngikut", sahut Mitha yang sedari tadi menjadi pendengar setia percakapan Andrea dan kedua orang tuanya yang kadang-kadang memakai bahasa asli papa Jae yang tidak dimengerti Mitha.
"Ya udah kita tidur disini mah", sahut Andrea, "Kalo gitu kita ke atas duluan mah pah, kayaknya Mitha dari tadi udah ngantuk", sambungnya pamit pada mama dan papa nya.
"Saya duluan ma pa", pamit Mitha sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Nanti papa tunggu diruang kerja boy, ada hal yang perlu papa bicarakan", ucap papa Jae
"Iya pah", jawab Andrea, "Ayo yang!", ajakny pada Mitha dan mereka pun pergi ke kamar Andrea yang ada di lantai 2.
Sesampainya dikamar Andrea, Mitha dibuat melongo dengan penampakan kamar Andrea. Sebuah kamar yang sangat luas di dominasi warna hitam putih dan abu dengan ranjang king size di tengahnya dan sofa bed yang menghadap ke tv dengan ukuran besar lengkap dengan home theaternya dan plays station dan dipojokan kiri ada drum juga gitar yang menggantung.
"Kamu gak salah nempatin kamar segede gini sendiri Ndre", tanya Mitha
"Sekarang kan gak sendiri, udah berdua sama kamu", sahut Andrea lalu membalikkan badan Mitha, "Maaf klo tadi kamu tegang ketemu papa", sambungnya
"Iya! tapi kenapa papa kamu serem banget Ndre, matanya itu tajem banget", sahut Mitha blak-blakan, "untung kamu ga kayak gitu", sambungnya
"Karena aku paduan mama sama papa, jadinya hanya dalam kondisi tertentu mataku seperti mata papa", terang Andrea sambil membawa Mitha menuju sofa empuknya
"Yang apapun yang terjadi, maukan kamu tetap disampingku", tanya Andrea setelah mereka sama-sama duduk.
"Selama kamu menginginkanku untuk selalu disisimu maka selama itu aku akan selalu bersamamu kecuali kamu menginginkanku pergi maka aku pun akan pergi karena aku tak akan memaksamu untuk mempertahankanku sementara hatimu tak menginginkannya.", sahut Mitha
"Aku akan tetap mempertahankanmu apapun yang terjadi kecuali jiwaku sudah berpisah dengan ragaku mungkin saat itu aku akan melepasmu", ucap Andrea sendu, entah kenapa dia merasa akan ada hal besar di depan sana yang menguji cinta mereka.
__ADS_1
suttt
"Kita baru aja nikah jangan ngomongin perpisahan bikin aku merinding", sahut Mitha sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Andrea dan Andrea hanya menatap dalam ke dalam mata Mitha hingga jarak diantara mereka pun semakin menipis hingga dahi mereka pun saling menempel
Cup
Andrea awalnya hanya menempelkan bibirnya tapi kemudian dia mulai memainkan bibirnya untuk menikmati bibir Mitha yang menjadi candunya, semakin lama semakin dalam ciuman yang mereka lakukan hingga akhirnya terputus karena suara ketukan pintu
tok tok tok
"De papamu sudah menunggu di ruang kerja", teriak mama Erika di depan pintu kamar
"Iya mah", sahut Andrea yang masih mengatur nafasnya karena hasrat yang memburu
"Yang aku ketemu papa dulu ya! nanti kita lanjut lagi, kamar mandi dibalik lemari besar itu", sahut Andrea yang sebelum pergi mencuri ciuman dulu.
Selepas Andrea pergi, Mitha pun membersihkan diri sebelum naik ke atas tempat tidur.
"Gak nyangka Andrea sultan juga, punya kamar hampir sama ukurannya dengan lapangan basket tapi kalo diluar kelihatannya ga terlalu besar giliran udah masuk bikin air liur netes", gumam Mitha sambil rebahan dengan gulang guling kesana kemari.
"Kho aku ngerasa ga pantes ya! mungkin kalo Lolita lebih sepadan karena dia kan cucu jenderal besar sedang aku?"
"Aku memang sudah beberapa kali main kesini tapi baru sekarang bener-bener masuk rumah Andrea karena aku selalu menolak hingga seringnya main di teras rumah dia aja"
"Kakek nenek apa yang harus aku lakukan? aku takut keluarga papanya tidak merestui sedangkan sekarang aku udah jadi istrinya"
Mitha terus saja berperang dengan pikirannya dengan insecurenya dengan ketakutannya hingga tak terasa dia pun tertidur saking lelahnya dengan pikirannya.
Setelah selesai urusan dengan papanya, Andrea langsung masuk ke kamarnya tanpa harus menguncinya karena otomatis pintunya terkunci di dalam. Dilihatnya Mitha yang tidurnya melintang memenuhi ranjang king size nya lalu dia pun membenarkan posisi tidur Mitha.
Sungguh jiwa lelakinya sedang diuji dengan pemandangan di depan matanya. Terlihat paha mulus Mitha terpampang jelas di depan matanya karena Mitha hanya memakai celana kolor miliknya ditambah baju kaos miliknya yang terlihat kebesaran di badan Mitha tersingkap sehingga menampilkan perut ratanya dan itu apalagi kenapa pelindung si kembar harus dilepas sehingga tercetak jelas tonjolannya.
"Akh sial....gw ga kuattttt", jerit Andrea dalam hati.
__ADS_1
...Happy reading...
Jangan lupa like comment vote dan favorite ya!