
Setelah dua malam Andrea dan Mitha menginap di rumah ibunya, kini mereka kembali ke ibu kota karena lusa akan kelulusan.
Mitha sangat menikmati moment-moment kebersamaannya dengan Andrea sehingga dia selalu mengabadikannya.
"Setelah hari ini, mungkin saat-saat seperti ini akan sangat kurindukan,"( batin Mitha)
"Sayang diem aja, ngantuk ya?" tanya Andrea yang melihat Mitha terdiam dengan pandangan melihat ke luar jendela mobil.
"Nggak! aku hanya berpikir mungkin nanti nengokin ibu sambil bawa anak," ucap Mitha asal
"Asyikkk mau jadi papa" ucap Andrea girang, "emang udah jadi yang bibit yang kutanam?" tanya Andrea dengan sebelah tangannya mengelus perut rata Mitha.
"Hehehhehe...ga tahu juga, kan aku belum lihat tanda-tandanya" sahut Mitha cengengesan.
Sesampainya di ibu kota hari sudah malam, Andrea sengaja tidak pulang ke apartemennya melainkan ke rumah mama Erika karena banyak titipan oleh-oleh dari ibu mertuanya untuk mamanya.
"Yah tidur, pantesan diem aja. padahal waktu di tol masih ngoceh" gumam Andrea saat sudah sampai di rumah mama Erika.
Andrea pun keluar dari mobil tanpa berniat untuk membangunkan Mitha.
Terlihat bi Sumi datang tergopoh-gopoh karena mendengar suara mobil.
"Den Andrea udah lama tidak pulang ke rumah, kemana saja?" tanya bi Sumi yang merasa kangen pada Andrea karena meskipun bukan dia yang melahirkan tapi sedari bayi bi Sumi lah yang membantu merawat Andrea.
"Iya bi, aku kan sibuk ujian kelulusan" ucap Andrea, "do'ain ya bi biar lulus" sambungnya.
"Pasti den, bibi do'ain biar den Andrea tercapai cita-citanya. aamiin"
"Aamiin" Andrea pun ikut mengamini do'a bi sumi, "oh iya bi tolong bawain tas sama oleh-oleh yang dibagasi ya, aku mau bawa Mitha ke atas dulu soalnya tidur" sambungnya.
Andrea meskipun terkesan badboy dan slengean tapi dia selalu sopan pada bi Sumi dan pekerja lainnya selama orang itu sopan dan tidak berbuat yang merugikan.
"Bi biar tasnya saya yang bawa ke kamar mas Andrea" sahut Tini menawarkan diri saat melihat bi Sumi hendak membawa tas dari mobil.
"Ga usah Tini, kamu bawa semua oleh-oleh ini ke dapur. Biar bibi yang bawa tas karena den Andrea tidak suka kamarnya dimasuki orang sembarangan." bi Sumi langsung menolak keinginan Tini daripada dia di tegor oleh majikannya, apalagi bi Sumi tahu Tini pernah dimarahin Andrea karena mengintipnya bermesraan dengan Mitha. Sudah bisa dipastikan Andrea bakal tidak suka kalau Tini masuk ke kamarnya.
"Si bibi mah gak pengertian banget" sungut Tini sambil menghentakkan kakinya.
***
Hari kelulusan pun telah tiba semua murid kelas XII merasa was-was dengan hasil ujiannya meskipun mereka merasa usahanya sudah maksimal tetapi perasaan itu selalu menghantui.
Berbeda dengan Andrea yang masa bodoh dengan ujiannya. Dia malah terlihat asyik sedang memainkan kepulan asap rokok dari mulutnya.
"Wisss si bos santuy nih" seru Dewa yang baru datang ke kantin belakang
__ADS_1
"Iyalah hidup tuh gak usah dibikin ribet, santuy aja men" sahut Andrea dengan senyam senyum gak jelas.
"Kenapa ya gue ngerasa semakin hari lu semakin mengerikan Ndre," heran Dewa dengan tingkah Andrea
"Maksud lo?" tanya Andrea
"Yah lu pikir saja sendiri kenapa lu suka senyam senyum gak jelas jadi mirip pasien RSJ" sahut Dewa
Plakkk
"Sialan lu! bilang gue mirip pasien RSJ" Sahut Andrea setelah sebelumnya menggeplak kepala Dewa pelan.
"Gue tuh cuma lagi keingetan sama ayang mbeb" sahut andrea kemudian.
Bagaimana tidak Andrea terus senyam senyum kalau malam dam paginya mendapatkan asupan nutrisi biologisnya.
"Parah lu Ndre bucin abis" cibir Dewa jengah
"Sakarepmu lah mo ngomong apa Wa, gue sih bodo amat" sahut Andrea malas
"Woyyyy anak kelas XII disuruh kumpul dilapangan" Teriak salah satu teman Andrea memberitahu teman-temannya yang sedang dikantin.
Semua siswa kelas XII berhambur kelapangan untuk mendengarkan pengumuman kelulusan.
Setelah mendengarkan kata sambutan dari kepala sekolah dan dewan guru, kini saatnya mendengarkan apa yang ditunggu-tunggu selama 3 tahun bersekolah.
"Kenapa kho lo murung sih yo" tanya Andrea saat melihat Gio diem aja tidak seperti teman yang lainnya yang terlihat gembira, "Lo gak lulus ya?" tanyanya kemudian.
"Gue sedih Ndre," jawab Gio lesu
"Lah bege lo, yang lain pengen cepet lulus kho lo malah pengen jadi siswa abadi" sahut Dewa yang ada disampingnya.
"Gue masih pengen sekolah disini bareng kalian, gue kan baru jadian dua bulan sama adik kelas. kalo gue lulus pasti gak tiap hari gue ketemu ma dia" sahut Gio melas
Andrea, Arjuna, Aryana dan Dewa serentak langsung menoyor kepala Gio.
"Sialan lo bege! kepala gue dizakatin main toyor-toyor aja, gue bilangain ke pak ustadz biar nyaho" pekik Gio
"Emang mau diapain sama pak ustadznya yo?" tanya Arjuna jengah
"Biar kalian disunat 2 kali" ketus Gio
Iwww
Keempatnya langsung memegang jagoan kecilnya, membayangkan kalau harus disunat dua kali.
"Ogahh" kompak Andrea, Arjuna, Aryana, dan Dewa.
__ADS_1
Sementara itu pak satpam tergopoh-gopoh untuk menemui kepala sekolah karena diluar gerbang ada anak sekolah lain sedang bergerombol ingin memasuki sekolah.
"Andres Ndre anak Tridaya nyerang" teriak salah satu teman Andrea sambil berlari kearahnya.
"Siapa yang punya masalah sama anak Tridaya? bukannya sudah hitam diatas putih sekolah kita berdamai?" seru Andrea marah, pasalnya sudah 2 tahun ini sekolahnya dan SMK Tridaya melakukan perjanjian untuk berdamai setelah ada korban meninggal.
"Yang mimpin nyerang siapa Gus" tanya Arjuna Tenang pada Agus yang tadi teriak-teriak
"Si Randy Jun" jawab Agus.
Arjuna hanya menghela nafas dalam mendengar jawaban Agus.
"Kayaknya Randy nyari gue Ndre, gue gak sengaja macarin ceweknya Randy," jawab Arjuna
"Maksud lo? lo rebut cewek dia gitu?" tanya Andrea
"Bukan rebut Ndre, gue gak tahu kalo cewek itu udah punya cowok soalnya dia ngaku single" jawab Arjuna
"Emang lo ketemu dimana ma dia" tanya Dewa
"Di club minggu kemaren" jawab Arjuna.
"Wah jadi kena karma si Randy, dulu si Mitha yang dia jadiin sephia nya Randy sekarang malah lo Jun yang jadi Sephia ceweknya Randy" sahut Dewa
"Apa lo bilang Wa? Mitha pernah pacaran ma Randy?" tanya Andrea penuh penekanan
"Salah ngomong lagi gue, bisa perang nih"(batin Dewa)
"Perhatian semuanya, anak-anak semuanya tidak boleh ada yang keluar sekolah, kondisinya sedang tidak kondusif" terdengar suara pengumuman dari kepala sekolah.
"Ayo Jun kita hadapi mereka" ajak Andrea pada Arjuna.
Arjuna pun mengikuti Andrea dari belakang begitupun dengan teman-teman lainnya.
"Berhenti kalian disitu," teriak kepala sekolah panik melihat semua anak muridnya malah menuju gerbang.
Seperti seekor tupai Andrea dan Arjuna meloncat ke atas pagar sekolah yang lumayan tinggi.
"Mau apa kalian kesini" tanya Andrea diatas pagar berdiri dengan angkuhnya.
Terlihat dari seragamnya ada puluhan anak Tridaya bergerombol duduk diatas motornya di depan gerbang sekolah tapi anehnya tidak seorang pun dari mereka yang membawa benda tajam.
"Ck! turun lo Ndre! begini cara kalian menyambut tamu?" seru Randy dibawah sana, "bukannya dibukain pintu, gerbangnya malah dikunci sama si botak" sambungnya.
"Kalian mau apa kesini?" teriak Arjuna sambil bersidekap dada disamping Andrea.
"Kalo orang yang udah bikin salah pasti negatif thinking terus, kita kesini mau ngajak kalian party bareng." teriak temannya Randy dan disambut dengan gerungan motor yang bersahutan.
__ADS_1
Akhirnya kedua sekolah merayakan kelulusannya di sebuah lapangan yang sudah disewa dengan diiringi music reggae.