
Episode sebelumnya...
Alvaro yang melihat itu merasa semakin kebingungan.
"Apakah gadis itu punya 2 kepribadian ganda? atau mungkin lebih?. " Ujar Alvaro berbicara dengan dirinya sendiri. Rania benar-benar gadis yang sulit dirinya mengerti karena karakternya yang bisa dengan cepat berubah hanya dengan hitungan menit saja.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
"Ahhhhhh." Rania sudah berada di atas kasurnya. Hari ini ia sangat kelelahan setelah berolahraga dan harus berlarian di rumah sakit mencari keberadaan Alvaro.
"Untung saja tadi aku langsung menyadarinya. " Ujar Rania, mengingat kejadian tadi sore saat dirinya meminta maaf untuk laptop Alvaro yang disangkanya rusak.
Rania kemudian bangun dari tempat tidurnya dan membuka kunci lemari pakaiannya, di dalam sana ada benda berbentuk sapi dengan bolongan di atas kepala sapi tersebut yang berbentuk persegi dengan ukuran yang kecil, hanya cocok untuk di masukkan koin dan uang kertas yang di lipat. Tidak salah lagi itu adalah celengan Rania.
"Ahhh sayangku. " Rania mengelus-elus celengan nya dengan penuh kasih sayang.
"Raniaaa? " Suara panggilan mamanya mengalihkan perhatian Rania, gadis itu kemudian buru-buru menyimpan celengan nya kembali dan bergegas membuka pintu kamarnya.
"Iya ma. "
"Ayo turun, makan malam dulu? kok bajunya belum di ganti nak?. "
"Iya mah, bentar lagi kau nyusul mau ganti baju dulu. "
"Ya udah mama mau manggil Reno dulu. "
"Oke ma. " Rania menutup pintu kamarnya dan segera mengganti seragam sekolahnya yang seharian ia gunakan. Gara-gara harus menemui Alvaro tadi sore, Rania yang hari ini ingin bersantai di rumahnya sepulang sekolah harus buru-buru ke rumah sakit.
###
Di tempat lain, terlihat Alvaro yang sedang sibuk mempersiapkan materi yang akan di ajarkannya untuk besok, setelah menyelesaikan tugasnya Alvaro menuju ke pembaringannya, hari ini dirinya cukup lelah mengajar dan menangani beberapa pasien sebelum benar-benar pulang ke rumahnya sendiri di tambah lagi laki-lami itu harus memikirkan cara menaklukkan Rania yang sudah hampir tidak bisa di kontrol itu.
Alvaro tidak habis pikir biasa-bisanya gadis itu mengikutinya masuk ke ruangannya, meminta maaf dan hampir membuat Alvaro mempercayai ucapannya hingga semenit kemudian setelah gadis itu meminta maaf, tiba-tiba saja sikapnya berubah lagi.
"Apakah gadis itu sedang mengujiku? ."
"Kenapa pula dia yang harus mengujiku, harusnya aku yang mengujinya dan mengatirnya. " Alvaro mengomel sendirian dan sibuk dengan pikirannya sendiri, kmeudian memutuskan untuk tidur saja.
Alvaro membalikkan badannya ke sisi yang lain, hingga matanya tidak sengaja menatap gambar dirinya bersama seorang gadis yang sangat dirindukannya.
"Apa kabar? ku harap kau baik-baik saja. " Batin Alvaro.
__ADS_1
###
Suasana kelas di siang hari itu tampak sangat heboh karena guru yang harusnya mengajar di jam itu tidak datang otomatis kelas mereka tidak ada pembelajaran, membuat seisi kelas kegirangan. Beberapa murid ada yang keluar kelas untuk mencari tempat yang aman menghisap rokoknya, sementara murid yang lain asik membuat kelompok bergosip tanpa terkecuali Melinda dan Rania.
"Rania, nyanyi dong. " Ujar Diki kepada Rania yang sedang asik bergosip membahas film baradahuwi yang di tonton nya secara ilegal padahal Bagus sudah mengajaknya untuk nonton di dalam minggu kemarin. Namun, Rania dengan tegas menolaknya karena merasa tidak tertarik dengan ajakan Bagus.
"Mau di nyanyiin lagu apa emangnya?. " Jawab Rania.
"Ya kayak biasanya aja lah yang viral-viral gitu. "
"Oke, siapa takut. " Ujar Rania, membuat teman-temannya yang mendengar itu menjadi semangat karena Rania akan bernyanyi, hal itu menjadi hiburan tersendiri di kelas 12 IPA 2 tersebut meskipun suara Rania pas-passan tapi mereka semua sangat senang karena Rania pandai membuat suasana menjadi terasa seru.
Rania kemudian berjalan ke depan kelas di ikuti oleh Diki yang akan menjadi ala-ala pembawa acaranya.
"Marilah kita sambut artis baru kita yang akan membawakan lagu-lagu viral di tahun ini, tolong berikan sambutan yang meriah kepada artis kampung kita, Rania Geraldine..... "
Teman-teman kelas Rania bersorak dan bertepuk tangan, beberapa di antaranya termasuk Diki bertugas menjadi pemain musik dadakan dengan alat musik berupa meja dan bangku yang di pukul sehingga mengeluarkan nada yang meskipun tidak nyambung dengan lagunya, yang penting mereka senang.
"Di putusin pacarmu, ditinggalin pacarmu, jangan curhat dengankuuuu, no komen akuuuuu.. Semuanyaaaaaa. " Teriak Rania heboh.
"No komen itu sih derita lo masa bodo gak mau tau. " Balas teman sekelas Rania tidak kalah heboh.
Alvaro yang baru saja melewati kelas Rania, muncul di depan pintu kelas membuat semua teman-teman Rania yang melihat Alvaro berhamburan ke bangkuanya masing-masing. Ini adalah kali kedua Alvaro mendapati Rania bernyanyi dan membuat satu kelasnya heboh.
Rania yang tadi sudah naik ke meja guru, langsung loncat turun dari meja guru tersebut.
"Kenapa turun?. " Tanya Alvaro dingin.
"Ya masak mau di atas pak. "
"Naik lagi ke atas. " Perintah Alvaro yang langsung di ikuti Rania dengan ragu-ragu.
"Hari ini karena guru yang harusnya mengajar di jam ini tidak dapat hadir maka saya sebagai wali kelas baru kalian menggantikan Bu Hani wali kelas kalian sebelumnya. Hari ini saya yang akan masuk menggantikan guru yang tidak dapat hadir agar kalian semua tidak keluyuran di luar kelas dan membuat keributan seperti ini. "
Alvaro berbicara panjang lebar, menjlaskanbtugas barunya sebagai wali kelas sekaligus guru pelajaran Biologi di kelas Rania.
"Tapi karena salah satu teman kalian ini sangat senang bernyanyi jadi tidak ada salahnya untuk memberinya kesempatan memperlihatkan keahliannnya bernyanyi di depan kita semua. " Lanjut Alvaro membuat semua murid di kelas Rania menjadi heboh dan bersorak senang.
"Eits, tapi.. tapi hanya Rania yang boleh mengeluarkan suaranya yang lain hanya boleh menonton dan duduk di tempat kalian masing-masing tidak ada yang boleh berdiri dan bersuara kecuali Rania. " Alvaro menenangkan muridnya yang heboh.
"Oke Rania lanjutkan lagu yang tadi. " Perintah Alvaro kepada Rania.
"Haaa? gak mau pak. " Rania menolak.
"Raniaaaa." Bentak Alvaro.
__ADS_1
"Tapi gak usah di atas meja ya pak, di bawah aja. "
"Terserah."
"Sialan, orang ini emang udah ngerencanain buat aku malu kayaknya. Kurang ajar!. " Batin Rania.
"Ayo Rania. " Ujar Alvaro lagi.
Rania dengan wajah memerah menahan malu akhirnya bernyanyi, namun dengan suara yang sangat pelan.
"Apa? kami yang ada disini tidak mendengar suara kamu. " Ejek Alvaro.
"Kalian semua dengar tidak, tadi Rania nyanyi apa?. "
"TIDAK PAK. " Jawab teman sekelas Rania, serentak.
"SIALAN! aku dikerjai hanis-habissan. " Batin Rania memandangi Alvaro yang sedang menyeringai kepadanya.
"Kamu kalau tidak pandai bernyanyi tidak usah di paksakan dan tidak usah mengajak teman-temanmu yang lain membuat keributan, mengganggu kelas yang lain. " Ujar Alvaro kepada Rania.
"Tapikan saya disuruh pak sama mereka. " Teriak Rania menunjuk teman sekelasnya.
"Kamukan bisa menolak. "
"Bapak ini kenapa sih selalu sensitif kepada saya. "
"Kamu selalu memnbantah yah ucapan orang yang lebih tua, mau kamu saya laporkan ke kepala sekolah. "
"Laporin aja, pak. Akukan gak salah. "
"RANIA." Teriak Alvaro.
"Iya PAAAAK. " Balas Rania.
Rania yang menyadari bahwa yang ada di depannya adalah gurunya menjadi terkejut sendiri dengan teriakannya barusan, Rania kemudian akan berlari mengambil tasnya berniat untuk melarikan diri, namun di tahan oleh Alvaro yang menarik tangannya dan tiba-tiba saja Rania kehilangan keseimbanganya untung saja Alvaro berhasil menangkap tubuh Rania dengan sigap hingga Rania masuk ke dalam pelukan laki-laki itu.
Teman satu kelas Rania yang menyaksikan hal itu juga menjadi kaget dan kembali heboh, ada yang bersiul dan ada juga yang bertepuk tangan seperti melihat pemandangan yang menakjubkan di depannya.
"Cie cieeeeee. "
"Cieeee." Ejek satu kelas Rania, membuat Alvaro dan Rania tersadar saling melepaskan dirinya satu sama lain.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca klik like dan tinggalkan komentar kalian. Saran dan masukan yang positif akan sangat berguna untuk penulis menjadi lebih baik lagi ke depannya.
__ADS_1
Author
#kimel#