
Episode sebelumnya...
"Terima kasih. " ucap Alvaro, sepertinya perempuan-perempua di sekolah ini memang aneh, haruskah dirinya pi dah ke sekolah yang lain?
###
Happy Reading and enjoy guys.
###
Rania berjalan mondar mandir di dalam. kamarnya, ia seperti kehabisan akal untuk menemukan ide apalagi yang harus ia lakukan selanjutnya agar Alvaro mau menjadi pacarnya? Apakah dia harus menyewa nya untuk menajadi pacar pura-pura? Tapi rasanya itu tidak mungkin uang Alvaro pastinya jauh lebih banyak darinya.
"Ahhhhhhh huhhhhh. " Rania berteriak prustasi di dalam kamarnya.
Kerena merasa prustasi Rania memutuskan untuk menonton film di lantai bawah, namun saat sudah berada di lantai bawah Rania justru melihat mamanya yang sedang tertawa-tawa sambil menutup wajahnya, mamanya sedang menonton Televisi, Rania kemudian duduk di samping mamanya.
"Dih ternyata ada kanjeng ratu disini. " Ucap Rania namun, mamanya itu tidak menghiraukan Rania dan asik menatap layar televisi sambil sesekali berteriak histeris.
Rania yang merasa di abaikan akhirnya ikut-ikutan menonton tayangan di televisi itu yang memperlihatkan orang-orang ramai yang sedang berada di sebuah rumah sakit dan ada satu orang gadis yang terlihat sangat mencolok karena sedang berteriak-teriak kepada orang-orang yang sedang ramai itu bahwa dirinya sudah berpacaran dengan seorang laki-laki tampan yang berada di dekatnya, gadis itu nampak sangat kegirangan melihat ekspresi terkejut orang-orang di rumah sakit itu sementara si laki-laki hanya pasrah saja sambil tersenyum kikuk.
Ramia tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknua seperti mendapat penglihatan untuk ide berikutnya.
"Fantastis, ini dia yang harus aku lakukan di sekolah di kelas pelajaran biologi selanjutnya HAHAHAHA. " Rania tertawa girang dan langsung memeluk mamanya.
"Aduh, aduh Rania bisa gak sih jangan gangguin orang lagi serius nonton. " Omel mama Rania.
"Makasih mamaku yang cantik. " Rania mencium pipi mamanya dan berlari kembali naik ke atas kamarnya untuk memikirkan agar rencananya berjalan lancar.
"Kali ini pasti berhasil. " Lirih Rania.
###
"Hah, gila ya kamu Rania?? " Teriak Melinda yang baru saja mendengar penjelasan sahabatnya itu tentang kejadian yang terjadi beberapa hari kebelakang.
"Huss jangan terlalu berisik diliatin orang tau. " Ucap Rania memperhatikan sekelilingnya lalu tersenyum manis kepada orang-orang yang merasa terganggu karena teriakan sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang berada di dalam perpustakaan.
"Hah, kamu beneran mau macarin pak Alvaro?. " Tanya Melinda lagi.
__ADS_1
"Iyalah emang kapan aku bercanda. "
"Sering, selalu bahkan keseringan. " Jawab Melinda cepat.
"Aduh Melinda, kali ini aku gak bercanda. "
"Emangnya bisa gitu? udah deh ngalah aja itu gak bakalan pernah bisa terjadi Rania, pak Alvaro nya aja udah dewasa gitu gak bakalan mungkin dia mau sama anak-anak seumuran kita, apalagi sama kamu yang udah bikin dia hampir ilfil tiap ketemu. "
"Kamu kok gak ngedukung aku banget sih emangnya kamu mau kalau aku di jadiin babu sama geng-geng orang caper itu. " Rania merasa sebal karena sahabatnya itu ikut merahukan dirinya.
"Rania, bukannya aku ngeraguin kamu tapi dari sisi pak Alvaro nya gak bakalan bisa nerima anak-anak kayak kita?. "
"Anak-anak?, kita kan bentar lagi 18 tahun Mel, udah ada KTP juga bahkan udah bisa jadiin jaminan pinjol loh. "
"Ah Rania, giliran di ajak serius malah bercanda. "
"Hehehe, lagian kamu bantuin aku kek Mel, culik Alvaro gitu pake kuasa bapakmu terus paksa dia biar mau jadi pacarku. "
"Pak Alvaro Rania bukan Alvaro, ih kalau bapakku mafia nih yah kamu yang duluan aku culik terus ku kirim ke luar negeri biar bisa deketin Reno deh. " Melinda membayangkan jika saja ayahnya sungguh mafia akan ia lenyapkan satu persatu orang-orang yang berpotensi menghalangi cintanya dengan Reno.
"Idihhh najis. " Sinis Rania.
"Kamu tuh orang lagi cerita tentang cintaku juga malah balik cerita tentang cintamu . "
"Idih, emang kamu beneran cinta sama pak Alvaro?. " Tanya Melinda dengan nada menggoda.
"Enggak lah, siapa juga yang mau sama orang yang udah tua. "
"Lah terus ngapain caoek-capek mikirin cara dapatin dia?. "
"Ya buat taruhan lah, Mel, aku harus menangin taruhan itu kalau gak aku jadi babunya mereka emang kamu tega gitu ngeliat aku di perintah-perintah sama mereka. "
"Lagian kamu juga ngapain pake nantangin Rania?. "
"Yah namanya juga emosi sesaat Mel. "
"Gak boleh gitu tau Rania, kita gak boleh permainin orang apalagi ini tentang perasaan, nanti kalau kamu bener-bener jatuh cinta kamu juga loh yang bakalan sakit, kalau sampai pak Alvaro tau cuman di jadiin bahan taruhan. " Melinda menasehati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Idih najis tau Mel, mau sampai bagi kentutpun aku gak bakalan pernah jatuh cinta sama dia. "
"Hmm hati-hati loh sama ucapan sendiri. "
"Ih kamu tuh bukannya ngebantuin malah ngedoain yang enggak-enggak. "
"Sebagai teman yang baikkan aku cuman mau... "
"Jadi mau bantuin atau nggak nih?. " Tanya Rania terlihat serius kali ini, dirinya merasa akan marah jika sahabatnya itu terus menceramahi dirinya.
"Hm ya udah deh emangnya rencana kaku selanjutnya apaan?. " ucap Melinda pasrah, percuma saja ia tidak akan menang melawan Rania untuk berdebat, pernah sekali waktu mereka memperdebatkan tiket film untuk menonton di bioskop yang berakhir mereka tidak berbicara selama berhari-hari untungnya Rania yang menyadari keegoisannya mau mengalah dan meminta maaf duluan dengan membelikan tiket nonton bertiga bersama Reno yang membuat Melinda langsung memaafkannya saat itu juga.
"Nanti sepulang sekolah aku bakalan ngejelasin rencana aku ke kamu. "
"Kenapa gak sekarang aja?. "
"Aduh ceritanya bisa panjang rencananya kalau di bahas disini bisa-bisa ada orang lain yang denger. "
Melinda lalu memperhatikan sekitarnya dan merasa Rania ada betulnya juga, jarang antara orang yang satu dengan orang lain disini saling berdekatan, mereka bahkan sudah berusaha bersuara sekecil mungkin namun tetap saja ada orang yang menatap mereka dengan sinis.
"Kalau mau ngegosip jangan disini, pulang aja sana. " Ujar seseorang.
"Kenapa, masalah buat kamu? emangnya ini perpus nenek moyangmu hah?. " Teriak Rania.
"Ran.....?. " Melinda memanggil Rania dengan panik, gadis itu benar-benar kesabarannya setipis tissu.
"Kalau mau ribut di lapangan sana, keluar!. " Bentak seseorang yang saat ini sedang menatap Rania dengan ekspresi kesal.
"Iya ini juga aku emang mau keluar kok, ingat yah kamu belum selesai sama aku. " Tunjuk Rania kepada ank laki-laki berkacs mata yang duduk di dekatnya dan menegurnya tadi.
"RANIAA, Keluar!. " Teriak penjaga perpustakaan.
Melinda dengan cepat menarik tangan sahabatnya itu lalu melangkah dengan cepat untuk keluar dari ruangan perpustakaan.
Bersambung...
Note : Terimakasih yah, jangan lupa klik like, vote, subscribe dan komen yah untuk membantu author.
__ADS_1
Author
#kimel#