
Episode sebelumnya.. .
"Begini Bu Dokter, obat yang minggu lalu kayaknya kurang berefek untuk suami saya, mungkin saya bisa di berikan resep obat yang lai atau mungkin resep obat yang minggu lalu bisa di tambah yah dosisnya, atau bagaimana baiknya saja. " Ucap ibu-ibu itu.
###
Happy Reading an Enjoy Guys.
"Siapa nama Suami ibu?. " Tanya Rania.
"Suami saya ini namanya Dodi Sudrajat, Bu Dokter. "
"Oh ok saya akan cari dulu yah berkas-berkasnya. " Rania membuka dan mengutak atik beberapa buku yang ada di atas meja Alvaro dan menemukan sebuah buku yang berisi catatan para pasiennya.
"Pada Dodi Sudrajat yah?. " Tanya Rania memastikan.
Gadis itu sama sekali tidak mengerti sebenarnya namun karena sudah terlanjur berbohong mau tidak mau di lanjutkannya saja kebohongannya itu.
Setelah melihat catatan kesehatan dan obat apa yang di gunakan oleh Pak Dodi Sudrajat itu kemudian Rania mencari-cari obatnya di lemari khusus obat yang berada di dalam ruangan kerja Alvaro itu.
"Aduh ini tulisan di catatannya apaan sih kayak cakar ayam, jelek banget. " Lirih Rania merasa kebingungan mencocokkan catatan Alvaro dan nama-nama obat yang akan di berikan kepada Pak Dodi.
Rania terus mencoba mencocokkan catatan Alvaro dengan nama obat yang tertera pada tiap tablet yang sedang Rania utak atik saat ini.
"Nah ini dia New Enzyplex Strip yang mengandung Vit B1 untuk orang dewasa yang mengalami ke kurangan gizi. " Ujar Rania berbicara dengan dirinya sendiri.
"Nah ini pak, obatnya. " Rania memberikan beberpa tablet obat kepada Pak Dodi tanpa memberikan resep dan cara minum ataupun memeriksa orang itu terlebih dahulu. Rania tidak mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Itu saja Bu dokter?. " Tanya ibu-ibu tadi.
Rania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, karena sebenarnya ia juga tidak yakin apakah itu sudah tepat atau belum, suami istri itu kemudian keluar dari ruangan Alvaro, sementara Rania agak gelisah setelah memberikan obat tadi tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika seandainya dia memberikan obat yang salah.
"RANIA?. " Teriak Alvaro yang kaget melihat Rania sedang duduk di kursinya dan memakai jas putihnya.
"Pak Alvaro. " Rania panik dan langsung melepaskan jas tersebut dari tubuhnya.
"Ngapain kamu disini?. " Tanya Alvaro dengan ekspresi wajah yang menunjukkan tidak suka dengan sikap Rania yang seperti ini.
"Eh maaf Pak. "
"Keluar dari ruangan saya!. " Bentak Alvaro .
"Tapi, pak saya. "
__ADS_1
"KELUAR, jangan suka masuk ke ruangan orang lain kalau orangnya lagi gak ada di dalam gak sopan Rania, Keluar sekarang!. " Kini Alvaro membentak Rania.
Rania langsung berlari keluar dari ruangan kerja Alvaro, merasa ngeri juga melihat laki-laki itu marah.
"Dasar galak. " Teriak Rania dari luar pintu.
###
Malamnya suasana di ruangan kerja Alvaro terlihat sangat heboh dan ribut. Rupanya ada keluarga pasien yang sedang mengamuk di dalam ruangan Alvaro dan meminta pertanggung jawaban Dokter itu.
"Gara-gara dokter suami saya jadi seperti itu, sudah sejak sore muntah-muntah. " Teriak ibu-ibu yang katanya suaminya muntah-muntah sejak sore.
"Iya, ibu tenang dulu dan jelaskan bagaimana situasinya, saya benar-benar tidak mengerti. " Alvaro mencoba menenangkan ibu-ibu tersebut.
"Saya gak mau tau dokter harus bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu sama suami saya. " Balas ibu-ibu itu namun Alvaro sungguh tidak mengerti mengapa ibu-ibu itu datang dan meminta pertanggung jawaban darinya.
"Baik saya akan bertanggung jawab apabila saya memang ada salah, tapi tolong jelaskan di mana letak kesalahan saya. "
"Ini, gara-gara asisten dokter yang ngasih ini ke suami saya. " Ibu-ibu itu melemparkan tablet obat kepada Alvaro.
Alvaro sontak terkejut dan langsung mengerti dengan situasinya, sepertinya ada yang salah memeberikan obat kepada sumai si ibu-ibu tersebut.
"Kita akan selesaikan ini baik-baik, saya akan bertanggung jawab penuh jika memang terjadi sesuatu yang merugikan ibu, saat ini tolong bawa saya ke ruangan suami ibu di rawat. "
Setelah satu jam berada di ruang ICU dan bekerja sama dengan seorang dokter ahli bedah Alvaro kemudian keluar dari ruangan gawat darurat itu.
"Bagaimana kondisi suami saya Dokter?. " Ibu-ibu itu segera berlari ke arah Alvaro.
"Kondisi bapak saat ini sudah baik-baik saja, tinggal istirahat yang cukup dan makan teratur, lain kali jangan menerima obat dari sembarangan orang, jika ibu pergi ke ruangan saya dan bukan saya langsung yang memberikan obat itu jangan di Terima. " Ucao Alvaro.
"Untuk kbiaya pengobatannya selama di rumah sakit saya akan menanggung semuanya hingga suami ibu benar-benar sehat, tolong masalah ini jangan di perpanjang. " Lanjut Alvaro sambil memegang tangan ibu-ibu tadi memohon dengan sangat.
"Tolong maafkan saya kali ini saja dan berikan saya kepercayaan sekali lagi, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat suami ibu kembali sehat dan memberikan fasilitas terbaik di rumah sakit ini untuk kesembuhan suami ibu. " Ucap Alvaro lagi bersungguh-sungguh, ibu-ibu itu kemudian memeluk Alvaro sambil menangis terharu.
Akhirnya setelah bercakap-cakap sebentar dan mencapai kesepakatan dengan keluarga dari Pak Dodi Sudrajat yang kondisinya tadi hampir kritis karena sakit perut setelah meminum resep obat yang kurang tepat pada masa pemulihannya.
Sebenarnya Pak Dodi Sudrajat itu sudah keluar dari rumah sakit sejak minggu lalu. Untungnya keluarganya segera membawanya ke rumah sakit lagi. Masalah dengan keluar Pak Dodi Sudrajat pun dapat di selesaikan dengan kepala dingin.
Namun, masih ada masalah lain untuk Rania yang berpura-pura menjadi asistennya, Alvaro akan membuat perhitungan kepada gadis nakal itu.
###
Rania sesuai asik mendengarkan musik di ruangan Papanya sambil menikmati cemilan yang di pesannya dari luar.
__ADS_1
Brakkk
Pintu ruangan kerja Papa Rania seperti di buka dengan paksa, memperlihatkan Alvaro yang terlihat sangat emosi menatap ke arah Rania dengan tatapan yang seperti akan memakan Rania hidup-hidup.
Rania yang melihat itu sontak terkejut.
"Pak Alvaro?. "
"Sini kamu. " Alvar menarik gadis itu dan membawanya ke tempat sepi yang jarang di lalui oleh orang-orang di rumah sakit itu.
"Aduh, pak Alvaro sakit. " Rintih Rania merasa pergelangan tangannya akan patah karena di genggam terlalu erat oleh Alvaro.
Setelah sampai di sm tempat yang sepi itu Alvaro langsung mendoring tubuh Rania dengan kasar ke arah tembok, Rania yang belum menyadari kesalahannya menatap mata Alvaro dengan tatapan menantang.
"Apa-apaan sih Pak Alvaro, bapak mau nyakitin saya? Bapak pikir saya takut?. " Tantang Rania.
Alvaro langsung membungkam mulut gadis itu.
"Tau nggak kesalahan kamu apa? Hah? Kamu hampir aja bunuh orang lain tau?. "
Bentak Alvaro.
"Maksudnya?. " Rania masih belum mengerti kesalahannya.
"Pak Dodi, Pak Dodi hampir kritis gara-gara kamu yang sok tau, sok pintar. " Teriak Alvaro menunjuk-nunjuk ke wajah Rania.
Rania yang mendengar itu langsung shock.
"Pak Dodi kenapa?. " Rania sudah menyadari kesalahannya yang sepertinya berakibat sangat fatal.
"Kamu tuh hampir bunuh orang tau! Kamu hampir jadi pembunuh, gak ada otak kamu yah, gak mikir kamu? Hah? Di mana otakmu? " Bentak Alvaro
"Sssaya... " Rania gugup, bibirnya mulai bergetar.
"Kamu tau nggak gara-gara kamu yang sok pintar dan sok tau ngasih obat sembarangan rumah sakit papa kamu ini bisa bangkrut kalau sampai pasien tadi meninggal gara-gara mall praktek, harus berapa orang yang di korbankan dan kehilangan pekerjaannya gara-gara kebodohan kamu ini. " Alvaro terus mengomeli Rania.
Mata gadis itu sudah berkaca-kaca menyadari kesalahannya sendiri.
"Saya itu paling nggak suka yah sama orang modelan kamu ini, mentang-mentang kamu anak orang kaya jadi bisa ngelakuin segalanya sesuka hati kamu gitu? menganggap segala hal di dunia ini cuma permainan, sampai nyawa orang juga di jadiin maina, iya? gak ada otak memang kamu ini, kamu itu emang gak ada bagus-bagusnya Rania. " Alvaro terus-terussan menyudutkan Rania membuat gadis itu akhirnya terduduk ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
Rania kemudian berlari meninggalkan Alvaro di tempat itu, air matanya terus mengalir. Rania merasa malu, bahkan untuk menemui Papanya saja rasanya gadis itu tidak sanggup karena merasa sangat bersalah.
Bersambung...
__ADS_1
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan Author biar semangat nulis.. Hehehe Terima kasih atas dukungan kalian. I love you.