
Episode sebelumnya...
"Ya udah, ayo saya antar kamu pulang, nyonya Rania. " Canda Alvaro.
"Idih najisssss. " Rania merasa geli, mendengar Alvaro bercanda kepadanya
###
Happy Reading and Enjoy yah guys
Krukkk krukkk
Rania sekali lagi memegangi perutnya, ia merasa tidak nyaman entah sudah berapa kali perutnya berbunyi. Cacing-cacing di dalam perutnya seperti sedang berdemo menyuarakan rasa lapar mereka dan ingin segera di beri makan.
Krukkk krukkk
Sekali lagi suara itu keluar dari dalam perut Rania.
"Kamu lapar?. " Tanya Alvaro yang sedari tadi memperhatikan Rania memegangi perutnya.
"Hmm nggak. " Ujar Rania.
"Ya udah kita belok dulu yah di persimpangan jalan sana buat makan. " Alvaro tidak menghiraukan ucapan Rania, ia tahu gadis itu sedang mempertahankan harga dirinya.
"Emang siapa yang lapar? Aku kan udah bilang, aku tuh gak lapar mau langsung pulang aja. " Ucap Rania keras kepala.
"Ya udah kalau kamu gak lapar biar saya aja yang makan, kamu gak usah makan tungguin saya di mobil aja. " Balas Alvaro.
"Ngapain aku nungguin bapak di mobil, tau gitu mending saya pesan ojol aja biar bisa langsung di antar pulang. "
Alvaro tidak menghiraukan Rania. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan sebuah warung yang menjual aneka lalapan dan masakan laut.
Rania menelan ludahnya melihat orang-orang yang sedang lahap menikmati makanannya di dalam waru gb tersebut.
"Mau ikut turun gak?. " Ujar Alvaro.
"Nggak mau. " Balas Rania jutek.
"Ya udah kalau gak mau. " Alvaro turun dari mobilnya dan masuk ke dalam warung itu seorang diri meninggalkan Rania.
"Hikssss, dasar gak peka. " Batin Rania.
Rania sekali lagi menelan ludahnya, saat aroma ikan bakar masuk ke dalam mobil.
"Ah enaknya. " Lirih Rania tanpa sadar.
Krukkk krukk
Perut Rania kembali berbunyi.
"Duh gimana ini, mana lapar banget lagi. " Ujar Rania memegangi perutnya yang terus berbunyi.
__ADS_1
Rania menutup matanya, berharap ia bisa menahan rasa laparnya tersebut hingga sampai ke rumah.
"Sialan, tau begini tadi aku pesan ojol saja. " Umpat Rania.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan di kaca mobil membuat Rania kaget. Rania sontak menatap ke arah kaca mobil, ada seorang bapak-baoak yang menyuruhnya untuk menurunkan kaca mobil.
"Ahhh bikin kaget saja. " Rania menurunkan kaca mobil kemudian bapak -bapak tersebut memberikan Rania satu bungkus makanan dan satu botol air mineral.
"Ini pesanan mbak. " Ujar bapak-bapak tersebut.
"Saya gak pesan kok?. " Rania kebingungan.
"Di pesanin sama suami mbak. " Ujar bapak-bapak itu sambil menunjuk ke arah Alvaro.
Alvaro melambaikan tangannya ke arah Rania.
"Suami?. " Ujar Rania sinis, menatap ke arah Alvaro.
Rania lalu membuka bungkus makanan yang Alvaro pesankan untuknya.
"Wahhh enak banget, hmmmm . " Aroma telur goreng ceplok dan daging suir langsung mengisi indera penciuman Rania.
"Kalau bukan karena lapar, aku gak sudi makan makanan ini. " sinis Rania menatap ke arah Alvaro yang memperhatikannya dari jarak jauh.
Rania kemudian menikmati nasi goreng telor ceplok dengan ayam suir yang menggugah selera tersebut dengan lahap hingga habis tak tersisa sebiji nasipun.
Hap
"Pas banget!. "
Tidak lama kemudian Rania merasakan kantuk yang sangat luar biasa, hingga tanpa sadar ia ketiduran tanpa menutup kaca mobil, untungnya Alvaro segera menyelesaikan makananya dan masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar kebo. " Ujar Alvaro melihat Rania yang tertidur dengan mulut terbuka. Ia kemudian menutup kaca mobilnya dan membuat posisi tidur Rania lebih nyaman dengan mengatur tempat duduk gadis itu secara perlahan agar tidak membuatnya terbangun.
Alvaro langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju di jalan Raya menuju ke rumah Rania. Tidak sampai sepuluh menit mereka berdua sudah sampai. Namun Rania masih tertidur lelap.
Wajah Rania terlihat sangat polos saat tertidur, tidak ada yang akan menduga Rania adalah gadis usil yang suka membuat onar jika melihat wajahnya yang sedang tertidur pulas seperti saat ini.
Alvaro tertawa kecil saat melihat cairan yang keluar dari mulut Rania yang tertidur sambil menganga.
"sebentar lagi sebuah pulau baru akan jadi. " Batin Alvaro, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotret Rania yang sedang tertidur.
Alvaro, tidak tega membangunkan gadis yang terlihat sangat kelelahan itu, jadi ia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di dalam halaman rumah mewah Pak Herman.
Disisi lain, Melinda dan Reno ternyata sedang menunggu di depan teras namun Alvaro tidak memperhatikannya.
Alvaro mengguncang sedikit tubuh Rania, berharap gadis itu akan segera bangun Namun, sayangnya cara itu sia-sia saja.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
Sebuah ketukan mengagetkan Alvaro yang segera menurunkan kaca mobilnya.
"Mas Alvaro... "Panggil Reno memanggil Alvaro dengan embel-embel mas jika sedang berada di luar rumah sakit.
" Rania nya lagi tidur. " Ujar Alvaro menjelaskan, tidak enak jika dirinya di salah pahami.
Melinda melongok kan badannya melihat ke arah Rania.
"Wah bakalan sulit kayaknya Ren. " Timpal Melinda yang melihat posisi tidur Rania yang sudah tertidur lelap.
"Rania kalau tidur emang gitu mas, susah di bangunin, kalaupun ada bom yang meledak di dekatnya juga, mungkin dia gak bakalan dengar . " Tambah Reno.
"Jadi, gimana dong?. " Alvaro ikut kebingungan.
"Gendong aja pak. " Melinda memberikan saran sambil memberikan kode kepada Reno.
"Oh, eh iya mas gendong aja kali yah kasian juga Rania nya kalau tidur dalam posisi kayak gitu bisa sakit badannya, mas Alvaro nya juga pasti gak bisa pulang. " Timpal Reno.
Alvaro yang mendengar hal itu juga tidak punya pilihan lain. Ia kemudian turun dari mobilnya dan berjalan ke sisi yang lain tempat Rania duduk sambil tertidur.
Alvaro baru saja akan menyentuh kaki Rania untuk memasukkan tangannya ke bawah kaki gadis itu agar bisa segera mengangkatnya, Tiba-tiba saja Rania terbangun.
"Aaaaaahhhhhh, pak Alvaro? Bapak mau ngapain? Jangan perkosa saya pak. " Teriak Rania, yang terkejut melihat posisi wajah Alvaro yang sangat dekat dengan wajahnya Rania juga reflek menutupi buah dadanya yang bersentuhan dengan tubuh Akvaro yang baru saja akan mencoba mengangkatnya.
Alvaro segera mundur, merasakan telinganya bersengung mendengar teriakan Rania yang persis di telinganya.
Melinda dan Reno yang melihat itu tertawa kecil.
Rania lalu melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa dirinya sudah berada di halaman rumahnya sendiri. Gadis itu langsung turun dari mobil Alvaro dan segera meminta maaf, sepertinya ia baru saja salah paham kepada pak Gurunya itu .
"Aduh maaf Pak Alvaro, tadi aku reflek, habisnya bapak ada di atas badan aku, makanya aku kaget. " Ujar Rania.
"Udah gapapa, kalian masuk ke rumah udah tengah malam, saya juga udah mau balik. " Ujar Alvaro yang langsung masuk ke dalam mobilnya merasa malu karena Rania menyangka dirinya akan melakukan hal yang tidak pantas kepada gadis itu.
"Mas Alvaro gak mampir dulu ke rumah?. " Ujar Reno.
"Aduh pak Maafin saya ya pak Alvaro, saya benar-benar gak sengaja tadi teriaknya. " Rania sekali lagi meminta maaf.
"Lain kali yah, kalian butuh istirahat saya permisi ya. " Balas Alvaro, tersenyum kikuk dan langsung menyalakan mesin mobilnya.
"Hati-hati pak Alvaro. " Teriak Rania, mobil Alvaro sudah keluar dari halaman rumahnya.
"Cie cie cie. " Goda Melinda, melihat Rania yang saat ini sedang salah tingkah.
"Apaan sih, gak jelas. " Rania langsung masuk ke dalam rumahnya di ikuti Reno dan Melinda.
Rania langsung lupa, bahwa baru beberapa jam yang lalu ia berjanji akan mengomeli Reno dan Melinda jika bertemu dengan dua orang tersebut, namun rasa marahnya saat ini sudah sirna.
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian..
__ADS_1