Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 72 : Kritis


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Melinda memikirkan ekspresi Reno yang tadi tidak sengaja melihat perutnya, di tambah lagi insiden tali kutangnya yang putus, wajah Melinda kembali memerah menahan malu.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Alvaro terkejut setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan jika Melinda kembali kritis. Padahal harusnya pagi ini Alvaro berangkat ke sekolah untuk mengajar namun karena mendengar jika Laura kritis, Alvaro segera beranjak untuk pergi ke rumah sakit, tidak lupa laki-laki itu menelpon kepala sekolah untuk meminta izin.


"Alvaro? Mau kemana bukannya kamu hari ini ngajar?. " Tanya Mama Alvaro yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


Kamar Alvaro memang harus melewati meja makan untuk sampai di pintu utama.


"Nggak, aku mau ke rumah sakit Laura sekarat. " Jawab Alvaro, me nyomot sepotong roti di atas meja makan lalu berjalan ka arah pintu.


"Laura? Maksud kamu anaknya Bu Rita?. " Mama Alvaro mengikuti langkah anaknya sampai ke depan pintu.


"Iya ma, ya udah Alvaro pergi dulu... " Ujar Alvaro berlari masuk ke dalam mobilnya yang sedang di oanaskan oleh security.


"Eh Al... Mama belum selesai ngomong. " Pekik Mama Alvaro, sedetik kemudian ia mengernyitkan wajahnya.


###


Pembelajaran untuk kelas Biologi Hari ini di gantikan dengan belajar bersama di perpustakaan karena Alvaro lagi-lagi tidak datang ke sekolah.


"Pak Alvaro kenapa nggak datang lagi yah Ran?. " Tanya Diki, mengingat Rania lah yang paling dekat dengan Alvaro di tambah lagi Rumah Sakit milik Papa Rania adalah tempat Alvaro juga bekerja.


"Mana ketehe. " Jawab Rania, jutek.


Malas jika terus-terussan du tanyain tentang Alvaro.


"Ya kan biasanya kamu yang ketemu sama dia tiap hari. " Ujar Diki lagi.


"Ketemu tiap hari apanya, lagian kalaupun aku selalu ketemu bukan berarti aku tuh harus tau semua jadwalnya, emangnya dia siapanya aku. " Balas Rania sewot.


"Ya elah, gitu aja marah Ran. " Tutur Diki lagi.


"Au ah. " Rania mengalihkan pandangannya kembali fokus membaca buku yang ada di depannya.


Beberapa Murid yang mungkin mendengar percakapan Diki dan Rania juga ikut berbicara.


"Katanya ada kerabatnya Pak Alvaro yang lagi sakit dan sekarang lagi dirawat, makanya Pak Alvaro hari ini gak masuk ngajar. " Ujar salah satu teman sekelas Rania, Anton.


"Yang benar? Wah kasian banget, semoga lekas sembuh deh. " Timpal salah satu teman sekelas Rania yang lain.


"Ekhem, kalau mau cerita di luar aja, jangan disini! Ganggu teman kalian yang lagi fokus belajar!. "Tegur penjaga perpus.


Perpustakaan pun kembali hening, tidak ada yang bersuara.

__ADS_1


Dalam hati Rania juga bertanya-tanya kenapa Alvaro tidak masuk mengajar lagi. Apa karena menghindarinya? Atau Laura benar-benar sudah sekarat? .


"Jangan-jangan perempuan itu benar-benar sudah sekarat. " Lirih Rania, pelan.


"Siapa yang sekarat Ran?. " Tanya Diki, mendengar Rania berbicara sendiri.


Rania menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mau tau aja kamu. " Balas Rania judes.


"Oh, Ya udah. " Ujar Diki, tidak mau ambil pusing jika terus mengajak Rania berbicara sepertinya gadis itu sebentar lagi akan menghantanya, mengingat temperamen Rania yang buruk di tambah mood gadis itu yang sering berubah-ubah.


Pikiran Rania kembali melayang ke kejadian di rumah sakit, saat Laura pingsan.


"Kalau perempuan itu sekarat? Artinya aku harus pergi minta maaf dong?. " Batin Rania, merasa bersalah karena waktu itu sudah menyumpahi Laura untuk segera mati saja.


"Kalau dia mati sebelum aku minta maaf gimana? Bisa di gangguin aku sama arwahnya. " Rania bergidik ngeri memikirkan jika Laura mati, perempuan itu akan datang menghantui Rania karena sudah sering berkata kasar kepada perempuan itu.


Rania merasa ngeri sendiri.


Beberapa jam kemudian, lonceng pertanda waktunya pulang sekolah berbunyi.


Rania segera berlari keluar kelas karena jemputan ojek onlinenya sudah ada di depan gerbang, sepertinya ia memesan terlalu cepat.


"Raniaaa... " Panggil Melinda yang berlari di belakang Rania.


"Suruh Reno aja jemput kamu, nanti aku nyusul. " Balas Rania.


"Gapapalah sekali-kali bolos les. " Lirih Rania, kembali berjalan cepat ke arah ojol langganan nya yang sudah melambaikan tangan ke arah Rania.


Tidak lama kemudian Rania sudah duduk di atas boncengan.


"Ayo pak, jalan ke rumah sakit. " Ujar Melinda kepada pak ojol langganannya tersebut.


Ojek itupun membawa Rania menuju ke rumah sakit. Rania berencana akan pergi meminta maaf kepada Laura.


###


Saat Rania sudah tiba di rumah sakit, ia segera mencari tahu dimana ruang perawatan Laura kepada resepsionis rumah sakit, bukan hal sulit untuk Rania mencari informasi tersebut karena semua pegawai di rumah sakit ini tentunya mengenal Rania.


"Di ruang perawatan A gedung Melati, tapi kayaknya dia lagi di UGD, soalnya tadi pagi kondisinya kritis. " Tutur Resepsionis itu memberikan informasi kepada Rania.


"Oh gitu, ya udah aku kesana dulu, makasih yah. " Balas Rania segera berjalan cepat menuju ke UGD tempat Laura saat ini di rawat.


"Jadi benar, perempuan itu kritis? Berarti Pak Alvaro sekarang lagi nemenin Laura dong?. " Lirih Rania.


Saat sudah mendekati ruangan UGD, Rania berjalan pelan memastikan apakah di ruangan itu sedang ramai atau tidak, sekaligus mematikan apakah Alvaro masih berada disana.


Jika Alvaro masih berada disana Rania akan menunggu sampai laki-laki itu oergi, baru ia akan menjenguk Laura. Rania bahkan sudah menyiapkan bingkisan berisi buah-buahan segar sebagai tanda permintaan maafnya kepala Laura.

__ADS_1


Rania masuk ke UGD dan mencari-cari ruangan Laura, sedetik kemudian ia mendengar suara Alvaro dari salah satu ruangan.


Rania kemudian berjalan ke arah ruangan tertutup tersebut dan hanya berdiri di depan pintu.


###


Alvaro sudah sejak pagi menunggu di samping Laura melewati masa-masa kritisnya, namun gadis itu belum sadar juga.


Alvaro menggenggam tangan Laura dengan sangat erat, hingga perempuan itu menggerakkan tangannya dan perlahan-lahan membuka mata.


Alvaro yang menyadari itu sontak berdiri dan memegangi wajah Laura.


"Kamu udah bangun? Dimana yang sakit?. " Tanya Alvaro penuh perhatian.


"Alvaro? . " Balas Laura tersenyum melihat Alvaro dengan setia menunggunya.


"Iya aku disini, kamu harus di operasi malam ini juga, biar rasa sakitnya hilang Laura. " Ujar Alvaro, mengingat ucapan dokter Sintia tadi yang menyarankan agar Laura segera mengangkat rahimnya.


Laura menggeleng, keras kepala.


"Nggak, aku cuman butuh kamu disisiku sampai aku mati Alvaro, percuma saja di operasi toh hidupku juga tidak akan lama lagi, operasi itu hanya akan menambah luka sayatan pada tubuhku. " Balas Laura, dengan nada pelan dan sedih.


"Kalau kayak gini terus, aku gak punya pilihan lain Laura, aku harus kasih tau ke mantan suami kamu biar dia cepat datang kesini dan ngeliat keadaan kamu. " Tegas Alvaro, tidak tega melihat Laura kesakitan dan mati sendirian tanpa satu orang keluarga terdekatnya.


"Nggak, jangan kasih tau ke mereka, biarin aku mati tanpa anak-anakku tau kalau ibunya udah nggak da di dunia ini. " Balas Laura, penuh oenekanan namun dari nada bicaranya sebenarnya Laura sangat rapuh.


"Kamu nggak mikirin anak-anakku kamu? Mereka pasti rindu sama kamu, kamu tega biarin mereka kebingungan karena kamu ninggalin mereka ?. " Alvaro terus mencoba agar Laura mau mengabari mantan suaminya.


"Aku juga nggak tega, orang tua mana yang tidak merindukan anak-anaknya? Aku juga rindu, aku cuma tidak ingin mereka ikut sedih, melihatku kesakitan. " Laura tetap pada pendiriannya.


Laura memejamkan matanya, air mata sekali lagi menetes, melihat itu Alvaro jadi merasa bersalah karena memaksa Laura untuk mengabari mantan suaminya.


"Ah maaf Laura, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, aku hanya tidak tega melihatmu terpuruk menderita dan kesakitan seorang diri. " Tutur Alvaro, membelai anak rambut Laura yang menutupi wajah perempuan itu.


"Aku yang harusnya meminta maaf kepadamu Alvaro da terima kasih karena sudah mau menemaniku sampai hari ini, maaf karena lagi-lagi aku membuang-buang waktumu yang berharga, seharusnya kamu sudah bisa memulai hubungan baru tapi gara-gara ak... "


Alvaro segera memotong ucapan Laura.


"Ssstttttt, sudah-sudah tidak ada yang perlu di maafkan, ini audah menjadi pilihanku. " Alvaro menenangkan Laura yang sedang kalut, setidaknya Laura sudah berhasil melewati masa kritisnya, sekarang perempuan itu hanya butuh istirahat.


"Kamu istirahat aja, aku pergi temuin dokter Sintia dulu, siapa tau malam ini kamu udah bisa pindah ke ruang perawatan. " Tutur Alvaro kemudian.


Laura hanya mengangguk lemah, pertanda ia setuju.


Alvaro beranjak dari tempat duduknya dan berbalik badan untuk keluar dari ruangan tersebut.


###


Rania yang sudah berada di depan pintu sejak tadi dan mendengarkan semua percakapan Alvaro dan Laura segera mencari tempat untuk bersembunyi agar Alvaro tidak melihatnya.

__ADS_1


Bersambung....


Note : klok like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih. I love you guys.


__ADS_2