Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 50 : Cewek Cowok Gak Bisa Temenan?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Ah senangnyaaaaa. " Teriak Rania, hatinya seperti sedang berbunga-bunga.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Sudah dua minggu liburan berlangsung hari senin besok sekolah akan di buka lagi dan tentu saja pembelajaran akan berlangsung seperti sebelumnya.


"Hoooaaammmm." Rania menguap membuka mulutnya sekebar mungkin untuk mengumpulkan udara.


"Aduh, aduh sakit. " Gumam Rania merasakan rahangnya sakit setelah mengual secara berlebihan.


Melinda msih tertidur di sampingnya, tidak biasanya Rania bangun lebih cepat dari Melinda.


Rania berjalan keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah, melihat kedua orang tuanya yang sedang melakukan sarapan pagi di meja makan.


"Rania, udah bangun nak?. " Tanya Mama Rania jadi lebih perhatian semenjak Rania mengurung diri di kamar itu.


"Sini, duduk kita sarapan. " Panggil Papa Rania.


"Hmmm, Rania mau minum susu aja, masih kenyang. " Ujar Rania setelah duduk di kursi dekat Mamanya.


"Melinda sama Reno belum bangun yah?. " Tanya Mama Rania mencari-cari keberadaan dua remaja itu.


"Masih pada tidur. " Jawab Rania.


"Ya udah mama bikinin kamu susu dulu. " Mamanya berjalan ke arah dapur, biasanya mamanya akan menyuruh bibi untuk melakukan itu namun akhir-akhir ini Mamanya memang lebih sering di rumah dan turun tangan langsung jika Rania menginginkan sesuatu.


"Rania, papa mau nanya sesuatu sama kamu, boleh nggak?. " Tanya Pak Herman hati-hati.


"Tanya aja Pa, kenapa sih takut banget. " Rania santai, merasa keluarganya akhir-akhir ini sangat tidak biasa kepadanya dan terkesan berlebihan.


"Hmmm, kamu putus sama Dokter Alvaro?. " Tanya Papa Rania.


"Iya." Rania mengangguk, menjawab pertanyaan papanya dengan santai.


Rania memang tidak pernah berpacaran dengan laki-laki itu, semuanya memang pura-pura saja.


"Hmm memamngnya sudah tidak bisa di perbaiki lagi?. " Tanya Papa Rania lagi yang sangat berharap Rania bisa memperbaiki hubungannya dengan Alvaro.


"Papa, kenapa sih mesti ngurusin urusan cinta anaknya mulu, kalau jodoh juga bakalan ketemu di pelaminan kok, santai aja, Raniakan masih muda juga. " Balas Rania merasa orang tuanya terlalu mengatur untuk urusan cintanya.


"Ketemu di pelaminan sebagai tamu undangan?. " Tiba-tiba mama Rania muncul meletakkan segelas susu panas di depan Rania.


"Ah mama, Papa ih. " Keluh Rania mengambil susunya dan kembali ke atas kamarnya.


Mama dan Papa Rania saling berpandangan.


###


Tok.. Tok.. Tok..


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu kamar Rania yang di ketuk dari luar.

__ADS_1


"Siapaaaa?. " Teriak Rania yang baru selesai mandi dan saat ini sedang berdandan di depan cermin setelah cukup lama gadis itu memilih pakaian yang cocok untuk di kenakannya hari ini. "


"Ini bibi, di bawah ada temennya nonton Rania. " Teriak bini dari luar kamar.


Rania segera berlari ke arah pintu kamarnya.


"Siapa bi?. " Tanya Rania penasaran.


"Itu cowok motor. " Jawab bibi yang memang tidak mengetahui nama Gunawan, hanya menyebutnya dengan cowok motor karena beberapa kali melihat Rania di antar oleh laki-laki tersebut.


"Oh Gunawan, suruh masuk aja bi, bikinin air sama kasih cemilan, aku pake baju dulu. " Ucap Rania, menutup pintu kamarnya dan kembali ke depan cermin untuk berdandan, hari ini ia dan Gunawan memang janjian akan pergi no gorong ke salah satu kafe.


Tidak lama kemudian Melinda keluar dari kamar mandi juga.


"Hmmm mau kemana kamu Rania, dandan cantik-cantik gitu. " Tanya Melinda.


"Mau jalan. " Jawab Rania cuek.


"Sama siapa?. " Tanya Minda lagi.


"Sama Gunawan lah, hehehe. "Jawab Rania cengengesan.


Melinda yang melihat itu menatap sinis ke arah Rania.


" Kalian emangnya udah jadian?. " Tanya Melinda lagi memastikan hubungan antara Rania dan Gunawan.


"Hmmm, Emang kalau jalan mesti jadian? . " Rania justru bertanya balik.


"Jadi kalian belum jadian?. " Melinda keheranan melihat hubungan Rania dan Gunawan yang akhir-akhir ini terlihat seperti pasangan kekasih karena setiap malam sebelum tidur mereka akan saling telponan dan sesekali jalan keluar bersama selama liburan semester kali ini.


"Ya ampun Rania, jangan ngadi-ngadi kamu, kamu gak liat ekspresi Gunawan waktu ngeliatin kamu? Dia itu suka sama kamu? Terus kamu sendiri gimana?. " Cecar Melinda.


"Ya siapa sih yang gak suka sama Gunawan anaknya baik, pinter, rajin, terus ganteng dan jago main basket lagi, hihihi. " Ucap Rania tidak mengerti point pertanyaan Melinda.


"Rania, maksud aku bukan suka yang kayak gitu itu namanya ngefans, kamu ada rasa gak sama dia? Jantung kamu berdebar gak sama dia? Kamu cinta gak sama dia?. " Melinda memperjelas pertanyaannya.


Rania berhenti sejenak dan memikirkan kata-kata Melinda barusan. Rania sendiri tidak tau perasaannya kepada Gunawan, ia hanya merasa nyaman dengan laki-laki itu awalnya juga Rania mendekati Gunawan hanya untuk memanas-manasi geng Nurlia. Namun, sekarang Rania tulus berteman dengan Gunawan.


"Kenapa bengong Rania?. " Ujar Melinda, melihat Rania menatap kosong ke dalam cermin.


"Aku gak tau, Mel. " Ujar Rania kemudian.


"Kasian tau Gunawan kalau dia tau kamu ternyata cuman ngasih dia harapan palsu. " Ucap Melinda lagi.


"Emangnya gak boleh yah cowok cewek temanan aja? Lagian kan kita masih sekolah, masih muda. " Balas Rania, memikirkan kemungkinan untuk berteman dengan Gunawan saja tanpa ikatan hubungan apapun.


"Gak ada, gak ada itu istilah cewek sama cowok bisa temenan tanpa ada perasaan satu sama lain di antara mereka. " Jawab Melinda, keluar dari dalam kamar Rania, entah kemana lagi gadis itu padahal Rania belum selesai mendebat ucapannya.


"Huuuhhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar, memikirkan ucapan Melinda barusan.


"Apa yang harus aku lakukan jika Gunawan benar-benar menyatakan cinta padaku?. " Batin Rania.


###


"Rania?. " Panggil Gunawan.


Saat ini mereka sedang, berada di salah satu Kafe yang baru buka di kota mereka tinggal dan tidak jauh dari rumah Rania.

__ADS_1


Pink kafe.


"Raniaaa... . " Panggil Gunawan lagi.


"Eh iya Gun, maaf aku bengong , hehehe. " Jawab Rania, masih memikirkan ucapan Melinda tadi pagi.


"Gimana enak gak minumannya?. " Tanya Gunawan.


"Enak, manisnya pas, aku boleh pesan takoyakinya lagi gak?. " Tanya Rania.


"Boleh dong, kalau kamu suka pesan aja sepuasnya. " Balas Gunawan, senang melihat Rania yang makan dengan sangat lahap, gadis itu sudah menghabiskan tiga porsi takoyaki sendirian.


"Kamu nggak mau makan yang lain Gun?. "Tanya Rania.


" Ini aja belom abis. " Jawab Gunawan memperlihatkan ayam gepreknya yang baru setengah ia makan.


"Ya udah deh, aku pesan dulu yah. " Rania berjalan ke arah kasir u tuk menambah pesanan takoyakinya.


Sementara Gunawan terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya untuk di berikan kepada Rania.


"Kayaknya ini udah waktu yang paling tepat. " Lirih Ginawan.


Gunawan merequest lagu kepada pemilik kafe untuk di putarkan pada saat Rania sudah duduk di kurainya nanti.


Tidak lama kemudian Rania kembali ke tempat duduknya. Gunawan memberikan kode dengan menjentikkan jarinya.


Lagu teman tapi menikah mengalun, mengisi ruangan Kafe itu.


Rania yang melihat itu merasakan, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini. Dan benar saja.


"Ran, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ucap Gunawan, menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"Iya Gun, ng-ngomong aja. " Rania meringis memaksakan senyumannya, sepertinya benar kata Melinda cowok dan cewek tidak bisa berteman lama.


"Sebenarnya a-aku..... "


"Gunawan, aku jadi ingat ucapan Melinda katanya cowok dan cewek itu gak bisa berteman lama, pasti ada aja salah satu dari mereka yang bakalan sampe suka gitu, menurut kamu gimana? Kalau menurut aku sih gak ada masalah yah Gun? Selama kita nyaman-nyaman aja dalam hubungan pertemanan itu, lagian kitakan masih sekolah, masih butuh belajar. " Rania memotong ucapan Gunawan.


Mendengar itu Gunawan memasukkan sesuatu yang tadinya akan ia berikan kepada Rania.


"Ah hahhaha, iya Rania. " Jawab Gunawan dengan nada yang terdengar sedikit kecewa.


Rania tahu dan menyadari betul apa yang akan di katakan oleh Gunawan, lebih baik dirinya mengambil langkah untuk menghentikan apa yang akan Gunawan utarakan tadi, sejujurnya Rania tidak siap untuk mendengarnya dan gadis itu tidak memiliki jawaban untuk ungkapan isi hati Gunawan.


Rania tidak ingin hubungan oertemanannya dengan Gunawan kandas, hanya karena Rajia yang belum siap untuk menjalin sebuah hubungan asmara.


Suasana di antara keduanya jadi canggung. Hening.


Alunan lagu teman tapi menikah masih terdengar.


"Suatu hari telah kuucapkan kata-kata hingga akhirnya kau setuju melangkah bersama selamanya, bosan itu pasti


(Mungkinkah kita saling pergi) Namun, kupercaya kita 'kan bersama suatu hari telah kuucapkan kata-kata hingga akhirnya kau setuju melangkah bersama selamanya bosan itu pasti. Tapi kita tak saling pergi. "


Bersambung...


Klik like, vote, subscribe dan komentar yah guys.

__ADS_1


__ADS_2