Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 74 : Suami Laura


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Suasana kemudian berubah menjadi lebih tenang, setelah Alvaro berbicara dengan laki-laki tinggi besar tadi yang ternyata adalah mantan suami Laura.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Laura sakit, kanker rahim stadium akhir!. " Jelas Alvaro.


"Apa? Sakit?. " Pekik Hendrawan, kaget mendengar penjelasan Alvaro.


Setelah perkelahian tadi dan melihat mantan Suami Laura tersebut sudah agak tenang, Alvaro segera membawa Hendrawan ke ruang kerjanya.


"Iya, kalau kamu tidak percaya ini adalah rekam medis dan surat pernyataan dari dokter yang menanganinya. " Alvaro menodorkan berkas-berkas Laura dan sebuah amplop kepada Hendrawan.


Hendrawan yang menerima itu dengan cepat langsung membuka amplop ean membaca isinya, laki-laki itu sontak menutup mulutnya karena terlalu shock.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku?. " Tanya Hendrawan.


"Saya sudah meminta kepada Laura untuk mengabari kamu, tapi karena Laura bersikeras tidak ingin hal ini di beritahukan kepada keluarganya, makanya saya juga tidak berani. " Jelas Alvaro, tidak ingin Hendrawan terus-terussan salah paham kepadanya.


"Jadi, dimana Laura sekarang?. " Hendrawan tidak sabar untuk menemui mantan istrinya tersebut.


"Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke ruang perawatannya lagi, Laura sekarang sedang di rawat di ruang UGD tadi, kalau kamu mau melihatnya langsung saja kesana. " Tutur Alvaro.


Hendrawan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi ke ruang UGD, menemui Laura.


###


Rania sedari tadi menunggu di depan ruang kerja Alvaro, ia khawatir jika laki-laki yang ternyata mantan suami Laura itu kembali memukul Alvaro, makanya gadis itu dengan setia berjaga di depan pintu.


Selang berapa lama kemudian, pintu tiba-tiba saja terbuka memperlihatkan laki-laki betrtubuh tinggi besar itu keluar dan pergi meninggalkan ruang kerja Alvaro, Rania yang melihat itu langsung berinisiatif masuk ke dalam ruang kerja Alvaro.


"Pak Alvaro.. " Sapa Rania.


Laki-laki itu terlihat sedang memegangi bibir dan wajahnya yang lebam, Rania yang melihat hal tersebut ikut meringis.


"Rania." Balas Alvaro.


Rania berjalan ke arah Alvaro dan berdiri di samping kursi tempat laki-laki itu duduk, lalu Rania memegang wajah laki-laki itu dan memperhatikan bekas lukanya dengan seksama.


"Rania.. " Ujar Alvaro sesikit terkejut dengan perlakuan Rania padanya.


Deg


Deg


Jantung Alvaro berdegup sangat kencang, wajah Rania sangat dekat dengan wajahnya, nafas Rania bahkan bisa ia rasakan.


Rania tanpa sepatah kata langsung mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, kotak p3k kecil.

__ADS_1


Rania kemudian menggunakan sarung tangan, laku membersihkan darah kering yang berada di dekat bibir Alvaro menggunakan kapas yang sudah di basahi dengan alkohol.


"Apa yang... "


Alvaro ingin berbicara namun Rania menyuruhnya untuk diam.


"Sastttt diam. " Rania menutup bibir Alvaro agar laki-lami itu tidak banyak bicara karena Rania sedang membersihkan luka yang berada di dekat bibir Alvaro.


"Mhhhmm ew sekithhh. " Pekik Alvaro merasakan cairan yang mengenai lukanya, dengan mulut yang tidak bisa terbuka lebar karna bibir bagian atasnya di tahan oleh Rania.


"Sathhh jangan bicara. " Ujar Rania.


Alvaro segera mengangguk. Tidak sampai 2 menit Rania sudah selesai membersihkan luka Alvaro dan mengolesinya dengan salap agar lukanya cepat sembuh dan tidak berbekas.


"Makasih Rania. " Ujar Alvaro tulus, menatap bola mata Rania, lekat.


Rania tersenyum salah tingkah dan segera mengambil langkah mundur, jantungnya sekan-akan mau meledak karena baru menyadari wajahnya dan wajah Alvaro berada pada jarak yang sangat dekat.


Rania menelan air liurnya karena gugup.


"Eh iya Pak, sama-sama hehehe. " Balas Rania.


Hening, Rania kemudian berinisiatif memasukkan kembali obat-obatannya ke dalam kotak p3k berukuran kecil yang selalu di bawanya.


Rania ingin segera pergi dari ruangan laki-laki itu, karena suasana canggung di antara mereka membuatnya tidak nyaman, namun Alvaro segera menahannya.


"Rania, tunggu. " Ujar Alvaro berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan Rania.


"Kamu sendiri gapapa kan? Gak ada yang luka?. " Tanya Alvaro memutar-mutar tubuh Rania dan memeriksa kepala gadis itu.


"Aduh pak Alvaro, kepala saya pusing tau di gituin. " Keluh Rania, sambil menepis tangan Alvaro di kepalanya.


"Ah maaf Rania, saya khawatir kamu kenapa-napa... " Ujar Alvaro memberikan perhatian kepada Rania.


Rania yang mendengar itu semakin salah tingkah dan tanpa sadar memukul perut Alvaro dengan sedikit kasar.


"Ah pak Alvaro, saya mah gapapa, gak usah berlebihan kayak gitu ih. " Ujar Rania.


"Aw Rania, sakit. " Pekik Alvaro memegangi perutnya.


"Upss! Maaf Pak saya gak sengaja? Sakit yah pak, sini saya liat biar sekalian saya obatin?. " Rania tanpa sadar memegang perut Alvaro.


Alvaro yang di perlakukan seperti itu, wajahnya sontak memereah.


"Ah Rania, jangan pegang itu. " Tegur Alvaro malu-malu.


Rania ynag menyadari tangannya hampir memegang sesuatu yang berada di bawah perut Alvaro sontak mengangkat tangannya dan kembali mundur satu langkah.


"Ah, ahahahaha saya gak sengaja. " Rania tertawa canggung, menyadari kebodohannya.


"Kamu ada-ada aja, Rania, kamu sengaja yah? . " Tuduh Alvaro, laki-laki itu kemudian duduk kembali ke kursinya sambil memegangi perutnya yang tadi juga kena hantam oleh tangan besar Hendrawan.

__ADS_1


"Enak aja, Lagian itutuh karma tau buat pak Alvaro. " Sindir Rania.


Alvaro mengernyit kan wajahnya tidak mengerti.


"Karma apanya Rania?. " Tanya Alvaro


"Ya Karma karena nyembunyiin isteri orang lah. " Jelas Rania.


"Istri orang? maksud kamu Laura? . "


"Ya iyalah siapa lagi. " Jawab Rania cuek.


Alvaro memandang Rania dengan tatapan tajam, seakan ingin melahap gadis itu.


"Hehehee, maaf Pak Alvaro. " Rania cengegesan dan langsung berlari keluar dari ruangan Alvaro, takut jika dirinya berlama-lama disana Alvaro benar-benar akan melahap dirinya hidup-hidup karena berbicara tidak sopan.


###


Hendrawan melangkah gontai ke dalam ruang perawatan Laura, perempuan itu tertidur lemas di atas kasur rumah sakit. Wajahnya semakin pucat saja.


Perempuan itu sedang tertidur dengan pulas, nafasnya terdengar tidak teratur yang artinya Laura sedang merasa sangat kesakitan di dalam tidurnya.


Hendrawan memegang erat tangan Laura, perempuan itu belum tahu jika Hendrawan sudah mengetahui tentang penyakitnya.


Tanpa sadar air mata Hendarawan mengalir membasahi pipinya, perempuan itu sudah sangat banyak menderita selama hidup dengannya di luar negeri, Laura terlalu sibuk mengurus anak-anaknya sampai lupa mengurus dirinya sendiri.


Tidak hanya itu, Laura juga sering di remehkan oleh orang tua Hendrawan yang seorang pengusaha sukses, sementara Laura hanya lulusan S1 yang mengabdikan dirinya menjadi ibu rumah tangga.


"Laura, maafkan aku. " Lirih Hendrawan menciumi tangan istrinya.


"Ini semua salahku, karena tidak mengurus dan menjagamu dengan baik, maafkan aku Laura. "


Laura yang merasakan sesuatu yang membuat lengannya bergerak, perlahan membuka matanya.


"Laura? Kamu bangun sayang?. " Ujar Hendrawan lembut, saat menyadari Laura menatapnya.


Laura terlihat kebingungandan memperhatikan sekelilingnya mencari-cari Alvaro.


"Kamu? Ngapain kamu ada disini?. " Ujar Laura ketus.


Hendrawan segera memeluk tubuh mantan istrinya yang terbaring lemah itu.


"Aku baru tau kalau kamu sakit, aku nyari-nyari kamu ke rumah mama Rita tapi kamu gak ada disana dan kata orang kamu lagi sering datang ke rumah sakit ini buat nemuin mantan kamu, Alvaro itu, makanya aku datang kesini dan baru tau kalau ternyata kamu sakit! Maafin aku Laura, aku gak ngejaga kamu dengan baik. " Jelas Hendrawan kepada Laura.


Laura yang tadinya menyangka jika Alvaro yang memberi tahu keadaannya kepada Hendrawan jadi terharu mendengar ucapan mantan suaminya itu, hingga tanpa sadar air matanya ikut keluar.


"Aku juga minta maaf Hen, aku gak bermaksud buat nyakitin kamu dan anak-anak kita. " Balas Laura.


Hendrawan terus-terussan menghujani Laura dengan kecupan dan ungkapan cinta, ia sangat mencintai Laura melebihi dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih. I love you.


__ADS_2