Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 80 : Berpoto Bersama di Hari Kelulusan


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Hmm kayaknya kamu salah deh Ren, itu pak guru kesayangannya Rania udah datang. "Ujar Melinda, melihat ke arah gerbang, mobil Honda Jazz Alvaro memasuki halaman sekolah.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Pak Alvaro, mau di potoin juga sama Rania?. "Goda Melinda, setelah sesi poto-poto bersama teman-teman RaniaRania berakhir, kelihatannya Alvaro jadi salah tingkah saat pak Subroto menyarankan Alvaro dan Rania juga mengabadikan potonya bersama.


" Ah eh, enggak usah... " Alvaro kikuk, karena di tempat itu masih banyak murid yang lain.


"Nggak usah malu-maku gitu pak, kan Rania nya udah lulus. " Tutur Melinda lagi.


"Udah sana mas, biar aku yang potoin. " Kali ini Reno yang berinisiatif menyuruh Alvaro mendekat ke arah Rania.


"Apaan sih maksa-maksain orang yang nggak mau di poto. " Sinis Rania.


"Siapa yang terpaksa, saya tidak terpaksa kok, ayo Reno potoin saya sama Rania. " Ujar Alvaro.


Hal tersebut membuat semua orang yang berada di tempat itu tertegun karena mendengar ucapan Alvaro barusan.


Teman-teman Rania yang mendengarnya juga ikut berbisik-bisik, namun Rania sama sekali tidak menghiraukan nya begitu pula dengan Alvaro yang kelihatannya sudah jauh lebih enjoy, lagi pula Rania sudah lulus sekolah.


Kedepannya Rania sudah bukan murid Alvaro lagi.


"Ya udah ayo pose, mepet lagi nah gitu, Rania senyum dong jangan kamu banget, Mas Alvaro juga senyum ke arah kamera. " Reno menjadi pengarah gaya poto Alvaro dan Rania.


"Iya bawel, cepetan panas ini. " Omel Rania.


"Siap yah, Satu dua ok, sekali lagi gaya pis. " Ujar Reno.


Beberapa pose poto Alvaro dan Rania sudah langsung jadi, karena mereka menggunakan kamera polaroid yang Rania beli pada saat sedang gencar-gencarnya menguntit Alvaro beberapa bulan yang lalu.


"Ih lucu banget. " Ujar Rania tanpa sadar.


"Aku boleh minta satu nggak?. " Pinta Alvaro setelah ikut melihat hasil potonya.


"Boleh." Balas Rania.


"Cie, cie, cieeeeee. " Goda Melinda.


"Ada yang bakalan jadian lagi nih yeeee. " Tambah Reno, ikut menggoda Alvaro dan Rania.


"Ih apaan sih. " Pipi Rania memerah.


Alvaro mengulum senyumnya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kikuk, karena tidak tau harus bagaimana menanggapi ejekan Melinda dan Reno. senyumnya semakin mengembang saat melihat gambar dirinya dan Rania di dalam poto.


Orang tua Rania hanya terkekeh pelan melihat tingkah anak-anaknya itu.


###


Hari pengumuman kelulusan berakhir dengan menyenangkan untuk seluruh murid kelas 12 di SMA 1 JAYA, tanpa terkecuali Rania.


Malam ini orang tua Rania mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk Rania dan Melinda yang sudah dinyatakan lulus.


Wajar saja orang tua Rania juga membuat syukuran tersebut untuk Melinda karena orang tua gadis itu sedang berada di luar negeri dan di rumahnya hanya ada beberapa asisten rumah tangga, sedari kanak-kanak Melinda memang sudah sering tinggal di rumah Rania, karena dulunya orang tua Melinda tinggal satu komplek dengan orang tua Rania.


Setelah usaha Papa Melinda semakin sukses, akhirnya mereka pindah dan membeli rumah yang jauh lebih besar. Tapi hal tersebut tidak membuat hubungan persahabatan Rania dan Melinda renggang meskipun jarak rumah mereka sudah lumayan jauh, justru kedua gadis itu semakin dekat saja.

__ADS_1


Rania dan Melinda sudah seperti saudara sejak kanak-kanak.


"Bawa kesini dagingnya kenapa malah pada bengong. " Teriak Pak Herman kepada Rania dan Melinda yang sedang mencuci daging sapi yang sudah di iris-iris sebelumnya.


"Iya pa, ih bawel banget sih. " Balas Rania.


"Reno mana? Kok gak turun-turun dari kamarnya?. " Tanya Mama RaniaRania yang sedang sibuk menata meja bersama bibi.


"Tau tuh. " Jawab Rania cuek.


"Kamu panggilin du gih adi kamu itu. " Perintah Pak Herman.


"Males ah naik turun tangga capek!. " Keluh Rania.


"Biar aku aja om, aku kuat kok naik turun tangga. " Sakit Melinda.


"Dihh, jangan pa itu modus nanti kalau udah sampe di atas mereka berdua nya gak turun-turun lagi. " Sindir Rania.


"Ih apaan sih, fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan tau. " Balas Melinda.


"Aku tau yah isi pikiran kamu. " Ujar Rania


"Apa emangnya? Dasar pikiran kotor. " Sinis Melinda.


"Aduh, aduh udah kenapa malah berantem sih, ya udah Melinda kamu cepat gih panggil Reno biar ada yang bantuin papa manggang dagingnya, biar cepat kita makan-makannya. " Ujar Mama Rania menengahi.


"Iya mama. " Balas Melinda sambil mengulum senyum, karena sepertinya sudah ada lampu hijau dari orang tua Rania untuk hubungan Melinda dan Reno.


"Idih mama, mama! Kamu tuh belum sah yah jadi menantunya mamaku, enak aja manggil mama. " Sinis Rania.


"Rania." Tegur pak Herman.


Rania memutar bola matanya.


"Heh tidak semudah itu yah, kamu harus menghadapi ku terlebih dahulu untuk menjadi anggota keluarga di rumah ini. " Balas Rania bak pemeran antagonis.


"Ih takut. " Ehek Melinda.


"Udah, udah ini anak dia orang dekat mulu, Rania potong itu timunnya, Melinda cepetan naik panggil Reno. " Mama Rania kembali menengahi.


Melinda kemudian beranjak masuk ke dalam Rumah.


"Awas yah kalau lama, ku panggilin Pak RT loh biar kalian berdua di grebek. " Teriak Rania.


Melinda tidak menghidmraukannya dan bergegas naik ke lantai dua, menuju ke kamar Reno.


"Rania!. " Tegisr pak Herman lagi.


"Hehehe, canda papaku. " Bas Rania cengengesan.


Tidak lama kemudian Melinda dan Reno turun dari lantai dua, Reno membantu papanya memanggang daging sementara untuk para perempuan mempersiapkan makanan lainnya di atas meja.


Rania tidak sabar ingin memberikan sebuah kejutan untuk keluarganya, kejutan yang sudah ia simpan selama berhari-hari.


Beberapa waktu kemudian keluarga pak Herman sudah bersiap untuk menyantap hidangan di atas meja.


###


Setelah mengumpulkan semua keluarganya di ruang keluarga Rania dengan antusias berdiri di depan televisi dan mengambil sesuatu yang sudah ia taruh di bawah kolong meja.

__ADS_1


"Rania, ini kita mau ngapain di kumpulin kayak gini, ada-ada aja deh kamu. " Ujar Pak Herman, terlihat kebingungan melihat tingkah anak gadisnya.


"Sssttt jangan ada yang bersuara sebelum aku kasih liat sesuatu yang bakalan bikin kalian semua yang ada disini terkejut. " Ujar Rania, bersemangat.


Rania kemudian mengeluarkan sebuah map yang ternyata berisi sebuah amplop.


"Apaan itu Ran? Kamu mau kasih kita duit?


. " Ucap Melinda, bercanda.


"Ssssttt di bilangin jangan ada yang bersuara dulu. " Blas Rania.


Semua yang berada di ruangan itupun dengan sabar menunggu Rania membuka amplop yang sudah di keluarkan dari dalam map.


"Taraaaaaa, aku keterima kuliah di London dan bakalan berangkat tiga minggu lagi. " Tutur Rania.


Mama dan Papa Rania sedikit terkejut, sementara Melinda dan Reno sedikit heran dan kebingungan karena Rania tidak pernah menceritakan keinginannya untuk berkuliah keluar negeri kepada mereka.


Melinda dan Reno menyangka mereka sedang di prank.


"Halah, kamu mau nge prank yah? . " Sinis Reno.


"Dih, gak lucu pranknya gagal, Huuuuuu. " Tambah Melinda.


"Ih enak aja, ini bukan prank ini tuh beneran aku keterima kuliah di London, Design yang aku kirim lolos di tahap pertama makanya aku tinggal terbang ke London buat tes wawancara dan ikut tes yang lainnya, biar bisa masuk ke Universitas yang aku pengen. " Jelas Rania.


"Design apaan Rania? Ada-ada aja deh kamu. " Tutur Mama Rania, ikut tidak percaya.


"Design Fashion mama, aku kan suka gambar kebetulan gambar aku menurut mereka bagus makanya aku dikirimin surat ini yang ternyata isinya aku lulus . " Jelas Rania lagi.


"Maksud kamu? Kamu mau jadi designer?. " Tanya Mama Rania lagi, sedikit speechless.


"Iya dong, nih liat desain-desain baju yang aku kirimin ke mereka bagus kan?. " Rania menunjukkan gambar-gamnarnya kepada orang tuanya.


"Wahh keren banget, kok aku baru tau kamu pinter gambar ginian. " Ujar Melinda.


"Iya, itu aku baru pelajarin beberapa bulan terakhir sih gak nyangka juga mereka nerima design yang aku kirimin. " Jawab Rania.


"Wuahhh, jadi kamu bakalan jadi designer nih Ran?. " Reno terlihat sangat takjub melihat pencapaian kakaknya.


"Wahhh ini bisa kita rayain lagi, mama mau potoin suratnya biar nanti kalau arisan bisa mama pamerin ke teman-teman mama. " Mama Rania, ikut merasa senang dan sepertinya akan sangat mendukung anak gadisnya itu.


"Huuuuh." Pak Herman menghembuakan nafasnya pelan.


"Papa?. " Panggil Rania melirik ke arah papanya yang tidak memberikan komentar apa-apa sejak tadi.


Semua mata kini tertuju ke Pak Herman, menunggu reaksi dokter itu.


"Yah kalau kamu ngerasa passion kamu ada di design yah papa mau bilang apa lagi, papa hanya berharap kamu jangan bikin ulah dan bisa jaga diri kamu sendiri, sebenarnya papa berat kalau kamu ninggalin papa jauh-jauh ke London tapi karena kamu udah berusaha buktiin kalau kamu bisa, aku sebagai orang tuamu hanya bisa memberikan support dan dukungan. " Jelas Pak Herman.


Rania yang mendengar itu sedikit terharu dan langsung berlari ke pelukan Papanya.


"Ah, makasih papakuuuuu. " Tutur Rania, manja sambil memeluk papanya dengan erat.


"Selamat yah, Nak. " Ucap Mama Rania. Mama Rania ikut memeluk anak gadisnya itu.


"Makasih Mama. " Balas Rania.


Sementara Melinda dan Reno hanya saling melirik, mengulum senyum masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2