Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 60 : Rania Jatuh Cinta?


__ADS_3

Episode sebelumnya....


"Saya.... " Baru saja Akvaro akan mengatakan sesuatu tiba-tiba saja ada suara seorang perempuan yang memanggilnya


"Alvaro..... " Teriak Suara itu.


###


Happy Reading and Enjoy Guys...


Alvaro sedikit heran melihat perempuan yang berada di depannya saat ini, Alvaro merasa sednag sangat lelah jika harus bertemu dengannya terus-terussan.


"Mau ngapain lagi kamu kesini? Gak capek yah kamu udah hampir tiap hari bolak balik ke tempat kerja aku. " Keluh Alvaro merasa tidak nyaman jika Laura terus-terussan mengintilinya saat di rumah sakit.


Saat ini mereka bedua sudah berada di dalam ruangan kerja Alvaro.


"Aku mesti ngomong berapa kali sama kamu Alvaro? Kalau aku beneran gak bisa hidup tanpa kamu, cuman kamu harapan aku satu-satunya sekarang, kenapa sih kamu gak bisa nerima aku apa adanya, aku udah minta maaf berkali-kali ke kamu kalaupun kamu suruh aku untuk berlutut memohon ampun, aku bakalan lakuin. " Ujar Laura panjang lebar, berharap Alvaro akan membuka hati lagi untuk dirinya.


"Mending kamu keluar dari ruangan aku, aku capek Laura!. " Tegas Alvaro. Untuk kesekian kalinya ia mengusir perempuan itu.


"Alvaro, plis kasih aku kesempatan seki lagi untuk memperbaiki hubungan kita, aku bakalan berusaha jadi orang yang lebih baik lagi buat kamu, maafin aku karena udah pernah bikin kamu sakit hati sampai-sampai kamu jadi kayak gini Alvaro, maafin aku. " Rengek Laura lalu mencoba mendekati Alvaro.


"Gak ada yang perlu di maafin Laura, aku udah bilang berkali-kali sama kamu, kalau aku gak ada dendam ataupun benci sama kamu, aku cuman capek sama keadaan ini, kita udah gak bisa kayak dulu lagi dan aku udah iklas sejak jauh-jauh hari untuk ngelepasin kamu buat orang lain. " Balas Alvaro.


"Alvaro, maafin aku, aku benar-benar gak bisa lupain kamu selama beberapa tahun terakhir cuman kamu yang ada di hati aku bukan orang lain. " Ujar Laura memelas agar Alvaro mau menerimanya sekali lagi.


"Laura STOP!. "


"Aku pergi juga karena terpaksa, itu bukan keinginan aku dan kamu harusnya juga tau itu. "


Laura memeluk Alvaro dari belakang, air matanya menetes, ia menangis tersedu-sedu di punggung Alvaro.


"Aku tau aku salah, seharusnya dulu aku bisa nentuin jalan hidup aku sendiri dan tetap bertahan sama kamu Al, tapi aku gak bisa ngebantah perintah mama aku untuk pergi keluar negeri lalu menikah dengan laki-laki itu, aku gak bisa berbuat banyak waktu itu Alvaro, tolong kasih aku kesempatan. " Laura memeluk Alvaro semakin erat.


Alvaro benar-benar merasa prustasi dengan kelakuan Laura saat ini. Bukan hal seperti ini yang dia inginkan, padahal selama bertahun-tahun Alvaro selalu berdoa agar Laura hidup dengan baik dan layak namun kenapa Laura malah menjadi perempuan lemah seperti ini.


Alvaro kehabisan kata-kata, sementara Laura terus menangis.

__ADS_1


Rania yang berada di luar ruangan kerja Alvaro tanpa sengaja mendengar pertengkaran dua orang dewasa itu.


"Serumit itukah kisah asmara orang dewasa?. " Batin Rania. Tadinya ia ingin masuk ke ruangan Alvaro untuk memanas-manasi Laura namun karena mendengar dua orang itu sepertinya sedang butuh ruang dan waktu untuk berbicara Rania mengurungkan niatnya. Ia hanya berdiri di depan pintu ruangan kerja Alvaro.


Alvaro melepaskan pelukan Laura pada tubuhnya lalu berbalik dan memegang bahu perempuan itu.


"Liat mata aku Laura, liat! Ini adalah kesalahan dan kita gak boleh kayak gini, kamu harus kembali ke suami kamu dan perbaiki hubungan kamu dengan dia. " Alvaro mencoba membuat Laura sadar bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak bertahun-tahun yang lalu.


Alvaro tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang, apalagi setelah mengetahui ternyata Laura bercerai hanya untuk kembali kepadanya.


"Alvaro? Kamu sendiri gimana? Gimana perasaan kamu ke aku? Apa benar rasa cinta kamu ke aku udah hilang sepenuhnya? Apa benar kamu udah nggak ada mikirin aku selama bertahun-tahun ini?. " Cecar Laura menatap mata Alvaro, dalam.


"Hubungan kita udah berakhir Laura, bahkan rasa cinta kita udah mati sejak bertahun-tahun yang lalu, gak ada gunanya lagi. " Jawab Alvaro melepaskan pegangan tangannya pada bahu Laura.


"Bohong, aku tau kamu masih cinta sama aku, liat mata aku sekarang kalau kamu beneran udah gak ada rasa lagi sama aku, tatap mata aku dan bilang kalau kamu udah gak cinta lagi!. " Teriak Laura, ia terlihat sama prustasinya dengan Alvaro.


"Terus? Kalau aku masih cinta kenapa? kita tetap udah nggak bisa kayak dulu lagi Laura, sadar! " Balas Alvaro, mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.


"Maka dari itu karena kita masih saling mencintai, kita bisa membangun hubungan kita lagi dari awal Alvaro, kita pasti bisa!. " Jawab Laura penuh percaya diri menatap mata Alvaro lekat-lekat meyakinkan laki-laki itu.


Alvaro nampak kebingungan mendengar jawaban Laura, laki-laki itu kehabisan kata-kata.


Entah mengapa Rania merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya. Perasaan yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata. Rania merasa sakit hati?.


###


Rania berjalan kembali menuju ke ruangan Papanya, ia merasa sedikit shock mendengarkan pertengkaran Akvaro dan Laura barusan.


Tidak lama kemudian Reno datang dan langsung duduk dalam jarak aman dari Rania, takut jika Rania tiba-tiba saja menyerangnya. Namun sudah beberapa menit berlalu Rania hanya terdiamembisu di tempat duduknya.


Reno mendekati Rania kemudian menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya tersebut.


"Apaan sih nih bocah. " Ujar Rania sinis menatap Reno.


"Hehehe, kirain tadi kamu kesurupan atau kesambet apa gitu. " Jawab Reno asal.


Rania langsung menjambak rambut adiknya tersebut.

__ADS_1


"Kena kau, hmmmm ampun, minta ampun cepetan!. " Teriak Rania akhirnya ia berhasil menangkap Reno.


"Aw ah sakit kak Rania ampun, aduh ampun deh. " Reno berteriak kesakitan.


Rania lalu melepaskan rambut Reno dan kembali terduduk lemas.


"Huhhhhh." Rania menghembuakan nafasnya dengan kasar.


"Kenapa lagi sih? Aneh banget. " Tanya Reno lagi sambil memperbaiki model rambutnya yang berantakan.


"Gak tau, bete aja. " Balas Rania cuek.


"Hmmm, bete kenapa?. " Tanya Reno lagi, kepo.


"Kepo banget sih. " Sinis Rania.


"Ya siapa tau aja aku bisa bantu jawab kegelisahan hatimu, hahaha. " Canda Reno.


"Lebai." Bals Rania jutek.


"Ya udah kalau gak mau cerita aku pergi aja. " Ujar Reno yang akan beranjak dari tempat duduknya namun Rania segera berubah pikiran dan menarik Reno untuk duduk kembali.


"Tunggu! Reno, menurut kamu aku kenapa yah? Tadi pas aku dari ruangan Pak Avaro dan gak sengaja ngedengerin percakapan dia lagi berantem sama mantannya ituloh yang sering datang ke rumah sakit beberapa hari ini. "


"Hm terus?. "


"Iya menurut kamu aku kenapa yah Ren, setelah ngedenger mereka ternyata masih saling suka dan saling cinta kok aku ngerasa kayak ada sesuatu yang ngeganjal di dalam hati aku. " Ujar Rania memegangi dadanya dengan sedikit dramatis.


"Itu artinya kamu cemburu. " Jawab Reno.


"Idihh najisss, enak aja. " Sinis Rania tidak Terima dikatai cemburu kepada Laura.


"Kamu kayaknya nggak sadar kalau ternyata kamu itu lagi jatuh cinta, tapi kamu gak mau nerima perasaan kamu itu dengan terus-terussan membuat alasan sekan-akan kamu lagi gak pengen ngenalin hubungan, padahal mah di dalam hati kamu pengen bangetkan punya hubungan asmara?. " Jelas Reno sambil sedikit menggoda Renia.


Rania hanya terdiam membisu memikirkan ucapan Reno barusan.


"Aku jatuh cinta?. " Lirih Rania.

__ADS_1


Bersambung..


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.


__ADS_2