Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 94 : Bertemu kembali?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Perasaan marah, benci dan kesalnya selama bertahun-tahun langsung hilang saat melihat Alvaro sudah datang sejauh ini untuk menemuinya.


###


Happy READING and Enjoy Guys.


"Bagaimana kabar Pak Alvaro?. " Tanya Rania, ia tidak memeperdulikan pernyataan Alvaro barusan. Yang terpenting saat ini Rania sudah melihat laki-laki itu.


"S-saya baik Rania. " Jawab Alvaro. Ia sedikit kebingungan karena Rania memanggilnya dengan embel-embel Pak.


"Sepertinya Rania akan menolakku lagi. " Batil Alvaro


"Bagaimana bisa Pak Alvaro merasa baik-baik saja sementara saya disini harus menekan perasaan saya yang terlalu dalam kepada bapak selama bertahun-tahun?. " Cecar Rania meluapkan isi hatinya.


"Ah maaf Rania saya memang... "


"Pengecut? Pak Alvaro emang pengecut. " Pekik Rania.


"Maaf Rania, kalau kedatangan saya kesini membuat kamu marah, kalau begitu lebih baik saya mencari tempat tinggal yang lain.... "Alvaro merasa bersalah.


"Hah? Gitu aja usaha pak Alvaro?. " Cecar Rania lagi.


"Rania? . "


"Pak Alvaro cuman datang kesini ngasih tau kalau pak Alvaro mau minta maaf? dan mau bawa Rania pulang? tapi karena sampai disini ternyata usaha Pak Alvaro cuman segitu aja?. " Ujar Rania.


"Rania saya tidak bermaksud begitu, saya... "


"Pak Alvaro tau gak sih kalau saya selama ini gak baik-baik aja?. " Cecar Rania.


"Rania maaf. " Balas Alvaro mendekat ke arah Rania.


"Enak banget ya jadi pak Alvaro, bisa hidup dengan baik-baik aja selama empat tahun terakhir? Pak Alvaro tau gak perasaan aku waktu bapak bilang gak bakalan hubungin aku lagi? Aku sakit hati pak. " Pekik Rania.


"Rania, saya sungguh menyesal, untuk itu saya datang kesini untuk memperjuangkan kamu lagi. " Jelas Alvaro.


"Memperjuangkan apanya, tadi aja Pak Alvaro bilang mau nyari tempat lain. " Sinis Rania.


"Maksud saya, biar nanti kalau marahmu udah reda baru saya bali lagi Rania. " Jelas Alvaro.

__ADS_1


"Emangnya saya apaan, mesin ATM? yang di datengin cuman pas mau gosok kartu aja? " Pekik Rania.


"Tapikan saya datang kesini bukan untuk menggosok kamu Rania. " Ujar Alvaro.


"Hah?. " Ia baru sadar perkataannya barusan sepertinya kurang telat.


"Eh?. " Alvaro juga sepertinya baru menyadari ucapannya barusan agak aneh.


Rania mengulum senyumnya, seketika amarah yang selama ini terpendam dan menguasai hatinya perlahan-lahan sirna.


"Saya tidak pernah baik-baik saja Rania. " Ujar Alvaro kemudian.


"Kamu sendiri yang mengatakan dan menyuruh saya untuk menunggu kamu, tapi kenapa kamu tidak pernah datang ?. " Kini Alvaro yang mencecar Rania.


"Hah?. " Rania terheran-heran.


"Kamu lupa? Kamu pernah nyuruh saya buat nungguin kamu? Nyatanya apa? Sudah empat tahun berlalu, bahkan waktu kamu berangkat kesini, tidak ada satu patah katapun yang kamu ucapkan untuk saya, saya menunggu kamu sampai hampir gila Rania. " Ujar Alvaro.


Rania sontak tertegun mendengar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Alvaro.


Ingatan Rania kemudian melayang ke beberapa tahun yang lalu, saat dirinya meminta Alvaro untuk menunggunya. Rania baru mengingatnya saat ini.


"Kamulah yang salah. " Ujar Alvaro.


"Ih enak aja, kamu lah yang salah, siapa suruh kamu bilang gak bakalan hubungin aku lagi, ya udah sekalian aja aku gak pulang. " Balas Rania.


"Jadi beneran kata Pak Herman sama Reno, kamu gak mau pulang karena marah sama aku. " Goda Alvaro.


"Big No. Ih apaan sih gak jelas banget." Sinis Rania.


"Beneran nih bukan karena aku?. "


"Bukanlah, emangnya kamu pikir kamu siapa. " Ketua Rania.


"Aku Alvaro, Pak Gurumu, cintamu. " Ujar Alvaro.


Rania yang mendengar itu merasa geli, karena laki-laki yang biasanya terlihat cool itu mengatakan kalimat yang receh.


"Ih apaan sih Pak Alvaro ih alay banget. " Balas Rania, senyuman di wajahnya tidak bisa lagi di sembunyikan.


Alvaro kemudian memeluk gadis itu, melepaskan rasa rindunya yang selama empat tahun ini ia pendam.

__ADS_1


Rania balas memeluk laki-laki itu.


Kurangnya komunikasi di antara mereka berdua menjadi faktor utama, hubungan mereka tidak berjalan baik.


Untungnya Alvaro yang lebih dewasa dari Rania mau mengalah dan menurunkan ego dan gengsinya untuk menjemput murid kesayangannya itu.


Satu minggu kemudian.


Indonesia.


Acara syukuran untuk rumah sakit baru pak Herman di undur hingga Rania dan Alvaro sampai ke Indonesia.


Setelah berhasil membawa Rania pulang, tanpa membuang-buang waktu Alvaro dan Rania segera mengumumkan hubungan mereka berdua dan mereka segera akan melangsungkan pernikahan.


Semua orang yang berada di perayaan itu merasa terkejut termasuk orang tua Alvaro dan Rania. Akhirnya mereka dapat bersatu meskipun harus saling menunggu selama empat tahun lamanya.


Orang tua Alvaro dan Rania terlihat sangat bahagia mendengar pengumuman itu. Tanpa terkecuali Melinda dan Reno.


Acara perayaan rumah sakit sekaligus pengumuman pernikahan Alvaro dan Rania hari itu berlangsung tenang.


Meskipun setelah acara pernikahan di laksanakan Rania akan segera kembali ke London untuk menyelesaikan masa kontraknya.


Setelah acara selesai, Rania dan Alvaro yang kimi sudah berada di ruang kerja Alvaro yang nari nampak sedang menikmati makanan dari pesta perayaan tadi.


"Kamu beneran mau langsung kembali ke London satu hari abis acara kita?. " Tanya Alvaro.


"Hhhhh." Balas Rania, mulutnya penuh dengan makanan.


"Pelan-pelan dong makannya, di telan dulu baru ngomong. " Ujar Alvaro.


"Aku bilang, iya. " Balas Rania.


"Hmmm." Alvaro nampak kecewa.


"Kenapa? Kamu gak bisa jauh-jauh yah dariku?. " Goda Rania.


Alvaro mengangguk, malu-malu.


Mereka berdua kemudian tertawa cekikikan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2