
Episode sebelumnya...
Hingga tidak lama kemudian Rania datang dan melihat Alvaro dan Laura yang sedang berpelukan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Rania sedari tadi hanya mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kafe, minuman dan makanan yang sudah di pesannya bahkan tidak di sentuh sedikitpun.
"Kenapa lagi sih Rania?. " Tanya Melinda, sedari tadi ia sudah memperhatikan gelagat Rania.
"Hmm? Gapapa kok. " Jawab Rania.
"Gapapa apanya, udah setengah jam kita disini, makanan kamu masih gitu-gitu aja tuh, nih liat makanan aku udah mau abis. " Ujar Melinda, memperlihatkan piringnya.
"Hmm aku lagi gak mood Mel, lagi kepikiran sesuatu. " Ujar Rania.
"Kepikiran apaan? Cerita dong. " Pinta Melinda.
"Au ah males. " Balas Rania.
"Ih kok gitu sih, tuh muka kamu udah keriput gara-gara nyimpen masalah seorang diri, mau kamu cepat tua?. " Ujar Melinda menunjuk bawah mata Rania.
"Ih apaan sih enak aja. " Rania menepis tangan Melinda yang mencoba memegang wajahnya.
"Makanya cerita dong, kenapa?. " Cecar Melinda.
"Aku lagi galau. " Ucap Melinda.
"Galau? Helow Rania galau?. " Ejek Melinda.
"Tuh kan, itutuh yang bikin aku males cerita. " Keluh Rania.
"Iya deh, iya maafin dong Rania ku sayang, emangnya kamu galau kenapa? Gara-gara Gunawan pas di perpus beberapa hari yang lalu? Kamu malu di ejekin?. " Tebak Melinda, namun tebakannya tersebut meleset sangat jauh.
"Bukan lah. " Jawab Melinda, cuek.
"Jadi?. " Melinda terus bertanya.
"Pak Alvaro, Mel. " Ujar Melinda kemudian.
"Ya elah pak Alvaro lagi kayak gak ada cowok lain aja, nanti biar aku cariin cowok yang jauh lebih cakep dari dia ngapain galau gara-gara Pak Alvaro. " Oceh Melinda.
"Ih kamu tuh gak ngerti banget sih sama perasaan aku, bukannya dengerin dulu alasan aku galau karena apa. " Rania, sebal.
"Iya deh, emang apaan?. "
"Dia ngajak aku pacaran. " Tutur Rania dengan ekspresi datar.
"Hah? Pacaran?. " Melinda terlinjak kaget, suaranya bahkan membuat beberapa pengunjung kafe melihat ke arah mereka.
"Sekalian aja umumin di toa masjid, Mel. " Sindir Rania karena mereka saat ini sedang di tatap oleh beberapa orang.
__ADS_1
"Upsss, hehehe. " Melinda menutup mulutnya karena malu.
"Kebiasaan." Sinis Rania.
"Terus? Kamu jawab apa?. " Lanjut Melinda.
"Ya aku bilang, aku mau pikir-pikir dulu lah, enak aja aku mau langsung iyain. " Jawab Rania.
"Emang kamu mau nerima pak Alvaro?. "
"Hah? Eh gak, maksud aku belum tau juga sih, sebenarnya beberapa hari yang lalu aku juga udah ngungkapin perasaan aku sih ke Pak Alvaro, tapi aku gak minta dia jawab apa-aoa karena emang aku gak berharap tapi tiba-tiba aja kemarin malam dia datang ke rumah terus ngajak aku pacaran. " Jelas Rania.
"Hah? Kamu ngungkapin perasaan kamu ke Pak Alvaro?. " Lagi-lagi Melinda terlinjak kaget mendengar penjelasan Rania. Untungnya kali ini suaranya tidak terlalu keras.
"Hu'um, emangnya kenapa gak ada yang salah kan?. " Ucap Rania.
"Gila emang, udah gila kamu Rania. " Melinda tidak menyangka sahabatnya ini akan benar-benar senekat itu.
"Gila kenapa?. "
"Kalau yang pas taruhan itu aku masih bisa bilang wajar aja karena itu cuman permainan, tapi kali ini karena kamu emang udah beneran suka sama Pak Alvaro aku jadi kepikiran, nekat banget kamu ngungkapin perasaan ke Pak Alvaro, terus si Pak Alvaronya kayak gimana?. "
"Ya itu, dia katanya mau buka hati buat aku, terus kemarin datang ke rumah ngajak aku pacaran. " Jelas Rania lagi.
"Wah wah wah. " Melinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rania hanya melongo, tidak tau harus bilang apa lagi.
"nah itu dia, Mel. "
"Itu apa? . "
"Aku pernah nggak sengaja nguping, mereka saling ngungkapin perasaan, terus kemarin pas pulang sekolah kan aku ke rumah sakit lagi tuh, pas ke ruangannya Pak Alvaro aku dapatin mereka lagi pelukan. " Tutur Rani, nada suaranya sedikit kecewa.
"Hah?. " Melinda lagi-lagi terkejut.
"Hah, hih mulu deh kamu Mel. "
"Udah kayak gitu kamu masih galau perkara Pak Alvaro? Udah Fika tolak aja sih, jangan mau kamu harus jual mahal Rania, kamu mau di fal gampangan!. " Tegas Melinda.
"Tapi, Mel... "
"Gak ada tapi-tapian Rania!. "
"Karin dia udah bilang kalau itu cuman salah paham doang dan akuu... "
Melinda segera memotong ucapan Rania.
"Kamu udah cari tau alasan mereka pelukan? Kan Pak Alvaro ngomong kamu salah paham doang kan? Udah kamu tanyain salah pahamnya dimana?. "
Rania menggelengkan kepalanya.
"Dasar, bego banget sih kamu. " Ejek Melinda.
__ADS_1
Rania manyun.
"Jadi gimana? . " Tanya Melinda kemudian.
"Gimana apanya Mel?. "
"Ya jawaban kamu buat Pak Alvaro?. "
"Rencananya sih aku mau cari tau dulu apa Pak Alvaro benar-benar udah mau buka hatinya buat aku atau cuman kasian doang. " Tutur Rania.
"Hadeh, jangan buang-buang waktu deh Rania, apalagi sama orang dewasa kayak Pak Alvaro, kalau dia mau buka hati udah lama dia lakuin Ran, buktinya spai sekarang mereka masih sering ketemukan?. "
"Iya sih.. "
"Ya udah sih, semuanya baLik lagi ke kamu lagian kadang-kadang percuma ngasih saran ke orang yang lagi jatuh cinta. " Ujar Melinda.
"Huuuhhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Percuma saja ia curhat panjang lebar ke Melinda, akhirnya dia sendiri juga yang harus berpikir dan mencari solusi terbaik untuk masalahnya kali ini.
###
Di tempat lain, Alvaro sedang menemani Maura untuk melakukan cek up terkait kondisinya, namun tidak ada perubahan perempuan itu sepertinya memang sudah harus di rawat inap di rumah sakit.
"Lebih kamu kasih kabar deh ke mantan suami kamu biar dia datang kesini dan nemenin kamu Laura. " Saran Alvaro kepada Melinda, wajah perempuan itu terlihat semakin pucat saja.
"Jangan AL, aku udah ngerasa cukup kok karena kamu udah ada disini, aku cuman butuh kamu, plis jangan kasih tau ke mereka kalau aku sekarat. " Pinta Laura, memegang tangan Alvaro, erat.
"Tapi, Laura aku gak bisa buat selalu ada di sisi kamu, aku punya dua pekerjaan sekaligus gak bisa nemanin kamu sepanjang waktu disisi lain aku punya urusan lain. " Jelas Alvaro, laki-laki itu bukan tidak mau membantu Laura namun, ia juga punya kesibukan sendiri.
"Plis, tolong aku, waktu hidup aku udah gak lama lagi Al, cuman kamu satu-satunya orang yang aku punya saat ini, kalau kamu gak mau ya udah mending aku mati aja saat ini juga biar gak jadi beban buat hidup kamu, aku emang cuman bisa jadi beban buat orang lain, gak ada gunanya aku hidup. " Laura kembali histeris dan menangis tersedu-sedu.
Jika sudah jadi seperti ini, Alvaro sudah tidak dapat berkuti lagi.
"Udah-udah, ok! aku bakalan bantuin kamu tapi kalau kondisi kamu makin parah aku terpaksa harus ngabarin mantan suami kamu. " Tutur Alvaro.
Laura mengangguk.
"Yang penting kamu harus selalu ada disisi aku. " Ujar Laura sambil menghapus air matanya.
Alvaro kemudian duduk di samping ranjang tempat Laura berbaring, perempuan itu harus di rawat selama beberapa hari sampai kondisinya bisa jauh lebih baik lagi.
Laura kemudian memegang tangan Alvaro, hingga ia tertidur.
Setelah memastikan Laura tertidur, Alvaro kembali memeriksa rekam medis perempuan itu.
Bantuan yang diinginkan Laura hanyalah menemani perempuan itu hingga saat-saat terakhirnya namun entah mengapa Alvaro merasa sangat berat untuk menyetujuinya namun laki-laki itu masih memiliki hati nurani, apalagi Laura sudah tidak memiliki keluarga inti selain mantan suami dan ketiga anak kandungnya yang saat ini sedang berada di luar negeri.
Laura kembali ke Indonesia untuk menyembunyikan penyakitnya, karena tidak ingin mantan suami dan ketiga anaknya tersebut ikut menderita melihatnya kesakitan. Hanya Alvaro yang bisa Laura andalkan saat ini.
Bersambung...
Note: klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih. I love you.
__ADS_1