Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 32 : Rania Berubah Lagi


__ADS_3

Episode sebelumnya..


Benar-benar Mama dan Papa Rania hanya memiliki dua orang anak, namun jika keduanya sedang bertengkar ributnya seperti sedang memiliki satu lusin anak, semua tempat kadang di buat berantakan jika sudah terjadi aksi kejar-kejarran seperti tadi.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


###


Lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, namun beberapa murid lainnya masih tinggal di sekolah, beberapa di antaranya sedang menunggu jemputannya yang belum datang sebagian lagi sedang mengikuti ekskul di sore hari.


Rania sendiri sedang malas untuk pulang cepat hari ini, ia bersama Diki dan beberapa teman kelasnya yang lain sedang bermain basket di lapangan, Rania memang lumayan jago bermain basket namun karena beberapa minggu ini keadaan sedang tidak memungkinkan untuknya ikut bermain jadi Rania menyempatkan waktunya hari ini.


"Ran? tumben kau tidak mengeluarkan suara waktu pelajaran Biologi tadi?. " Tanya Diki penasaran melihat tingkah Rania yang sejak pagi lebih banyak diam biasanya Rania terlihat sangat ceria dan banyak bicara namu hari ini gadis itu terlihat sangat cuek bahkan penampilannyapun kini menjadi tomboi lagi, kecuali rambutnya yang sudah di rebonding.


"Gapapa, lagi malas aja, lagi gak mood akutuh Diki. " Jawab Rania sambil mengoper bolanya ke Tono yang sedang berada di dekat ring.


"Poin." Teriak seorang murid yang bertugas sebagai wasit.


"Kau ada masalah kah?. " Tanya Diki lagi merasa penasaran.


Rania tidak menghiraukannya dan segera berjalan menuju keluar lapangan, Rania kemudian duduk di kursi penonton merasa sangat lelah setelah membuang banyak keringatnya hari ini.


"Hei Rania, ini minum buat kamu. " Sebuah botol minuman kini sedang berada di depan wajah Rania.


"Eh Gun, wah makasih banget loh, aku emang lagi haus banget. "


"Makanya aku bawain kamu air. "


"Ahhhh, segar banget Gun. " Rania merasa tenggorokannya langsung segar setelah meminum air pemberian Gunawan.


"Tumben Ran, kamu ikut main?. " Tanya Gunawan yang sudah memperhatikan Rania beberapa minggu terakhir jarang ikut bermain basket lagi saat pelajaran olahraga.


"kemarin-kemarin lagi gak bisa Gun, karena aku abis jatuh dan kakiku keseleo. " jawab Rania memperlihatkan kakinya yang terkadang masih ngilu jika terlalu sering di gunakan.


"aw aw aduh, kenapa malah keram, aduh kakiku. " Rania merintih kesakitan merasakan kakinya yang pernah keseleo itu tiba-tiba saja keram.


"Kenapa Ran? . " Gunawan terlihat khawatir dan langsung akan memegangi kaki Rania.

__ADS_1


"Aduh keram Gun, rasanya betis ku juga kesemutab aduh. "


"Yang mana? yang ini? maaf yah aku pegang. " Gunawan permisi sebelum memijat kaki Rania yang katanya terasa keram itu.


"Iya yang disitu, aw sakit banget. "


Gunawan memijat-mijat kaki Rania, selama hampir 2 menit yang hingga kaki Rania itu terasa agak baikan.


"Harusnya gak usah di paksain dulu mau basket kalau emang masih kerasa sakitnya. " Gunawan memberikan perhatian kepada Rania, membuat gadis itu merasa senang.


"Aku pikir udah gak bakalan sakit lagi loh Gun. "


"Yaudah kalau gitu aku anterin kamu pulang yah, kamu gak ada nunggu siapa-siapa kan?. " Tanya Gunawan memastikan.


"Iya gak ada kok, tadi cuman lagi malas pulang cepat aja. "


"Yaudah yuk, aku boncengin kamu pulang. " Ajak Gunawan memegang tangan Rania dan membantunya berjalan menuju ke parkiran motor Gunawan yang tidak jauh dari lapangan itu.


*


*


Alvaro terpukau melihat Rania yang lumayan mahir bermain bola basket bersama teman kelasnya, Alvaro merasa takjub melihat gadis itu sangat jago mengoper bola ke temannya yang lian, laki-laki itu tanpa sadar tersenyum melihat gadis itu telah kembali ke karakter aslinya yang tomboi dan blak-blakan. Namun tidak lama kemudian gadis itu keluar dari lapangan dan seorang murid laki-laki datang memberinya air minum.


Rania dan murid laki-laki itu terlihat sangat akrab, Alvaro lebih terkejut lagi ketika melihat murid laki-laki itu memegang kaki Rania yang sepertinya sedang merasa kesakitan.


Alvaro yang melihat itu berinisiatif ingin segera membantu Rania, sepertinya kakinya yang habis keseleo itu kumat lagi.


"Widih kayaknya bakalan jadian tuh anak dia orang, hahaha. " Ucap Diki dengan suara yang sepertinya sengaja di besarkan agar orang lain disekitarnya ikut memperhatikan dua sejoli yang sedang berduaan di kursi penonton itu.


"Hahaha, iya lagi kayaknya bakalan jadi pasangan terkece tuh Gunawan sama Rania di pelulusan nanti kalau mereka benar-benar jadian. " Timpal murid yang lain


Alvaro yang mendengar itu menghentikan langkahnya, dan mengurungkan niatnya untuk membantu Rania, Tiba-tiba saja ia merasa hatinya sedikit sakit dan ada rasa cemburu saat mendengar pembicaraan murid-muridnya tadi.


Disisi lain rasa bersalahnya kepada Rania, setelah apa yang dilakukannya kemarin membuat Alvaro belum berani berbicara dan meminta maaf kepada gadis itu, mengingat karakternya yang sering berubah-ubah.


Alvaro yang saat ini sudah berada di samping mobilnya dan bersiap-siap untuk membuka pintu mobilnya tersebut melihat Rania kini sedang di bantu untuk naik ke motor oleh murid yang Alvaro baru ketahui bernama Gunawan itu.


Tidak lama kemudian motor tersebut melaju, melewati Akvaro yang masih memperhatikan dua sejoli itu, Rania dan Akvaro bahkan sempat bertatapan beberapa detik, namun gadis itu segera mengalihkan pandangannya dengan ekspresi risih seolah-olah tidak ingin melihat wajah Alvaro.

__ADS_1


Alvaro yang melihat itu hanya diam terpaku di tempatnya berdiri saat ini, sepertinya Rania benar-benar marah kepadanya.


..."tit.. tit.. "...


Ponsel Adrian bergetar menandakan ada pesan yang masuk hal itu sontak membuatnya tersadar kembali, ia lalu buru-buru masuk ke dalam mobilnya lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana yang ia kenakan.


Akvaro yang melihat itu terlihat sedikit terkejut dan langsung menutup mulutnya.


"Alvaro, ini Laura bisakah kita bertemu sebentar?. " Kalimat dari pesan itu.


"Laura?. " Gumamnya lirih.


Alvaro tidak menanggapinya, sudah cukup ia tidak boleh menanggapi pesan dari istri orang lain. Alvaro menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari gerbang sekolah melaju bersama kendaraan yang lain di jalan raya.


Albaro akan menjalankan niat awalnya untuk tidur hingga pukul tujuh malam nanti bari ia akan pergi ke rumah sakit, malam ini sepertinya Alvaro akan begadang lagi mengerjakan laporannya.


*


*


Rania tidak bisa memejamkan matanya, padahal waktu di jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 23.02. Gadis itu asik berguling-guling di atas kasurnya sejak tadi mencoba mencari posisi tidur yang dapt membuatnya, tidur dengan nyaman.


Namun, karena merasa perutnya sedikit lapar gadis itu kemudian keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah yang ternyata mama dan bibi di rumahnya masih belum tidur juga, mereka sedang asik menonton tayangan TV.


Rania mengambil makanan dari dalam kulkas dan ikut bergabung ke ruang TV.


"Rania kok belum tidur nak? besok bisa terlambat lagi loh. " Mama Rania kaget melihat anaknya yang tiba-tiba datang duduk di sebelahnya, sementara bibi terlihat berbaring sambil menonton TV.


"Rania lapar mama, gak bisa tidur makanya nyari makanan tapi adanya cuman ini. " Ucap Rania cemberut.


"Ya kalau mau makan ya masak sendiri lah jangan ngeluh di depan orang yang lagi istirahat, gak sopan tau Rania kayak gitu. " Omel mamanya yang tau bahwa anaknya itu sedang memberi kode kepada bibi yang langsung duduk setelah Rania berkata seperti tadi.


"Hehehe, becanda kok ini aja udah cukup kok, bibi tidur aja lagi kenapa bangun. " Ucap Rania cengengesan.


Bibi pun kembali berbaring dan asik menonton TV kembali, Mama dan bibi di rumahnya ini itu memang sudah seperti saudara dan kadang kalau Papa Rania sedang sibuk di rumah sakit dan pergi pagi pulang pagi, mama Rania lebih sering tidur di depan TV ini bersama bibi.


Bersambung...


Klik like, komen, vote dan subscribe yah untuk membantu author berkembang dan lebih semangat lagi untuk membuat karya-karya baru, kalau ingin promo komen di postingan terbaru yah. Terim kasih, i love you.

__ADS_1


__ADS_2