Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 25 : Mau gak Jadi Pacarku?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Udah, udah ayo pergi dari sini, diliatin banyak orang tuh. " Ujar Nurlia membawa gengnya pergi dari kantin.


Rania tidak menghiraukan mereka dan melanjutkan makannya dengan lahap seperti biasanya.


###


Happy Reading and Enjoy Guys..


###


"I love you pak Alvaro, mau gak jadi pacar ku?. " Teriak Rania, gadis itu terlihat sangat nekat melakukan ini pada saat jam pembelajaran Biologi sedang berlangsung.


Rania yang sedang berdiri di belakang Alvaro sambil menjulurkan tangannya yang memegang sebuah coklat batang. Alvaro yang sedang menuliskan sesuatu di papan tulis itupun sontak terkejut dan menghindari Rania.


"Gila." Batin Alvaro


"Apaan lagi ini Rania? gak kapok-kapok yah kamu mau di hukum lagi?. "


Satu kelas langsung heboh menyoraki Rania, beberapa di antaranya ternyata geng Nurlia tertawa mengejek karena Alvaro terlihat shock dengan perlakuan Rania yang super mendadak itu.


"Pak Alvaro mau gak jadi pacarku?. " Teriak Rania sekali lagi membuat seisi kelas makin riuh.


"Cie cieee. "


"Terima, Terima, Terima. "


"Uhuiiii."


"Sit suittttt. "


Teman sekelas Rania makin heboh seperti sedang melakukan paduan suara.


"Jawab dong pak. " Teriak Diki.


Membuat wajah Rania memerah karena harus menahan malu, ini semua ia lakukan demi bisa memenangkan taruhan itu, enak saja dirinya akan di jadikan babu oleh geng Nurlia itu. Gak level.


"Mungkin pak Alvaro nya belum denger Rania, coba ngomongnya lebih kenceng lagi. " Teriak temannya yang lain.

__ADS_1


Rania yang mendengar itu memutar bola matanya, tangannya juga terasa sudah lelah seperti ini.


"Pak Alvaro, i love you mau gak jadi pacar Raniaaaaaaa. " Teriak Rania sekencang-kencangnya membuat seisi kelas makin heboh lagi dari sebelumnya.


"Apa-apa kalian ini, kalian pikir kita ini lagi du taman bermain. Dian kalian semua. Tidak adak ada yang boleh mengeluarkan suara, jika masih ada yang ingin mengeluarkan suaranya silahkan keluar dari kelas saya, saya akan panggil orang tua kalian karena sudah berperilaku tidak sopan kepada guru di ruang kelas pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. " Alvaro dengan nada yang tegas memarahi seluruh muridnya.


Sontak seisi kelas langsung menjadi hening. Hanya terdengar suara dari jarum jam dinding yang berdetak.


"Rania! Kembali ke tempat duduk mu. " Perintah Alvaro yang kemudian langsung diikuti oleh Rania karena merasa takut juga melihat pak gurunya itu marah, sepertinya baru kali ini laki-laki itu terlihat sangat marah.


"Kalian kerjakan tugas di halaman 60-61, kumpullan tugasnya kepada Rania biar dia sendirian nanti yang membawanya ke ruangan saya!!" Ujar Alvaro lalu mengemasi seluruh barang-barangnya ke dalam tas berjalan keluar dari kelas.


"Kamu sih Rania, lagian ada -ada aja. " Ucap Melinda yang melihat sahabatnya itu sepertinya akan mendapatkan masalah lagi.


"hummm." Rania hanya dapat bergumam lirih, padahal dirinya sudah berdandan secantik mungkin pagi ini, karena merasa dandannya yang kemarin mungkin kurang memikat Alvaro. Rania bahkan tidak hanya tidur selama 3 jam semalam untuk latihan cara menembak seseorang dengan romantis yang di bacanya melalui gugel.


"Sepertinya misi kali ini gagal lagi, hiksss. " Batin Rania, wajahnya kini terlihat sangat masam, belum lagi dirinya terus-terussan mendengar bisikan-bisikan dan surat cinta cekikikan beberapa orang yang sepertinya sedang bergosip tetang dirinya. Siapa lagi kalau bukan Gangnya Nurlia.


###


Alvaro rasanya harus memeriksakan jantungnya, gadis itu hampir tiap hari ada saja tingkah lakunya yang lama-lama bisa membuat dirinya jantungan.


"Apakah aku harus memberitahu orang tuanya?. " Alvaro menggeleng-gelengkan kepanya.


"Sepertinya ini memang sudah di rencanakan oleh gadis itu, pasti dia sedang mecoba melakukan sesuatu, kepadaku? apakah dia sedang mengetes ku?. " Alvaro, asik berbicara dengan pikirannya sendiri.


"Pak Alvaro? Tumben cepat banget kekuar dari kelas. " Tanya Bu Indri salah satu guru muda yang mengajar di sekolah itu juga.


"Pak Alvaro?. " Panggilnya sekali lagi.


"Eh iya Bu ada apa?. " Alvaro tersadar dari lamunannya, Rania betul-betul membuatnya kewalahan kali ini, mungkin orang lain yang melihatnya akan menyangka Alvaro ikut gila juga karena melamun sendirian.


"Saya tadi nanya, kok bapak cepat banget keluar dari kelas? tumben. " Tanya Bi Indri sambil tersenyum manis ke arah Alvaro.


"Ah iya, soalnya anak-anak bikin kepala saya pusing, makanya saya keluar cepat hari ini. " Jelas Alvaro, baru kali ini dirinya berkomunikasi dengan kalimat yang panjang dengan guru di sekolah ini.


"Yah viasalah itu pak Alvaro, memang harus sabar, apalagi bapak di kelasnya Rania yah?. "


"Iya Bu. "

__ADS_1


"Hmm anak itu memang dari dulu bandelnya, suka ngisengin temannya juga bahkan guru biologi sebelum bapak aja kewalahan, bukan sekali dua kali Rania bikin Bu Hana ngejar-ngejar dia sampai pernah keliling sekolahan. " Ucap Bu Indri seperti sedang menggibah bersama temannya, membuat Alvaro sedikit kurang nyaman.


"Oh, hehehe. " Alvaro hanya menanggapinya dengan cengengsan.


"Bapak mau minum obat sakit kepala? saya ada nih obatnya?. " Tanya Bu Indri megalihkantooik pembicaraan agar pak guru tampan itu bisa berkomunikasi lebih panjang lagi dengannya dan dia bisa menyombongkan hal itu kepada guru-guru yang lain nantinya.


"Ah gak usah, saya ada juga kok obatnya. " Jawab Alvaro.


"Gak usah malu-malu pak Alvaro, ini saya iklas kok gratis lagi. " Ucap Bu Indri membawakan obat yang sudah di ambil dari lacinya ke meja Alvaro.


"Tapi... "


"Gak usah tapi tapian deh pak saya ambilin air dulu yah. " Ucap Bu Indri lagi, namun kali ini dengan nada menggoda.


Alvaro yang mendengar itu merasa orang-orang di sekolah ini sangat a eh, tidak muridnya tidak gurunya sama-sama membuatnya akan jantungan menghadapi tingkah mereka.


Alvaro kemudian berlari pelan keluar pintu tanpa membawa obat pemberian dari Bu Indri, ia merasa tidak enak jika berada di ruangan yang sama dan hanya ada mereka berdua di dalamnya.


Bu Indri yang menyadari bahwa Alvaro sudah keluar dari ruang guru berdecak kesal, gagal sudah rencananya tadi untuk pamer ke guru-guru yang lain.


Kali ini Alvaro berjalan menuju ke kantinmumpung suasana kantin di jam seperti ini pasti sedang sepi, karena pembelajaran masih akan berlangsung hingga 20 menit ke depan. Alvaro sekalian akan mengisi perutnya yang merasa lapar, pagi ini dirinya tidak sempat sarapan karena semalam laki-laki itu menginap di rumah sakit.


"Mbak pesan nasi gorengnya satu ya, sama es tehnya juga satu. " Pinta Alvaro kepada mbak-mbak kantin yang sedang mengelsp piring-piringnya yang basah.


"Eh ada pak Al, tumben cepat kekuar dari kelas pak. " Tanya penjaga kantin itu basa-basi.


"Lapar mbak. " ujar Alvaro singkat, dirinya malas jika harus terus-terussan menjelaskan ke orang lain.


"Ya udah tunggu yah saya siapin dulu. "


Tak berselang lama.


"Ini pak, selamat menikmati pak Al. " Ucap penjaga kantin itu sambil menyodorkan badannya lebih maju agar dadanya berada tepat di depan Alvaro.


Alvaro sontak memundurkan kepalanya karena merasa risih dengan perlakuan ibu kantin itu.


"Terima kasih. " ucap Alvaro, sepertinya perempuan-perempua di sekolah ini memang aneh, haruskah dirinya pi dah ke sekolah yang lain?


Bersambung...

__ADS_1


Note : Terima kasih sudah membaca, klik like, vote, subscribe dan tinggalkan komentar kalian yah untuk membantu author.


__ADS_2