Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 92 : Sebenarnya Maumu Apa?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Apa kabar Rania?. " Tanya Alvaro kemudian.


###


Happy Reading and Enjoy guys...


"Baik." Jawab Rania cepat.


"Syukurlah kalau begitu. " Ujar Alvaro.


"Kamu sendiri apa kabar?. " rania bertanya balik.


"Saya, baik juga, sehat. " Balas Alvaro.


"Oh, kalau begitu syukurlah. " Balas Rania membalikkan kata-kata Alvaro.


"Hmmm, kamu kapan akan pulang?. " Tanya Alvaro, mencari topik pembicaraan.


"Belum tau. " Balas Rania.


"Minggu depan akan ada perayaan rumah sakit barunya Pak Herman, kamu tidak akan pulang?. " Tanya Alvaro lagi.


"Ah iya, Reno udah bilang tadi, selamat yah untuk jabatan barunya" Ujar Rania.


"Iya, terimakasih, selamat juga untuk pekerjaan barumu. " Ujar Alvaro.


Rania kembali mengernyitkan dahinya.


"Dari mana dia bisa tahu pekerjaan baruku?." Batin Rania.


"Apakah dia diam-diam mengumpulkan informasi tentangku?. " Rania menaruh curiga kepada laki-laki itu.


"Saya dengar dari pak Herman, katanya kamu baru aja lulus dan langsung dapat kontrak kerja, selamat juga yah untuk kelulusan kamu, saya harap kamu akan segera pulang ke sini. " Jelas Alvaro seakan-akan mengerti isi pikiran Rania, meskipun mereka berdua saat ini sedang berada dalam jarak dan waktu yang berbeda.


Rania menggigit bibir bawahnya, mendengar kalimat terakhir yang Alvaro ucapkan.


"Alvaro mengharapkanku segera pulang?. " Batin Rania.

__ADS_1


"Tidak, aku mungkin tidak akan pulang dalam waktu dekat ini. " Ujar Rania tegas, ia tidak ingin terbuai dengan harapan-haraoan yang bermunculan di dalam otaknya hanya karena mendengar Alvaro mengatakan 'saya harap kamu akan segera pulang kesini. '


"Kenapa?. " Tanya Alvaro, nada suaranya terdengar panik.


"Aku bakalan pulang kalau udah ketemu laki-laki yang bisa ku bawa pulang dari sini. " Tutur Rania.


"Hah?. " Alvaro sedikit terheran-heran mendengar penuturan Rania.


"Iya, terus setelah nikah di Indonesia, aku bakalan balik dan tinggal disini selamanya. " Ujar Rania, sikap kekanak-kanakkannya sepertinya muncul lagi.


Alvaro langsung terdiam.


Rania segera memutuskan sambungan telepon. Jantungnya terasa berdebar sangat kencang. Entah kenapa, dirinya harus mengatakan hal barusan kepada Alvaro.


"Bego, buat apa aku ngasih tau Alvaro hal kayak gituan, emangnya dia bakalan peduli gitu?. " Lirih Rania.


###


Di tempat lain, Alvaro sedikit heran mendengar ucapan Rania barusan.


Sambungan telepon yang telah di putus secara sepihak tanpa ada satu kata terakhir dari gadis itu, membuat Alvaro merasakan sedikit nyeri di dadanya.


"Apakah gdis itu masih marah?. " Lirih Alvaro.


"Ah iya Ren, sudah. " Balas Alvaro.


"Rania ngomong apa mas? Dia bakalan datang nggak katanya?. " Tanya Reno..


Alvaro menyerahkan ponsel Reno.


"Katanya dia bakalan pulang kalau udah ketemu laki-laki yang bisa dia bawa pulang kesini." Jelas Alvaro apa adanya.


"Hah? Bawa laki-laki? kayak udah mau ngarungin kucing aja. " Balas Reno.


Alvaro hanya tersenyum kecil.


"Kenapa mas gak nyoba jemput Rania aja? Siapa tau kalau mas yang kesana Rania nya mau pulang?. " Saran Reno, namun dalam hatinya ia sangat berharap harap Alvaro akan menjemput gadis keras kepala itu.


"Saya?. " Tanya Alvaro.

__ADS_1


Reno mengganggukkan kepalanya.


"Iya mas, kayaknya Rania lagi nungguin mas Alvaro deh yang jemput dia kesana, mama sama papa udah nyoba buat ngomong sama Rania, Mama sama papa bahkan udah pernah ngomong bakalan jemput dia, tapi kayaknya dia kekeh gak mau pulang, menurut aku sih ya Rania nya belum Siap bakalan ketemu sama mas. " Jelas Reno.


"Ranianya aja nggak siap ketemu sama saya? gimana ceritanya saya yang mesti jemput dia kesana Ren? Yang ada bisa-bisa saya di caci maki sampai sana. " Balas Alvaro.


"Hahaha, ya namanya juga kalau cinta yah di perjuangin lah mas, siapa tau kalau masnya yang kesana hatinya Rania bakalan luluh, di omelin dikit mah gapapa, mas. " Ujar Reno sambil terkekeh pelan.


Alvaro hanya terdiam, pikirannya menyaring ucapan Reno barusan.


Hening.


"Mas Alvaro udah gak ada perasaan lagi yah buat Rania?. " Tanya Reno kemudian.


Alvaro sontak sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Ah, saya..."


Reno segera memotong.


"Kalau udah gak ada gapapa sih mas, semoga Rania bisa ketemu sama orang yang lebih baik nantinya, dan mas Alvaro juga bisa menemukan pendamping hidup yang pas. " Ujar Reno.


"Tapi, kalau masih ada gas aja, hehehe. " Lanjut Reno.


Setelah mengatakan itu Reno berlalu pergi meninggalkan Alvaro yang lagi-lagi hanya terdiam sambil memikirkan ucapan Reno barusan.


Sudah 4 tahun lamanya, Alvaro menunggu kepulangan gadis itu.


Rania sendiri yang menyuruhnya untuk menunggu di ruangan guru beberapa tahun yang lalu, namun mengapa gadis itu seakan-akan sedang menantangnya untuk pergi menjemputnya.


Empat tahun berlalu, hari ini adalah pertama kalinya mereka berkomunikasi kembali.


Alvaro kemudian beranjak menuju ke ruang kerjanya yang baru.


Sesampainya di dalam ruangan Alvaro langsung duduk sambil menutup matanya karena kepalanya sedikit pening, pekerjaannya akhir-akhir ini memang sedikit berat.


Saat membuka mata kembali, pandangan Alvaro langsung tertuju pada gambar seorang gadis yang sengaja Alvaro letakkkan di atas meja kerja barunya.


Gambar tersebut menunjukkan Rania yang sedang tertidur di atas mobilnya, beberapa tahun yang lalu. Alvaro tersenyum simpul memandangi gambar tersebut.

__ADS_1


"Dasar gadis nakal, sebenarnya maumu apa?. " Ujar Alvaro, berbicara dengan gambar Rania.


Bersambung...


__ADS_2