Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 40 : Laki-laki Batu


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Nasi sudah jadi bubur, apa mau di kata tinggal di nikmati saja. Alvaro tidak menyangka akan masuk ke dalam perangkap yang di buat untuk berpacaran dengan gadis itu.


###


Happy Reading and Enjoy Guys...


###


1 minggu berlalu, Alvaro dan Rania menjalani hari-hari seperti biasanya yang berbeda hanya saja Rania jadi lebih sering pergi ke ruangan kerja Alvaro untuk sekedar terlihat sering melakukan aktifitas bersama-sama, Sementara Melinda masih dengan tugasnya untuk diam-diam mengambil gambar kebersamaan Alvaro dan Rania yang gambar-gambar itu nantikan akan Rania gunakan untuk membuat heboh satu sekolahnya.


Rania hari ini berdandan ala gadis sekolah kutu buku dengan rambut yang di ikat satu dan memakai kacamata, setelah upacara bendera selesai Rania dan Melinda segera masuk ke dalam kelasnya dan ternyata Alvaro sudah lebih dulu berada di dalam kelas 12 IPA 2 tersebut.


Alvaro memperhatikan penampilan Rania yang agak berbeda lagi hari ini. Alvaro bergidik memikirkan gadis itu sepertinya memang memiliki kepribadian yang lain yang selalu berubah-ubah.


Kelas Rania nampak tenang dan adem-adem saja saat mata pelajaran Biologi berlangsung, namun saat Alvaro membuka sesi tanya jawab Rania selalu mengangkat tangannya untuk sekedar bertanya ataupun membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan temannya yang lain.


Alvaro yang menyadari Rania hari ini bersikap menjadi anak pintar yang aktif di kelas tidak terlalu ambil pusing, terserah saja gadis itu ingin melakukan apa.


"Ting.. Ting.. Ting.. "


Lonceng tanda istirahat telah berbunyi sebagian besar teman kelas Rania berlarian keluar kelas menyisakan Rania dan Melinda yang sedang asik mengobrol.


"Rania..." Panggil Melinda.


"Hmmm."


"jadi gimana rencana utama kamu nanti Ran? Semester ganjil udah semakin dekat aja loh ini. "


"Tenang aja, aku udah nentuin hari Hnya kok. " Rania tersenyum senang.


"Jadi?. " Melinda terlihat sangat penasaran.


"Pas hari pertama ujian. " Jawab Rania sambil menyunggingkan senyum jahatnya.


"Gak kecepetan itu Ran?. "


"Enggak, lah mumpung pak Alvaro belum berubah pikiran kita harus manfaatkan momentnya dong Melinda. "


"Hmm ya udah terserah kamu aja sih. " Melinda pasrah saja mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Nanti aku bakalan ke rumah sakit lagi, kamu gak usah ikut lagi deh kayaknya gambar-gambarnya udah lebih dari cukup. " Ucap Rania kemudian.


"Yahhhhh, gak bisa gitu dong akukan juga kepengen ikut ke rumah sakit bareng kamu, Ran. " Melinda merasa kecewa Rania melarangnya untuk pergi ke rumah sakit.


"Hmm bilang aja mau ketemu Reno lagi. " Sinis Rania.


"Gak gitu kok, orang aku cuman pengen bantuin kamu, boleh yah Rania, yah boleh yah " Melinda berbicara dengan nada manja dan memperlihatkan ekspresi sedihnya.


"Gak boleh. " tegas Rania.


"Hiks, sedih akutuh. "

__ADS_1


"Mau bantuin aku atau mau cengcengin Reno. " Ejek Rania.


"Yah kalau bisa kedua-duanya kan kenapa enggak lagian kerjaan bantuin kamu udah beres jadi hari ini aku mau cengcengin Reno lah. " Balas Melinda dengan percaya diri.


"Idih najisss, tadi aja melas-melas sekarang ngomong gitu. "


"Ih Rania ih jahat banget, ngatain aku mulu nanti aku laporin Reno loh. " Ucap Melinda dengan nada manja dan memeluk lengan Rania.


"Laporin aja entar aku geprek kalian berdua, udah sana ih jangan deket-deket. " Rania mencoba melepaskan pelukan Melinda.


"Kakak ipar ih, gitu banget sama adik ipar sendiri, aku kiss nih kalau kakak ipar gerak-gerak mulu. " Melinda makin mempererat pelukannya dan mencoba untuk menciun pipi Rania.


"Aduh ih Melinda, najis tau ihhhhhhhh. " Rania menghindari wajah Melinda yang berniat mencium pipinya.


"Cie cie cie. " Ejek Diki yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Rania dan Melinda.


"Apaan kamu Diki. " Bentak Rania masih terus mencoba melepaskan pelukan Melinda yang kini sudah beralih memeluk pinggangnya.


"Makin so sweet aja nih kalian berdua. " Ejek Diki.


Mendengar hal itu Melinda langsung melepaskan pelukannya.


"Apaan soswit-soswit iri yah gak bisa peluk-pelukkan tuh si Tomo kamu peluk. " Balas Melinda sambil menunjuk ke arah Tomo yang baru masuk ke kelas dengan membawa banyak cemilan di tangannya.


"Enak aja, kamu pikir aku homo gitu. " Balas Diki.


"Terus menurut kamu kami lesbian gitu? . " Timpal Rania.


"Ya siapa tau ajakan, hahaha. " Ucap Diki sambil tertawa.


Melinda yang melihat itu merasa tidak Terima karena Rania mengatasinya najis.


"Najis? Nih najis nih makan nih najis muahhhhhhh. " Melinda langsung menciumi pipi Rania yang membuat gadis itu langsung berdiri dan melarikan diri dari Melinda, Melinda pun ikut mengejarnya.


"MAU KEMANA KAMU? HAH? . " Teriak Melinda.


"Wle." Rania menjulurkan lidahnya mengejek Melinda.


"AWAS YAH. "


Kedua gadis itu berlarian di dalam kelas, sementara teman-temannya yang lain asik dengan aktifitasnya masing-masing, sudah biasa melihat Melinda dan Rania kejar-kejarran seperti itu.


"Dih, aku di kacangin lagi. " Diki bersengus kesal.


###


Sepulang sekolah Rania akan mengikuti Alvaro ke rumah sakit meninggalkan Melinda yang sedari tadi ingin ikut bersamanya.


"Ikuttttt." Melinda memelas.


"Aduh Mel, mending kamu ke perpustakaan daerah aja kalau mau ketemu Reno, anak monyet itu hari ini gak ke rumah sakit. " Ucap Rania.


"Beneran?. "

__ADS_1


"Iya."


"Hmmm jangan bohong Rania. "


"Aku beneran, lihat aja status pesbuk nya."


"Ah masak sih, aku cek dulu. " Melinda segera mencari-cari ponselnya.


"Ya udah cek aja, aku duluan yah Mel, dadah. " Rania segera berlari ke gerbang sekolahnya karena pesanan ojek onlinenya sudah tiba, sementara mobil Alvaro sudah pergi sejak tadi.


"Rania, ih tega banget ninggalin aku. " Melinda berdecak kesal melihat kepergian Rania yang sudah berada di atas boncengan ojek online sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Ishhhh, ya udahlah ke perpustakaan daerah aja. " Melinda mendengus kesal namun seketika merasa senang karena sepertinya Reno memang sedang berada di perpustakaan daerah saat ini karena sudah melihat postingannya di pesbuk, sesuai dengan perkataan Rania tadi.


Melinda sebenarnya bisa saja langsung menelpon Reno, namun masih ada rasa gengsi di dalam hatinya untuk memberi kabar atau sekedar bertanya duluan kepada Reno.


Hubungan merekapun masih disitu-situ saja, setelah melakukan dating minggu lalu. Reno sudah sangat jarang menghubunginyamenghubunginya, Melinda merasa sedikit kecewa karena perlakuan Reno tersebut.


###


"Mau apalagi kamu Rania?. " Tanya Alvaro yang melihat Rania di jam segini sudah berada di ruang kerjanya.


"Alvaro... " Panggil Rania dengan suara yang sengaja di buat manja.


"Saya tau kamu sedang merasa di atas awan tapi saya harap kalau ada siswa lain atau ada orang lain yang mendengar kamu memanggil saya, usahakan menggunakan embel-embel Pak yah Rania, jangan kelewatan batas!. " Tegas Alvaro.


"Iss kenapa sih Pak Alvaro ini judes banget sama pacar sendiri. " Sindir Rania.


"Kita pacaran cuma pura-oura yah Rania, ingat itu cuman di depan orang tua kita aja, ngerti. " Alvaro kini menatap langsung ke wajah Rania yang dengan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya.


"Di depan mbak Laura juga. " Tambah Rania.


"Ya itu juga. " Alvaro langsung mengalihkan tatapannya dan kembali fokus ke komputernya.


Rania langsung memantulkan ml bibirnya memperlihatkan ekspresi tidak sukanya pada Alvaro.


Hening. Rania memulai percakapan lagi.


" Alvaro." Panggil Rania lagi.


Alvaro mengernyitkan wajahnya dan menyadari Rania masih duduk disana.


"Jadi kamu mau ngapain kesini?. " Tanya Alvaro lagi.


"Mau periksa, hehehe. " Rania cengengesan.


"Apanya yang mau di periksa? Otak kamu?. " Sinis Alvaro.


"Bukan Alvaro, ini hatiku, jantungku. " Balas Rania sambil memegang bagian jantung dan hatinya.


"Udah gila emang kamu. " Alvaro bangun dari tempat duduknya dan langsung pergi keluar dari ruangan meninggalkan Rania.


"Cih, dasar laki-laki batu gak punya hati dan empati sama sekali. " Ucap Rania kesal.

__ADS_1


Bersambung...


Klik like, vote, subscribe dan tinggalkan komentar yang sesuai dengan isi ceritanya yah guys untuk membantu perkembangan author. Untuk pengertiannya saya ucapkan Terima kasih banyak.


__ADS_2