
Episode sebelumnya...
Rania hanya terdiam membisu memikirkan ucapan Reno barusan.
"Aku jatuh cinta?. " Lirih Rania.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Saat sedang menunggu jemputan Rania dan Reno yang duduk di pintu masuk gedung rumah sakit tidak sengaja bertemu lagi dengan Alvaro yang baru saja tiba, entah dari mana laki-laki itu.
"Eh Dokter Alvaro. " Sapa Reno yang langsung berdiri setelah melihan Alvaro sudah semakin dekat menuju ke arah dua bersaudara itu.
"Reno, Rania? Kalian mau pulang? . " Tanya Alvaro basa basi.
"Hehehe, iya Dok lagi nunggu jemputan
" Jawab Reno, Rania hanya diam saja karena saat ini drinya sedang asik mendengarkan musik dangdut dari penyanyi idolanya.
"Ooh, gitu. " Ujar Alvaro sambil melirik ke arah Rania yang biasanya banyak bicara dan langsung menyapanya namun sekarang gadis itu hanya diam saja.
Reno menyenggol tubuh Rania.
"Apaan sih Reno. " Sinis Rania, tidak terima ketenangannya di ganggu.
"Rania, saya mau bicara sesuatu sama kamu. " Ujar Alvaro mendengar hal itu Reno langsung sadar diri dan mencari alasan untuk pergi ke tempat lain.
"Aku mau ke toilet dulu kebelet boker, kalian bicara aja. " Reno berakting memegangi perutnya yang sebenarnya tidak sakit, lalu berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit untuk memberikan privacy kepada kedua orang tersebut.
"Rania.. " Panggil Alvaro lagi karena sepertinya ucapannya tadi tidak terlalu di dengar oleh Rania yang menggunakan Headset.
Alvaro melepaskan Headset di teling Rania dan berbicara kepada gadis itu sekali lagi.
"Raniaaa!. "
"Apaan sih... " Kesal Rania, entah mengapa ia merasa hatinya kesal melihat Alvaro.
"Saya mau bicara sama kamu. " Ujar Alvaro.
"Ya udah pak Alvaro, waktu dan tempat di persilahkan. " Balas Rania.
Alvaro duduk di samping gadis itu.
"Tadi sore saya tidak sempat mengatakan ini sama kamu...... "
Rania segera memotong ucapan Akvaro
"Emangnya pak Alvaro bisa kasih kesempatan buat orang lain? Bukannya pak Alvaro cuman punya kesempatan untuk Mbak-mbak itu, padahal saya udah berbesar hati loh buang-buang waktu saya buat mau dengerin bapak mau ngomong apa. " Sinis Rania, hanya itu yang ada di dalam pikirannya saat ini, ia merasa kesal tanpa alasan kepada Alvaro yang lebih memilih mengikuti Laura sore tadi.
Alvaro yang mendengar itu langsung mengerti.
__ADS_1
"Rania, tadi keadaannya tidak terduga makanya... "
"Udahlah pak, gak usah sok mau ngomong sesuatu sama saya lagian juga di antara kita gak ada sesuatu yang penting mending bapak urusin aja Mbak Laura itu, kan dia udah janda apalagi bapak masih cintakan sama dia? Nanti saya di ancam lagi sama jandamu itu. " Ketus Rania, entah mengapa kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutnya, padahal ia juga belum tahu apa yang akan di katakan Alvaro padanya.
"Dari mana kamu tau kalau saya masih cinta sama dia?. " Alvaro mengernyitkan wajahnya.
Rania menggigit bibir bawahnya, gugup.
"Aduh kenapa aku bisa ngomong kayak gitu, dasar bego. " Batin Rania merutuki dirinya sendiri yang bodoh dan tidak dapat mengontrol ucapannya sendiri.
"Ya tau aja. " Balas Rania cuek menatap ke arah lain
"Kamu nguping pembicaraan saya sama Laura tadi?. " Tanya Alvaro lagi.
"Saya, eh tadi cuman gak sengaja lewat aja di depan ruangan pak Alvaro... " Rania meringis.
"Tapi tetap aja kamu nguping Rania, itu gak sopan tau!. " Alvaro yang tadinya ingin mengatakan sesuatu kepada Rania jadi sedikit emosi mengetahui gadis itu mendengar percakapannya dengan Laura tadi sore.
"Yah namanya juga gak sengaja, Pak Alvaro tadi saya mau ke ruangan bapak buat nanyain apa yang bapak mau omongin sama Rania, tapi.... "
"Tetap aja Rania, itu gak sopan harusnya kalau kamu udah tau ada orang yang lagi membahas masalah pribadinya kamu langsung pergi bukannya tinggal dan nguping?. " Tegas Alvaro yang langsung berdiri dari duduknya.
"Ya Maaf, namanya juga gak senga.... "
"Kamu tuh kebiasaan Rania, ini nih yang saya gak suka sama kelakuan kamu yang nggak ada sopan santunnya sama sekali, mentang-mentang bapak kamu punya rumah sakit ini jadi orang lain gak bisa punya privasi gitu? Seenaknya aja kamu ngedengerin pembicaraan pribadi orang lain. " Emosi Alvaro tiba-tiba saja meledak, Rania yang mendengar itu langsung menunduk.
Rania menyadari ia memang salah karena sengaja mendengarkan percakapan Alvaro dan Laura, namun ia tidak menyangka Alvaro akan semarah ini.
".... "
Rania hanya diam.
"Jawab Rania? . "
"Saya cuman dengar sampai bapak nyatain cinta aja selebihnya... "
Alvaro segera memotong ucapan Rania.
"Jangan bohong Rania, kamu tuh keseringan bohong tau! Otak kamu itu di penuhi dengan pemikiran gila gak mungkin orang kayak kamu cuman ngedengerin percakapan saya cuma sampai disitu. " Bentak Alvaro.
Rania sontak mengangkat kepalanya menatap wajah Alvaro, di mata Rania sejak Laura datang kembali ke dalam hidup Alvaro, laki-laki itu jadi gampang sekali tersulut emosinya.
Rania tidak habis pikir ini sudah kesekian kalinya Alvaro membentak nya dan tidak mempercayai ucapannya.
Padahal Rania memang hanya mendengar percakapan mereka sampai disitu saja.
"Aku gak bohong, Pak Alvaronya aja yang sensitif dan gak bisa percaya sama orang lain sejak mantan bapak itu datang, aku emang nguping dan aku ngaku salah, aku minta maaf! Tapi aku benar-benar cuma dengar sampai disitu aja. " Jelas Rania.
Rania kemudian ikut berdiri.
"Aku gak tau apa yang Laura dan bapak lagi rencanain, kalaupun aku tau, aku juga gak bakalan peduli, bodo amat sama pak Alvarodan janda itu!. " Tegas Rania menatap tajam mata Alvaro, Rania merasa sangat kesal.
__ADS_1
Rania berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit untuk mencari adiknya, sementara Alvaro hanya diam membisu di tempatnya berdiri setelah mendengar ucapan Rania barusan.
###
Rania tidak habis pikir, kenapa Alvaro segitu marahnya, padahal ia sudah berkata jujur tapi laki-laki itu malah emosi, menuduhnya berbohong dan kembali membentaknya. Air mata Rania tanpa sadar menetes.
"Rania? Ngapain disini? Mobil kita udah datang. " Teriak Reno yang sedari tadi mencari Rania.
Tadinya Rania berniat untuk mencari Reno, namun karena merasa kesal dan hatinya sangat sakit, Rania malah berbelok ke ruangan kerja papanya yang kosong.
Rania segera mengusap pipinya, tidak ingin orang lain mengetahui jika dirinya sedang menangis. Ia tidak boleh kelihatan lemah.
"Ya udah ayok. " Ujar Rania berjalan ke arah pintu tempat Reno sedang berdiri.
Rania kemudian menggandeng tangan adiknya. Kakak adik itu kemudian berjalan keluar dari gedung rumah sakit
"Mau singgah jajan dulu gak nanti sekalian jalan-jalan di pasar malam?. " Tanya Reno melihat ekspresi kakaknya yang kusut.
"Nggak ah mau langsung pulang aja. " Jawab Rania.
"Beneran nih? Aku yang traktirin loh. " Tawar Reno, mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam kantong celananya.
Rania yang melihat itu matanya langsung berubah hijau.
"Hmmm, mau duit aja. " Jawab Rania, dengan wajah malu-malu, semakin mempererat gandengan tangannya ke tangan Reno.
"Kalau duit aja, matanya udah langsung ijooooo. " Sindir Reno.
"Ya udah kalau gak mau ngasih. " Balas Rania, wajahnya kembali kusut.
Reno yang melihat itu jadi tidak tega, ia juga merasa bersalah karena sudah beberapa kali meninggalkan kakaknya. Melihat ekspresi kakaknya setelah bertemu Alvaro tadi, Reno yakin mereka habis bertengkar lagi.
Rano tidak dapat membayangkan jika kejadian Rania mengurung dirinya di dalam kamarnya selama berhari-hari terulang kembali setelah Alvaro membentaknya habis-habisan beberapa waktu yang lalu.
"Ya udah nih, buat jajan online shop. " Reno memberikan uang tersebut kepada Rania.
Rania langsung sumringah dan ekspresi kusut pada wajahnya langsung sirna.
"Makasih adikku sayang. " Rania loncat-loncat kegirangan mengambil uang pemberian Reno.
Hanya uang yang bisa membuat Bad mood Rania kembali Happy, setidaknya untuk sementara waktu.
"Dasar cewek matre. " Sindir Reno, tersenyum kecil melihat kakaknya kegirangan.
"Biarin." Jawab Rania cuek, melepaskan tangan Reno dan berjalan dengan penuh percaya diri sambil mengibas-ibaskan uang pemberian Reno.
"Dihhh gak jelas banget jadi cewek. " Sindir Reno, berjalan mengikuti Rania.
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.
__ADS_1