Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 62 : Ungkapan Perasaan Rania.


__ADS_3

Episode seblumnya...


"Dihhh gak jelas banget jadi cewek. " Sindir Reno, berjalan mengikuti Rania.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Apa yang sudah ku lakukan?. " Gumam Alvaro, melihat wajahnya sendiri di depan cermin.


Sudah sejak setengah jam yang lalu ia berbicara dengan dirinya sendiri.


Alvaro memperlihatkan ekspresi penyesalan, karena lagi-lagi dirinya membentak Rania.


"Kenapa aku harus membentaknya lagi. " Ujar Alvaro lirih.


Alvaro menjambak rambutnya prustasi. Padahal ia sudah berjanji kepada gadis itu tidak akan membentaknya lagi, bahkan ia sudah berkali-kali meminta maaf. Tapi, malam ini Alvaro melakukannya lagi.


Alvaro kembali memikirkan kesalahan Rania yang menguping pembicaraannya. Gadis itu memang salah namun tidak seharusnya Alvaro mencecarnya dan menuduh Rania berbohong.


"Rania pasti akan sangat membenciku setelah kejadian tadi. " Lirih Alvaro.


Alvaro menyadari kesalahannya yang sudah sangat berlebihan menanggapi gadis seusia Rania yang sedang dalam proses pertumbuhan, tentunya gadis itu akan lebih sering mencari tahu tentang sesuatu yang membuatnya penasaran, sebagai seorang dokter sekaligus guru harusnya Alvaro bisa mengontrol dirinya sendiri terlebih dahulu.


Alvaro sebenarnya bukan marah karena Rania menguping pembicaraannya secara sengaja, meskipun tetap saja itu salah. Alvaro marah kepada dirinya sendiri.


Alvaro merasa malu karena Rania mengetahui kelemahan dirinya yang mudah goyah.


Alvaro malu ketahuan masih menyimpan perasaan kepada perempuan di masa lalunya yang kini kembali lagi untuk memulai sebuah hubungan yang baru dengannya.


Alvaro tidak bermaksud mengatai Rania sebagai pembohong, namun ucapan itu mengalir begitu saja dari mulutnya, hanya kata-kata itu yang terlintas dalam pikirannya.


"Bagaiamana cara agar aku bisa meminta maaf kepada gadis itu lagi. " Ujar alvaro menatap dirinya sekali lagi di dalam cermin.


"Gadis itu pasti merasa sangat sedih gara-gara perlakuan kasar ku. " Batin Alvaro.


###


Di tempat lain, Rania yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya sedang memutar musik dangdut dengan volume yang cukup untuk membuat telinga orang lain yang mendengarnya berdengung.


"Di geboi geboi mujair nang ning nung nag ning nung. " Rania mengikuti lirik lagu yang sedang di nyanyikan oleh penyanyi dangdut idolanya.


Sambil berjoget-joget di depan cerminnya Rania mencoba satu persatu baju-baju yang telah di pesannya menggunakan uang pemberian Reno dan Melinda beberapa hari yang lalu.


Moodnya saat ini sedang dalam kondisi yang sangat bagus, ia bahkan sudah lupa jika beberapa jam yang lalu ia baru saja di bentak oleh Alvaro. Rania tidak ingin terlalu ambil pusing.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar Rania di ketuk oleh seseorang namun gadis itu tidak mendengarnya karena volume musiknya yang memenuhi seluruh ruangan.


Klik

__ADS_1


Speaker bluetooth Rania tiba-tiba saja mati.


Rania segera menatap tajam ke arah orang yang mematikan speaker nya.


"RENOOOOOO." teriak Rania.


"Berisik Rania, orang lagi belajar kalau mau dengerin musik pake headset aja, ganggu banget tau. " Omel Reno sambil berjalan keluar dari dalam kamar Rania.


Gubrak


Suara pintu yang di tutup dengan keras.


"Issshhhh dasar anak monyet. " Teriak Rania. Ia kemudian mengambil headsetnya dan kembali memutar lagu favoritnya melalui headset tersebut.


###


Keesokan paginya, Rania yang baru saja tiba di dalam kelasnya setelah mengikuti upacara bendera sedikit terkejut melihat Alvaro yang sudah berada di dalam kelas.


Rania berjalan menuju ke bangkunya tanpa menatap ke arah laki-laki itu, bahkan Rania terkesan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Pembelajaran berlangsung dengan sangat tenang, hingga lonceng tanda istirahat berbunyi dan sebagian besar teman sekelas Rania berhamburan menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kelaparan karena tidak sempat sarapan untuk mengikuti upacara bendera di hari senin pagi ini.


"Rania, yuk ke kantin. " Ajak Melinda.


"Hayukk." Jawab Rania segera berdiri dan menggandeng tangan Melinda, hari ini suasana hatinya sedang bagus.


NaMun, Baru saja akan melangkahkan kaki keluar dari kelas Alvaro tiba-tiba menarik Rania.


"Apaan sih pak Alvaro, ih diliatin orang tuh. " Balas Rania, memperhatikan sekelilingnya.


"Kita perlu bicara. " Ujar Alvaro, kali ini justru laki-laki itu yang tidak memperdulikan pandangan orang lain terhadap dirinya, padahal biasanya Rania yang selalu pecicilan kepada Alvaro.


"Ya udah Ran, aku ke kantin duluan yah, kamu bicara aja dulu sama Pak Alvaro. " Ujar Melinda.


"Ya udah sana, nanti aku nyusul. " Balas Rania .


Rania kemudian mengikuti Alvaro ke ruang guru.


"Ayo dong Pak, mau ngomong apa?. " Ujar Rania setelah hampir satu menit ia duduk di hadapan laki-laki itu.


"Saya mau.... "


Rania langsung memotong ucapan Alvaro.


"Mau minta maaf? Udah lah gapapa kok pak. " Balas Rania santai.


Melihat Rania yang begitu santai membuat Alvaro justru merasa sedikit gelisah.


"Apalagi yang di rencanakan gadis ini?. " Batin Alvaro.


"Bapak pasti lagi ngira aku mau ngelakuin sesuatu ke bapak kan?. " Tebak Rania melihat ekspresi Alvaro yang kebingungan.

__ADS_1


"Hah?. " Alvaro sedikit terkejut karena Rania bisa menebak isi pikirannya.


"Saya udah maafin pak Alvaro. " Ucap Rania kemudian.


"Rania saya...."


"Udahlah pak, anggap aja nggak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua, saya tau bapak juga gak bakalan bisakan membuka hati bapak untuk orang lain, . "


Ucapan Rania begitu menohok ke dalam hati Alvaro.


"Maksud kamu apa Rania?. "


"Saya kayaknya baru menyadari kalau ternyata saya juga sama bapak. " Ujar Rania, serius.


"Rania, kamu... "


"SAYA SUKA SAMA PAK ALVARO!. " Tegas Rania, untungnya di ruangan itu hanya ada mereka berdua.


"Hah? Rania dengarin saya... "


Rania memotonya ucapan Alvaro lagi.


"Tapi Pak Alvaro harus tau, yang bapak bakalan lakuin sama Laura itu salah, meskipun Laura emang udah cerai sama suaminya tapi sebagai orang yang berpendidikan bapak harusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang gak baik untuk kehidupan pak Alvaro selanjutnya."


Rania mengambil nafas terlebih dahulu.


"Di banding Laura kenapa pak Alvaro tidak mencoba hubungan baru bersama saya? Dan melupakan kejadian buruk yang pernah terjadi. " Lanjut Rania membuat Alvaro semakin shock, gadis itu benar-benar tau bagaimana cara membuat orang lain terkejut dengan ucapannya yang blak-blakkan.


"Rania, kalaupun saya tidak bersama Laura pada akhirnya kita berdua tetap tidak akan bisa berpacaran karena kita i...."


"Karena kita ini guru dan murid? Karena saya adalah murid bapak gitu?. " Rania terus memotong ucapan Alvaro.


Alvaro menganggukkan kepalanya.


"Ya udah tunggu aja sampai saya lulus sekolah. Saya sadar kok, lagian saya juga nggak mau pacaran beneran sama Pak Alvaro untuk saat ini" Tutur Rania menatap lurus ke wajah Alvaro.


Alvaro sontak menganga mendengar penuturan Rania.


"Gak usah heran, saya bakalan buktiin kalau saya lebih pantas buat pak Alvaro tungguin dari pada kembali sama mantan bapak itu, pakAlvaro harus mikirin ucapan saya ini. " Lanjut Rania, beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruangan guru tanpa menunggu Alvaro mengucapkan sesuatu.


Rania berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan guru, ia merasa dadanya akan meledak jika terus berada disana bersama Alvaro.


Setelah semalaman memikirkan perasaannya sendiri, Rania mengambil sebuah keputusan yang besar dalam hidupnya.


Rania sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan terlalu berharap banyak kepada Alvaro, namun Rania percaya jika dirinya dan Alvaro memang berjodoh di kehidupan ini suatu hari nanti laki-laki itu akan datang kepadamya dengan cara yang lebih baik.


Rania sendiri tidak menyangka jika dirinya bisa berkata seperti tadi kepada Alvaro.


Bersambung...


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian..

__ADS_1


__ADS_2