Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 99 : Merasa Perih


__ADS_3

Satu jam berlalu mereka berdua berkahir dengan saling berpelukan.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Pagi harinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.21.


Alvaro dan Rania nampak masih setia berbaring di atas pembaringan.


Alvaro sudah terbangun sejak tadi, namun melihat posisi tangannya yang sejak semalam di jadikan bantal oleh Rania, Alvaro tidak tega jika harus membuat gadis itu terbangun.


Alvaro memperhatikan wajah Rania yang sedang tertidur dengan mulut terbuka.


"Cih, gadis nakal ini tidak berubah sama sekali. " Lirih Alvaro saat melihat air liur menetes ke tangannya.


Melihat hal itu, bukannya risih Alvaro justru terkekeh pelan.


"Mmhmm." Gumam Rania dalam tidurnya sambil berbalik membelakangi tubuh Alvaro yang masih dalam keadaan telanjang, namun untungnya ada selimut yang menutupi tubuhnya. .


"Rania? Kamu udah bangun?. " Tanya Alvaro memastikan. Namun nihil tidak ada jawaban dari gadis itu yang artinya, Rania hanya bergumam dalam tidurnya.


Alvaro yang merasakan tangannya yang sudah tidak lagi berguna, karena Rania sudah menggeaer posisi tidurnya Alvaro kemudian bangun dan baru merasakan keram pada lengan tangan kanannya tersebut.


"Aq." Rintih Alvaro beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


###


Pukul 11.30.


Rania yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya, Tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang perih dari bawah perutnya.


Rania I gin segera memberi tahukan halnya tersebut kepada Alvaro, namun saat berbalik, dirinya tidak menemukan laki-laki itu.


"ALVARO? . " Teriak Rania gadis itu langsung terduduk.


"Aduh ah sakit. " Rintih Rania saat mencoba berdiri.


"Alvarooo." Panggilnya lagi.


Rania kemudian berinisiatif mencari laki-laki itu ke dalam kamar mandi, namun kosong. Tidak ada orang di dalam sana.


Rania lalu membersihkan dirinya dan tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka.

__ADS_1


Klik


"Rania? Kamu udah bangun?. " Pekik Alvaro.


"Kamu dari mana aja?. " Tanya Rania dari dalam kamar mandi.


"Aku abis beli makanan buat kita. " Jelas Alvaro, laki-laki itu tiba-tiba saja muncul di depan pintu kamar mandi yang memang sengaja Rania tidak tutup dengan rapat.


"Ah, Alvaro, kalau mau masuk ketuk dulu kek, permisi. " Pekik Rania, langsung meraih handuknya dan menutupi tubuh polosnya.


Kita kan suadah menikah, tidak perlu lagi mengetuk pintu. " Ujar Alvaro melangkah dengan santai mendekati Rania.


"Jangan dekat-dekat. " Pekik Rania panik saat Alvaro memperlihatkan senyum jahilnya.


"Kenapa sih, kita sudah sah Rania, jadi tidak apa-apa kalau kitab melakukannya di kamar mandi. " Goda Alvaro.


"I-inikan udah siang, udah nggak boleh gituan lagi. " Balas Rania berjalan mundur hingga tubuhnya mentok di tembok kamar mandi.


Hap


Akvaro segera menangkap tubuh Rania dan menggendongnya ke dalam bathtub kamar mandi.


"Alvaro.... Hmppph. "


Rania tidak dapat menghindari ciuman tersebut, mau tidak mau dirinya hanya pasrah saat bibir Alvaro mulai mengulum bibirnya.


"Haruskah kita melakukannya disini?. " Tanya Rania polos.


"Tidak ada masalah, Rania. " Balas Alvaro.


Cup


Satu kecupan lembut mendarat di kening Rania. Hingga mereka mereka berakhir saling berciuman dan bercumbu.


Krekkk.. Krekkk..


Suara perut Rania, mengalihkan aktivitas seksual mereka.


"Kamu lapar?." Tanya Alvaro.


Rania segera mengangguk.


"Ya udah kita makan dulu. " Ujar Alvaro.


"Ah untunglah. " Lirih Rania, pelan. Dirinya sebenarnya tidak siap untuk melakukan hal tersebut saat ini namun disisi lain Rania tidak ingin mengecewakan Alvaro, suaminya.

__ADS_1


Di tambah lagi Rania masih merasakan perih di bawah perutnya setelah melakukan hal tersebut semalam.


"Ayo Rania, kenapa melamun? Atu kamu ingin kita melakukannya terlebih dahulu?. " Tanya Alvaro dengan nada menggoda.


"Ah nggak, Rania mau makan. " Balas Rania cepat, gadis itu langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi. Sementara Alvaro berjalan di belakang.


Setelah menyelesaikan makannya. Rania segera mengenakan pakaian yang memang sudah di sediakan sebelumnya dan dengan cepat mengajak Alvaro untuk berjalan-jalan di area sekitar Hotel tempat mereka menginap.


"Alvaro yuk kita jalan-jalan. " Ujar Rania, sebelum Alvaro mengajaknya untuk melakukan sesuatu yang lain.


"Di luar sedang panas Rania. " Balas Alvaro.


"Enggak kok, itu namanya cerah, ayo Alvaro cepat. " Bujuk Rania sambil menarik tangan Alvaro,namun laki-laki itu justru menarik Rania ke dalam pelukannya.


Rania yang panik membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, kemudian berusaha melepaskan dirinya dari Alvaro.


"Aku tahu kamu sedang menghindar. " Ujar Alvaro.


Rania sontak berhenti bergerak.


"Hehehe maaf Alvaro, tapi tubuhku rasanya sakit. " Balas Rania.


Alvaro menarik Rania dan mendudukkan gadis itu ke sisi kasur.


"Minum ini. " Alvaro menjulurkan tablet obat peredea nyeri.


"Pereda nyeri?. " Tanya Rania langsung mengerti.


Alvaro mengangguk. Rania kemudian menerima obat tersebut.


"Nih." Alvaro menjulurkan dua kertas yang bentuknya seperti tiket nonton, namun saat membaca tulisan pada kertas tersebut, Rania sontak terkejut.


"Wahh, tiket konser nonton Ayu Ting Ting hari ini?. " Pekik Rania kegirangan.


Alvaro mengangguk lagi.


"Beneran ini?. " Tanya Rania lagi memastikan.


"Iya, Rania. " Jawab Alvaro.


"Wuah, kalau gitu aku harus siap-siap nih, Alvaro ayo kita berbelanja untuk persiapan nonton konser nanti. " Ujar Rania antusias.


"Katanya mau jalan-jalan di sekitar hotel ini?. " Tanya Alvaro.


"Nggak jadi, aku mau belanja make up aja, ayo cepetan. " Pekik Rania.

__ADS_1


Alvaro kemudian dengan pasrah mengikuti Rania yang kegirangan setelah mendapatkan tiket konser untuk melihat artis idolanya secara langsung.


Bersambung...


__ADS_2