
Episode sebelumnya...
"Hah?. " Melinda tidak mengerti dengan apa yang Rania katakan, namun gadis itu tetap mengikuti langkah Rania menuju ke kelas yang sebentar lagi akan di mulai.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
"Loh kok pak Alvaro belum masuk yah?. " Ucap Rania sedikit kecewa, padahal dirinya pagi ini sudah inisiatif untuk bangun pagi, mengikuti upacara tanpa adegan pingsan atau sakut-sakittan yang biasanya Rania lakukan, karena malas berdiri terlalu lama di bawah sinar matahari, meskipun setelah upacara Rania dan Melinda langsung melipir ke kantin untuk mengisi perut mereka yang belum sempat sarapan pagi tadi.
"Hmm, belum datang kali, yah udah yuk duduk, aku rasanya kenyang banget. " Melinda langsung duduk di kursinya karena tidak kuat berdiri terlalu lama jika sedang kekenyangan.
Sementara teman sekelas Rania yang lain asik dengan aktifitasnya masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak. " Sapa seseorang yang suaranya sudah di tunggu-tunggu Rania sejak tadi.
"Pagiiii pak. " Balas serempak teman sekelas Rania.
"Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing, maaf saya agak terlambat karena harus mengurus sesuatu dulu di rumah sakit pagi ini. " Alvaro kemudian memulai pembelajarannya dengan sambutan dan masuk ke intin pembelajarannya.
"Baiklah tolong ini di catat inti-inti dari oe jelaskan saya yah anak-anak karena bisa saja ini akan masuk ke ujian semester kita nanti..... " ucap Alvaro.
"Organ reproduksi manusia seperti yang bisa kalian lihat di patung in..... "
"Paaaakk?. " Rania mengangkat tangannya sontak seisi kelas yang hening langsung menatap ke arahnya.
Alvaro mengernyitkan alisnya dan berharao hari ini pembelajarannya akan berakhir dengan baik-baik saja tanpa ada yang membuat keributan lagi.
"Kenapa Rania?. " Tanya Alvaro sedikit malas.
"Saya gak punya pulpen, tadi jatuh pas cepat-cepat mau ngikutin upacara pak. " Rania menjelaskan dengan wajah memelas agar pak Gurunya itu bersimoati padanya.
"Alasan apalagi itu Rania? ke sekolah kok tidak bawa pulpen, kalau pergi berperang sudah mati duluan kamu di tembak penjajah. " sinis Alvaro membuat seisi kelas tertawa.
Rania memiringkan bibirnya dan memutar bola matanya mendengar Alvaro berkata sinis kepada dirinya.
"Kalau bukan demi duit taruhan ngapain juga aku kayak gini, idihhhh najis bangetttttt. " Batin Rania, merasa di permalukan oleh Alvaro.
"Ya sudah, maju kesini. " Perintah Alvaro.
__ADS_1
Rania segera menurutinya dan berjalan ke depan kelas.
Alvaro membuka tasnya dan mencari-cari pulpen yang bisa Rania gunakan untuk menulis.
"Gak ada Rania, itu punya saya cuman loen tanda tangan itupun tintanya warna merah. " Ujar Alvaro setelah mengacak-acak tasnya dan tidak menemukan pulpen untuk menulis.
"Yah cari lagi dong pak. " Rania berharap Alvaro menyimpan pulpen yang sudah di kirimannya kepada laki-laki itu kemarin sore, jika tidak Rania tidak akan bisa melacak GPSnya.
"Oh iya, saya ingat. " Alvaro kemudian mengecek kantong-kanrong tasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen tindis berwarna keemasan yang dikirimkan seseorang kepadanya kemarin.
Alvaro kemudian memberikan pulpen itu kepada Rania.
"Nih, kembali ke tempat duduk mu dan jangan membuat gaduh di kelas saya hari ini. "
"Makasih pak. " Rania tidak menghiraukan ucapan Alvaro barusan dan langsung menuju ke meja belajarnya, senyuman lebar tersungging di pipinya.
Melinda memberikannya kode sekolah bertanya apakah misinya berhasil dan Rania membalas kode tersebut dengan menganggukkan kepalanya.
Pembelajaran pun berjalan dengan lancar tanpa kendala dan keributan. Rania hari ini lumayan tenang, membuat Alvaro merasa sedikit lega karena Rania akhirnya mau patuh dan tidak membuat ulah lagi di kelasnya.
"Baiklah sekian pembelajaran kita untuk hari ini, sampai jumpa di pembelajarlah kita yang berikutnya, selamat beristirahat. " Alvaro menutup pembelajarannya dan berjalan keluar dari kelas.
Setelah pembelajaran selesai dan lonceng tanda istirahat sudah berbunyi. Rania segera mengejar Alvaro yang lebih dulu keluar dari kelas.
Alvaro yang mendengar seseorang sedang memanggilnya, menghentikan langkahnya.
"Pak Akvaro, aduh huhhhhh hahhh. " Rania ngos-ngossan padahal ia baru berlari beberapa langkah.
"Kenapa Rania?. " Alvaro bertanya sambil mengernyitkan sebelah alisnya.
"Ini Pak. " Rania menjulurkan tangannya yang sedang memegang sebuah pulpen.
"Untuk kamu aja. " Ucap Alvaro cuek.
"Ambil aja pak, saya udah gak butuh kok. " Ucap Rania memegang tangan Alvaro dan memberikan pulpen itu ke tangannya dan berlari masuk kembali ke dalam kelas.
"Ada apa dengan gadis itu?. "Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya dan berpikir gadis itu sepertinya memang harus menjalani tes kejiwaan mengingat kepribadiannya yang sering berubah-ubah.
###
Rania berjalan mondar mandir di balkon kamarnya, ia berpikir apakah seminggu kemarin usahanya kurang? padahal ia sudah berdandan secantik mungkin, bahkan bangun lebih pagi dari pada Reno untuk membuat riasannya tampak natural, namun sepertinya usahanya itu sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Alvaro. bahkan melirik ke arah Raniapun tidak.
__ADS_1
"Apakah aku kurang seksi?. " Tanya Rania kepada dirinya di dalam cermin.
"Cermin, cermian ajaib? siapa di dunia ini yang paling cantik? . " Tanya Rania kepada kaca cermin yang menampilkan dirinya.
"Kamu." Rania membalas ucapannya sendiri namun dengan suara yang sengaja di buat seperti nenek-nenek.
"Ah benarkah? lalu siapa di dunia ini yang paling seksi cermin ajaib?. " Tanya Rania lagi kepada kaca yang sekarang menampilkan tubuh Rania sepenuhnya karena gadis itu berjalan mundur dan membuat pose-pose ala girlband Korea.
Setelah mengambil gaya bagaikan sesorang poto model Rania berjalan kembali ke dekat kaca untuk mendengarkan jawaban.
"Kamu Rania. " Sekali lagi Rania menirukan suara nenek-nenek untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
"Hahahahaha, sudah ku duga cermin ajaib, tidak ada yang dapat mengalahkan kecantikan dan keseksian ku, tapi kenapa Alvaro masih belum mau menerimaku?. " Rania bergumam dan berbicara dengan dirinya sendiri di dalam kaca.
Gadis itu kemudian berdiri dan berpikir untuk merubah penampilannya menjadi cewek kalem, lemah lembut dan baik hati seutuhnya.
"Baiklah, Alvaro jika kamu tidak suka gadis cantik dan seksi mungkin kamu lebih suka gadis kalem yang baik hati. "
Rania memikirkan rencana barunya dengan matang-matang, sebelum membuat pengumuman berpacaran nya tentunya Rania harus membuat kesan yang baik kepada Alvaro agar seakan-akan mereka berdua sangat akrab dan dekat.
Rania juga sudah menyediakan kamera polaroid yang akan langsung mengeluarkan photo seletah di jepret kan ke sasaran yang akan di photo.
"Hahahahaha." Rania kembali tertawa-tawa jahat di depan kaca seakan-akan dirinya adalah pemeran antagonis dalam cerita kali ini.
###
Alvaro merasa bulu kuduknya meremang setelah melewati koridor kamar mayat yang sepi dan gelap. Harusnya untuk kamar mayat itu di tambahkan penerangan yang lebih dari pada ruangan-ruangan lainnya, agar tidak menambah kesan angker.
Alvaro melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
..."Bruk. "...
"Aw aduh. " Suara seorang yang gadis tersungkur ke lantai karena bertabrakan dengan tubuh Alvaro.
"Eh maaf mbak, saya gak sengaja. " Ucap Alvaro reflek akan membantu gadis itu kembali berdiri.
"Hikssss huhuhuhu. " Suara gadis itu menangis sambil tertunduk, padahal Alvaro merasa tidak menabraknya terlalu keras tadi.
"Hei, hei maaf? apakah ada yang sakit?. " Tanya Alvaro sekali lagi namun segan menyentuh gadis itu.
Gadis itu kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Alvaro dengan mata yang sembab akibat air mata. Alvaro terperanjat kaget menyadari gadis yang di tabrak nya barusan adalah seseorang yang sangat di kepalanya di masalalu.
__ADS_1
Bersambung...
like, vote, subscribe dan komen yah teman-teman agar author bisa berkembang lebih baik lagi. Terima kasih.