Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 76 : Memberi Penjelasan


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Di lubuk hati Pak Herman justru sangat berharap dan akan merasa merasa sangat senang, jika suatu hari nanti Alvaro akan benar-benar memanggilnya dengan panggilan Papa.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Alvaro berjalan lunglai masuk ke dalam rumahnya, hari panjang yang ia lalui seoertinya akan segera berakhir, sejak di perjalanan pikirannya hanya di penuhi dengan kasurnya yang empuk, akan sangat menenangkan jika ia bisa langsung merebahkan dirinya.


Namun sepertinya hal itu tidak akan segera terjadi karena orang tua Alvaro sudah menunggunya di ruang tamu.


"Mama, papa. " Sapa Alvaro.


"Alvaro, kamu udah pulang? Ya ampun kenapa muka kamu bonyok kayak gitu? Kamu Abis di gebukin?. " Mama Alvaro yang menyadari wajah anaknya lebam langsung berdiri menghampiri Alvaro.


"Ah mama, jangan di pegang masih sakit, ini tadi ada orang salah paham. " Jelas Alvaro.


"Salah paham? Jangan bilang suami Laura itu yang datang mukulin kamu? Soalnya tadi mama dengar-denga r dari tetangga sekitar suaminya Kaura datang nyariin dia dan kata orang Kaura itu sering dtmatanf ke rumah sakit tempat kamu kerja? Beneran kata orang yang mama dengar itu kalau kalian kembali dekat lagi?. " Cecar Mama Alvaro, ternyata mama dan papa Alvaro menunggunya hingga jauh malam begini hanya untuk menanyakan hal itu.


Alvaro yang tadinya ingin segera beristirahat mengurungkan niatnya dan duduk di sofa, diikuti mamanya.


"Aku sama Laura nggak balikan, ini memang karena di pukul sama suaminya Kaura, tapi semuanya itu cuman karena salah paham. " Jelas Alvaro.


"Kurang ajar, tuh kan pa, bener kekhawatiran mama seharian ini harusnya tadi kita langsung ke rumah sakit juga, lihat ini muka anak kita jadi kayak gini gara-gara perempuan itu, gak dulu gak sekarang selalu aja bikin anak kita sakit. " Omel Mama Alvaro.


"Emang dimana suaminya Laura itu? Biar papa bawa dia ke jalur hukum, kamu udah visum? Biar sekalian kita penjarain aja." Pak Subroto ikut kesal.


"Udah, udah gak usah di buat panjang, Alvaro udah beresin semuanya, lagian itu semua cuman salah paham. "


"Salah paham gimana?. " Cecar pak Subroto.


"Suaminya salah paham, ngira aku nyembunyiin Laura. " Balas Alvaro.


"Hah? Udah gila, siapa juga yang mau nyembunyiin perrempan itu, kurang ajar biar mama kasih pelajaran ke mereka. " Mama Alvaro terlihat sangat kesal karena anaknya di fitnah.


"Mama, papa kalian tenang dulu dong, Alvaro kan udah bilang itutuh cuman salah paham, lagian Laura sekarang lagi sekarat kondisinya kritis, Alvaro cuman mau bantuin Laura, karena dia udah gak ada siapa-siapa lagi terus suaminya ngira aku nyembunyiin istrinya, tapi tenang aja masalahnya udah kelar kok. " Balas Alvaro santai.


"Dih, udah kayak yang paling cantik aja tuh si Laura. " Sinis Mama Alvaro, ia terlihat sangat tidak menyukai Laura.


"Mama jangan kayak gitu, Laura sekarang lagi kritis, kita gak pernah tau apakah kondisinya bakalan membaik atau mungkin udah nggak bisa di tolong lagi. "


"Kritis? Emangnya dia sakit apa?. " Timpal pak Subroto.


"Kanker rahim, stadium akhir. "


"Ya Tuhan. " Mama Alvaro terkejut.


"Jadi, itu alasan kamu pagi-pagi tadi langsung pergi ke rumah sakit?. " Tanya Pak Subroto lagi.


Alvaro hanya mengangguk, ia merasa penjelasannya sudah sangat cukup.


"Ya ampun kasian sekali anak itu. " Mama Alvaro langsung berubah mengasihani Laura.

__ADS_1


"Besok kalau ada waktu, mama sama papa kalau bisa sempatkan untuk melihat keadaan Laura. " Pinta Alvaro.


Mama dan Papa Alvaro hanya diam.


###


Besoknya Alvaro dan orang tuanya pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Laura. dengan berbesar hati dan mengesampingkan egonya, Mama Alvaro dengan pasrah mengikuti ajakan anaknya dengan perjanjian bahwa Alvaro akan membawa Rania berjalan-jalan ke rumahnya di hari minggu ini.


Mama Alvaro yang mendengar hal tersebut langsung bersemangat, sedangkan pak Subroto hanya mengikuti keinginan istrinya saja, apapun yang di katakan oleh Mama Alvaro, pak Subroto pasti akan langsung setuju tanpa ba bi bu.


Sesampainya di rumah sakit mereka bertiga langsung menuju ke ruang perawatan Laura.


Laura sedang di suapi oleh Hendarawan. Alvaro dan orang tuanya mendekati mereka.


"Hai, Laura, Pak Hendra. " Ujar Alvaro kali ini lebih sopan dan ramah mengingat pertemuannya kemarin dengan Hendrawan kurang menyenangkan.


"Dokter Alvaro?. " Hendrawan sedikit terkejut melihat kehadiran Alvaro bersama kedua orang tuanya.


"Alvaro? Tante, om?. " Sapa Laura, suaranya sudah tidak serak lagi namun perempuan itu tidak bisa berbicara terlalu banyak.


"Gimana keadaan kamu hari ini?udah agak baikan. " Tanya Alvaro.


Laura hanya mengangguk.


"Dia nggak bisa bicara terlalu banyak, dokter makanya cuman bisa ngangguk dan bicara secukupnya. " Jelas Hendrawan.


Alvaro mengangguk mengerti, laki-laki itu kemudian mengarahkan kedua orang tuanya untuk menyapa Laura.


###


Rania sekarang sedang beralri-lari kecil di halaman rumahnya, gadis itu sedang menghapalkan rumus matematika. Karena tidak menghadiri les kemarin Rania di berikan hukuman untuk menghalalkan rumus-rumus tersebut sampai di pertemuan berikutnya.


"Argghhhhhh." Pekik Rania, ia merasa prustasi, belajar ilmu Pasti sungguh bukan keahliannya. Rasanya Rania tidak akan bisa memenuhi harapan papanya untuk menjadi dokter.


Saat ini Rania sudah mulai menyukai pelajaran biologi, namun tidak dengan matematika, Rania akan terus membencinya.


"Ayo dong Rania, lebih semangat lagi. " Teriak Reno.


"Iya bawel. " Balas Rania.


Baru dia putaran Rania sudah sangat lelah, entah Reno mendapatkan ide dari mana sehingga Rania di sarankan untuk berolahraga sambil menghapal pelajaran yang tidak ia mengerti.


"Argghhhh udah ah capek. " Jenuh Rania, menjatuhkan dirinya di atas rumput.


"Lemah banget sih baru dua putaran. " Sindir Reno.


"Au ah. " Balas Rania, pasrah.


Reno berjalan ke arah kakaknya dan memberinya sebotol air.


"Nih minum dulu. "


"Hmm makasih Reno ku sayang. " Ujar Rania, kembali bersemangat menerima botol minuman pemberian adiknya tersebut.

__ADS_1


"Ahhh segarnyaaaaa. " Ujar Rania, merasa tenggorokannya langsung lega.


Pip.. Pip..


Pip.. Pip..


Kakak beradik itu sontak menatap ke arah mobil yang membunyikan klakson tepat di depan gerbang rumahnya mereka.


"Bukannya itu mobilnya Mas Alvaro?. " Ujar Reno, setelah memastikan mobil honda jazz tersebut dan melihat sekelebat bayangan Alvaro di atas mobil.


"Hmmm emang iya. " Ujar Rania cuek.


Rania sudah menduga, setelah kejadian kemarin pasti Alvaro akan segera datang kepadanya. Laki-laki itu sudah berjanji akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Laura baru ia akan datang untuk memperjelas hubungan mereka.


Rania kembali teringat dengan permintaan Laura kemarin.


"Tolong jaga Alvaro dengan baik, jangan buat dia menunggu terlalu lama. "


Rania sendiri sedang bingung dengan perasaannya saat ini, karena sudah terlanjur merasankecewa berkali-kali di tambah sebentar lagi Rania akan pergi melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Karena ternyata desainnya lolos seleksi di salah satu Universitas pilihan Rania di London.


Hal tersebut belum di beritahukan kepada siapa-siapa karena Rania masih menunggu persetujuan papanya, sampai hari ini Pak Herman belum memberikan jawaban atas keinginan Rania yang ingin melanjutkan kuliahnya di jurusan desain fashion.


"Mas Alvaro.. " Sapa Reno.


"Rania, sapa mas Alvaro tuh. " Reno menyadarkan Rania dari lamunannya. Rania lalu ikut berdiri.


"Oh iya, Halo Pak Alvaro." Sapa Rania.


"Hai, kalian lagi apa?. " Tanya Alvaro basa basi.


"Lagi makan, gak liat ini kita lagi berdiri." Balas Rania, jutek.


"Rania, gak sopan tau. " Tegur Reno.


"Biarin." Balas Rania.


"Hehehe, maaf mas Alvaro ada perlua apa kesini?. " Ujar Reno berjalan ke arah laki-laki itu. Rania ikut berjalan di belakang Reno.


"Hmm saya, mau bicara sama Rania kalau boleh.... "


Reno langsung memotong ucapan Alvaro.


"Boleh mas, boleh banget malahan, kalau gitu saya masuk dulu bikin minum, nih Rania nya di ajak ngomong atau kalau mau di bawa pulang juga boleh mas. " Ujar Reno, sambil menarik kakaknya ke hadapan Alvaro.


"RENOO, dasar anak monyettt.. " Umpat Rania melihat Reno yang berlari menghilang masuk ke dalam rumah.


"Rania!. " Tegur Alvaro.


"Apa?. "


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ujar Alvaro, ekspresinya terlihat bersungguh-sungguh.


"Aku gak mau denger. " Rania jual mahal.

__ADS_1


Bersambung...


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author, Terima kasih. I love you.


__ADS_2