
Episode sebelumnya...
"Dasar gadis nakal, sebenarnya maumu apa?. " Ujar Alvaro, berbicara dengan poto Rania.
###
Happy Reading and enjoy Guys.
Rania melihat kembang api yang bertaburan di atas langit dengan perasaan takjub.
Gadis itu sedang berada di balkon kamarnya yang berada di tingkat dua sambil memperhatikan orang-orang di luar gedung Apartementnya menyalakan kembang api untuk menyambut tahun baru.
Dor... Dor.. Dor...
"Wuahhhh." Pekik Rania saat melihat kembang api yang bertubi-tubi di tembakkan ke batas langit.
Seseorang dari bawah tiba-tiba saja memanggilnya.
"Hey come here..... " Teriak seorang perempuan bernama madam Lim, pemilik Apartement ini.
"Ah no, I want it here, madam. I'm Sory. " Balas Rania menolak panggilan madam Lim.
Rania lebih suka memperhatikan orang-orang tiu dari kejauhan. Semilir angin menerpa wajah Rania membuat anak-anaknya rambut yang menempel di wajahnya tersapu.
"Ughh dingin. " Rania mengeratkan mantel hangatnya. Musim dingin masih panjang.
Coklat panas yang baru satu menit yang lalu di tuangkan nya ke dalam gelas sudah ikut dingin.
Rania berniat ingin menghangatkan coklatnya lagi lalu menonton acara Televisi di dalam kamarnya, namun suara ketukan dari depan pintu Apartementnya mengalihkan perhatian Rania.
"Aduh siapa sih? Pasti madam Lim lagi, udah di bilangin aku gak mau ngumpul, masih aja di paksa. " Keluh Rania, namun gadis itu tetap berjalan ke arah pintu utama Apartementnya.
Rania mengatur ekspresinya agar terlihat tenang. Namun dalam hatinya sebenarnya Rania merasa gondok jika terus-terussan di ajak ikut bergabung dengan para penghuni Apartementnya yang kebanyakan ibu-ibu julid.
Rania tidak habis pikir, ternyata ibu-ibu di luar negeri ini sama julidnya dengan ibu-ibu tetangga Rania di Indonesia.
"Hei, Madam Lim, I'm sory because.... "
Rania belum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuhnya terasabeki setelah melihat seseorang yang berada di depan pintunya saat ini ternyata bukan Madam Lim. Namun laki-laki itu, Laki-laki yang beberapa tahun ini sangat Rania rindukan.
Deg
"Hai, Rania. " Sapa laki-laki itu.
Rania yang masih terkejut, sama sekali tidak merespon.
__ADS_1
"Hei? Kamu baik-baik aja kan?kamu sakit?. " Ujar laki-laki itu lagi.
Rania segera tersadar.
"Alvaro, kamu ngapain disini?. " Tanya Rania, hanya kalimat itu yang terlintas dalam pikirannya.
Laki-laki itu tidak menjawab, ia langsung masuk ke dalam Apartement Rania sambil menenteng kopernya.
Rania yang melihat itu hanya melongo.
"Huuhhh, diluar sangat dingin. " Ujar Alvaro.
Laki-laki kemuidan meletakkan kopernya di atas meja, sedangkan Alvaro langsung merebahkan dirinya di atas sofa.
"Eh apa-apaan, siapa yang nyuruh masuk. " Ujar Rania.
"Emmm maaf Rania, karena papa kamu sudah memberikan izin jadi otomatis saya bisa masuk tanpa perlu izin dari kamu terlebih dahulu. " Balas Alvaro santai.
"Hah? Papa?. " Rania heran.
"Katanya Apartement ini samapai tahun depan di bayar pakai uangnya. " Jelas Alvaro.
"Hah?. " Rania kembali terkejut.
Rania baru ingat, Apartement ini memang di bayar oleh papanya selama satu tahun ke depan sebagai hadiah kelulusan untuk Rania.
Alvaro segera memotong ucapan Rania.
"Saya lapar, saya boleh minta makan?. " Ujar Alvaro nada suaranya seperti anak kecil yang memiliki ta makan kepada ibunya.
Rania yang melihat itu, menjadi tidak tega. Ia segeraasuk ke dalam dapur dan membuatkan coklat panas untuk Alvaro dan memanaskan beberapa potong sisa pizza yang di belinya tadi.
"Untuk apa laki-laki itu datang kesini?. " Batin Rania.
Sesekali Rania melirik ke arah Alvaro yang saat ini sudah duduk sambil mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper.
"Kamu ih, bukanya jangan disitu di dalam kamar sana, berantakan tau. " Tegur Rania sambil menunjuk salah satu kamar yang berada di dekat ruang tamu.
"Oh maaf Rania, saya pikir itu kamarmu." Ujar Alvaro.
"Bukan, kamarku ada disini. " Tunjuk Rania ke arah tembok di belakang Alvaro.
"Oh, oke. " Balas laki-laki itu.
1 jam kemudian setelah Alvaro selesai makan dan mengganti pakaiannya, mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Hening. Ada Perasaan canggung dan perasaan aneh yang sulit di jelaskan di antara mereka.
Alvaro yang mematahkan egonya dan memutuskan untuk datang menjemput Rania.
Disisi lain Rania yang tidak menyangka Alvaro akan datang kesini seleah empat tahun berlaLu.
"Rania... "
"Alvaro.. "
Ujar mereka berbarengan.
"Kamu duluan saja.. . " Tutur Alvaro.
"Ah nggak , kamu aja. " Balas Rania.
Alvaro kemudian mengalah.
"Ya sudah biar saya saja yang berbicara duluan. " Ucap Alvaro.
Rania kemudian terdiam dan dengan sabar menunggu laki-laki itu melanjutkan ucapannya.
"Rania, ayo kita pulang. " Ajak Alvaro.
Rania yang mendengar itu sontak mengerntitkan wajahnya.
"Pulang?. " Tanya Rania.
Alvaro mengangguk.
"Kamu masih marah sama saya?. " Tanya Alvaro.
Rania kembali tertegun.
"Saya datang kesini untuk membawa kamu pulang. " Ujar Alvaro lagi.
"Siapa yang nyuruh?. " Ujar Rania sinis.
"Rania, ini atas dasar kemauan saya sendiri, saya yang ingin datang menjemput kamu disini, saya sadar kesalahan saya beberaoa tahun yang lalu, harusnya saya tidak mengatakan hal itu. " Tutur Alvaro.
"Harusnya waktu itu saya memperjuangkan kamu, bukannya memutuskan hubungan komunikasi kita. " Lanjut laki-laki itu lagi.
Rania menghela nafasnya.
Melihat laki-laki yang sudah di rindukan itu sudah berada di hadapannya saat ini, membuat Rania ingin segera memeluknya.
__ADS_1
Perasaan marah, benci dan kesalnya selama bertahun-tahun langsung hilang saat melihat Alvaro sudah datang sejauh ini untuk menemuinya.
Bersambung....