
Episode sebelumnya...
Melinda yang melihat itu tidak jadi mengejar Rania dan hanya mengawasinya dari jauh, sesuai permintaan Reno.
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Alvaro, sudah dua hari ini laki-laki itu menunggu Rania. Saat di sekolah Alvaro sudah mencoba mencarinya ke kelas gadis itu, hingga menunggunya di rumah sakit. Karena biasanya sepulang sekolah Rania akan langsung pergi ke rumah sakit.
Alvaro sudah bertanya ke beberapa teman sekelas Rania, mereka hanya mengatakan jika Rania mengambil izin karena menghadiri acara keluarganya, Alvaro ingin bertanya ke langsung ke Pak Herman namun, Alvaro merasa segan dan malu jika harus menanyakan keberadaan Rania.
Apalagi setelah dirinya membentak Rania habis-habissan. Harusnya Alvaro bisa lebih mengontrol emosinya hari itu, sehingga hal ini tidak perlu terjadi.
Hari sabtu sore ini, Alvaro sudah berada di dalam ruangan kerjanya, menunggu Rania berharap gadis itu tidak akan terlalu memikirkan perkataannya.
Alvaro merasa prustasi dengan pikirannya sendiri.
Tit.. Tit.. Tit..
Ponsel Alvaro bergetar menandakan ada panggilan telepon yang masuk.
"Nomor baru?. " Lirih Alvaro.
Alvaro mengernyitkan wajahnya, lalu mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo?. " Sapa Alvaro.
"Halo, apakah ini dengan dokter Alvaro? Saya Reno. " Ucap suara dari balik telepon.
Nomor baru itu ternyata Reno, adik laki-laki Rania.
Reno kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Rania selama dua hari ini, dan menanyakan tentang kebenaran yang telah Reno dengar. Lalu, setelah mendengar kabar Rania, Alvaro gantian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dua hari yang lalu.
Setelah sambungan telepon itu berakhir Alvaro benar-benar merasa bersalah, ia tidak menyangka perkataannya dua hari yang lalu membuat mental Rania benar-benae terguncang hingga gadis itu mengurung dirinya di dalam kamar.
Alvaro ingin segera pergi untuk menemui Rania, namun baru saja laki-laki itu akan melangkahkan kaiknya keluar dari ruangan kerjanya seorang perawat datang memanggilnya
"Dok, Dokter Alvaro. " Panggil perawat itu.
Alvaro yang mendengar itu langsung menengok ke asal suara.
"Bapak di panggil ke ruang rapat, katanya ada yang mau di bahas, penting. " Ujar perawat itu, lalu berlalu pergi setelah menyampaikan informasi kepada Alvaro.
"Baiklah, Terima kasih. " Alvaro sedikit berteriak karena perawat itu keburu pergi.
Alvaro mengurungkan niatnya untuk pergi mengunjungi Rania sore itu dan berjalan menuju ke ruang rapat.
"Aku akan pergi besok saja. " Lirih Alvaro.
Tidak lama kemudian laki-laki itu sudah sampai di ruang rapat dan duduk bersama para dokter-dokter lainnya.
__ADS_1
###
Keesokan harinya Alvaro sudah berada di halaman rumah Rania, namun rumah itu kelihatan sangat sepi dari luar. Alvaro keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju ke teras rumah mewah tersebut.
Alvaro segera mengetuk pintu rumah.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok.. Tok..
Tidak ada jawaban, namun pintu rumahnya sedikit terbuka.
Alvaro mendorong sedikit pintu rumah tersebut dan mulai berteriak memanggil pemilik rumah.
"Permisi..." Teriak Alvaro
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi... " Teriak Alvaro sekali lagi.
Tidak lama kemudian terdengar ada langkah kaki dari dalam rumah yang sepertinya mengarah ke pintu dimana Alvaro saat ini sedang berada.
Pintu rumah itu kemudian terbuka menampilkan Bibi, asisten rumah tangga di rumah tersebut.
"Eh Mas Alvaro, ayo masuk mas? Udah lama mas? Maaf yah tadi bibi di dapur gak terlalu kedengeran hehehe. " Ujar Bibi.
"Gapapa kok bisa. " Balas Alvaro.
"Ayo masuk, masuk. " Bibi mempersklahkan Alvaro masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Nggak, nggak usah bi, saya cuman mau nanyaain Rania, Rania nya ada?. " Tanya Alvaro.
"Non Rania pergi tadi dibawah sama Non Melinda, makanya saya mau panggilin ibu aja. " Jawab Bibi.
"Pergi kemana bi?. " Tanya Alvaro lagi.
"Wah kalau itu mah saya kurang tau Mas Alvaro. "
Sedetik kemudian Mama Rania keluar dari dalam kamarnya.
"Siapa bi? Eh ada Alvaro?. " Mama Rania berjalan ke arah ruang tamu dan menyala Alvaro.
"Iya tante, saya nyari Rania. " Ujar Alvaro to the point.
"Wah Ranianya keluar tadi di bawah sama Melinda ke pantai, "
"Pantai?. "
"Iya kamu langsung kesana aja kalau mau ketemu Rania, siapa tau nanti dia pulangnya agak malam, kalau nunggu disinikan kamu pasti bakalan nunggu lama. "
"Ya sudah, kalau gitu saya menyusul Rania dulu tante. "
__ADS_1
Alvaro kemudian bergegas keluar dari rumah Rania dan segera menuju ke pantai untuk menemui gadis itu.
Tidak sampai sepuluh menit, Alvaro sudah sampai di pantai yang di maksud namun Alvaro tidak melihat tanda-tanda keberadaan Rania ataupun Melinda.
Alvaro memperhatikan sekelilingnya secara saksama, agar jangan sampai ia melewatkan sesuatu.
Alvaro menyebrangi jalan menuju ke pinggir pantai mencari keberadaan Rania dan Melinda namun baru beberapa langkah berjalan Alvaro hampir saja di sambar oleh sebuah mobil sedan berwarna putih.
Piiiiiiipppppp
Bunyi klakson.
Mobil itu berhenti, Alvaro merasa sangat terkejut karena mobil itu tiba-tiba saja lewat di hadapannya padahal ia sudah memastikan sebelum menyebrang, bahwa tidak ada kendaraan yang akan lewat sebelum dirinya selesai menyebrang.
"Pak Alvaro?. " Panggil seseorang dari dalam mobil itu setelah pengendaranya menurunkan kaca mobilnya.
Alvaro sedikit terkejut melihat Melinda mengendarai mobilnya sendiri. Melinda kemudian menepikan mobilnya ke sisi jalan.
###
Alvaro dan Rania kini sedang duduk di atas sebuah tanggul pembatas antara pantai dan daratan.
Rania sedaru tadi hanya diam saja, tidak tau harus berkata apa.
"Rania, saya mau bilang sesuatu sama kamu tentang kejadian dua hari yang lalu. " Alvaro memulai percakapan setelah cukup lama mereka duduk di tempat itu.
"Ah, eh iya Pak ngomong aja. " Rania sebenarnya merasa sangat malu untuk bertemu Alvaro setelah kelakuan bodohnya dua hari yang lalu itu, namun karena sudah terlanjur seperti ini Rania hanya bisa pasrah.
"Rania... " Panggil Alvaro.
"Iya Pak?. " Jawab Rania.
"Saya.. " Alvaro sedikit gugup.
"Apa Pak?. " Rania menunggu laki-laki itu mengatakan sesuatu.
"Saya mau minta maaf sama kamu untuk kejadian dua hati yang lalu itu, saya harusnya tidak se kasar itu sama kamu. " Ujar Alvaro tulus.
"Hmm gapapa kok pak Alvaro, harusnya yang minta maaf, gara-gara saya pak Alvaro hampir aja kena masalah, bukan cuman pak Alvaro pala saya juga hampir kena masalah gara-gara kebodohan saya sendiri, saya sebenarnya malu banget mau ketemu pak Alvaro, saya sadar saya bodoh. " Oceh Rania, mengutuk kebodohan dirinya sendiri.
"Rania... "
"Pak Alvaro, harusnya gak usah minta maaf ini semua salah saya, harusnya saya yang minta maaf sama pak Alvaro, saya minta maaf yah pak untuk semua kesalahan yang pernah saya buat ke bapak, saya benar-benar sudah memikirkannya selama dua hari ini dan saya menyadari kebodohan saya. "
Alvaro yang mendengar itu merasa takjub melihat Rania meminta maaf dan mengakui kesalahnnya, gadis nakal yang membuatnya bisa serangan jantung kapan saja karena ulah usilnya.
Air mata Rania tiba-tiba saja menetes membasahi pipinya lagi, entah kenapa setelah meminta maaf kepada Alvaro perasaannya menjadi sangat lega, setidaknya Rania sudah berani untuk mengakui kesalahan yang di lakukannya.
Alvaro mengusap air mata gadis itu, ada perasaan aneh yang menggelitik di dalam dadanya. Perasaan yang tidak dapat di jelaskan hanya dengan kata-kata, Alvaro seperti menyadari sesuatu. Sepertinya ia sudah mulai bisa membuka hatinya untuk gadis nakal itu.
Alvaro dan Rania kemudian saling bertatapan, mereka tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan komen yang guys. Terimakasih untuk suport kalian. Ilove you.