Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 75 : Calon Mertua?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Hendarawan terus-terussan menghujani Laura dengan kecupan dan ungkapan cinta, ia sangat mencintai Laura melebihi dirinya sendiri.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Malam harinya, Alvaro yang telah selesai melakukan tugasnya di rumah sakit berencana untuk melihat keadaan Laura, ia sudah tidak terlalu khawatir lagi kepada perempuan itu karena sudah ada Hendrawan yang akan menemaninya.


Alvaro berjalan-jalan santai menuju ruang perawatan Laura dengan menenteng tas laptopnya, karena setelah melihat keadaan Laura, Alvaro berencana akan langsung pulang ke rumahnya.


Hari ini terasa sangat panjang, untuk Alvaro.


"Alvaro... " Panggil seseorang.


Mendengar namanya di panggil Alvaro memalingkan wajahnya ke sumber suara.


"Hendrawan?. " Alvaro kebingungan melihat laki-laki itu berada di luar bukannya di dalam ruang perawatan menemani Laura.


"Aku tadinya mau pergi ke ruangan kerjamu, tapi kita justru bertemu diaini. " Ujar Hendrawan.


Alvaro mengangguk, pertanda ia mengerti.


"Mari kita berbicara sebentar. " Lanjut Hendrawan.


Alvaro mengikuti laki-laki itu dengan pasrah tanpa banyak tanya.


Keduanya pun duduk di salah satu kursi panjang yang berada tidak jauh dari tempat mereka berpapasan.


"Alvaro.. " Panggil Hendrawan.


"Iya?. "


"A-aku minta maaf untuk kejadian tadi sore dan untuk wajahmu yang lebam aku.. " Hendrawan sedikit gugup.


"Ah tidak masalah, itu biasa saja, saya bisa memaklumi perasaanmu. " Ujar Alvaro, berbesar hati memaafkan Hendrawan, lagi pula kejadian itu hanya salah paham saja, ia dan Laura tidak benar-benar membangun hubungan kembali.


Alvaro menemani Laura hanya sebatas karena merasa iba kepada perempuan sebatang kara itu.


"Ah, lalu bagaimana dengan perasaanmu ?. " Tanya Hendrawan hati-hati.


"Maksudmu? Perasaanku kepada Laura? Ah hahaha, aku sudah tidak memiliki persaan kepadanya, aku melakukannya karena Laura memintaku untuk menemaninya selama dia berada di rumah sakit ini, sebagai sesama manusia dan seorang kenalan sekaligus kerabat jauh sudah sepatutnya aku membantu Laura, dan aku rasa kau sedikit salah paham kepadaku... " Jelas Alvaro, ia tidak ingin Hendarawan mencurigainya sebagai kekasih gelap Laura.

__ADS_1


Alvaro selau terngiang-ngiang dengan ucapan Rania yang mengatainya sebagai perebut istri orang, membayangkannya saja sudah membuat Alvaro ngeri sendiri.


Meskipun memang benar Alvaro masih sempat memiliki perasaan kepada Laura tapi bukan berarti ia masih mau menjalin hubungan dengan perempuan yang sudah berkeluarga itu.


"Mau di taruh dimana image yang selama ini ku bangung. " Batin Alvaro, memikirkan reputasinya sebagai laki-laki cool.


"Ah hahaha, aku pikir kamu masih punya perasaan kepada Istriku makanya aku ingin memastikannya. " Ujar Hendrawan menyebut Laura sebagai istrinya membuat Alvaro merasa sedikit aneh mendengar ucapan laki-laki itu.


Seakan-akan Alvarol yang terlalu menginginkan Laura.


"Hahahaha, tidak mungkin, lagi pula aku sudah memiliki tunangan. " Ujar Alvaro tidak ingin kalah, ia harus menunjukkan kepada suami Laura ini jika dirinya sudah move on dan tidak mungkin mengharapkan istri orang lain.


"Oh yah?. " Hendrawan terlihat tidak percaya, membuat Alvaro merasa sedikit kesal.


"Kurang ajar, orang ini sepertinya meremehkanku. " Batin Alvaro.


"Tentu saja, gadis yang tadi memukul wajahmu menggunakan tas ransel itu adalah tunangan ku. " Ujar Alvaro dengan percaya diri.


"Gadis muda itu? Bukankah dia terlihat masih mengenakan seragam sekolah?. " Hendarawan terlihat semakin tidak percaya, karena melihat perbedaan umur antara Alvaro dan Rania yang cukup jauh.


"Iya, dia tunangan ku, ini adalah poto-poto kebersamaan kami. " Alvaro mengambil ponselnya dan menunjukkan poto saat keluarganya dan keluarga Rania sedang makan malam bersama dan poto saat Rania sedang tertidur di atas mobilnya yang Alvaro ambil secara diam-diam saat mengantar Rania pulang.


"Wah, bukankah gadis itu mengaku-ngaku sebagai pemilik rumah sakit ini? Saat dia mengancamku tadi aku tidak sengaja mendengarnya, pantas saja dia langsung memukul ku dan membelamu. " Puji Hendrawan.


Alvaro yang mendengar pujian itu merasa di atas angin, ia kemudian menegakkan tubuhnya dan mulai menyombongkan diri.


Sepertinya virus drama Rania, sudah mulai menginfeksi Alvaro.


Hendrawan yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah mengerti dengan apa yang di ucapkan Alvaro.


"Kalau begitu, aku permisi dulu jam pulangku sudah lewat setengah jam yang lalu. " Ujar Alvaro mengurungkan niatnya untuk pergi melihat keadaan Laura.


Alvaro merasa gengsi dan harga dirinya sedang di lertaruhkan sekarang.


Lagi pula, Hendarawan, suami Laura sudah ada disini dan perempuan itu harusnya sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi.


"Ah, bukankah tadi kamu ingin pergi ke ruang perawatan Laura untuk melihat keadaannya saat ini?. " Tanya Hendrawan.


"Tidak, aku tadinya ingin mengajak calon mertuaku untuk pulang bersama namun karenan kamu mengajakku berbicara makanya kita berakhir di tempat ini. " Balas Alvaro yang melihat Pak Herman sedang melangkah ke arah mereka.


Ruangan kerja Pak Herman memang searah dengan ruang perawatan Melati tempat Laura di rawat, untungnya hal itu bisa di jadikan alibi oleh Alvaro untuk menutupi harga dirinya.


"Papa Mertua?. " Hendarawan sedikit kebingungan.

__ADS_1


"Iya, itu orangnya. " Tunjuk Alvaro ke arah Pak Herman, ia kemudian melambaikan tangannya.


Pak Herman yang menyadari, Alvaro sedang melambai ke arahnya mempercepat langkahnya karena mengira Alvaro aedang memanggilnya.


Tidak lama kemudian pak Herman melewati tempat Alvaro dan Hendrawan duduk, Alvaro bergegas beranjak dari tempat duduknya.


"Papa." Panggil Alvaro kepada pak Herman yang baru saja akan menyapa Alvaro.


"Ada apa Alvaro?. "


"Papa?. " Pak Herman sedikit terkejut.


Pak Herman mengernyitkan wajahnya, terheran-heran.


"Kalau begitu saya pamit duluan yah, saya berharap Laura akan segera sembuh dan kalian bisa berkumpul bersama lagi. " Ujar Alvaro, laki-laki itu kemudian menggandeng tangan pak Herman dan berjalan bersama menuju pintu keluar gedung rumah sakit.


Hendrawan yang melihat itu hanya bisa melongo seperti orang bodoh, karena kejadiannya begitu cepat, ia bahkan belum sempat membalas ucapan Alvaro yang sudah berlalu pergi dari hadapannya.


Sementara pak Herman yang kebingungan melihat tingkah Alvaro hanya pasrah saja, saat ia di gandeng menuju ke arah pintu keluar.


Sesampainya di parkiran Alvaro segera melepaskan tangan atasannya itu dan segera meminta maaf atas kelancangannya.


"Maaf dokter, saya khilaf. " Ujar Alvaro saat ini dirinya sedang bingung memilih kata-kata yang tepat.


Pak Herman semakin kebingungan.


"Khilaf?. " Tanya pak Herman.


"Eh maksud saya, tadi saya khilaf karena tidak sengaja memanggil dokter dengan panggilan papa, dan dengan lancang menggandeng tangan dokter, itu yang saya maksud, sekali lagi maafkan saya. " Ujar Alvaro, berkali-kali membungkukkan badannya, pertanda ia merasa bersalah.


"Ah sudah-sudah tidak apa-apa, lagi pula kamu memang sudah seperti anak saya sendiri, seandainya hubungan kamu sama Rania bisa awet, bisa saja kamu menjadi menantu saya. " Balas Pak Herman sama sekali tidak merasa terganggu dengan panggilan Alvaro.


"Ahahaha." Alvaro hanya membalasnya dengan tertawa kikuk karena tidak tau harus berkata apa.


Alvaro sudah cukup merasa segan karena memanggil pak Herman dengan panggilan papa, ia menjadi semakin segan lagi setelah mendengar ucapan Pak Herman barusan yang menginginkan dirinya menjadi menantu sungguhan.


"Itu muka kamu kenapa biru-biru?. " Tanya Pak Herman, ia baru memperhatikan wajah Alvaro dengan seksama.


"Ah ini, tadi ada orang yang salah paham.. " Alvaro kemudian menjelaskan panjang lebar kenapa ia bisa mendapatkan lebam pada wajahnya. Namun Alvaro menceritakannya secara spesifik.


Tidak lama kemudian Pak Herman dan Alvaro masuk ke mobilnya masing-masing.


Di lubuk hati Pak Herman justru sangat berharap dan akan merasa merasa sangat senang, jika suatu hari nanti Alvaro akan benar-benar memanggilnya dengan panggilan Papa.

__ADS_1


Bersambung.. .


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author.


__ADS_2