Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 86 : Kalau Sudah Tiada Baru Terasa.


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Untungnya saat berada di atas pesawat, Rania lebih banyak tidur karena jetlag.


###


Happy Reading and Enjoy Guys


Alvaro berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sebelum kemudian memutuskan sesuatu. Lalu laki-laki itu dengan cepat keluar dari dalam kamarnya.


Alvaro yang melihat orang tuanya sedang bersantai di ruang tamu pun langsung menghampiri mereka.


"Ma, Pa, Alvaro mau ngomong sesuatu. " Ujar Alvaro saat laki-laki itu sudah berada di hadapan orang tuanya.


"Eh? Alvaro mau ngomong apa nak?. " Tanya Mama Alvaro.


"Ngomong aja Al. " Timpal Pak Subroto.


"Mmm Aku sama Rania udah putus Ma, pa. " Ujar Alvaro to the point sambil menahan nafasnya, menunggu reaksi kedua orang tuanya tersebut.


Sepertinya ini memang sudah waktu yang tepat untuk memberitahu orang tuanya hal yang selama ini coba ia tutupi.


Alvaro sebenarnya tidak ingin membuat kedua orang tuanya itu kecewa karena mereka sudah terlanjur menyukai Rania.


Alvaro setidaknya sudah berusaha untuk membujuk gadis itu untuk memulai hubungan baru dengannya. Namun hasilnya nihil.


"Hah? Kamu bercanda yah? Pasti mau ngeprank Mama nih. " Balas Mama Alvaro.


"Aku serius, kami sudah putus. " Jawab Alvaro.


"Kenapa?. " Tanya pak Subroto ekspresi wajahnya heran sekaligus nampak kecewa.

__ADS_1


Alvaro merasa tidak enak membuat orang tuanya kecewa.


"Ya gapapa, Alvaro ngerasa gak cocok aja sama dia. " Jawab Alvaro berbohong, padahal jelas-jelas Rania yang menolaknya mentah-mentah.


Hubungan pura-pura mereka sudah berlalu beberapa bulan yang lalu, hanya saja Alvaro baru berani mengatakannya sekarang jika hubungannga dengan Rania sudah berakhir.


"Pantas aja, Rania pergi keluar negeri gak pamitan sama Mama dulu, Rania cuman ngirim pesan sama potonya dia aja, kirain Mama kalian lagi berantem ternyata kalian udah benar-benar putus? . " Ujar Mama Alvaro, nada suaranya juga ikut terdengar kecewa.


Sementara Pak Subroto hanya menghela nafasnya.


"Keluar negeri?. " Tanya Alvaro terkejut mendengar gadis itu sudah berangkat tanpa memberi tahunya padahal mereka sempat bertemu di rumah sakit kemarin.


"Kamu gak tau kalau Rania berangkat keluar negeri tadi pagi? Ini Mama dikirimin potonya dia. " Mama Alvaro kemudian menunjukkan ponselnya.


Alvaro yang tadinya akan langsung berangkat bekerja setelah memberitahu orang tuanya langsung terduduk lemas.


"Kamu beneran gak tau Al?. " Tanya mamanya lagi memastikan.


Mama dan Papa Alvaro menatap iba kepada anak laki-lakinya itu.


"Aku ke rumah sakit dulu. " Ujar Alvaro setelah beberaoa saat kemudian.


Alvaro kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bergegas mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit, ia ingin memastikannya sendiri.


15 menit kemudian Alvaro sudah tiba di rumah sakit, ia langsung menuju ke ruangan kerja Pak Herman yang sepertinya juga baru saja tiba.


"Alvaro...." Ujar Pak Herman sedikit heran melihat kemunculan Alvaro yang tiba-tiba.


"Dokter, maaf saya.... " Ujar Alvaro.


"Iya, ada apa Dokter Alvaro?. " Tanya Pak Herman

__ADS_1


"Apa benar Rania sudah pergi keluar negeri?. " Tanya Alvaro to the point.


"Ah Rania? Iya sejak tadi pagi, mungkin besok pagi dia sudah sampai di tempat tinggalnya yang baru di London. " Jelas Pak Herman.


Deg


Alvaro merasa jantungnya berhenti sepersekian detik.


Gadis itu benar-benar sudah pergi meninggalkannya.


Alvaro berbalik membelakangi pintu ruangan kerja Pak Herman.


"Alvaro, kamu tiadak apa-apa kan?. " Tanya pak Herman, terlihat khawatir melihat perubahan ekspresi Alvaro.


Alvaro tidak menghiraukan pertanyaan Pak Herman, ia terus melangkah dengan gontai menuju ke ruangan kerjanya sendiri.


Alvaro merasa ada sesuatu yang benar-benar hilang dari dirinya. Sekali lagi dirinya benar-benar telah di tinggalkan oleh orang yang di cintainya.


Alvaro benar-benar baru menyadari perasaannya terhadap Rania, adalah nyata.


Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, namun Alvaro sadar betul perasaannya kepada Rania bukan hanya sekedar perasaa iba, seperti yang gadis itu selalu pikirkan.


Bukan pula sebagai pelarian karena rasa sakit hati Alvaro terhadap Laura. Namun, karena Alvaro benar-benar sudah membuka hatinya untuk gadis itu, sejak pertama kali mereka bertemu.


Selama ini Alvaro hanya berpura-pura mengabaikan gadis itu, Alvaro selalu mencoba menepis perasaannya kepada Rania selama ini dengan memberikan alasan-alasan yang masuk akal agar gadis itu berhenti mendekatinya.


Benar kata pepatah 'Kalau sudah tiada baru terasa, kalau kehadirannya sungguh berharga'. Alvaro benar-benar merasakan penyesalan itu sekarang, setelah Rania benar-benar pergi.


"Aku memang terlalu pengecut!. " Alvaro merutuki dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2