Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 54 : Rania Bad Mood


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Laura tersenyum senang, dirinya merasa di atas angin. Merasa puas karena Rania baru saja di marahi oleh Alvaro.


###


Happy Reading and Enjoy Guys..


"Raniaaa....?. "


"Rania.. Rania? Bangun nak. "


"RANIA?. "


Mama Rania sedari tadi sudah mencoba membangunkan anak gadisnya yang tertidur di bawa lantai kamarnya tersebut.


Untungnya kamar Rania tidak terkunci sehingga siapapun bisa dengan mudah masuk ke dalam.


"Rana? Ya Tuhan, RANIAAAAA?. " Teriak Mama Rania, kali ini sepertinya usahanya berhasil.


"Hah? Ada apa? Dimana aku? Aku siapa?. " Teriak Rania langsung terduduk sesaat setelah terbangun dari tidurnya.


"Kamu udah di surga, Rania. " Ejek mamanya.


"Hah?. " Rania yang kesadarannya belum benar-benar terkumpul memperhatikan sekelilingnya.


"Surga apanya? Ini kan kamarku?. " Batin Rania.


"Rania.. " Panggil Mama Rania sekali lagi.


Rania kemudian menatap wajah mamanya.


"Mama, kok aku tidur di lantai sih?. " Rania heran melihat keadaannya.


"Mana mama tau. " Balas Mama Rania, mengedikkan bahunya.


"Hmmm." Rania bergumam.


"Kamu tuh kalau tidur susah banget di bangunin, udah kayak kebo tidur aja. " Ejek Mama Rania.


"Mama ih, sekarang udah jam berapa ma? . "


"Liat aja sendiri, udah dari setengah jam yang lalu loh mama bangunin kamu. " Ujar Mama Rania yang langsung keluar dari kamar anaknya setelah akhirnya Rania terbangun.


Rania kemudian melihat ke arah jam dinding lalu sontak terkejut.


"Jam tujuh?, MAMAAAA KENAPA GAK BANGUNIN AKU DARI TADI. " Teriak Rania melihat mamanya sudah berada di pintu karena tau Rania pasti akan berteriak lagi.


"Mama udah usaha bangun kamu dari setengah jam yang lalu, kamunya aja yang kebo. " Balas Mama Rania, menutup pintu kamar anaknya dengan sedikit keras.


"Ah Mamaaaa. " Keluh Rania, langsung lari ke kamar mandi.


Rania yang biasanya tidak masalah jika bangun pada jam tujuh pagi, kali ini berbeda karena Rania sudah harus berdandan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Rania nyang dulu bukanlah Rania yang sekarang.


"Ihhhh gara-gara siIbu Laura sialan itu, aku jadi telat! Awas aja, aku bakalan balas perbuatannya. " Omel Rania, berbicara dengan dirinya sendiri.


Mandi kilat, itulah yang Rania lakukan. Tidak sampai 30 menit kemudian gadis itu sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Namun, sepertinya Reno sudah terlebih dahulu berangkat meninggalkannya bersama mobil yang biasa mengantar mereka pergi ke sekolah di pagi hari. Papa Rania juga sudah tidak terlihat di meja makan.


"Arrrrghhhhhh AKU NAIK APAAN DONG INI KE SEKOLAH. " Teriak RaniaRania yang saat ini berdiri di depan pintu rumahnya.


Mama Rania yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah anak gadisnya yang nakal itu.


"Kamu jalan kaki aja, siapa suruh terlambat, tau sendirikan Reno paling gak bisa kalau gak tepat waktu perginya. " Ujar Mama Rania.


"Ah gak mau, bedak aku bisa luntur gara-gara keringat, Mama. " Keluh Rania.

__ADS_1


"Kami minta Bibi nganter kamu aja pake sepeda listriknya. " Saran Mama Rania.


"Ah, nggak ah, ribet, Rania gak mau. " Tolak Rania, merasa sakit hati karena Reno meninggalkannya.


"Ya udah kalau gak mau kamu jalan kaki aja. " Balas Mama Rania.


"Ya udah, OK. " Balas Rania,berjalan keluar dari rumahnya sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal.


"Arrrrghhhhhh KURANG AJAR!. " Batin Rania, moodnya sungguh berantakan pagi ini.


Mau tidak mau, karena sudah terlanjur gengsi untuk meminta bibi mengantarnya menggunakan sepeda listrik, Rania harus berjalan kaki, bahkan harus berlari agar ia tidak telat. Gerbang sekolahnya akan di tutup sebentar lagi.


###


Rania berjalan semopoyongan masuk ke dalam kelasnya, untungnya ia berlari dengan sangat kencang, sehingga kurang satu menit lagi gerbang sekolahnya baru akan di tutup.


Teman sekelas Rania sudah berada di bangkunya masing-masing, baru saja Rania duduk di bangkunya, guru Bahasa Indonesianya sudah masuk.


"Huhhhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar, paginya kali ini sangat berat.


"Kenapa telat lagi, Ran? Tumben?. " Bisik Melisa.


"Telat tidur. " Jawab Rania, malas.


"Kok bisa?. "Tanya Melinda lagi


" Kepo deh. " Balas Rania.


"Dih jutek amat deng. " Sindir Melinda.


"Bodo Amat!. " Teriak Rania tanpa sadar.


"Aww." Keluh Rania, kemudian merasakan sesuatu yang keras menghantam wajahnya disertai serbuk-serbuk putih.


Rania yang sudah kepalang emosi sontak berteriak.


"SIAPA YANG NGELAKUIN INI?. " Teriak Rania.


"SAYA." Balas Ibu guru Bahasa Indonesia yang mata pelajarannya sedang berlangsung lagi itu.


Rania langsung ciut.


"Kalau mau belajar silahkan diam di tempat kamu dan simak penjelasan saya dengan baik, kalau tidak silahkan keluar dari kelas saya dan absen kamu hari ini saya anggap bolos. " Ujar Bu Guru Bahasa Indonesia tersebut.


Rania hanya mengangguk pelan, tidak berani membalas apalagi menatap ibu guru tersebut.


Teman-teman Rania yang lain terlihat cekikikan, sementara Melinda hanya menatap Rania dengan perasaan iba dan merasa bersalah karena sudah mengajaknya berbicara padahal mood Rania sepertinya kurang bagus hari ini.


"Maaf yah Rania. " Bisik Melinda pelan.


Rania cemberut, menatap Melinda dengan tatapan sinis.


Pembelajaran kemudian kembali berlangsung dengan hening, hanya suara ibu guru itu saja yang terdengar menjelaskan materinya.


Rania berusaha mempertahankan kesadarannya, agar jangan sampai ia ketiduran di dalam kelas, Rania bukannya takut kepada guru Bahasa Indonesia tersebut. Gaimdis itu hanya tidak ingin berbuat onar lagi.


Rania sudah berniat untuk belajar sungguh-sungguh karena nilainya pada semester lalu sangat pas-passan di banding nilai teman-temannya yang lain. Apalagi ujian Nasional tidak lama lagi akan di laksanakan, tidak lucu jika Rania di nyatakan tidak lulus, mau di taruh dimana wajahnya.


Pelajaran berlangsung selama dua jam lonceng tanda istirahat telah berbunyi, sebagian besar teman kelas Rania berhamburan keluar dari kelas, ada yang menuju ke kantin ada pula yang langsung menuju ke lapangan olahraga untuk bermain basket.


Sementara Rania yang sudah tidak dapat menahan kantuknya langsung merebahkan kepalanya ke atas meja belajar.


"Kamu gak mau ikut ke kantin Rania?. " Ajak Melinda.


"Nggak, aku ngantuk banget. " Jawab Rania.

__ADS_1


"Ya udah aku ke kantin yah, kamu mau nitip sesuatu?. " Tanya Melinda lagi, namun pertanyaannya itu sudah tidak di gubris, Rania sudah ketiduran.


Melinda yang melihat Rania sudah tertidur lelap dengan posisi terduduk menutupi sedikit wajah Rania dengan buku paket agar wajah sahabatnya yang ketiduran itu tidak terlalu di lihat orang karena mulut Rania yang menganga.


"Nih cewek tidurnya kayak tukang angkot lagi kejar setoran semalaman. " Sinis Melinda memperhatikan wajah Rania yang kelelahan. Melinda kemudian mengajak temannya yang lain untuk pergi ke kantin.


###


Sekolah sudah bubar, Melinda membantu Rania untuk berjalan keluar dari gerbang sekolah karena keadaan Rania yang masih sangat mengantukmengantuk, untungnya Reno sudah menunggu di depan gerbang.


"Rania kenapa?. " Melihat keadaan kakaknya yang sempoyongan Reno langsung turun dari mobil dan membantu Melinda memegangi Rania yang hampir saja terjatuh ke tanah.


"Dia kayaknya ngantuk banget, aduh nih anak berat banget lagi. " Keluh Melinda.


"Ya udah bawa ke mobil. "


Reno dan Melinda kemudian saling membantu untuk membawa Rania ke dalam mobil. Rania kemudian di lemparkan masuk ke kursi penumpang.


"Aw sakit. " Teriak Rania merasakan tubuhnya yang terlempar ke kursi penumpang.


"Ups." Melinda sontak menutup mulutnya karena tidak sengaja.


" Udahlah gak usah dipikirin, kamu duduk di depan aja biar aku yang sama Rania duduk di belakang. " Ujar Reno kemudian masuk ke dalam mobil dan membantu Rania untuk duduk. Melinda duduk di depan di samping supir.


"Kalian berdua sengaja yah ngelemparin aku masuk ke dalam mobil?. " Omel Rania saat mobil sudah berjalan.


"Ih enak aja. " Balas Reno.


"Awas yah kalian. " Ancam Rania.


Melinda dan Reno saling bertatapan kemudian terkekeh, mereka berdua memang sengaja melakukan hal tersebut karena tubuh Rania yang sangat berat.


Rania yang menyadari jika dua orang tersebut memang sengaja kemudian kembali mengomel, namun Melinda segera memutar musik di dalam mobil sehingga suara Rania tidak terlalu kedengaran.


Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah sampai di rumah sakit, Reno dan Melinda langsung turun dan bergandengan tangan masuk ke gerbang rumah sakit, Rania yang menyaksikan hal tersebut berdecak kesal.


"Cih, kemarin aja berantem. " Sinis Rania.


Rania berjalan sendirian masuk ke gedung rumah sakit, Reno dan Melinda sudah tidak terlihat batang hidungnya. Kesadaran Rania sudah kembali seratus persen, namun perasaannya masih tidak karuan karena ia belum puas mengomeli Reno yang meninggalkannya tadi pagi.


Rania berjalan melihat ke arah kakinya sambil berhitung di dalam hati cara ini biasa ia gunakan untuk melupakan amarah di dalam hatinya. Rania tanpa memperhatikan sekelilingnya.


BRAK


"AW." Keluh Rania memegangi pundaknya yang bertabrakan dengan seseorang.


"Rania, kalau jalan hati-hati. " Tegur orang yang baru saja bertabrakan dengan Rania. Rania merasa sangat familiar dengan suara tersebut.


"Pak Alvaro?. " Rania mengernyitkan wajahnya melihat Alvaro dengan penuh perhatian ikut memegang pundaknya yang sedikit sakit karena bertabrakan dengan tubuh Alvaro yang lebih besar dari Rania.


"Kebiasaan kami, kalau jalan gak liat-liat. " ujar Alvaro lagi.


"Apaan sih pegang-pegang. " Rania menepis tangan Alvaro dengan kasar.


Mood Rania yang tadinya sudah agak membaik kini kembali buruk melihat Alvaro yang sok perhatian kepadanya.


"Rania, saya.. "


Rania langsung memotong.


"Gak usah sok perhatian, urus aja tuh jandamu. " sinis Rania, entah mengapa ia merasa sangat marah setelah melihat wajah Alvaro, rasanya Rania ingin melampiaskan seluruh amarahnya kepada laki-laki itu.


Bersambung...


Klik live, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2