
Episode sebelumnya...
Rania kembali fokus menonton Televisi, begitu pula dengan Reno. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, hanya suara Televisi yang memenuhi ruangan itu.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Alvaro berjalan mondar mandir di dalam kamarnya malam ini laki-laki itu tidak bisa diam kepalanya terus-terussan memikirkan Rania.
Alvaro sudah puluhan kali mencoba menghibunginua, namun tidak ada satupun panggilannya yang di jawab, bahkan sepertinya ponsel gadis itu sengaja di matikan, Reno juga sudah ia hubungi namun kata Reno, Rania sedang badmood dan Reno tidak berani mengusik kakaknya, jika sudah seperti itu.
"Ah, apa aku pergi ke rumahnya saja?. " Lirih Alvaro.
Alvaro kemudian mengelengkan kepalanya.
"Ah, jika dia tidak mau menemuiku bagaimana?. " Alvaro memegang kepalanya yang sama sekali tidak sakit.
Ia kemudian mengambil keputusan besar, mengabaikan ego dan imagenya untuk pergi ke rumah Rania dan menemui gadis itu.
Pak Subroto dan istrinya yang sedang duduk di teras rumah sambi menikmati kopinya sedikit terkejut melihat Alvaro yang berlari dengan tergesa-gesa keluar dari rumah dan pergi mengendarai mobilnya.
"Kenapa anak itu?. " Ujar Pak Subroto kepada istrinya.
Mama Alvaro hanya mengedikkan bahunya, karena ia juga tidak tau apa-apa.
Alvaro mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, hingga tidak lama kemudian laki-laki itu sudah berada di dalam halaman rumah Rania.
Penjaga rumah Pak Herman bahkan sudah mengenali mobil Alvaro, jadi tidak butuh waktu lama untuk membukakan nya pagar dan mempersilahkan mobil Alvaro masuk dengan mudah.
Alvaro turun dari mobilnya dan segera mengetuk pintu rumah Rania.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok.. Tok..
Alvaro mengetuk pintu rumah itu dengan tidak sabar. Hingga sebuah suara dari dalam rumah terdengan.
"Iya tunggu sebentar.. . . " Teriak suara Bibi dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian pntu terbuka, menampilkan Bibi yang hanya mengenakan daster untuk tidur.
"Eh Mas Alvaro?. " Sapa Bibi.
"Ayo masuk-masuk ke dalam, non Rania nya ada kok. " Lanjut Bibi yang sudah paham jika Alvaro datang ke rumah seperti ini berarti laki-laki itu sedang mencari Rania, karena tidak mungkin Alvaro mencari Pak Herman yang sudah pasti Dokter tersebut masih ada di kantornya jam segini, Pak Herman memang lumayan gila kerja.
"Ah iya Ni, Terima kasih. " Balas Alvaro ramah, ia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Rania, Alvaro di arahkan untuk duduk di sofa sementara Bibi akan pergi memanggil Rania.
"Saya tinggal bentar yah, mas. " Ujar Bibi, kemudian perempuan itu berjalan cepat menaiki anak tangga.
Alvaro memperbaiki posisi duduk dan penampilannya, agar tidak terkesan ia datang ke rumah Rania dengan terburu-buru.
Tidak lama kemudian Rania sudah muncul di tangga menuju ke lantai bawah di ikuti Bibi yang berjalan di belakangnya. Gadis itu terlihat manyun.
"Ekhemm, ekhemm." Alvaro mengetes suaranya.
"Ngapain Pak Alvaro kesini malam-malam?. " Tanya Rania dengan nada sinis.
"Ah Rania, sa-saya.. "
"Mau minta maaf lagi? Bosan ah, males dengarnya mending bapak pulang aja. " Usir Rania saat ini gadis itu sudah duduk di sofa tepat di depan Alvaro, keduanya hanya di batasi oleh sebuah meja.
"Nggak, kok saya datang kesini cuman mau mastiin kamu aja." Ujar Alvaro.
__ADS_1
"Mastiin aku?. " Rania sedikit bingung.
"Saya cuman mau mastiin apakah kamu cemburu karena ngeliat saya sama Laura berduaan di dalam ruangan kerja saya tadi sambil.. "
Rania langsung memotong ucapan Alvaro.
"Dih cemburu? Idihhhh najisss. " Balas Rania.
Alvaro sedikit tersenyum.
"Kamu beneran gak cemburu?. " Alvaro memastikan, kali ini dengan nada suara yang sedikit menggoda gadis itu.
"Nggak lah, ngapain saya cemburu hubungan kita aja gak jelas. " Balas Rania, judes.
"Maka dari itu, saya datang kesini untuk membuat hubungan kita semakin jelas. " Ujar Alvaro dengan nada suara yang serius.
"Hah?. " Rania sedikit heran mendengar ucapan Alvaro, tidak biasanya laki-laki yang ada di depannya bersikap seperti itu.
"Iya, saya datang kesini untuk membuat hubungan kita semakin jelas kedepannya. " Alvaro mengulangi ucapannya.
"Maksudnya?. " Tanya Rania, bingung. Dalam hati deg-degan juga.
"Rania, ayo kita pacaran. " Ujar Alvaro tiba-tiba.
Membuat Rania sontak menganga.
"Hah?. " Rania kembali terkejut dan mencubit lengannya.
"Aw sakit. " Keluh Rania merasakan sakit pada lengannya.
"Kamu nggak lagi mimpi Rania, saya ngajak kamu pacaran. " Ujar Alvaro sungguh-sungguh.
Hati Rania tiba-tiba saja merasa senang tidak karu-karuan. Badmoodnya hilang namun gadis itu tidak ingin terlihat gampangan.
"Oh?. " Tanya Alvaro.
"Iya, emangnya kenapa?. " Rania bertanya balik.
"Saya ngajak kamu pacaran, kenapa jawabannya cuma oh?. "
"Ya suka-suka saya dong, kan yang nyatain perasaan Pak Alvaro, jadi terserah saya mau jawab apa. " Judes Rania.
"Ya terus emangnya Pak Alvaro maunya jawaban apa?. "Rania balas menggoda Alvaro.
" Yah, yah kamu jawab aja, terserah kamu deh. " Ujar Alvaro kikuk, ini pertama kalinya ia menyatakan perasaannya kepada gadis seusia Rania, beberapa hari yang lalu saat mendengar gadis itu menyatakan perasaan untuknya, Alvaro masih sedikit speechless.
Namun, setelah beberapa hari kemudian Alvaro berpikir tidak ada salahnya ia mencoba membuka hatinya untuk orang lain.
"Hmmm." Rania hanya bergumam.
"Hmmm?. " Balas Alvaro.
"Aku pikir-pikir dulu deh. " Ujar Rania.
"Pikir-pikir dulu?. " Alvaro terlihat sangat tidak sabar menunggu jawaban dari Rania.
"Iya, aku mau pikir-pikir dulu katanya Pak Alvaro, terserah saya?. " Balas Rania.
"Huuuhhh." Alvaro menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
Rania mengulum senyumnya, kali ia harus jual mahal kepada Alvaro yang sudah membuatnya menangis berkali-berkali.
###
Alvaro yang baru saja kembali ke rumahnya langsung masuk ke dalam kamar, sedikit kesal karena Rania tidak langsung menjawab ajakannya untuk berpacaran.
__ADS_1
"Apa gadis itu ingin membalas dendam?. " Lirih Alvaro.
"Dasar gadis naka, berani sekali gadis itu mempermainkanku. " Alvaro berbicara dengan dirinya sendiri.
Rania sepertinya berhasil menarik ulur perasaan Alvaro.
Alvaro kemudian memutuskan untuk mandi sebelum merebahkan dirinya di atas tempat tidur, setidaknya hatinya sudah sedikit tenang karena Rania sudah tidak marah lagi padanya.
Setengah jam berlalu, Alvaro kemudian keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian perut hingga pahanya.
Pandangannya kemudian teralihkan pada sebuah amplop yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Amplop itu? Hampir saja aku lupa. " Lirih Alvaro, menepuk jidatnya.
Laki-laki itu kemudian berjalan ke meja kerjanya dalam membuka amplop dari Laura siang tadi. Alvaro kemudian mengingat percakapannya dengan Laura.
(Flashbackon)
"Aku mau minta tolong Alvaro. " Ujar Laura.
"Minta tolong apa?. " Alvaro mengernyitkan wajahnya, sedikit takut jika Laura mengajaknya untuk membangun hubungan lagi, keputusan Alvaro sudah bulat meskipun ia masih belum benar-benar bisa menghilangkan perasaanya kepada Laura namun ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan pernah kembali ke perempuan tersebut.
"Aku, sebentar lagi akan mati Alvaro. " Ujar Laura, air matanya menetes.
Deg
Albaro yang mendengar itu jantungnya langsung berdebar tidak karuan.
"Maksudmu?. "
Laura menyodorkan sebuah amplop.
"Buka saja amplop itu dan kamu akan tahu jawabannya. "
Alvaro kemudian membuka amplop tersebut, di dalamnya ada dua lembar kertas, Alvaro sontak terkejut setelah membaca keterangan yang ada di dalam kertas itu.
"Ini serius?. " Tanya Alvaro memastikan.
Laura menunduk dalam dan menganggukkan kepalanya.
Alvaro menutup mulutnya, tidak tau harus berkata apa, ia benar-benar shock membaca surat tersebut.
"Aku kena kanker rahim, udah stadium akhir, makanya kamu liatkan badan aku udah nggak sebagus dulu, aku sering ke rumah sakit ini selain buat ngeliat kamu juga buat cek up tapi bukannya membaik kayaknya kesehatan aku udah makin memburuk. " Jelas Laura, air matanya semakin mengucur dengan deras.
"Kamu udah ngongi ini ke suami kamu?. " Tanya Alvaro, terlihat sangat khawatir.
"Nggak, aku nggak bisa kasih tau dia, Anak-anak aku masih kecil lebih baik mereka taunya aku ninggalin mereka karena lebih milih laki-laki lain, biarin mereka benci aku seumur hidup. " Oceh Laura.
"Tapi, mereka harus tetap tau keadaan kamu sekarang Laura aku gak bisa nolongin kamu kalau mereka gak tau tentang kondisi kamu saat ini. " Balas Alvaro.
"Nggak! Keputusan aku udah bulat! Aku cuman butuh kamu, cuman kamu yang bisa aku andalan saat ini Ak, tolong bantuin aku. "
Laura menundukkan kepalanya semakin dalam, perempuan itu menangis tersedu-sedu memikirkan nasibnya yang sial.
"Nasib aku emang sial Al, aku harusnya mati dari dulu, aku gak sanggup hidup kayak gini gak ada gunanya banget, cuman jadi beban buat orang lain. " Laura merutuki dirinya sendiri.
Alvaro yang mendengar itu jadi tidak tega, ia kemudian berjalan ke arah Laura dan menepuk-nepuk bahu perempuan itu. Laura yang merasa hanya Alvaro yang bisa ia andalkan saat ini sontak memeluk laki-laki itu.
Hingga tidak lama kemudian Rania datang dan melihat Alvaro dan Laura yang sedang berpelukan.
(Flashbackoff)
Bersambung..
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah.
__ADS_1