Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 68 : Dingin


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Laura kembali ke Indonesia untuk menyembunyikan penyakitnya, karena tidak ingin mantan suami dan ketiga anaknya tersebut ikut menderita melihatnya kesakitan. Hanya Alvaro yang bisa Laura andalkan saat ini.


###


Halnya Reading and Enjoy Guys.


Rania sesekali memandangi ponselnya sudah satu minggu berlalu, Alvaro sama sekali belum pernah mengabarinya lagi sejak laki-laki itu mengajaknya berpacaran, Rania bahkan tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu di sekolah karena katanya Alvaro sedang ada urusan mendesak selama satu minggu, makanya laki-laki itu mengambil cuti.


Rania menbuka elpesan terakhir yang di dapatkannya dari Alvaro.


"Rania, tolong beri aku waktu satu bulan untuk menyelesaikan hubunganku dengan Laura, maaf. "


"Cih." Rania berdecak kesal membaca pesan tersebut.


Setelah pesan itu, Rania bahkan tidak pernah berusaha untuk mencari tahu ataupun menghubungi Alvaro. Rania sudah jarang pergi ke rumah sakit karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya mengikuti les seminggu terakhir. Gadis itu harus mengejar ketertinggalannya.


Nilai-nilainya pada semester sebelumnya tidak terlalu bagus, kini saatnya Rania akan memilih perguruan tinggi yang akan ia masuki. Untuk ke perguruan tinggi terbaik tentunya Rania harus belajar lebih giat lagi.


"Ngeliatin Hp mulu, fokus dong Ran. " Tegur Reno. Saat ini mereka berdua sedang belajar bersama.


"Hmm iya iya. " Jawab Rania.


Rania kemudian kembali fokus ke buku yang ada di depannya.


Hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Ya udah aku mau ke kamar aku dulu. " Ujar Rania.


"Ya udah sana gih, jangan lupa besok pulang sekolah langsung les terus itu tugasnya harus udah selesai. " Perintah Reno.


"Iya bawel. " Rania kemudian keluar dari dalam kamar Reno dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Hahhhh, capek banget. " Keluh Rania, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Tidak lama kemudian gadis itu tertidur lelap dengan posisi telentang, Rania bahkan sudah tidak ingat lagi dengan ponsel dan buku pelajarannya yang berceceran di lantai karena di letakkan secara sembarangan.


###


"Kalau menurut aku yah Rania, perasaan kamu sekarang itu cuman sesaat tau, kamu cuman terobsesi sama pakAlvaro karena yah terlanjur dekat sama dia gara-gara taruhan itu. " Tutur Melinda yang saat ini sedang memotong buah apel di ruang keluarga rumah Rania.


"Emang pak Alvaro belom ada ngasih kabar Ran?. " Tanya Reno ikut menilai, biasanya laki-laki itu hanya akan diam saja.


Rania menggelengkan kepalanya.


"Lagian belom satu bulan, baru juga delapan hari. " Rania masih berharap Alvaro akan segera menelpon dan memberi penjelasan tentang keadaan seperti apa yang aki-laki itu sedang hadapi.


"Ya udah deh Ran, terserah kamu aja mana-mana yang baik buat kamu kita cuma bisa ngedukung dan ngesuport kamu aja dari belakang. " Ujar Melinda, percuma juga ia dan Reno terus berbicara, Rania juga tidak akan mendengarkan sarannya.


"Wah dewasa banget kamu yang. " Ujar Reno memuji Melinda.

__ADS_1


Rania yang mendengar itu sontak memutar bola matanya.


"Mulai lagi deh nih, mo yet bucin. " sinis Rania, pelan.


"Hehehe iya dong ayang, kamu mau apel lagi?. " Tanya Melinda penuh perhatian kepada Reno.


"Mau, tapi di suapin ya ayang. " Jawab Reno.


"Ya udah, buka mulut Aaa. " Melinda mengarahkan apel yang sudah di piring dan di kupasnya ke arah mulut Reno.


"Ahhmmm, enak ayang. " Ucap Reno setelah alek itu masuk ke dalam mulutnya.


"Idihhhh najisss banget. " Teriak Rania merasa risih melihat ke dua orang itu.


"Dih bilang aja kalau kamu iri sama kita. " Balas Melinda sinis.


"Enak aja, siapa juga yang iri sama dua monyet kayak kalian ini, najis banget. " Balas Rania sewot.


"Kalau gak iri ngapain sewot gitu. " Balas Melinda.


"Au ah. " Rania pergi meninggalkan kedua orang itu, menuju ke halaman depan rumahnya sambil mencak-mencak, merasa kesal kepada Reno dan Melinda.


###


Alvaro akhirnya masuk mengajar di hari senin pagi yang cerah itu, Rania yang selama satu minggu terakhir menunggu kedatangan Alvaro juga ikut berseri-seri melihat laki-laki itu kini berdiri di depan kelasnya, menjelaskan materi pelajaran yang di bawakannya.


Setelah mata pelajaran selesai Rania segera berlari menghampiri Alvaro yang sudah berjalan keluar dari kelasnya.


Akvaro yang mendengar panggilan tersebut langsung menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa Rania?. " Tanya Alvaro, ekspresinya sangat datar, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


"Pak Alvaro dari mana aja? Bapak sakit?. " Rania basa basi, sebenarnya di dalam hatinya Rania merasa sangat nervous.


"Tidak, saya sehat. " Balas Alvaro cuek, dingin.


"Oh, Pak Alvaro kenapa nggak masuk ngajar minggu lalu?. " tanya Rania lagi.


"Saya sibuk!. " jawab Alvaro, singkat padat dan jelas.


Deg


"Oh ya udah kalau gitu, saya balik ke kelas, permisi pak. " Ujar Rania tidak ingin memperpanjang percakapannya dengan Alvaro, hatinya sudah terlanjur kecewa dengan sikap dingin yang di tunjukkan Alvaro padanya.


Harusnya ia tau diri, mana mungkin Alvaro benar-benar mengajaknya berpacaran.


" Bulshit! pembohong . " Batin Rania. Tangannya mengepal. Alvaro yang melihat itu hanya memandangi Rania yang sudah pergi meninggalkannya masuk ke dalam kelas.


"Maaf Rania, saya harus seperti ini agar kamu bisa segera melupakan saya, saya akan menyelesaikan masa lalu saya sendiri terlebih dahulu. " Batin Alvaro.


Rania duduk di bangkunya dan langsung menggebrak mejanya dengan sedikit kasar, beberapa teman kelas Rania langsung memperhatikan gadis itu. Rania tidak, peduli.

__ADS_1


Melinda ayang duduk di sampingnya tidak bisa berbuat banyak, ia sudah tahu pasti Rania sedang merasa kesal kepada Alvaro. Entah apalagi yang laki-laki itu katakan pada Rania, sehingga membuatnya jadi seperti ini.


###


Alvaro sedang mendorong kursi roda Laura, perempuan itu sudah tidak bisa berjalan dalam kurun waktu satu minggu saja kesehatannya terus-terussan menurun.


"Kamu gak dingin? Kita masuk aja yah ke dalam ruangan perawatan kamu?. " Tutur Alvaro.


"Nggak ah, aku mau ngasih makan ikan di kolam itu Al, ayo kita kesana. " Ajak Laura sangat antusias.


"Bentar lagi usah mau malam mending kita masuk ke ruangan kamu aja, biar nanti malam tidur kamu bisa lebih banyak istirahat. " Saran Alvaro.


"Nggak, gak mau, aku mau ke kolam itu ngeliat ikan-ikannya. " Laura menunjuk kolam yang ada di taman rumah sakit.


"Ya udah tapi bentar aja yah. " Ujar Alvaro pasrah. Percuma saja Laura akan terus meminta hal tersebut bahkan jika ia menlmaksanyabuntu k masuk ke dalam ruangan perawatan.


Alvaro mendorong kursi roda Laura sampai ke pinggir taman, kemudian membantunya berdiri, karena taman itu tidak bisa di lalui oleh kursi roda.


Laura terlihat sangat senang memberi makan ikan-ikan yang ada di dalam kolam itu, bahkan tanpa sadar ia sudah tidak lagi perlu di pegangin oleh Alvaro saat berdiri.


"Kamu senang?. " Tanya Alvaro melihat Laura sangat bahagia hanya dengan memberikan makanan pada ikan-ikan di kolam itu.


Tatapan Laura kemudian teralihkan kepada anak-anak kecil yang berada tidak jauh dari mereka.


Alvaro yang menyadari Laura menatap sesuatu ikut melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain balon di dekat mereka saat ini.


"Kamu rindu sama anak-anak kamu?. " Tanya Alvaro, merasa iba kepada Laura.


Laura tersenyum kecil.


"Emangnya ada orang tua yang jauh dari anaknya terus nggak ngerasain rindu sama sekali?. " Laura justru bertanya balik kepada Alvaro.


"Kalau gitu kita kabari anak-anak kamu dan mantan suami kamu aja Laura, biar mereka datang buat nemenin kamu disini. " Saran Alvaro.


"Nggak, itu nggak bakalan pernah terjadi, selagi ada kamu disini semuanya pasti bakalan baik-baik aja. " Laura tetap pada pendiriannya dari awal.


"Dasar keras kepala. " Sindir Alvaro.


Melinda tersenyum mendengarnya.


"Biarin." Balasnya.


Alvaro membalas senyum Laura, mereka berdua kemudian kembali memberi makan ikan-ikan yang ada di dalam kolam tersebut.


Disisi lain, seseorang dari kejauhan menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


Bersambung...


Note :


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2