
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Rania segera berlari ranjang pengantinnya
###
Rania segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berpura-pura memejamkan matanya.
Alvaro yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kecil untuk menutupi bagian bawah perutnya kemudian berjalan pelan ke arah ranjang.
"Rania? Kamu udah tidur?. "Tanya Alvaro saat laki-laki itu sudah duduk di tepi ranjang.
Tidak ada jawaban dari Rania.
" Rania?. " Panggil Alvaro sekali lagi kali ini laki-laki itu mulai menyibak selimut yang menutupi tubuh Rania.
Alvaro dengan pelan memperbaiki posisi selimut tersebut dan memperbaiki posisi tidur Rania.
Alvaro memperhatikan wajah Rania yang saat ini sedang berpura-pura tidur, Alvaro tidak sadar akan hal itu.
Melihat Rania yang kelelahan, Alvaro kemudian ikut berbaring di sampingnya sambil terus memperhatikan wajah Rania.
Rania yang sudah tidak tahan dengan kepura-ouraannya kemudian membuka matanya dan segera bangun.
"Rania?. " Panggil Alvaro terkejut melihat tingkah gadis itu.
"Alvaro, kayaknya aku juga harus mandi deh, ini make up aku belum di bersihin. "Balas Rania segera berlari masuk ke kamar mandi menghindari Alvaro.
" Ya udah jangan lama-lama Rania. " Ujar Alvaro.
30 menit berlalu. Gadis itu tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Alvaro masih terlihat santai sambil menunggu Rania di atas kasur, Alvaro memainkan game yang ada di ponselnya.
1 jam berlalu, Rania belum juga keluar. Alvaro menjadi khawatir kepada Rania, takut jika istrinya itu kenapa-napa, dengan cepat Alvaro bangkit dari oembaringannya menuju ke pintu kamar mandi.
"Rania...? . " Alvaro mencoba memutar pegangan pintu dan terkejut saat melihat Rania saat ini sedang mandi di bawah guyuran shower tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.
Alvaro tersenyum kecil, dalam pikirannya terbesrsit ide untuk ikut masuk ke kamar mandi.
Dengan langkah pelan, Alvaro masuk ke dalam kamar mandi tidak lupa ia mengunci pintu kamar mandi tersebut, Alvaro lalu membuka kembali handuknya dan tiba-tiba saja saat Rania berbalik ke arahnya, gadis itu berteriak.
"Ahhhhhhh TOLONG. " Rania sontak menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Sementara Alvaro yang sudah tidak mengatakan apa-apa lagi berjalan mendekati Rania.
"Rania, kenapa teriak-teriak?. " ujar Alvaro.
__ADS_1
"Alvaro, kenapa nggak pake baju? Atau pake celana? Rania malu! Rania takut, hiksss. " Pekik Tania histeris menutupi wajahnya.
"Nggak apa-apa, kitakan udah nikah dan udah sah jadi suami istri jadi wajar aja. " Jelas Alvaro, karena melihat Rania takut melihatnya tanpa sehelai benang.
Alvaro kemudian kembali memungut handuknya dan mengenakan handuk tersbut.
Lalu kembali mendekati Rania yang masih meringkuk menutupi tubuh dan wajahnya menggunakan handuk yang sudah basah karena terkena guyuran Shower.
"Rania.. " Panggil Alvaro.
"Jangan dekat-dekat, Rania malu. " Balas Rania.
Alvaro terkekeh pelan melihat tingkah Rania yang polos.
"Saya nggak bakalan sakitin kamu Rania, ayo sini nggak usah malu, tadi saya udah liat semuanya kok. " Ujar Alvaro.
Rania mengankat neoalanya dan mental tajam ke wajah Alvaro.
"Alvaro ih, Rania tambah malu tau. " Balas Rania.
"Ya udah, saya tunggu di kasur aja, jangan lam-lama nanti kamu masuk angin. . " Ujar Alvaro, laki-laki itu keluar dari dalam kamar mandi dengan perasaan geli, ia tidak tahu ternyata Rania se polos dan selugu itu.
T8dak lama kemudian, Rania muncul di belakangnya mengenakan handuk setengah basah.
"Alvaro... " Panggil Rania.
"Ya ampun kenapa nggak minta handuk baru, itu yang kamu pake basah. "
Alvaro mengambil handuk kering dan dengan cepat laki-laki itu kini sudah berada di hadapan Rania.
"Buka handuknya. " Perintah Alvaro.
"Eh?. " Rania langsung merasa panas dingin saat laki-laki itu menyentuh kulitnya.
"Buka handuk kamu yang basah itu. " Ujar Alvaro.
"Biar Rania aja. " Balas Rania, mencoba merebut handuk di tangan Alvaro, namun sedetik kemudian.
"Aaahhhh." Pekik Rania, saat handuk yang di kenakannya melorot memperlihatkan dadanya.
Rania segera memeluk Alvaro, agar laki-laki itu tidak melihat bagian depan tubuhnya yang polos.
Alvaro segera menangkap tubuh Rania dan entah bagaimana, handuk nyang di kenakan Rania justru terlepas dari tubuh gadis itu, kini bagian belakang tubuhnya justru terekspos di depan mata Alvaro.
Dengan sigap Alvaro memasangkan handuk yang tadidi ambilnya ke tubuh Rania.
__ADS_1
Sedetik kemudian Alvaro menggendong gadis itu naik ke atas ranjang. Sementara Rania segera menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.
"Rania?. " Panggil Alvaro.
"Hmm." Balas Rania.
"Rania, liat saya dong. " Ujar Alvaro lagi.
"Nggak mau, Rania malu. " Balas Rania.
Alvaro kemduian berinisiatif untuk ikut masuk ke dalam selimut dan menarik tubuh Rania ke dalam pelukannya.
Cup
Alvaro langsung mencium bibir Rania.
Rania sontak mencoba melepaskan diri dari Alvaro.
Cup
Satu ciuman lagi mendarat di bibir Rania.
"Rania takut, hiks. " Ujar Rania.
"Nggak apa-apa kok, nggak bakalan sakit. " Balas Alvaro.
"Alvaro... " Panggil Rania.
"Iya Rania?. " Balas laki-laki itu.
"Aku, hmmmmpp. "
Alvaro sekali lagi ******* habis bibir gadis itu. Rania akhirnya pasrah saat merasakan tangan Alvaro membuka handuknya secara perlahan.
Sebisa mungkin Rania juga membalas ciuman Alvaro.
Rania akhirnya merasakan yang namanya malam pertama, ternyata tidak semengerikan yang dipikirkannya selama ini.
Alvaro memperlakukannya dengan sangat lembut dan entah bagaimana justru Ranialah yang lebih banyak bergerak saat mereka melakukan hubungan itu.
Bagi Rania, hal itu bukan hanya sekedar berhubungan **** biasa, namun baginya itu merupakan penyatuan dan bentuk ungkapan perasaan cinta mereka dan pastinya mereka melakukan hubungan **** tersebut dalam ikatan suci dan sakral.
Satu jam berlalu mereka berdua berakhir dengan saling berpelukan.
Bersambung..
__ADS_1