Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 78 : Bimbang?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Rania yang menyadari ucapannya barusan jadi malu sendiri, wajahnya merah padam.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Rania sangat senang setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu dengan Mama Alvaro lagi, namun sayangnya kali ini pak Subroto sedang tidak berada di rumah lagi karena mendadak ada urusan bisnis yang harus ia tangani. Namun, tidak masalah karena Mama Alvaro terlihat lebih antisias di banding Rania.


Mama Alvaro bahkan sudah menyiapkan berbagai jenis makanan di atas meja makan, padahal yang datang hanya Rania seorang diri.


"Aduh, Rania makin cantik aja kamu nak. " Ujar Mama Alvaro langsung memeluk Rania dan menggiring nya ke meja makan.


"Aduh, tante juga makin cantik aja. " Balas Rania.


"Gimana kabar orang tua kamu nak?. " Mama Alvaro bertanya dengan suara yang sangat lembut membuat Alvaro yang masih berdiri di pintu mengernyit kan wajahnya.


"Anak orang di sayang-sayang, anak sendiri di lupakan. " Lirih Alvaro. Melihat mamanya yang lebih peduli kepada Rania dan sama sekali tidak menghiraukannya.


"Ayo nak, dia makan? Kamu mau yang mana nanti Mama ambilin. " Ujar Mama Alvaro menawarkan makanan kepada Rania.


"Yang mana aja deh tante, ini makanan kesukaan Rania semua kok. " Balas Rania.


"Aduh, jangan panggil tante dong, panggil Mama aja yah nak. "


Rania kemudian mengangguk.


"Ya udah Mama ambilin opor ayam sama sayur yang ini kamu mau nggak?. "


"Ekhem... " Alvaro berdehem.


Kedua perempuan yang sedang duduk di atas meja itu hanya melirik sebentar kemudian asik mengobrol lagi, tidak peduli dengan kehadiran Alvaro.


"Mama udah siapin kamar loh buat kamu di rumah ini, kamu mau liat nggak?. " Ujar Mama Alvaro, sakitmng sayangnya kepada Rania ia bahkan mempersiapkan kamar khusus untuk Rania.


"Beneran Ma? Wah mau banget. " Balas Rania, ia merasa terharu melihat Mama Alvaro yang sepertinya sangat menyayanginya.


"EKHEM.. " Alvaro kembali berdehem untuk mengambil perhatian kedua perempuan itu.


"Pak Alvaro, ayo sini makan. " Panggil Rania, menyadari Alvaro ternyata masih berdiri di dekat pintu.


"Alvaro, masuk sini udah kayak orang lain aja mesti di suruh masuk dulu. " Omel Mama Alvaro.


"Kirain aku cuman supir pribadi yang di tugasin buat jemput anak perempuannya Mama. " Sindir Alvaro.


"Halah, iri aja kamu." Balas Mama Alvaro tidak terlalu ambil pusing dengan ucapan Alvaro.


Rania dan Mama Alvaro kembali mengobrol panjang lebar hingga bernyanyi dangdut dan berjoget bersama-sama, tidak terasa waktu berjam-jam telah berlalu.


Kini Mereka bertiga sedang berada di depan Televisi ruang keluarga pak Subroto, Alvaro bahkan sampai ketiduran di atas kasur springbed yang berada di ruang keluarga tersebut.


"Rania, mama haus capek juga yah nyanyi-nyanyi kayak tadi, mama tinggal bentar yah sekalian mau nelpon Papa buat minta oleh-oleh kalau dia balik nanti malam, kamu disini aja sama Alvaro. "


"Tapi...." Rania sedikit gugup jika di tinggal berdua dengan Alvaro di dalam ruangan yang sama.


"Udah gapapa, bentar doang kok. " Ujar Mama Alvaro.


Mama Alvaro kemudian meninggalkan Alvaro yang sedang tertidur dengan Rania yang kembali fokus menonton televisi.


Setengah jam berlalu, Rania sudah merasa bosan menonton Televisi yang sedang menayangkan sinetron azab seorang anak yang menikahi jantung pisang.


"Ada-ada saja tayangan Televisi sekarang ini. " Ujar Alvaro yang entah sejak kapan, ternyata laki-laki itu sudah bangun.


Rania sontak menatap Alvaro dengan sedikit terkejut, namun segera mengalihkan pandangannya lagi ke Televisi. Jantungnya berdegup tidak beraturan.


20 menit berlalu.


Mama Alvaro yang katanya hanya pergi sebentar untuk menelpon suaminya juga tidak kunjung kembali, Rania ingin mencarinya namun merasa segan karena ini bukan rumahnya, Rania tidak ingin lancang di rumah orang lain.

__ADS_1


Rania melirik ke arah Alvaro. Namun sepertinya laki-laki itu sudah tidur kembali.


Rania kemudian berinisiatif untuk membangunkan Alvaro yang sedang tertidur pulas itu. ia sebenarnya tidak tega namun, Rania sungguh sudah merasa sangat bosan.


Lagi pula, Alvaro sudah berjanji kalau mereka tidak akan lama berada di rumah laki-laki tersebut, tapi karena keasikan mengobrol akhirnya Rania tidak sadar ternyata sudah lima jam gadis itu berada di rumah Alvaro.


"Pak Alvaro.. " Panggil Rania, mencoba memanggil Alvaro dari jarak yang cukup jauh. Namun cara itu gagal.


Rania kemudian mendekati tempat Alvaro tidur.


"Alvaro... " Panggil Rania lagi, laki-laki itu hanya bergerak sedikit.


Rania yang sudah sangat tidak sabar ingin membangunkan Alvaro langsung naik ke atas springbed dan menggoyangkan tubuh laki-laki itu.


"Alvaroooo." Panggil Rania, gemas karena laki-laki itu tidak bangun-bangun.


"Hmmmm." Alvaro bergumam dan membuka matanya secara perlahan.


"Pak Alvaro, Rania bosan. " Ujar Rania setelah melihat Alvaro yang sudah berhasil ia bangunkan.


"Mama mana?kamu ditinggal sendiri?. " Tanya Alvaro sambil mengucek matanya.


Rania mengangguk.


"Kamu mau pulang?. "


Rania mengangguk lagi.


"Kamu bosan?. "


Lagi-lagi Rania hanya mengangguk.


"Ya udah, saya cuci muka sebentar. " Ujar Alvaro, beranjak dari tempatnya tidur.


Beberapa waktu kemudian Rania sudah berada di atas mobil Alvaro.


Mama Alvaro berinisiatif untuk membungkusnya sebagai oleh-oleh untuk orang tua Rania.


"Iya ma. " jawab Rania.


"Ya udah ma, jangan di ajak ngobrol mulu Rania nya, gak jalan-jalan nih kita. " ujar Alvaro.


"ih gak sabar banget sih pengen dua-duaan yah. " goda Mama Alvaro.


"Mama." tegur Alvaro.


"Rania pulang dulu yah Ma, dadahhhh. " Rania menengahi percakapan Ibu dan anak itu sambil mengangkat lima jarinya.


"Hati-hati Alvaro bawa mobilnya jangan kebut-kebuttan kalau bawa anak orang. " Ujar Mama Alvaro lagi.


"Iya Mama, aku anter Rania dulu yah. " Pamit Alvaro kemudian laki-laki itu ikut masuk ke dalam mobil.


Mobil Honda jazz itupun melaju, keluar dari gerbang rumah pak Subroto. Rania tidak berhenti tersenyum seharian ini.


"Loh inikan bukan jalan ke arah rumah aku?. " Rania kebingungan melihat mobil yang terus berjalan lurus yang harusnya tadi mereka belok.


"Kita jalan-jalan sebentar. " Ujar Alvaro.


"Hah?. " Rania sedikit terkejut.


"Katanya kamu kepengen tempat yang romantis? . " Alvaro mengingatkan Rania tentang ucapannya pagi tadi yang ingin di ajak berpacaran di moment yang romantis.


"Ya romantis itu bukan tentang tempatnya aja. " Balas Rania.


"Ya udah intinya hubungan kita udah di mulai kan?. " Tanya Alvaro lagi memastikan hubungan mereka.


"Mana ketehe. " Ujar Rania.


"Raniaaaa.... "

__ADS_1


"Alvaroooo.... " Rania menirukan nada suara Alvaro ketika memanggil namanya.


"Oke Fiks, ini hari pertama hubungan kita. Titik!. " Tegas Alvaro.


"Dih, orang aku nggak ada bilang iya kok. " Balas Rania.


"Itu kamu barusan bilang iya loh. " Goda Alvaro.


"Mana ada aku bilang iya. "Bantah Rania padahal tanpa sadar, gadis itu sudah dua kali mengatakan kata 'iya'.


"Itu kamu bilang iya lagi. "


"Enak aja, kamu ngejebak aku yah?. " Ujar Rania tidak Terima.


Mereka berduapun terus-terussan berdebat hingga sampai di sebuah restoran yang menyediakan berbagai macam makanan Korea yang dimana setiap orang yang masuk bisa makan sepuasnya dan membayar secukupnya.


Tempat tersebut berada di dekat pantai, Rania merasa takjub untuk sesaat karena pemandangan yang ada di depannya sungguh estetik, Restoran di pinggir pantai. Sambil makan orang-orang bisa sambil menikmati pemandangan yang di tersaji.


Awalnya Rania tidak ingin ikut turun dari mobil, namun karena Alvaro berinisiatif membukakan pintu untuknya akhirnya Rania ikut turun juga.


"Silahkan tuan Puteri. " Ujar Alvaro, mempersilahkan Rania kekuar dari dalam mobil bagaikan seorang supir.


"Gak jelas banget sih. " Sinis Rania.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam restoran tersebut dengan Rania yang berjalan di depan sementara Alvaro mengikut di belakang gadis itu.


"Kamu cari tempat duduk aja, biar aku yang ngambil makanannya. " Ujar Alvaro.


Rania melihat Alvaro seperti orang yang berbeda hari ini, cara laki-laki itu memperlakukannya sudah tidak sedingin biasanya.


"Ok." jawab Rania. Gadis itu kemudian berjalan dengan santai, memilih tempat yang paling strategis untuk mengambil poto nantinya.


Rania jadi bimbang, apakah ia benar-benar harus pergi keluar negeri dan meninggalkan Alvaro? Atau ia mengambik jurusan yang sama namun tetap berkuliah di dalam negeri saja?.


"Halah Mungkin ini cuman ucapan Terima kasih Alvaro karena aku udah bantuin dia temuin mamanya hari ini. " Pikir Rania, tidak mungkin laki-laki itu sungguh-sungguh mengajaknya berpplacaran apalagi langsung ke jenjang pernikahan.


Padahal awalnya Rania sendiri yang ingin memberitahu Alvaro bahwa dirinya akan pergi keluar negeri untuk membuat laki-laki itu terkejut, namun karena pak Herman sudah terlanjur memberi tahu Alvaro duluan, mau bagaimana lagi.


Sekali lagi Rania memperhatikan Alvaro yang sedang serius memilih beberapa macam makanan, di restoran ini temanya adalah kita bisa makan sepuasnya dan kita juga yang harus memasak sendiri makanan yang ingin kita makan.


Tenang saja, semua bumbu makanannya sudah tersedia tinggal di campurkan lalu di panggang ataupun di masak.


Tidak lama kemudian Alvaro menghampiri Rania yang hanya duduk melamun, di tangannya sudah penuh berbagai macam daging-dagingan dan sayuran, sedetik kemudian pelayan datang membawakan alat untuk memanggang dan memasak daging-dagingan tersebut.


Angin sepoi-sepoi membelai wajah Rania anak-anak rambutnya ikut tertiup angin, memperlihatkan seluruh wajahnya yang bulat, Alvaro yang melihat itu terperangah memandangi wajah Rania untuk beberapa saat.


"Cantik." Lirih Alvaro pelan.


"Hah?. " Rania sedikit terkejut mendengar ucapan Alvaro barusan. Mata mereka saling bertatapan sepersekian detik.


Alvaro segera mengalihkan pembicaraan.


"Rania, kamu mau makan yang mana dulu?. " Tanya Alvaro, sambil tangannya sibuk menyusun makanan-makanan yang tadi di ambilnya di atas meja.


Rania mengernyitkan dahinya.


"Perasaan tadi pak Alvaro bilangin aku cantik deh?Apa aku salah dengar? . " Batin Rania.


"Au Ah Bodo amat!. " Ujar Rania tanpa sadar.


"Kamu gak suka makan disini?. " Tanya Alvaro.


"Iya, kan tadi aku mintanya ke tempat romantis, kenapa malah di bawa ke pinggir pantai. " sinis Rania. Namun sedetik kemudian Rania mengambil Ponselnya dan meminta Alvaro untuk memotret nya.


Alvaro tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu. Sementara Rania tetap mempertahankan ekspresi juteknya.


Bersambung...


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author.

__ADS_1


__ADS_2