
Episode sebelumnya...
Rania kemudian berlari meninggalkan Alvaro di tempat itu, air matanya terus mengalir. Rania merasa malu, bahkan untuk menemui Papanya saja rasanya gadis itu tidak sanggup karena merasa sangat bersalah.
###
Happy Reading and Enjoy Guys
Dua hari sudah Rania mengurung dirinya di dalam kamar, hanya keluar untuk mengambil makanan pesanannya dan tidak mau memakan makanan yang ada di rumahnya. Rania merasa sangat prustasi memikirkan kesalahan yang telah di lakukannya dua hari yang lalu. Gadis itu bahkan tidak pergi sekolah dua hari ini dengan alasan kurang enak badan.
Mama dan Papa Rania yang melihat kondisi anaknya juga merasa sangat khawatir, karena Rania tidak pernah berperilaku seperti ini.
"Apa jangan-jangan lagi berantem yah sama Alvaro?. " Ujar Mama Rania kepada Pak Herman, suaminya.
"Masak sih, tapi aku liat Alvaro tenang-tenang aja kok di rumah sakit kayak gak ada masalah. " Ujar Pak Herman.
"Hmm mama jadi khawatir sama Rania, gak biasanya loh anak kita kayak gini Pa. " Mama Rania terlihat seperti akan menangis memikirkan anaknya itu.
"Ya udah sabar aja dulu kita tunggu sampai dia mau keluar dari dalam kamarnya. " Ujar Pak Herman lagi.
Semua orang di rumah Rania sudah berusaha untuk masuk ke dalam kamar gadis itu bahkan Reno rela memanjat tangga dan naik ke balkon kamar Rania namun gadis itu mengunci rapat pintu balkonnya dan segera berteriak mengusir Reno.
Mama dan Papanya pun sudah melakukan berbagai cara untuk membuat Rania mau membukakan pintu untuk mereka, mulai dari membelikan makanan kesukaannya hingga diiming-imingi uang jajan dua kali lipat jika Rania mau menunjukkan wajahnya saja. Namun Rania hanya berterima dan mengatakan bahwa gadis itu tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Biasanya Rania akan sangat senang jika sudah berkaitan dengan uang.
Pagi hari, di hari minggu saat keluarga Pak Herman sedang akan melakukan sarapan pagi bersama akhirnya Rania keluar dari dalam kamarnya. Matanya terlihat menghitam dan sembab karena terlalu sering menangis.
"Rania?. " Pak Herman langsung berdiri dan memeluk anaknya itu.
"Papa." Ucao Rania dengan suara yang lemah.
"Ayo nak sini, sarapan. " Mama dan Papa Rania membantu anaknya itu untuk duduk di kursi meja makan.
"Kamu mau makan apa nak? Ayam? Ikan? Atau mau di gorengin telor?. " Tanya Mama Rania penuh prhatian kepada anaknya itu.
"Terserah mama aja. "Balas Rania.
Rania itu terlihat seperti tidak punya gairah untuk hidup. Biasanya gadis itu akan sangat banyak bicara jika di meja makan namun kali ini gadis itu lebih banyak diam. Matanya kembali berkaca-kaca entah kenapa untuk makan saja rasanya Rania merasa sangat bersalah sudah hampir membunuh orang lain.
__ADS_1
" Hiksss, huhuhu. " Tangis Rania pecah membuat Mama dan papanya langsung memeluk anak gadis satu-satunya itu.
"Kenapa sayang?hmmm?. " Tanya Mama Rania merasa sangat khawatir melihat keadaan anaknya itu.
"Kamu mau apa? Nanti Papa beliin jangan nangis anak Papa. " Ujar Papa Rania menghaous air mata anaknya itu.
"Papa, Mama maafin Rania. " Tangis Rania semakin pecah membuat Mamanya ikut menangis.
"Gapapa sayang mama maafin kok. " Ucap Mama Rania meskipun sebenarnya ia tidak tahu Rania meminta maaf untuk apa.
Setelah tangis Rania agak reda Mama dan Papanya kemudian membawa anak gadisnya itu ke dalam kamarna di lantai dua.
"Ma, Pa maafin Rania yah. " Ucap Rania lagi-lagi meminta maaf kepada orang tuanya.
"Kamu gak salah apa-apa kok nak, kenapa minta maaf terus. " Tanya Pak Herman kepada anak gadisnya itu.
"Aku hampir bunuh orang. " Ucap Rania, air matanya kembali menetea lagi.
Mendengar itu Mama dan Papanya saling berpandangan karena bingung dengan apa yang anaknya katakan.
"Maksud kamu apa nak?. " Tanya Papa Rania lagi memastikan pendengarannya.
Mendengar hal itu orang tua Rania semakin terkejut karena tidak pernah mendengar kejadian ataupun sesuatu yang terjadi di rumah sakitnya.
"Rania salah kasih obat ke pasiennya Pak Alvaro, dan pasiennya hampir mati. "
"Hah?. " Pak Herman sontak terkejut mendengar pernyataan anaknya dan buru-buru akan menghubungi Alvaro.
Baru akan meninggalkan kasur anaknya Rania langsung menahan Papanya.
"Pa, jangan hubungin Alvaro, Rania malu Papa, tolong jangan. " Pinta Rania.
Pak Hermanpun mengurungkan niatnya melihat kondisi mental anaknya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, Pak Herman berpikir akan menanyakannya besok pagi di rumah sakit.
Tidak lama kemudian Rania tertidur dalam pelukan Mamanya. Gadis itu terlihat sangat berantakan, rambutnya acak-acakan dan bibirnya sangat kering.
Setelah memastikan anak gadisnya tertidur, Mama dan Papa Rania meninggalkan anak gadisnya itu dengan berjalan pelan-pelan keluar dari dalam kamarnya.
###
__ADS_1
Di sisi lain, Reno yang sedari tadi hanya diam saja sejak di meja makan tidak dapat melakukan banyak hal untuk membantu kakaknya itu, Reno sudah mengetahui jika kakaknya hampir membunuh orang di rumah sakit karena sering mendengar kakaknya menangis histeris dan berteriak, suara teriakan Rania kadang sampai ke dalam kamar Reno.
Reno juga sudah menghubungi Alvaro untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan setidaknya Reno bisa sedikit bernafas lega karena orang yang Rania beri obat yang salah itu setidaknya tidak menuntut rumah sakit dan kondisinya sudah lebih baik. Reno belum membicarakan ini kepada orang tuanya karena menunggu Rania untuk berbicara sendiri.
Melihat kondisi kakaknya hari ini Reno merasa harus menghubungi Melinda untuk menghibur Rania, kasian kakaknya yang biasanya sangat rame itu sepertinya sangat kesepian.
Begitu mendapatkan panggilan dari Reno untungnya Melinda segera datang dan mengajak Rania untuk berjalan-jalan sore si sore hari ini melihat senja di pinggir pantai yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Melinda membawa mobilnya sendiri, dengan segala macam bujuk rayuan gombal Melinda berhasil membuat Rania mau keluar rumah.
"Mau kemana sih Melinda?. " Tanya Rania yang terlihat sangat kurang bersemangat.
.
"Kita mau ke pantai Rania, yeeeeey. " Melinda heboh sendiri. "
"Hati-hati yah. " Teriak Reno dari luar mobil.
"Dah Renoooo. " Teriak Melinda melambaikan tangannya kepada Reno setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
Sudah sepuluh menit perjalanan dan Rania hanya diam saja, Melinda jadi merasa iba memperhatikan sahabatnya itu yang sudah seperti mayat hidup.
"Rania?. " Panggil Melinda namun Rania hanya bengong saja.
Melibda kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Rania sedikit berteriak karena kaget.
"Ahhhhh Mel, jangan kebut-kebuttan dong aku belum mau mati tau, sialan kau!. " Umpat Rania, akhirnya gadis itu bersuara.
"Hahahaha, gitu dong ngomong, jangan diam-diam mulu. " Balas Melinda.
Rania hanya memelototi Melinda, tidak lama kemudian kedua gadis itu sudah sampai pada tujuan mereka.
"Kita sudah sampai.... " Ujar Melinda kegiranganan sementara Rania langsung turun dari dalam mobil dan berjalan menuju ke pinggir pantai. Melinda memarkirkan mobilnya dan langsung mengejar Rania.
"Hheeeeh eh eh Rania mau kemana?. " Tanya Melinda panik melihat Rania akan berjalan terus ke air laut. Namun ternyata gadis itu langsung duduk di atas paling memandangi lautan yang luas.
Melinda yang melihat itu tidak jadi mengejar Rania dan hanya mengawasinya dari jauh, sesuai permintaan Reno.
Bersambung...
__ADS_1
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan Author biar makin semangat nulisnya. Terima kasih untuk dukungan kalian yang selalu mengikuti kisah Rania dan Alvaro, i love you.