
Episode sebelumnya...
Rania yang sudah berada di depan pintu sejak tadi dan mendengarkan semua percakapan Alvaro dan Laura segera mencari tempat untuk bersembunyi agar Alvaro tidak melihatnya.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Rania uang melihat Alvaro sudah meninggalkan ruangan UGD segera masuk ke dalam ruangan tempat Laura di rawat, niatnya Rania hanya ingin meletakkan buah yang dibawanya lalu segera keluar.
Rania membuka pintu dengan sangat perlahan, takut jika ternyata Laura sudah tertidur. Namun, sepertinya perempuan itu segera menyadari jika ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan tempatnya di rawat.
"Mbak Laura, hehehe maaf. " Ujar Rania meringis saat ketahuan membuka pintu, gadis itu langsung cengengesan.
Laura sedikit terkejut melihat Rania, namun perempuan itu segera tersenyum
"Rania.." Ucap Laura pelan, namun suaranya masih bisa di dengar.
"Maaf mbak, tadi Rania cuman mau bawain buah saya kirain mbak Laura udah tidur. " Ujar Rania, sekali lagi meminta maaf, karena merasa sungkan mengganggu istirahat Laura.
"Gapapa, sini dekat sama aku. " Ujar Laura, dengan suara sedikit serak, sepertinya suaranya habis karena terlalu sering di ajak bicara oleh Alvaro tadi.
Rania dengan kikuk berjalan ke tempat tidur Laura dan duduk di kursi tempat Alvaro tadi duduk.
Suasana di antara keduanya jadi sedikit canggung, mengingat mereka berdua sempat beberapa kali saling bersinggungan.
"Rania? Kenapa kamu diam aja?. " Tanya Laura, meskipun suaranya sedikit serak tapi dia terlihat masih kuat untuk di ajak mengobrol.
"Kayaknya saya keluar aja deh mbak, mbak Laura istirahat aja lain kali saya bakalan jengukin mbak lagi... " Ujar Rania merasa tidak enak, apalagi rasa bersalahnya jadi semakin besar karena melihat keadaan Laura sekarang yang sedang di pasangi beberapa selang untuk bantuan pernafasan.
Rania jadi merasa bersalah karena sering mengatainya kuntilanak karena wajah Laura yang pucat dan rambutnya yang panjang di tambah tubuhnya yang terlalu kurus untuk perempuan seusianya, ternyata Laura terlihat sangat pucat karena benar-benar sedang sakit.
"Rania... Aku mau ngomong sesuatu sama kamu... " Ujar Laura, menahan Rania agar gadis itu tetap di tempat duduknya.
Rania dengan pasrah mengikuti ucapan Laura.
"Rania, a-aku mau minta maaf sama kamu. " Ujar Laura, Rania yang mendengar itu sedikit terkejut karena tidak menyangka Laura akan meminta maaf saat ini.
"Ah mbak Laura gak ada salah apa-apa kok, justru saya yang harusnya minta maaf karena selama ini saya udah gak sopan sama mbak Laura, sering ngatain mbak Laura mirip kuntilanak, terus pernah ngerjain mbak Laura sampe baju yang mbak pake basah, hehe maafin Rania yah Mbak. " Rania mengakui semua perbuatannya, ia takut terkena karma karena sudah pernah mendzolimi Laura yang saat ini sedang sekarat.
Laura sedikit terkekeh, mendengar ucapan Rania yang selalu blak-blakkan dan tanpa filter.
"Gapapa kok, aku udah maafin kamu aku juga mau minta maaf karena pernah ngancem kamu, sebenarnya niat aku gak gitu, aku cuman gak punya tujuan hidup lagi, Satu-satunya yang bisa aku andalan disini cuman Alvaro... " Tutur Laura.
__ADS_1
Perempuan itu berhenti berbicara sebentar, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Kamu benar Rania, harusnya aku nggak datang kesini dan nyusahin Alvaro, aku sadar udah nyakitin dia selama bertahun-tahun ini dan di saat dia udah bisa buka hatinya untuk orang lain, aku malah datang dan bikin dia jadi jauh dari kamu. " Lanjut Laura menatap wajah Rania yang kini semakin terkejut.
"Ah mbak Laura jangan ngomong gitu, saya sama pak Alvaro juga enggak ada hubungan apa-apa kok, kami... "
Laura memotong ucapan Rania.
"Iya, iya aku tau kok, maafin aku yah Rania karena aku kalian yang harusnya bisa ngabisin banyak waktu bersama, tapi gara-gara aku Alvaro malah harus terperangkap disini, nungguin aku yang sekarat dan udah mau mati. " Laura merutuki dirinya sendiri.
Rania yang mendengar itu sedikit tersentuh dan sontak memegang tangan Laura.
"Mbak Laura jangan ngomong gitu, mbak pasti bisa sembuh. " Ujar Rania memberikan dukungan.
Laura tersenyum mendengar ucapan Rania.
"Kamu tau nggak perasaan orang yang udah mau mati itu kayak gimana? Aku ngerasa hidupku udah nggak lama lagi Rania, jadi kalau kamu nggak keberatan aku punya satu permintaan buat kamu. " Ujar Laura menatap kosong ke langit-langit ruangan tempatnya di rawat saat ini.
Rania sedikit heran namun karena Laura sepertinya sudah berhasil mengambil hati Rania, gadis itu segera mengangguk pertanda ia setuju dengan permintaan Laura.
Laura kemudian meminta Rania untuk mendekat ke arahnya, kemudian perempuan itu membisikkan sesuatu kepada Rania.
###
"Rania? Ngapain kamu disini?. " Ujar seseorang.
Rania mengangkat melalanya setelah mendengar suara seseorang yang sangat familiar di depannya.
"Pak Alvaro.. " Sapa Rania.
"Kamu ngapain disini?. " Tanya Alvaro lagi.
"Inikan rumah sakit punya papaku, jadi bebas aja aku mau di mana-mana aja. " Balas Rania sinis, ia tidak boleh kelihatan lemah di hadapan Alvaro.
Alvaro mengernyit kan wajahnya.
"Ah, maksudku kebetulan sekali kamu keluar dari UGD tempat Laura sedang di rawat, kamu nggak ngelakuin sesuatu yang aneh-anehkan? . " Alvaro menatap Rania penuh selidik.
"Apaan sih gak jelas banget, mau aku ke UGD kek mau ke kamar mayat kek, suka-suka aku dong, kok Pak Alvaro sibuk banget ngurusin aku mau dari mana aja! Emangnya kamu siapa?. " Balas Rania, jutek.
"Rania saya... "
Belum sempat Alvaro mengatakan sesuatu, seorang laki-laki tinggi besar langsung menarik Alvaro dari belakang dan memberikannya bogem mentah.
__ADS_1
Rania yang melihat itu sontak terkejut dan berteriak.
"Aw, ah aduhhhh, tolooongg. " Teriak Rania melihat darah segar mengalir dari bibir Alvaro Rania langsung menutup wajahnya.
"Apa-apaan kamu. " Ujar Alvaro mendorong laki-laki yang tadi menariknya, seketika Alvaro tertegun dan membeku di tempatnya berdiri saat melihat wajah laki-laki itu.
Beberapa orang kemudian datang dan melihat kejadian itu karena teriakan Rania.
Bug
Satu kali bogeman kembali mengenai wajah Alvaro hingga ia jatuh tersungkur namun dengan segera ia langsung bangkit kembali dan balas memukul laki-laki tinggi besar itu.
Rania yang melihatnya semakin histeris.
"Tolong, aduh ini kok yang datang cuman pada ngeliatin sih. " Teriak Rania, ia kemudian berinisiatif membantu Alvaro dengan memukul laki-laki tinggi besar itu dengan tas ranselnya hingga.
Bug
"Aw, sialan. " Umpat laki-laki itu memegangi wajahnya yang di pukul oleh Rania.
"Kamu yang sialan, datang-datang main pukul-pukul aja, dasar sialan, kamprettttt. " Balas Rania lebih galak.
"Siapa kamu?. " Tanya laki-laki itu membentak Rania.
"Saya yang punya rumah sakit ini, kamu yang siapa? Kamu gak liat CCTV ada di mana-mana? Mau kamu saya tuntut. "
Laki-laki itu terlihat tidak peduli, lalu berjalan ke arah Rania, Rania yang tidak mau kalah menatal mata laki-laki itu dengan tajam. namun, untungnya rania segera di peluk oleh Alvaro dan membawanya ke tempat aman.
"Sudah, sudah berhenti. " Tegas Alvaro sambil berusaha menahan si laki-laki.
"Dimana kamu sembunyikan Laura. " Tanya laki-laki itu menghempaskan tangan Alvaro yang mencoba menahan tubuhnya.
"Saya nggak akan kasih tau kamu dimana Laura, kalau kamu gak bisa bicara baik-baik. " Balas Alvaro.
Tidak lama kemudian beberapa security datang dan mengamankan laki-laki tinggi besar itu. Namun Alvaro segera menenangkan situasi.
"Sudah, sudah gak usah biarin aja, dia suaminya teman saya yang lagi sakit, kalian lepasin aja. " Ujar Alvaro menyuruh para security itu pergi.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih tenang, setelah Alvaro berbicara dengan laki-laki tinggi besar tadi yang ternyata adalah mantan suami Laura.
Bersambung.. .
Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.
__ADS_1