Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 57 : Terlambat Lagi


__ADS_3

Episode sebelumya...


Rania langsung lupa, bahwa baru beberapa jam yang lalu ia berjanji akan mengomeli Reno dan Melinda jika bertemu dengan dua orang tersebut, namun rasa marahnya saat ini sudah sirna.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Rania berlari-lari kecil menuju ke gerbang sekolahnya yang sebentar lagi sepertinya akan tertutup.


"Stop.... Stoppppppp. " Teriak Rania.


"Stop pak, aduh huhhhh haaahhhh, aduh. " Rania mengatur nafasnya untung saja ia masih sempat menahan pagar yang hampir tertutup itu.


"Rah nih ah... Tu ng gua ah kuh. " Melinda yang berada tidak jauh di belakangnya berjalan sempoyongan.


"Cepetan Mel. " Teriak Rania sambil menahan security yang sedang berusaha mendorong pagar gerbang sekolah tersebut.


"Aduh, itu teman kamu udah telat gak bisa masuk lagi. " Ujar security tersebut.


"Aduh pak, kasian loh teman saya itu tinggal beberapa langkah lagi, ayo Mel cepetan. " Teriak Rania.


"Siapa suruh terlambat. "


"Kenapa sih bapak ini, kayak gak pernah muda aja, emang bapak gak punya anak yang masih sekolah? Gak kasian kalau anaknya datang terlambat terus gak si kasih izin buat masuk pagar hanya karena telat beberapa detik doang? Bapak security kok tega sih! . " Rania mencoba mengalihkan perhatian security tersebut dengan mengajaknya bicara karena Melinda yang belum juga sampai di pagar sekolah.


"Minggir neng, ini saya bisa di marahin kalau pagarnya gak di tutup tepat waktu. " Ujar security itu lagi tidak peduli dengan perkataan Rania, sambil terus mendorong pagar, namun Rania segera menahannya terjadi aksi dorong-dorongan pagar antara Rania dan security tersebut.


"Cepetan dong Mel. " Teriak Rania.


"Aku udah gak sanggup lagi. " Lirih Melinda, berjalan sempoyongan untungnya, Melinda sudah berada di dalam pagar saat security itu memaksa Rania untuk pindah dan berhenti menahan pagarnya.


Rania segera menarik tangan Melinda untuk berlari lagi menuju ke kelas mereka, 12 IPA 2.


"Makasih ya pak. " Teriak Rania kepada security tadi karena setidaknya security tersebut membiarkan mereka berdua masuk ke dalam kelas.


"Aduh Rania, disini aja aku udah gak kuat lari lagi. " Melinda pasrah jika dirinya harus di hukum.


Pagi ini mereka berdua terlambat bangun karena ke asikan curhat hingga lupa waktu, sementara Reno sudah berangkat ke sekolahnya sejak subuh tadi karena mengikuti sebuah kegiatan Pramuka yang mengharuskannya pergi sejak dini hari.


Ini merupakan pertama kalinya dalam hidup Melinda, merasakan bagaiaman rasanya terlambat pergi ke sekolah.


Rania sudah jauh berlari di depannya. Melinda terduduk pasrah, apapun hukumannya nanti akan ia terima.


Dengan linglung Rania berjalan menuju ke depan kelasnya tidak menghiraukan Melinda yang terduduk lemas jauh di belakangnya yang penting Rania bisa mengikut kelas pagi itu namun saat baru akan melangkahkan kakinya masuk ke kelas, tiba-tiba saja pintu kelas itu tertutup tepat di hadapannya.


Brak


"Aw, ah sakit. " Rania memegangi wajahnya yang bertabrakan dengan daun pintu.


Alvaro yang saat itu sedang mengajar di dalam kelas Rania langsung keluar setelah mendengar suara seseorang yang mengeluh kesakitan.


"Rania?. " Alvaro terheran-heran melihat gadis itu terduduk sambil menyembunyikan wajahnya.


"Rania.. " Panggil Alvaro sekali lagi.

__ADS_1


Rania mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alvaro, wajah gadis itu saat ini memerah, bukan karena malu tapi karena sakit.


"Pak Alvaro, sakittttttt. " Rania meneteskan air matanya.


"Ya ampun, kamu terlambat? . " Alvaro baru saja akan mengomeli Rania.


"Hiksssss." Rania memegangi hidungnya karena merasa ada cairan panas yang keluar dari sana, Rania menyadari hidungnya berdarah.


"Ya ampun Rania, itu kamu berdarah. " Alvaro segera menuntun Rania menuju ke UKS sementara teman-teman Rania yang berada di dalam kelas tidak menyadari hal tersebut karena mereka segan untuk keluar dari kelas jika kelas Alvaro masih berlangsung.


Hampir setengah jam berlalu, Alvaro masih berada di dalam ruang UKS menemani Rania, setelah memastikan hidung gadis itu tidak mengeluarkan darah lagi, baru kemudian ia berniat untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Makasih ya pak. " Ujar Rania.


"Iya, Kamu istirahat aja dulu saya masih harus kembali ke kelas. " Balas Alvaro, lalu pergi meninggalkan Rania.


"Huuuhhh untung saja. " Lirih Rania merasa lega, untung saja hidungnya berdarah jika tidak, Alvaro pasti akan menghukumnya karena datang terlambat.


Rania memejamkan matanya, kembali tertidur.


Sementara di tempat lain Melinda di beri hukuman untuk belajar di depan kelas karena datang terlambat.


Beruntung bagi Rania karena setidaknya gadis itu bisa tertidur lelap selama beberapa jam ke depan.


###


Setelah lonceng tanda istirahat berbunyi Alvaro dan Melinda melihat keadaan Rania kembali di dalam UKS.


Rania terlihat sedang tidur terlelap dengan mulut terbuka. Melibda segera membangunkan Rania.


Karena tidak berhasil Melinda berinisiatif untuk memencet hidungnya.


Rania langsung bangun, karena mwrasa hidungnya tidak bisa bernafas.


"Haaaahhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Kamu udah bangun?. " Tanya Alvaro dengan tatapan mengint7penuh curiga kepada Rania.


Rania hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu ikut saya. " Perintah Alvaro.


"Tapi.. Pak?. "


"Hak ada tapi, tapian kamu harus tetap di hukum karena datang terlambat. " Tegas Alvaro.


"Tapikan hidung saya berdarah gata-gara bapak. " Rania membela dirinya.


"Kamu nabrak pintu, keran kesalahan kamu sendiri yang datang terlambat, Rania. " Balas Alvaro.


"Coba aja bapak gak nutup pintunya pasti saya gak bakalan kesakitan samapi berdarah-darah. " Rania tidak mau kalah.


"Sepertinya kamu udah gak kesakitan lagi buktinya kamu masih bisa membantah ucapan saya, sekarang kamu harus ikut aaya, dan laksanakan hukuman kamu. " Perintah Alvaro.


Rania bersungut-sungut kesal namun tetap menuruti perintah Alvaro. Sementara Melinda hanya pasrah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di perpustakaan. Penjaga perpustakaan tersebut terlihat sedang sibuk menyusun buku-buku pada rak baru yang ada di dalam perpustakaan.


Rania dan Melinda saling berpandangan, mereka sepertinya sudah mengerti hukuman apa yang akan mereka dapatkan.


"Kalian berdua harusnya sudah tau tugas kalian. " Ujar Alvaro.


Rania dan Melinda mengangguk pasrah.


"Anggap saja ini bukan hukuman, tapi ini adalah tugas dan tanggung jawab kalian, sebagai seorang murid di sekolah ini, silahkan kerjakan tugas kalian dan penjaga perpustakaan disini iakan mengawasi kalian berdua. " Jelas Alvaro.


"Iya Pak. " Jawab Melinda.


"Kalian hanya boleh meninggalkan ruangan ini jika mata pelajaran berikutnya berlangsung, lalu kalian akan melanjutkan tugas kalian sepulang sekolah hingga semua buku-buku tersebut tersusun rapih dan sesuai dengan tempatnya. " Lanjut Alvaro.


Laki-laki itu kemudian menyerahkan Rania dan Melinda ke penjaga perpustakaan tersebut untuk di berikan tugas sekaligus di awasi.


"Rania, Melinda susun buku-buku ini sesuai dengan mata pelajaran yang sudah di tempelkan di setiap rak buku itu" Perintah Penjaga perpustakaan tersebut.


Rania dan Melinda hanya bisa pasrah melaksanakan hukumannya.


###


Rania dan Melinda saat ini sedang berada di luar gerbang sekolah menunggu Reno menjemput mereka untuk pergi ke rumah sakit.


Beberapa hari yang lalu mereka sudah berjanji akan ikut melakukan kerja bakti bersama sepulang sekolah di rumah sakit milik Pak Herman sore ini. Bahkan Rania dan Melinda sudah berganti pakaian terlebih dahulu. Untungnya, hukuma mereka tadi cepat selesai, sehingga mereka berdua bisa pulang tepat waktu.


"Aduh Rano mana sih, lama banget mana panas lagi. " Keluh Melinda, bedaknya sudah luntur tak tersisa karena keringat.


"Ya udah yuk pesan ojol aja atau grab kek. " Saran Rania.


Melinda tak menggubris ucapan Rania pandangannya justru teralihkan pada mobil Honda jazz yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.


"Ikut aku. " Melinda segera berlari menahan mobil tersebut diikuti Rania yang hanya bisa pasrah.


"Stop, pak stooop. " Melinda menghadang mobil tersebut dengan berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.


Pemilik mobil tersebut kemudian mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela.


"Melinda?Rania?kalian ngapain?. " Teriak Alvaro pemilik mobil yang Melinda tahan.


Melinda berjalan mendekati Alvaro.


"Kami boleh nebeng gak Pak?." Tanya Melinda sambil melirik ke arah Rania.


"Kalian emangnya mau kemana?. "


"Mau ke rumah sakit, kami ikut ya pak. " Rania ikut bersuara dan langsung masuk ke dalam mobil Alvaro tanpa menunggu persetujuan laki-laki tersebut.


"Makasih pak Alvaro. " Melinda ikut masuk ke dalam mobil Alvaro, mengikuti Rania.


Alvaro hanya melongo melihat tingkah kedua muridnya tersebut.


Bersambung...


Klik like vote subscribe dan berikan komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2