
Episode sebelumnya..
"Cih, dasar laki-laki batu gak punya hati dan empati sama sekali. " Ucap Rania kesal.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Makan malam kali ini berjalan cukup damai dan tenang, hanya ada suara sendok yang terdengar dari ketiga orang yang sedang melakukan makan malam bersama.
Alvaro malam ini menghabiskan waktu luang di rumahnya, sesuatu hal yang sangat jarang terjadi. Sementara Mama dan Papanya sedari tadi sebenarnya menunggu Alvaro untuk mengatakan sesekali terkait perkembangan hubungannya anak laki-laki nya itu dengan Rania.
"Alvaro, Rania gimana kabarnya yah?. " Karena tidak sabar akhirnya Mama Alvaro memulai percakapan duluan.
" baik. " Jawab Alvaro cuek.
"Ih kok jawabannya gitu sih, sebentar lagi Rania bakalan semester yah? Berarti bentar lagi bakalan lulus dari SMA dong. " Mama Alvaro memberikan kode keras kepada Alvaro agar anak laki-laki nya itu segera memperjelas hubungannya dengan Rania.
"Iya, emangnya kenapa Ma?. " Alvaro bertanya balik tidak mengerti dengan kode-kode yang Mamanya lemparkan.
"Ekhem, yah umur kamukan juga udah dewasa dan udah matang buat ke jenjang yang lebih serius rencananya Mama sama Papa mau jodohin kamu sama Rania kalau anak itu udah lulus tapi karena kalian ternyata udah ada hubungan spesial jadinya, kami ngikut maunya kalian aja kayak gimana. " Kini Pak Subroto yang angkat bicara karena melihat istrinya yang tidak berani berkata langsung kepada Alvaro, mengingat Alvaro yang sangat sensitif jika di tanyai soal perkawinan.
"Ma, Pa, bisa gak urusan ini biar aku yang urus aja sama Rania. " Pinta Alvaro kepada kedua tuanya.
"Yah bisa dong, ya udah deh terserah kalian aja kalau masih mau pacaran lama-lama juga gapapa kok, ya kan Pa?. " Mama Alvaro langsung menimpali ucapan anaknya itu dan memberikan kode kepada suaminya agar tidak melanjutkan pertanyaan yang bisa menyinggung Alvaro lagi.
"Hm ya ya terserah. " Pak Subroto hanya iya-iya saja, setidaknya Alvaro sudah menunjukkan ketertarikannya kepada gadis lain itu sudah lebih dari cukup untuk orang tua Alvaro.
Orang tua Alvaro sebenarnya ada rasa takut dan cemas anaknya itu tidak menjalin hubungan asmara dengan siapapun selama beberapa tahun terakhir dan hanya membawa teman laki-lakinya sesekali untuk berkunjung ke rumah, mereka khawatir Alvaro menyimpang dan tidak menyukai perempuan lagi sejak di tinggal pergi oleh Laura.
Namun, kini orang tua Alvaro bisa bernafas lega karena ternyata anaknya itu masih normal seperti laki-laki pada umumnya.
__ADS_1
###
Rania terlihat sangat sibuk mengguntingi sesuatu yang ada di tangannya.
"Kenapa mesti di gunting-guntingin lagi sih Rania?. " Melinda merasa bingung melihat kelakuan Rania, padahal menurut Melinda gambar-gambarnya itu sudah bagus tinggal di sebarkan saja tidak usah di bentuk-bentuk lagi.
"Udah diam aja, ini tuh biar kelihatan kita saling mencintai. " Jawab Rania
Melinda kemudian mengambil lembaran-lembaran photo yang telah tercetak dan telah Rania gunting hingga photo-photo tersebut berbentuk love.
"Ih kasian amat ini kerja kerasku ngambilin gambar, tau gini mending aku gak usah capek-capek bantuin kamu, ujung-ujungnya di gunting-guntingin kayak gini buat apa coba alai banget. " Melinda melemparkan lembaran photo berbentuk love tersebut.
"Ih biarin, biar geng Nurlia jahanam itu makin iri dan dengki. " Balas Rania, tidak peduli dengan pendapat Melinda.
"Hah, terserah aja ngomong sama kamu, Ran. " Melinda berdiri dan melangkah ke arah pintu berniat untuk meninggalkan Rania.
"HEH, HEH mau kemana kamu. " Teriak Rania.
"Mau cari angin, di kamar kamu panas. " Jawab Melinda dan gadis itu segera menghilang dari balik pintu.
"Demi cuan, demi liburan yuhuuuuuu aku akan datang menjemputmu, hahahah. " Rania berbicara dengan dirinya sendiri memikirkan keuntungan yang akan di dapatkannya setelah mengumumkan bahwa dirinya dan Alvaro sudah berpacaran.
Untuk mengiringi euforia nya Rania menyetel lagu musik pada speaker baru yang sudah di belinya karena sound sistem yang biasa ia gunakan untuk memutar musik telah disita oleh Reno, Rania sudah berusaha mencari-cari barang tersebut namun entah dimana Reno menyembunyikannya.
Namun, bukan Rania namanya jika tidak memiliki ide yang lain, karena sound sistem tersebut tidak di temukan dan entah berada dimana, Rania kemudian membeli speaker yang baru, yang suaranya akan lebih menggelegar lagi di banding yang sebelumnya.
"Dasar kau keong racun, baru kenal udah ngajak tidur.... " Rania bernyanyi mengikuti alunan musik dari speakernya.
"Ngomong gak sopan santun, kau pikir aku ayang kampung, ku goda dirimu kau goda diriku heiiiiiii. " Rania merubah lirik lagunya dan terus bernyanyi, hingga hentakan musik dari speaker itu membuat dinding kamarnya bergetar.
Pandangan Rania kemudian teralihkan pada salah satu photo Alvaro yang sedang membantu Rania mengangkat seorang lansia yang hampir terjatuh saat berjalan-jalan di taman.
Tanpa sadar Rania tersenyum melihat photo tersebut dan lebih fokus pada wajah Alvaro yang terlihat lebih gagah.
__ADS_1
"Hmm ganteng juga. " Batin Rania.
"Raniaaaaaaa." Teriakan Reno membuat Rania langsung terawntak dan membuang photo Alvaro.
"Aduh, apa-apaan sih anak monyet. " Rania balas teriak.
"Gak dengar yah dari tadi pintunya udah aku ketok, aku panggil-panggilin kamu dari luar dari tadi tau. " Reno memperagakan caranya mengetuk pintu Rania dari tadi namun karena gadis itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya akhirnya Reno yang membukanya dan langsung meneriaki Rania.
"Oh, kenapa?. " Tanya Rania dengan santainya saat Reno sudah berada di dekatnya.
"Idih, mentang-mentang lagi bucin suara bom aja mungkin gak bakalan kedengeran. " Sinis Alvaro mematikan suara speaker dan memperhatikan photo-photo Alvaro dan Rania yang sudah di gunting berbentuk love.
"Ih apaan sih gak sopan tau ngeliat-liatin privasi orang, sana ih kenapa musiknya di matiin, keluar dari sini cepetan. " Usir Rania merasa kesal karena Reno melihat photo-photonya bersama Alvaro.
"Suara musik kamu itu ganggu banget tau, teman-temanku lagi pada datang buat ngerjain tugas kelompok, gara-gara speaker kamu ini kita gak fokus ngerjainnya. "
"Yang bener? Wah aku ke kamar kamu yah. " Mendengar hal itu, Rania langsung bersemangat memikirkan teman-teman kelas Reno yang tampan dan rata-rata anak orang kaya akan sangat menguntungkan jika Rania berhasil manggaet salah satunya untuk sekedar menjajani Rania.
"Gak, gak boleh. " Tegas Reno aambil berjalan ke arah pintu dan menghilang dari pandangan Rania.
"RENO, TUNGGU. " Teriak Rania yang sempat-sempatnya berlari ke arah cermin untuk melihat penampilannya terlebih dahuludahulu, tidak lupa Rania memakai sedikit perona wajah dan lipstik tipis pada bibirnya.
Rania segera berlari keluar dari kamarnya.
"Aku cari mangsa dulu yah, daaaah. " Ucap Rania, melambaikan tangannya kepada photo-photo yang sudah di guntingnya menjadi bentuk love tadi.
Rania mendapati Melinda yang sudah berada lebih dulu di dalam kamar Reno bersama empat orang teman Reno yang lain.
"Hai." Sapa Rania, membuat semua orang yang berada di dalam kamar Reno tersebut menoleh ke arah Rania.
Rania yang di di pandangi seperti itu menjadi salah tingkah.
Bersambung.. .
__ADS_1
Like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian sesuai dengan isi ceritanya yah untuk membantu author berkembang. Terima kasih & I love you guys.