
Episode sebelumnya..
Mama Rania tidak langsung masuk dan hanya berdiri di depan pintu, sepertinya Mama Rania menyadari sesuatu di antara kedua orang anak muda itu.
###
Happy Reading and Enjoy Guys..
###
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Melinda dan Reno terlihat sedang berada di samping Rania yang sedang tertidur pulas, tubih Rania sudah agak hangat dan demamnya sudah turun, sementara kakinya harus di perban lagi dengan perban yang elastis dan menggunakan penyangga kaki, karena Rania terus mengerang dalam tidurnya bahwa kakinya sangat nyeri.
Malam minggu ini harusnya Melinda dan Reno akan melakukan dating namun karena Rania yang sakit, Melinda yang sudah terlanjur di antarkan supirnya ke rumah Rania harus merelakan malam datingnya dan menunggui Rania sampai gadis itu bangun, disisi lain Melinda sebenarnya tetap merasa bahagia karena bisa bersama dengan Reno sepanjang waktu, apalagi cuaca diluar sana sedang hujan lebat, percuma saja melakukan dating di luar rumah.
Sementara Papa Rania yang mendengar anaknya sakit langsung pulang dan akan membawa anaknya ke rumah sakit kamu Rania yang tadi sempat bangun menolak dan ingin berada di dalam kamarnya saja, Pak Herman pun yang biasanya terlihat cuek kini tidak dapat melakukan apa-apa jika Rania sudah berkata seperti itu, menandakan pak Herman sebenarnya sangat menyayanti anak nakalnya itu.
Mama, Papa Rania dan Alvaro kini sedang berada di kursi sofa di depan kamar Alvaro. Suasana di antara mereka sedari tadi sedikit canggung dan sangat hening.
"Alvaro, terimakasih yah kalau gak ada kamu tadi Tante sama Bibi gak bisa bawa Rania naik kesini, tau sendirikan Rania badannya lebih tinggi dan berat banget. " Mama Rania membuka pembicaraan. Pak Herman sendiri bertanya-tanha di dalam hatinya mengapa Alvaro bisa berada di rumahnya.
"Ah iya tante, tidak masalah. " Jawab Alvaro.
Tidak lama kemudian Bibi datang membawakan baju bersih untuk Alvaro.
__ADS_1
"Mas, ini pakaian bersih itu pakaian mas kayaknya basah. " Ucap Bibi sambil memberikan Alvaro pakaian bersih yang di pegangnya.
"Itu baju om, say liat kamu suka pake baju kemeja model gitu, itu gak pernah saya pak kok. " Ucap pak Herman dan menyebut dirinya sebagai om karena memang mereka saat ini sedang berada di rumah pakHerman bukan di rumah sakit.
"Ah iya pak, eh iya om kalau begitu saya permisi untuk ganti baju dulu. " Ujar Alvaro sedikit gugup.
"Kamu ganti bajunya di kamar Reno aja, Alvaro. " Ucap Mama Rania menunjuk kamar Alvaro yang berada tepat di depan Alvaro duduk saat ini.
Alvaro kemudian permisi dan berjalan ke arah kamar Reno dengan kikuk karena tidak terbiasa dengan suasana yang seperti itu, Alvaro menyadari bahwa orang-orang di rumah Rania terlihat kebingungan melihatnya berada di rumah tersebut.
Setelah sampai di dalam kamar Reno, Alvaro langsung mengganti bajunya dan memperhatikan sekeliling kamar Alvaro yang tertata dengan rapih dan lebih estetik di banding kamar Rania yang terlihat biasa-biasa saja. Mata Alvaro tanpa sengaja tertuju ke dinding yang di penuhi photo-photo Reno dan Rania waktu mereka masih kecil hingga photo-pboto mereka di usia sekarang.
"Sepertinya meraka suka mengabadikan moment. " Batin Alvaro, tersenyum kecil melihat gambar Rania kecil yang terlihat seperti anak laki-laki karena model rambutnya yang sengaja di buat mirip Reno kecil. Disisi lain, pada meja belajar Reno Alvaro melihat 2 photo yang sengaja di bingkai dan di tata rapih, pada gambar itu memperlihatkan 3 orang anak kecil dan satunya lagi memperlihatkan 3 orang remaja yang Alvaro kenali, Rania, Reno dan Melinda.
"Alvaro? kamu udah ganti baju? Bajunya kotornya di kasih ke Bibi biar nanti di cuciin. " Teriak Mama Rania dari luar Pintu yang membuat Alvaro langsung tersadar dan keluar dari dalam kamar Alvaro.
"Eh iya tante, ini pakaian kotor saya, saya bawa pulang aja. " Ucao Alvaro stelah keluar dari kamar Alvaro.
"Udha gapapa, sini pakaian kotornya. " Mama Rania mengambil baju kotor Alvaro dan memberikannya kepada Bibi.
"Bibi turun aja istirahat nanti saya pesan makanan dari luar aja gak usah masak. " Ucap mama Alvaro kepada Bibi.
"Iya Bu. " Bibi kemudian turun.
__ADS_1
Alvaro kini sudah duduk kembali pada sofa yang berada di depan kamar Alvaro namun sekarang, Reno dan Melinda juga sudah berada di sofa tersebut.
"Pak Alvaro mok ada disini?. " Tanya Reno yang sedari tadi merasa penasaran, sementara orang lain yang berada di ruangan itu juga sebenarnya penasaran namun sungkan untuk bertanya, untungnya Melinda mewakili pertanyaan mereka semua.
"Oh hmmm, jadi tadi seoulang sekolah saya ngeliat Rania pulang lari-larian karena khawatir saya ikutin aja sampai kesini. " Jawab Alvaro membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu sedikit mengerti namun muncul sebuah pertanyaan lagi, kenapa Rania berlari? kenapa Rania pulang telat?.
"Kok lari? bukannya Pak Alvaro sama Rania janjian yah mau pulang sekolah bareng, Rania udah ngomong sama saya sebelum pulang sekolah tadi mau nungguin pak Alvaro karena udah janjian. " Ucap Melinda yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut termasuk Alvaro sendiri, ia tidak menyangka jika Rania menunggunya pulang sore tadi. Alvaro pikir gadis itu hanya iseng dan ingin mengerjai nya lagi, ditambah Alvaro sempat melihat Rania dan Gunawan yang sedang duduk di depan ruang guru.
"Rania nungguin saya? . " Alvaro bertanya balik membuat semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut kebingungan.
"Iya Pak, gimana sih katanya pak Alvaro nunjuk Rania sebagai tunangan bapak pas ada mantan bapak yang datang di ruangan kerja pak Alvaro kemarin, Rania cerita semuanya sama saya loh, makanya Rania nungguin bapak karena ngerasa udah janjian sama pak Alvaro pengen ngebahas masalah kemarin itu, Rania pengen memperjelas hubungannya sama Bapak" Melinda mengatakan semua hal yang ia tahu tentang kejadian kemarin berharap hal ini akan membantu rencana Rania untuk membuat Alvaro menjadi pacarnya dan membalas dendam ke Alvaro karena sudah membuat Rania menangis tempo hari sekaligus memenangkan taruhan dengan geng Nurlia.
"Hah?. " Teriak semua orang yang berada di ruangan itu, Alvaro dan Melinda yang menynggingkan senyum sinisnya kepada Alvaro.
"Kena kau. " Batin Melinda.
"Sebenarnya ceritanya bukan seperti itu... " Alvaro mencoba menjelaskan situasi kemarin namun tidak tau akan menggunakan pilihan kata-kata yang bagaimana apalagi di depannya saat ini sudah ada orang tua Rania yang menunggu penjelasan Alvaro dengan tidak sabar.
Semua orang yang berada di tempat itu sekarang menatap kepada Alvaro menunggu laki-laki itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya seperti apa. Akvaro yang terdesak, terlihat sangat canggung dan tidak tau harus mengatakan apa-apa.
"ALVARO." Teriak seseorang yang kini sudah berada di belakang sofa tempat duduk Alvaro, membuat semua orang mengalihkan pandangannya kepada sumber suara.
Bersambung...
__ADS_1
Like, komen, vote dan subscribe untuk membantu author biar lebih semangat lagi. Terima kasih. I love you.