Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 39 : Masuk Perangkap


__ADS_3

Episode sebelumnya..


"ALVARO." Teriak seseorang yang kini sudah berada di belakang sofa tempat duduk Alvaro, membuat semua orang mengalihkan pandangannya kepada sumber suara.


###


Happy Reading and Enjoy Guys..


###


"Rania?, aduh kenapa jalan-jalan nak kalau masih sakit kenapa nggak manggil mama dari dalam kamar aja. " Mama Rania langsung berlari memenangi anaknya.


"Udah gapapa kok Ma, udah enakan ini. " Balas Rania memperlihatkan senyumnya


"Enakan apanya itu bibir kamu pucat tau. " Omel mamanya dan menuntun Rania untuk kembali masuk ke dalam kamarnya namun Rania menolak.


"Mama ih, Rania mau disini aja, kasian tau Alvaronya mama sama papa udah kayak mau makan orang hidup-hidup aja ngeliatin kayak gitu, sebenarnya ceritanya tadi Rania mau ngambek-ngambekan sama Alvaro, tapi Alvaronya gak peka ya udah Rania lanjutin aja marahnya sampe depan rumah, eh kaki Rania sakit dan kepala Rania pusing tau-tau gelap. " Ceria Rania panjang lebar.


Alvaro yang mendengar namanya di panggil tanpa embel-embel pak oleh Rania mengernyitkan wajahnya.


Sementara Melinda dan Reno terlihat mengedikkan bahu.


Mama danPapa Rania yang mendengar pernyataan putrinya terlihat lumayan shock.


"Jadi ini maksudnya apa? papa kurang ngerti, sebenarnya kalian ini pacaran?. " Tanya pak Herman kepada Alvaro.


"Hah? ah anu bukan.. " Alvaro mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Iya Pak, maafin Rania sebenarnya kami udah pacaran beberapa hari yang lalu cuman gak tau mau mulai bicara sama papa kapan, Alvaronya sungkan karena Rania juga ngelarang Alvaro ngomong ke papa dan Rania pikir waktu yang tepatnya sekarang. " Rania langsung memotong pembicaraan Alvaro dan mengatakan bahwa ia dan Alvaro sudah berpacaran.


"Wahh beneran?. " Tanya Mama Rania merasa speechless.


Rania berjalan dan duduk di samping Alvaro yang hanya diam membisu.


"Mama duduk aja dan dengarin Rania. " Rania menyuruh mamanya untuk duduk kemudian Rania menceritakan kejadian yang sebenarnya menurut versinya sendiri.


"Jadi gitu ceritanya, sebenarnya tadi kami lagi berantem di depan ruang guru karena Akvaronya ngeliat Rania lagi duduk sama Gunawan itu. " Rania menutup ceritanya dan semua orang yang ada di tempat itu kembali menatap Alvaro menunggu tanggapan laki-laki yang hanya diam sedari tadi.


"Benar itu Alvaro? kok kamu nggak ngomong sama saya? pantas akan kamu selalu ngehindarin saya di rumah sakit akhir-akhir ini. " Pak Herman angkat bicara dan menyadari Alvaro akhir-akhir ini selalu menghindari dirinya saat di ruang rapat dan Alvaro sering mengalihkan pandangannya saat bertatapan mata dengannya .


"Ah bukan seperti itu, saya hanya... "


"Iya pa, sebenarnya Alvaro gak tau mau ngomong apalagi, jadi gak usah di tanya-tanyain terus kasian, tau ma pa. " Rania kembali memotong ucapan Alvaro tidak memberi laki-laki itu kesempatan untuk berbicara.


Sementara Alvaro ingin menjelaskan kejadian kenapa dirinya menghindar dari tatapan pak Herman karena merasa sungkan jika harus menatap mata orang yang lebih tua darinya, apalagi orang itu adalah atasannya.


"Huhhhh." Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar mengingat dirinya yang sepertinya sudah masuk dalam perangkap Rania.


Disisi lain Alvaro tidak mungkin menyangkal dan mengatakan bahwa dirinya hanya ber pura-pura menunjuk Rania sebagai tunanngannya kemarin karena merasa terdesak, Pak Herman akan melihatnya sebagai seseorang yang tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan Rania. Alvaro tidak ingin usahanya selama bertahun-tahun untuk menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit besar berkat usahanya sendiri menjadi sia-sia hanya karena kesalahannya sendiri.


Alvaro harus bertanggung jawab hingga akhir karena merasa dirinya juga yang memulai kejadian hari ini.


"Maaf om, saya belum sempat mengatakan bahwa saya dan Rania memang memiliki hubungan karena waktu yang belum memungkinkan, tapi karena sudah begini sekalian saja saya meminta izin kepada om dan tante untuk berpacaran dengan Rania. " Alvaro akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata nya dan kali ini Alvaro akan mengalah dan mengikuti alur dari rencana Rania untuk sementara waktu.


"Wah beneran ini?. " Tanya Reno merasa takjub kakaknya yang terlihat sangat berantakan itu mendapatkan pacar dokter sekaligus seorang guru yang tampan seperti Pak Alvaro.

__ADS_1


Rania hanya meringis di ikuti Alvaro yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Namun dalam hati Alvaro ia akan membuat perhitungan kepada Rania di lain waktu.


Malam minggu itu di akhiri dengan makan-makan bersama di rumah Rania, Pak Herman dan Istrinya yang memang sudah berkomunikasi dengan keluarga Alvaro sebelumnya untuk menjodohkan anak-anak mereka sepertinya tidak perlu merasa khawatir lagi karena sepertinya dua anak muda itu sudah menemukan jalannya masing-masing, padahal mama Rania dan Mama Alvaro berencana untuk membuat list-list yang akan mereka lakukan agar Alvaro dan Rania semakin dekat dan akhirnya mau untuk di jodohkan, namun sepertinya list-list itu sudah tidak perlu lagi.


###


Alvaro kembali ke rumahnya tengah malam dan di sambut dengan senyum manis kedua orang tuanya yang sepertinya habis mendengar kabar yang sangat menggembirakan. Sementara Alvaro merasa tubuhnha sangat lelah hari ini, untungnya ia mengambil cuti hingga minggu besok dan akan masuk bekerja di rumah sakit lagi hari senin.


"Alvaro, kamu udah pulang nak?. "Tanya Mama Alvaro yang langsung menarik Alvaro untuk duduk di sofa ruang tamu tempat kedua orang tua itu menunggu anaknya sejak tadi.


" Ada akan sih ma? narik-narik Alvaro lagi capek mau langsung istirahat dulu. " Alvaro mencoba menarik tangannya yang sedang di genggam erat oleh Mamanya.


"Alvaro, mama sama Papa mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ucap mama Alvaro kemudian.


"Apaan sih. " Tanya Alvaro cuek, sepertinya sudah menyadari bahwa hubungannya dengan Rania sudah di ketahui oleh orang tuanya.


"Beneran yang mama dengar dari istrinya pak Herman kalau kamu sama Rania udah pacaran? wah mama gak nyangka ternyata anak kita normal juga pah, mama udah mulai takut belakangan ini. " Ucap Mama Alvaro yang langsung melirik ke arah suaminya yang sedang tersenyum tipis dan sepertinya juga penasaran dengan kebenaran kabar itu.


"Hmmmm." Alvaro hanya menjawabnya dengan bergumam dan sedikit mengangguk, Alvaro merasa malas untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Alvaro merasa di jebak oleh Rania. Alvaro tidak punya pilihan lain selain mengatakan bahwa dirinya dan Rania berpacaran. Alvaro merasa berada pada situasi yang serba salah, Jadi Alvaro mencoba mengikuti permainan Rania saja untuk saat ini.


Alvaro berjalan masuk ke dalam kamarnya mengabaikan orang tuanya yang masih penasaran dan ingin tahu lebih banyak, namun Alvaro tidak menghiraukan. aalvaro merasa malam ini tubuhnya hanya sedang ingin beristirahat, setelah mengangkat tubuh Rania yang berat Alvaro merasa lengan dan kakinya salat pegal di tambah lagi harus mengangkat gadis itu naik ke lantai dua.


Alvaro merasa kesal sendiri, harusnya tadi ia biarkan saja Rania pulang sendirian dan Alvaro tidak usah capek-caoek mengejarnya.


Nasi sudah jadi bubur, apa mau di kata tinggal di nikmati saja. Alvaro tidak menyangka akan masuk ke dalam perangkap yang di buat untuk berpacaran dengan gadis itu.

__ADS_1


Bersambung...


like, vote, subscribe dan komen untuk membantu author berkembang. Terima kasih.


__ADS_2