Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 23 : Misi Pertama, Gatot!


__ADS_3

Episode Sebelumnya...


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


###


"Apa kabar, Laura? . " Tanya Alvaro sambil memandangi gambar perempuan yang berada di atas meja samping kasurnya itu. Beberapa bulan yang lalu hal ini hampir tiap malam ia lakukan, entah mengapa hari-harinya seperti ada yang kurang setiap kali dirinya tidak melakukan hal itu. Namun, karena belakangan ini kesibukannya bertambah Alvaro jadi sering tinggal di rumah sakit dari pada di kamarnya sendiri membuatnya sedikit merasa bersalah kepada gadis di balik gambar itu.


###


Sore hari sepulang sekolah, Rania langsung menuju ke rumah sakit untuk memerilsakan kakinya yang keseleo minggu lalu, ia berencana akan menjalankan rencana pertamanya hari ini untuk mendekati Alvaro, maka dari itu Rania akan ke ruangannya dan berpura-pura sedang membutuhkan obat pereda nyeri.


Kebetulan sekali Alvaro sesang berada di dalam ruang kerjanya, Rania yang sudah mempersiapkan dirinya sebelum ke rumah sakit langsung masuk ke ruangan Alvaro dengan mengetuk pintu terlebih dahulu agar terlihat anggun di depan Alvaro.


"Permisi pak Alvaro. " Ujar Rania, Alvaro yang sudah menyadari Rania yang berada di depan pintunya pun menyuruh gadis itu masuk.


"Oh Rania, silahkan masuk Rania. "


"Hehee, iya Pak. " Rania kemudian masuk dan berdiri di depan meja kerja Alvaro.


"Kok gak duduk? ayo duduk aja, biasanya juga langsung masuk-masuk aja. " Sindir Alvaro, Rania yang merasa dirinya sedang disindir kemudian duduk dengan pelan dan anggun. Alvaro yang melihat itu merasa heran, entah apalagi yang akan gadis ini lakukan padanya.


"Begini pak, sebenarnya saya kemari mau minta obat buat pereda nyeri pantat saya yang masih sakit. " Ujar Rania.


"Hah? emang masih sakit?. "


"Iya Pak, bapak gak percaya nih periksa aja. " Rania kemudian berdiri dan menyodorkan pantatnya, mencoba menggoda Alvaro.


"RANIAAA." Teriak Alvaro, ia merasa heran sekaligus takjub dengan kelakuan Rania yang selalu berubah-ubah.


"Gapapa pak, pegang aja saya iklas kok. "


"Jadi, sekarang kamu mau menjebak saya dengan alasan pelecehan seksual yah? saya pikir kamu bakalan tobat karena sudah di kasih teguran dari Tuhan minggu lalu, tapi sepertinya kamu memang tidak ada jera-jeranya ya Rania. " Kesal Alvaro, yang menyangka dirinya sedang di kerjai oleh Rania.


"Aduh enggak kok pak, saya beneran saya butuh obat pereda nyeri makanya ke ruangan pak Alvaro, kenapa sih kalau sama saya aja pikirannya negatif mulu pak Alvaro ini. " Rania balik menyalahkan Alvaro dan kembali duduk ke kursi, mendengar hal itu Alvaro mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Rania, papa kamu itu yang punya rumah sakit ini, dia spesialis bedah dan penyakit dalam otomatis di ruangannya pasti ada satu butir atau bahkan berbutir-butir obat pereda nyeri dari yang berbentuk pil hingga berbentuk cairan. Kamu jangan asal-asalan yah Rania, saya sudah cukup ngadepin tingkah kamu di sekolah dan di rumah sakit saya harus menghadapi ke usilan kamu lagi. " Alvaro mengoceh panjang lebar merasa dirinya sudah lelah menghadapi Rania.


"Hummmm." Rania memperlihatkan wajah sok imutnya.


"Gak usah sok imut. "


"Bapak kenapa sih sensi banget sama saya hati-hati loh pak, nanti jadi balik suka sama saya. "


"Raniaaaaaa." Teriak Alvaro merasa gemas dengan tingkah Rania.


"Ini beneran loh pak, benci sama cinta itu beda-beda tipis doang lo pak. "


"Rania, kalau gak ada yang penting mending kamu keluar deh sebelum saya laporin kamu ke pak Herman. " Ancam Alvaro, mendengar hal itu Rania cemberut.


"Aduh bisa gawat ini, gagal deh percobaan pertama dekat insta orang ini. " Batin Rania.


"Rania? kamu dengar gak saya bilang apa?. " Teriak Alvaro.


"Bapak ih teriak-teriak mulu, bapak jahat sama saya. " Balas Rania, lalu keluar dari ruangan Alvaro sambil berdecak kesal. Misi pertamanya gagal total.


"Hikssss." Batin Rania.


Baru hari pertama misi untuk menaklukkan hati Alvaro sudah gagal total bagaimana dengan hari-hari berikutnya.


"Huhhhh." Rania membuang nafasnya dengan kasar. Ia tidak boleh menyerah tidak mungkin ia menjadi kacungnya si geng somplak itu. Hal itu tidak akan pernah terjadi. Bukan Rania namanya jika kalah sebelum berperang. SEMANGAT!. Rania menyemangati dirinya sendiri.


###


Disisi lain Alvaro merasa terheran-heran dengan kelakuan random Rania, orang-orang yang pertama kali melihatnya dan tidak mengetahui latar belakang keluarga gadis itu akan mengira bahwa Rania adalah anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya, mengingat tingkahnya yang selalu ingin di perhatikan.


Kelakuan Rania sungguh berbanding terbalik dengan Reno yang lebih banyak diam dan melakukan sesuatu sesuai dengan keperluannya saja, tidak pernah melakukan hal yang aneh dan menyimpang dari ajaran orang tuanya, sementara Rania? Alvaro yang baru mengenalnya hampir satu bulan ini merasa sangat kewalahan sekaligus takjub melihat tingkah Rania, yang setiap hari ada saja kelakuan unik dan aneh yang di lakukannya.


Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Rania yang keluar dari ruangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti seorang anak yang tidak di berikan izin untuk membeli permen oleh orang tuanya.


Alvaro tertawa kecil mengingat tingkah rando Rania barusan yang meminta dirinya untuk memeriksa pantat gadis itu yang katanya sedang merasa nyeri.


"Gadis pemberani. " Ujar Alvaro tanpa sadar.

__ADS_1


###


Rania sedang membuat sebuah rencana baru untuk menjadikan Alvaro sebagai pacarnya, ia harus merubah penampilan nya dan tampil lebih feminim. Rania akan belajar sungguh-sungguh untuk membuktikan kepada Alvaro bahwa dirinya tidak seburuk itu sehingga Alvaro akan mau membuka hatinya dan tidak akan terus-terussan berfikir buruk kepada dirinya.


"Alvaro, kamu pasti akan menjadi milikku. " Unar Rania sambil menatap dirinya di dalam cermin.


Rania kemudian berjalan masuk ke dalam kamar adiknya untuk meminta masker wajah, malam ini dirinya akan memulai perawatan pada tubuhnya untuk menaklukkan hati oak gurunya itu.


"Renoooo." Terian Rania.


"Hmm." balas Reno.


"Minta maskermu dong. "


"Tuhh." tunjuk Reno ke arah sekotak masker yang di taru di atas menjadi belajarnya.


"Bukan masker ini, masker buat perawatan ituloh. "


"Hah?. " Reno yang mendengar hal itu sontak kaget karena ini kali pertamanya kakaknya itu mengatakan sesuatu hal sangat jarang terjadi.


"Aku mau perawatan tau, mana maskernya?. "


"Beneran nih Rania? aku gak salah dengar kan?. " Reno terheran-heran.


"Iyalah, oh yang ini yah? tapi kenapa warnanya pink semua perasaan yang biasa kamu pakai kemarin-kemarin itu warna hijau deh.?. " Rania mengernyitkan alisnya seperti pernah melihat masker serupa dengan yang ada di tangannya saat ini.


"Hmmmm." Reno hanya bergumam dan kembali fokus ke ponselnya.


"Ya udah deh aku ambil 2 aja dulu kalau cocok nanti aku beli banyak. " Rania lalu berjalan keluar dari kamar Reno .


Reno akhirnya bernafas lega hampir saja ia ketahuan.


Bersambung...


Note : Terima kasih sudah membaca, klik like, subscribe dan tidak ggalkan komentar kalian.


saran dan masukan yang membangun akan sangat berguna untuk pe ulis menjadi lebih baik lagi ke depannya.

__ADS_1


Author


#kimel#


__ADS_2