
Episode sebelumnya...
"Hmmmm." Reno hanya bergumam dan kembali fokus ke ponselnya.
"Ya udah deh aku ambil 2 aja dulu kalau cocok nanti aku beli banyak. " Rania lalu berjalan keluar dari kamar Reno .
Reno akhirnya bernafas lega hampir saja ia ketahuan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Sejak subuh Rania sudah sangat sibuk berdandan di depan kacanya, setelah melakukan make up tipis-tipis gadis itu lalu menggunakan sedikit pelembap dan pewarna pada bibirnya, kemudian menggunakan maskara pada bulu matanya.
"Hoaaaammmm." Rania menguap, semalaman ia tidak bisa tidur menonton tutorial makeup up di yutub.
"Muahhhh." Ujar Rania setelah melihat penampilannya di depan kaca, Rania kemudian menyemprotkan vitamin rambut pada rambutnya yang sudah ia catok sebelumnya.
Waktu baru menunjukkan pukul 06.30, Rania turun dari atas kamarnya dan ikut bergabung untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
"Kok kayak ada yang aneh ya sama kamu Nia?. " Ujar mamanya.
"Iya tumben kamu dandan cantik gitu. " Timpal papanya yang langsung peka melihat perubahahan pada anaknya itu.
"Ah iya, pantas mama tadi rada pangling ternyata hari ini Rania dandan, Hah? dandan?. " mama Rania yang baru tersadar terkejut melihat perubahan anak gadisnya itu.
"Kesambet setan apa kamu nak? Pah kayaknya kita emang mesti bawa Rania ke dokter kejiwaan deh, siapa tau pas jatuh minggu lalu itu kepalanya juga kebentur. " Lanjut mama Rania yang panik, takut anaknya mengalami gegar otak.
"Mamaaaaa, aku gak gila aku masih waras ih. " Balas Rania.
Reno hanya diam menikmati makananya seperti biasa, karena sudah tahu sejak semalam. Rania berkali-kali bolak balik masuk ke kamarnya untuk meminjam colokan, meminjam lighting dan terakhir membangunkan Reno untuk membantu gadis itu mencatok rambutnya dengan melihat tutorial yang ada di yutub.
"Kamu beneran gapapa Nia? . " Tanya papanya memastikan anaknya itu benar-benar waras atau tidak.
"Papa ih ikut-ikuttan deh jadi kayak mama, dikit-dikit parnoan, anaknya cantik-cantik gini di sangka gila. "
"Ya baguslah kalau seperti itu, seenggaknya papa gak usah terlalu khawatir lagi kalau kamu udah mulai merhatiin diri kamu sendiri kayak gini. " Ujar papa Rania merasa senang juga melihat perubahan anaknya itu, selama ini pak Herman merasa khawatir karena anaknya yang tomboi itu di masa depan akan susah mendapatkan pasangan dengan melihat wajahnya yang tidak terawat saja akan membuat laki-laki mana pun akan langsung mundur. Setidaknya anak gadisnya itu sudah mau berpenampilan feminim.
"Syukur deh Rania, akhirnya mama ada teman juga di rumah ini, punya anak perempuan tapi selama ini kayak punya 2 anak laki-laki. " Canda mamanya.
__ADS_1
"Mama ih, apaan sih. " Balas Rania.
Rania dan Reno hari ini berangkat sekolah di antar oleh papanya karena mobil yang satunya akan di gunakan oleh mamanya menghadiri arisan.
###
Satu sekolah di buat heboh dengan penampilan baru Rania yang terlihat sangat mencolok, Rania berjalan masuk ke kelasnya bak iklan shampo karena terus-terussan di perhatikan oleh murid lain yang berpapasan dengannya.
"Widihhhh, siapa nih cakep banget. " Teriak Diki.
Rania berjalan menuju ke arah kursinya dan langsung di kerumuni beberapa teman-teman sekelasnya.
"Udah beralih genre kamu Ran? udah gak nyanyi lagu dangdut lagi dong. " Ujar Diki lagi.
"Aduh Diki plis deh, jangan banyak bacot. " Balas Rania.
"Wah Rania, rambut kamu jadi bagus gitu. " Ujar teman sekelas Rania yang lain.
Rania hanya membalasnya dengan cengengesan, ini adalah cara kedua untuk mendapatkan hati Alvaro.
"Rania, ya ampun kamu cantik banget sih kakak ipar aku. " Melinda yang baru datang langsung pangling dan memeluk sahabatnya itu.
Rania mengalihkan pandangannya ke arah geng Nurlia yang sedari tadi juga ikut memperhatikannya, Rania tersenyum sinis ke arah mereka.
"Idih sok cantik. " Teriak Shinta.
"Baru gitu aja udah sombong. " timpal Nurlia.
"Wle." Rania menjulurkan lidahnya ke arah mereka. Tidak lama kemudian guru yang mengajar di jam pertama hari itupun masuk, Rania fokus mengikuti pembelajaran tidak seperti biasanya. membuat Melinda yang berada di sampingnya juga terheran-heran melihat perubahan sahabatnya itu.
###
Alvaro berniat akan mencoba bersosialisasi dengan orang-orang yang ada di sekolah tempatnya mengajar itu, ia berpikir untuk mencoba membuka dirinya dengan banyak-banyak melakukan interaksi. Setelah mengajar Alvaro langsung menuju ke kantin sekolah, hari ini laki-laki itu sengaja tidak membawa bekal agar ia bisa makan di kantin bersama para murid ataupun para guru.
Sesampainya di kantin Alvaro langsung memesan semangkuk bakso dan segelas es teh.
"Mbak, nasi goreng 1." Suara seorang gadis yang langsung duduk di dekatnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu dan Alvaro sudah sangat mengenal suara itu.
"Pedas atau yang biasa Rania?. " Tanya keponakan ibu kantin itu.
"Yang pedas aja sama es teh satu yah mbak. " lanjut Rania.
__ADS_1
"Kamu ngapain duduk disini? gak sopan tau Rania sama yang lebih tua kalau gak izin dulu. " Ujar Alvaro.
"Eh ada pak Alvaro ternyata, saya kirain tadi salah satu siswa pak, eh ternyata pak guru. Habisnya bapak terlihat 10 tahun lebih mudah sih hari ini. " Gombal Rania.
"Rania." Panggil Alvaro sedikit berbisik.
"Iya Pak Alvaro ku. " Jawab Rania dengan suara yang ikut berbisik-bisik.
"Jangan macam-macam kamu yah. " Ancam Alvaro yang menatap langsung wajah Rania. Alvaro kemudian mengernyjtkan alisnya memperhatikan wajah Rania yang agak sedikit berbeda dari biasanya membuat semakin heran dengan gadis itu.
"Kenapa pak, kok ngeliatin saya kayak gitu saya cantikkan pak, hehehe. " Rania tersenyum lebar karena merasa berhasil membuat Alvaro pangling.
"Iya cantik kayak monyet. "
Rania membelalakkan matanya baru beberapa dektik yang lalu ia merasa sudah ada perkembangan namun ternyata Alvaro masih saja bersikap jutek padanya.
"Ishhhh." Rania berdecak kesal.
Tidak lama kemudian pesanan Rania datang dan Alvaro juga sudah sudah selesai menghabiskan makanannya. Alvaro langsung membayar makanannya itu lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rania.
"Kayaknya ada yang bakalan jadi kacung ku nih. " Shinta tiba-tiba saja sudah berada di samping Rania.
"Aduh sialan!. " Umpat Rania merasa kaget.
"Siapa yang sialan?. " Tanya Shinta.
"Yang nanya. " Jawab Rania, membuat Shinta berdiri dan akan langsung menjambak rambut Rania namun segera di tahan oleh kedua anggota gengnya yang lain.
"Udah, udah ayo pergi dari sini, diliatin banyak orang tuh. " Ujar Nurlia membawa gengnya pergi dari kantin.
Rania tidak menghiraukan mereka dan melanjutkan makannya dengan lahap seperti biasanya.
Bersambung...
Note : Terima kasih sudah membaca, klik like, subscribe, vote dan tinggalkan komentar kalian yang biar aku makin semangat lagi buat nulis.
saran dan masukan yang membangun akan sangat berguna untuk penulis menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Author
#kimel#
__ADS_1