Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 58 : Memberi Pelajaran


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Alvaro hanya melongo melihat tingkah kedua muridnya tersebut.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Baru saja mereka sampai di depan gedung rumah sakit suara seseorang tiba-tiba saja memanggilnya Alvaro.


"Alvaro..."


Sontak ketiga orang yang sedang berjalan menuju ke dalam gedung rumah sakit itu berhenti dan seremoak menengok ke asal suara.


"Laura?. " Lirih Alvaro.


"Dih si janda itu lagi. " Sinis Rania.


"Siapa itu?. " Tanya Melinda berbisik kepada Rania, karena baru kali ini ia melihat Laura.


"Janda gatal. " Jawab Rania dengan berbisik juga.


"Alvaro.. Eh ada Rania juga. " Ujar Laura saat perempuan itu sudah berada dekat dengan tempat tiga orang tadi berdiri.


Alvaro tidak menghiraukan Laura meneruskan langkahnya kembali menuju ke ruangan kerjanya.


Sementara Rania dan Melinda masih berdiri di tempatnya.


"Alvaro... " Panggil Laura lagi, melihat Akvaro yang tidak menghiraukan nya.


"Ih kasian banget. " Ledek Rania, saat Laura lewat di hadapannya.


"Apa kamu bilang?. " Laura yang mendengar ucapan Rania langsung berhenti dan akan melabrak Rania.


"KASIAN, WLE!. " Rania segera menarik Melinda untuk menjauhi Laura sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar anak kurang ajar, gak tau sopan santun. " Omel Laura, kemudian kembali mengejar Alvaro ke ruangan kerja laki-laki tersebut.


Melinda dan Rania langsung menuju ke bagian belakang rumah yang di penuhi rumput yang suda tinggi, beberapa orang sudah terlihat berada di sana membabat rumput-rumput tersebut.


Rania dan Melinda kebagian tugas untuk mengumpulkan rumput-rumput tadi menjadi satu agar saat rumputnya sudah kering akan gampang untuk di bakar.


"Tadi itu siapa, Rania? . " Tanya Melinda, terlihat sangat penasaran.


"Oh, mantannya pak Alvaro. " Jawab Rania cuek.


"Ngapain dia datang kesini? . "


"Ya mau ngapain lagi, kalau bukan buat godain si Alvaro. " Jawab Rania, kesal juga ia memikirkan Laura itu.


"Emangnya dia janda beneran?. " Tanya Melinda memastikan ucapan Rania tadi pada saat mereka berpapasan dengan Laura.


"Gak liat itu gayanya udah kayak tante-tante girang. " Jawab Rania asal.


"Tapi aku liat dia masih muda kok, kayaknya umurnya mau sama kayak pak Alvaro. " Ujar Melinda lagi.


"Tau ah, bodo amat!. " Rania merasa kesal, Melinda terus-terussan membahas Laura.

__ADS_1


"Hmm, kamu cemburu yah?. " Goda Melinda melihat ekspresi Rania yang kesal.


"Enak aja, ngapain cemburu sama mbak kuntilanak pucat kayak gitu. " Bela Rania.


"Iihhh tapi dia cantik loh. " MElinda terus menggoda Rania.


"Cantik apanya, pucat gitu kok rambutnya kayak kunti lagi. " Balas Rania.


"Loh, mbak Kunti kan emang terkenal sebagai perempuan cantik yang meninggal karena melahirkan, Ran. " Ujar Melinda lagi.


" Au ah. " Rania menghentikan pekerjaannya dan beranjak pergi meninggalkan Melinda yang tertawa-tawa kecil melihat Rania jealous.


###


Alvaro merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Laura yang terus mengikutinya kemanapun ia pergi, seperti saat ini, Alvaro sedang mengambil bagian makan siangnya di kantin rumah sakit.


"Laura bisa gak sih kamu berhenti kayak gitu, diliatin banyak orang aku malu tau gak. " Akvaro menepis tangan Laura yang sedang mencoba membersihkan makanan yang berada di dekat bibir Alvaro.


Para perawat yang sedang beristirahat setelah melakukan kerja bakti bersama memperhatikan Alvaro dan Laura.


"Wah, Dokter Alvaro siapa tuh Dok?. " Ujar salah seorang perawat yang duduk di meja samping tempat Akvaro saat ini menikmati makanannya.


"Gak, bukan siapa-siapa. " Jawab Akvaro cuek.


"Ah, Saya Laura, teman lamanya Dokter Alvaro. " Laura memperkenalkan dirinya.


"Teman apa deman nih Dok?. " Timpal perawat lainnya, menggoda Alvaro.


Alvaro tudak membalasnya, hanya diam saja sementara Laura terlihat salah tingkah.


"Bukannya pak Alvaro jadian yah sama Rania?. " Bisik salah satu perawat bernama Tuti namun suaranya masih terdengar ke tempat Alvaro.


"Ah masak sih? Terus perempuan itu siapa dong?. " Tanya perawat yang lain.


"Kaka sepupunya kali, liat aja mukanya kayak lebih tua dari Dokter Alvaro, dengar-dengarkan Domter Alvaro emang punya kakak sepupu perempuan. " Jawab Tuti.


"Ekhem." Alvaro berdehem agar para penggoaio itu berhenti membicarakan dirinya.


"Ah, hahahha eh itu ada Rania kayaknya lagi mau kesini deh. " Tuti segera mengalihkan pembicaraan menyadari Alvaro mendengar gosip mereka. Untungnya ia langsung melihat Rania yang sepertinya baru saja selesai melakukan kerja bakti.


Alvaro yang mendengar hal itu sontak ikut menoleh ke arah pandang Tuti dan melihat Rania dan Melinda yang berlari-lari kecil di belakangnya sedang menuju ke kantin tempatnya saat ini.


"Eh Pak Alvaro, ketemu lagi. " Sapa Rania yang langsung menuju ke meja Alvaro dan duduk di sampingnya, hal itu langsung membuat Laura membelalakkan matanya dan menatap sinis ke arah Rania.


"Raniaa." Panggil Tuti.


"Eh ada Tuti juga, aduh udah lama yah kita gak ngerumpi. " Ujar Rania dengan volume suara yang sengaja di besar-besarkan.


"Mau aku ambilin minum?. " Tawar Tuti.


"Boleh, ambilin dua yah buat teman aku juga sekalian camilan nya, kalau kamu mau juga ambil aja entar papaku yang bayar. " Balas Rania.


"Oke deh. " Tuti dengan semangat langsung beranjak dari tempat duduknya mengambilkan pesanan Rania.


"Eh masih ada Mbak Laura, ya ampun mbak, maaf yah gak keliatan soalnya. " Sindir Rania.


Alvaro hanya diam saja.

__ADS_1


"Eh Iya Rania gapapa kok, mbak maklum ini Alvaro nya lagi lapar jadi aku inisiatif buat temanin dia makan. " Balas Laura dengan suara yang sengaja di lembutkan.


"Dih najisssss, sok lembut banget" Batin Rania.


"Oh, gitu, emangnya Pak Alvaro ini anak kecil mesti di temenin kalau mau makan?. " Tanya Rania, menatap Alvaro.


"Uhukk, uhukk. " Alvaro tersedak makanannya sendiri karena merasa pertanyaan Rania yang menyindir nya.


"Aduh, Akvaro kamu kalau makan hati-hati dong, ini minum dulu. " Laura membukakan botol air mineral dan memberikannya kepada Alvaro.


Akvaro langsung meneguk air mineral tersebut.


Sedtik kemudian Melinda dan Tuti sudah ikut bergabung di meja tempat Alvaro makan membawa berbagai macam camilan dan minuman.


"Mbak mau nggak?. " Tanya Tuti yang duduk persis di samping Laura, menawarkan camilan kepada perempuan itu.


"Nggak, nggak usah. " Tolak Laura.


Rania memberikan kode kepada Tuti untuk membuka botol minuman yang baru saja di bawahnya.


Tuti kemudian membuka botol minumannya tersebut kemudian Rania dengan sengaja menendang kaki Tuti agar seakan-akan Tuti menumpahkan minumannya ke arah Laura secara tidak sengaja.


"Aduh Tut, maaf aku gak sengaja.." Ujar Rania.


"Aw ah aduh basah, aduh bajuku basah. " Teriak Laura yang sontak berdiri saat botol minuman Tuti menumpahi dress Laura.


"Waduh, mbak maaf yah saya juga gak sengaja. " Tuti segera membantu Laura mengelap dress perempuan tersebut menggunakan tissu yang ada di atas meja.


"Gak usah pegang-pegang saya. " Laura menepis tangan Tuti.


"Aduh sekali lagi saya minta maaf yah Mbak. " Tuti mencoba membantu Laura lagi.


"Aduhhh kalian ini apa-apaan sih. " Teriak Laura.


"Yah namanya juga gak sengaja mbak, gimana sih mbak ini kok jadi marah. " Balas Rania.


"Saya nggak marah yah Rania, saya.... . "


"Udah, udah, udah kalian ini bikin saya pusing aja, saya jadi gak selera makan " Bentak Alvaro, langsung berdiri meninggalkan makanan yang baru di makan seperuhnya.


"Kurang ajar yah kalian. " Bentak Laura ikut pergi mengikuti Alvaro sambil merajuk.


Rania mengulum senyumnya.


"Gimana Ran, akting ku?. " Tanya Tuti setelah memastikan kedua orang tadi sudah tidak kelihatan.


"Top markotop." Rania memberikan dua jempolnya kepada Tuti.


"Kasian banget tau mukanya si mbak-mbak tadi itu. " Timpal Melinda yang hanya diam sedari tadi.


Rania sudah dari kemarin merencanakan hal ini, niatnya sebenaenya akan dilaksanakan jika sudah ada waktu yang pas.


Namun, karena kebetulan sekali hari ini Laura datang lagi ke rumah sakit, sekalian saja Rania menyuruh Tuti untuk mengawasi gerak gerik Laura dan Alvaro yang ternyata kebetulannya lagi mereka semua bertemu di kantin rumah sakit.


"Biarin aja, biar tau rasa dia, Rania mau di lawan gak bakalan menang Shayyyy. " Rania merasa sangat puas setelah akhirnya bisa punya kesempatan untuk memberi pelajaran kepada Laura.


Bersambung.. . .

__ADS_1


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian.


__ADS_2