
Episode sebelumnya..
"Wah Rania, kebetulan banget ketemu kamu disini. " Mama Alvaro langsung memeluk Rania, Mereka bertiga pun akhirnya memilih tempat duduk dimana Reno saat ini sudah duduk sendirian ketiga perawat tadi sudah beroindah posisi duduk karena ikut berjoget saat Rania bernyanyi tadi.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Mama Alvaro tidak berhenti tertawa mendengar Rania bercerita tentang awal pertemuannya dengan Alvaro, apalagi saat gadis itu menceritakan kejadian saat dirinya melepaskan katak-katak yang di bawa Alvaro ke sekolah untuk di jadikan bahan percobaan anatomi pada tubuh katak.
"Kan kasian tante, katakknya mau di mutilasi ya udah mending Rania lepasin aja sekalian, biar kaymtaknya bisa hidup bebas dan ngelanjutin hidup mereka lagi. " Ucap Rania.
Sementara Alvaro melirik ke arah Rania dengan ekspresi sinis.
"Itumah bukan kasian kamunya aja yang usil, katak kan emang buat di jadiin bahan percobaan, biar umat manusia tau kalau di dalam tubuh katak itu ada bagian-bagian penting yang bisa berguna ataupun membahayakan manusia di masa depan nanti. " Ujar Reno kepada Rania yang sedari tadi asik menceritakan kelakuan usilnya kepada Alvaro.
"Tapi tetap aja kasian, siapa tau di antara mereka ada yang saling menaruh hati dan saling mencintai, apa kamu tega membunuh mereka?. " Tanya Rania dramatis.
"Dramatis banget. " Ejek Reno, hal itu membuat Alvaro terkekeh.
"Tega kamu sama katak itu, kamu gak pernah denger cerita tentang pangeran katak yang di cium sama Tuan Puteri tau-tau kayaknya jadi Pangeran tampan. " Balas Rania membayangkan salah satu katak yang di lepaskannya bisa jadi adalah pangeran katak.
"Pangeran kodok kali. " Ejek Reno.
"Reno ih, nyebelin banget sih dari tadi. " Omel Rania, kalau saja dirinya sedang tidak menjaga image di depan Mama Alvaro sudah sedari tadi anak monyet itu ia geprek!.
"Udah-udah gak usah berantem, aduh kalau tante punya anak kayak kalian berdua ini pasti rumah tante jadi rame, tante senang banget bisa ketemu kalian disini. " Mama Alvaro menengahi perselisihan Rania dan Reno yang jika terus di lanjutkan kedua bersaudara itu bisa terus berdebat hingga malam tiba.
"Emangnya kak Alvaro gak punya saudara ya tante?. " Kini Reno yang bertanya kepada Mama Alvaro, Rania juga lumayan penasaran dengan hal itu untungnya ada Reno yang mewakilinya untuk bertanya.
"Iya, Alvaro ini anak tante satu-satunya. " jawab Mama Alvaro sambil tersenyum manis ke arah Reno.
"Yaudah yuk, kita makan sama-sama katanya tadi Mama lapar makanya mau makan di kantin biar bisa makan rame-rame nih udah pada rame. " Alvaro yang sedari tadi hanya diam dan menyimak saja kini mengeluarkan suara dan sedikit menyindir Rania yang sedari tadi rame sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, kali berdua juga ikut makan yah?. " Ujar Mama Alvaro menatap kearah Rania dan Reno.
"Iya Tante, pasti. " Rania terlihat sangat antusias, sementara Reno hanya manggut-manggut saja.
Mereka berempatpun akhirnya menikmati makanan yang Mama Alvaro bawa tadi, tidak lupa sebagian makanan di bagikan ke beberapa perawat yang lain.
Setelah makan dan puas berbincang-bincang Rania dan Reno kemudian berpamitan kepada Alvaro dan mamanya karena mereka harus membantu pasien lansia yang ingin ber jalan-jalannya di sore hari itu.
"Kami mau bantuin lansia buat jalan-jalannya sore di taman tante. " Ujar Reno pergi duluan meninggalkan Rania.
"Kami duluan yah tante, Alvaro sampai jumpa lagi. " Ucap Rania genit dan memberikan finger heart kepada Alvaro, yang membuat laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya karena beberapa perawat yang masih ada disana memperhatikan mereka sedari tadi.
"Alvaro, kok cuek banget sih sama Rania. " Ucap Mama Alvaro yang memperhatikan anaknya sedari tadi lebih banyak diam.
"Biasa tante, Alvaro lagi ngambek karena semalam gak bisa ngajak saya malam mingguan, hehehe. " Ucap Rania dengan volume suara yang sengaja di keraskan agar semua orang yang berada di kantin itu mendengar mereka.
Alvaro yang mendengar hal itu sontak terkejut, wajahnya memerah karena menahan malu, gadis itu benar-benar membuat dirinya kehilangan image coolnya di rumah sakit.
"Lain kali kalau kita ketemu lagi, baru kita ngobrol banyak lagi ya Tante kali ini aku benar-benar harus pergi bantuin Reno, dah tante, dah Alvaro. " Rania tersenyum puas melihat Alvaro yang pasti akan sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mamanya.
Sementara Rania pasti akan menjadi perbincangan paling hangat di rumah sakit selena beberapa minggu ke depan karena gosip berpacaran Alvaro dan Rania akan menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit ini berkat perawat-oerawat kepo di kantin tadi.
"Hahahaha kena lagi kau. " Batin Rania memandang Alvaro dari kejauhan.
"Rania? Cepetan sini. " Teriak Reno yang melihat Rania hanya bengong di tempatnya memandangi Alvaro.
"Ih ganggu aja deh. "
"Gak puas-puas yah, padahal tadi udah duduk, ngobrol terus makan sama Dokter Alvaro masih aja diliatin dari jauh. " Sinis Reno.
"Ih iri bilang bos, WLEEEE. " Rania berdecak kesal dan menjulurkan lidahnya ke arah Reno.
Reno hampir saja menggaoai rambut Rania dan menjambak kakanya itu, untungnya gadis itu dengan cepat berlari menjauhi Reno dan membantu lansia yang lain untuk berjalan-jalan sore di taman rumah sakit.
__ADS_1
###
"Rania anaknya rame ceria yah Al, Mama jadi senang kalau ada anak gadis kayak dia di rumah pasti rumah jadi rame. " Ucap Mama Alvaro yang kini sudah barada di dalam ruangan kerja anak laki-lakinya itu.
"Berisik gitu kok bukan rame. " Balas Alvaro cuek.
"Ih kok ngomongnya gitu sih sama pacar sendiri, Mama senang banget tau sama Rania, anaknya lucu. " Mama Alvaro kembali memuji-muji Rania.
"Lucu apanya suaka ngereog gitu. " Balas Alvaro merasa tidak suka mamanya memuji-muji Rania.
"Kenapa sih ini anak bukannya senang pacarnya di puji-puji malah di kata-katain gitu, kamu nih jangan mainin hati anak orang gitu Alvaro, gak baik tau emang kalau kamu punya saudara perempuan kamu mau saudara kamu di permainkan sama laki-laki di luar sana?. " Omel Mama Alvaro melihat anak laki-lakinya terlihat sangat cuek kepada Rania.
"Emangnya Mama mau bikin anak lagi sama papa?. " Goda Alvaro yang membuat mamanya langsung tertawa.
"Hahahaha, Ya kalau itu mah hampir tiap malam juga udah tapi gak jadi-jadi karena emang udah faktor U." Ujar mama Alvaro sambil tersenyum malu-malu.
Alvaro yang mendengar itu ikut tertawa.
"Tapi mama serius lo Alvaro, nanti kalau kamu punya anak sama Rania pasti rumah jadi rame banget, kamu liat kan mama dan papa udah tua masak kamu gak kasian ngeliat kami yang kesepian di ini, pulang ke rumah liat papa lagi, begitupun papa, kalau pulang ke rumah liat mama lagi. "
"Ma, tolong dong biarin aku yang nentuin jalan hidup aku mesti gimana, kalau emang jodoh pasti bakalan sampai ke jenjang yang lebih serius kok, lagian Alvaro juga belum siap buat nikah. " Ucap Alvaro tegas.
"Mama cuman mau ngasih ingat ke kamu aja umur mama dan pala udah semakin berkurang tiap harinya, nanti kalau kamu udah gak ada siapa yang bakalan jagain dan ngurusin kamu, mau kamu jadi tua sendirian? Ini anak kok di bilangin sama orang tua ngeyel mulu, udah ah mama mau pulang aja. " Mama Alvaro mengambil tasnya dan berjalan menuju ke arah pintu dan keluar adari ruangan Alvaro, Alvaro yang menyadari kesalahannya langsung mengejar mamanya.
"Ma tungguin aku anterin pulang. " Teriak Alvaro ke mamanya yang berjalan dengan langkah kaki yang sengaja di hentak-hentakkan.
"GAK USAH, MAMA PULANG SENDIRI AJA. " Teriak Mama Alvaro.
Alvaro tidak jadi mengejar mamanya dan kembali masuk ke ruangannya, takut juga jika Mamanya itu benar-benar marah dan mengutuknya menjadi batu.
Bersambung...
Note: klik like, vote, subscribe dan komentar sesuai dengan isi ceritanya yah untuk membantu perkembangan author, terimakasih atas dukungan kalian. I love you.
__ADS_1