Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 84 : Dasar Pengecut!


__ADS_3

Episode sebelumnya..


"Kurang ajar! Dasar anak monyet! Awas yah kalau dapet ku penyek-penyek badanmu nanti. " Teriak Rania, merasa kesal karena tidak bisa menggapai adiknya itu.


###


Happy Reading and Enjoy Guys..


Malam hari. Rumah sakit.


Alvaro berjalan dengan tergesa-gesa menuju keluar dari gedung rumah sakit, setelah mendapatkan telepon dari Laura jika perempuan itu malam ini sudah bisa pulang dan Laura akan segera kembali keluar negeri mengikuti suaminya.


Alvaro tidak menyangka, jika perempuan yang sudah di ujung tanduk itu bisa melewati masa-masa kritisnya.


Tidak lama kemudian Alvaro sudah sampai di depan gedung, Alvaro melihat Rania dan Laura saling berpelukan.


Disisi lain ada Hendrawan yang terlihat sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.


ketiga anak Laura sudah lebih dahulu di bawa oleh orang tua Hendrawan. Begitulah yang Alvaro ketahui saat beberapa hari lalu ia tidak sengaja berpapasan dengan Hendrawan untuk mengambil obat.


"ALVARO." Teriak Laura melambaikan tangannya kepada Alvaro.


Alvaro balas melambaikan tangannya sambil terus berjalan ke arah mereka.


"Hai Laura, kalian audah mau langsung balik aja nih? Maaf tadi gak sempat bantuin buat angkut barang soalnya ada kerjaan. " Ujar Alvaro saat sudah sampai di hadapan Laura dan Rania.


"Iya nggak apa-apaan kok, santai aja lagian barangnya juga cuman dikit. " Balas Laura.


"Oh iya, baguslah. " Ujar Alvaro.


Rania terlihat sibuk memperhatikan hal lain. Sementara Alvaro dan Laura berbincang-bincang.


"Aku bakalan lanjutin berobat disana aja, kasian juga suamiku kalau disini terus kerjaannya gak ada yang handle. " Ujar Laura.


"Oh, baguslah kalau begitu, semoga kesehatanmu semakin membaik. " Balas Alvaro.

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan seluruh barangnya Hendrawan dan Laura kemudian berpamita.


Seperti yang Laura sudah katakan, Perempuan itu akan melanjutkan pengobatannya di luar negeri, setelah berminggu-minggu tinggal di rumah sakit.


untungnya setelah suami dan anak-anaknya datang, kesehatan Laura berangsur-angsur pulih.


"Terima kasih yah Alvaro sudah mau membantuku selama ini dan maaf untuk waktumu yang terbuang sia-sia karena...."


Ucapan Laura segera di potong boleh Alvaro.


"Tidak perlu terlalu dipikirkan, semuanya sudah berlalu, semoga kalian selamat sampai tujuan. " Ujar Alvaro.


Laura kemudian memanggil Rania dan sekali lagi memeluk gadis itu.


"Maafin mbak yah Rania, selama ini jahat sama kamu, semoga hubungan kamu sama Alvaro selalu baik-baik saja, Terima kasih yah Rania untuk bantuan kamu selama aku berobat di rumah sakit ini. " Ukar Laura.


Rania hanya mengangguk canggung, sedari tadi Laura selalu memberinya selamat karena sudah bertunangan dengan Alvaro, padahal sama sekali hal itu tidak pernah terjadi.


"Entah dari mana lagi perempuan ini mendengar kabar itu. " Batin Rania lalu melirik ke arah Alvaro.


"Pasti laki-laki itu. " Batik Rania.


Alvaro dan Rania menyambut ucapan selamat itu dengan tersenyum kikuk.


Hendrawan juga ikut memberikan selamat, pasangan suami istri yang sudah berbaikan itupun kembali berpamitan dan pergi dari hadapan Alvaro dan Rania.


Suasana di antara mereka berdua jadi, semakin canggung.


"Rania.. " Panggil Alvaro.


"Eh iya?. " Jawab Rania.


"Maaf yah mereka menyangka kita berdua benar-benar sudah bertunangan karena aku yang mengatakan...."


Rania segera memotong ucapan laki-laki itu.

__ADS_1


"Oh ternyata benar, kamu lagi. " Ujar Rania, kini ia mengerti kenapa Laura dan Hendrawan tadi langsung memberinya selamat sebelum Alvaro datang.


Rania memang sudah terlebih dahulu mengantarkan Laura dan Hendrawan keluar dari gedung rumah sakit menuju ke tempat mobil pasangan suami istri itu terparkir. Tempat Alvaro dan Rania saat ini berada.


"Maaf Rania, saya tidak bermaksud... "


Rania lagi-lagi memotong ucapan Alvaro.


"Bermaksud pamer? Seolah-olah kamu udah move on dan bisa dapatin yang lebih baik dari Laura? Kamu baru sadar kalau ternyata aku lebih baik dari Laura setelah semuanya yang udah terjadi? Setelah berkali-kali kamu nyakitin perasaan aku? Ngebentak-bentak aku? Kamu baru sadar sekarang? Terus ngaku-ngakuin aku ke mantan kamu dan suaminya itu?. "Cecar Rania.


Rania berspekulasi jika Alvaro yang akhir-akhir ini sering mengajaknya untuk memulai hubungan baru, ternyata hanya ingin pamer kepada Laura dan Suaminya.


"Semua yang kamu pikirkan itu salah, saya serius ingin memulai hubungan baru sama kamu, spekulasi kamu itu berlebihan, Rania!" Ujar Alvaro.


"Kamu udah pernah ngelakuin hal itu ke aku, jadi wajar aja aku berspekulasi berlebihan, biar kamu sadar diri. " Ketus Rania.


"Saya sudah sadar diri, maka dari itu saya tidak akan mengganggu kamu lagi, Rania. " Balas Alvaro.


Deg


Rania menatap wajah Alvaro.


"Dasar pengecut!. "Batin Rania


" Oh oke. " Ujar Rania, mencoba terlihat cuek. Gadis itu lalu berlalu pergi meninggalkan Alvaro.


Sementara Alvaro hanya menatap nanar ke punggung Rania yang berlalu pergi meninggalkannya.


"Arggghhhh, kenapa tadi aku bicara seperti itu. " Lirih Alvaro menyesali perkataannya tadi.


Alvaro merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah betul-betul berani memperjuangkan Rania.


Alvaro takut merasakan kejadian saat Laura pergi meninggalkannya tanpa kabar selama bertahun-tahun.


Ujung-ujungnya cinta pertama nya itu menikah dengan orang lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2