
Episode Sebelumnya..
"Yaiyalah pa, emangnya Alvaro di rumah sakit ini ada berapa?. " Rania justru bertanya balik.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Empat orang tua yang berada di dalam ruangan itu saling melirik dan tertawa-tawa sedetik kemudian.
"Wah ini sepertinya sebuah kebetulan yang sangat menarik pak Herman. " Ucap Pak Subroto membuat Alvaro dan Rania yang tidak tahu apa-apa hanya celingak-celinguk kebingungan.
"Kalau jodoh emang kayaknya gak bakalan lari kemana loh jeng, hahahah. " Ucap mama Alvaro yang berbicara kepada Mama Rania yang ikut-ikuttan mengiyakan.
"Kalau sudah begini ya sudah kita serahkan saja kepada anak-anak kita ini bagaimana baiknya. " Ucap Apk Herman.
Alvaro dan Rania yang melihat itu saling bertatapan dan mengedikkan bahu karena sama-sama tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama sama Papa ngapain disini?. " Kini Alvaro yang mengeluarkan suaranya, laki-laki itu masuk berdiri di pintu masuk.
"Sini Alvaro, duduk disini. " Pak Herman menggeser tempat duduknya dan menyuruh Alvaro untuk duduk di sampingnya saja, karena menang kursi sofa di ruangan itu tidak terlalu panjang.
Setelah Alvaro duduk pah Subroto kemudian menyatakan maksud dan tujuannya ke tempat oak Herman ini.
"Jadi, gini Papa sama papanya Rania ini dulu teman lama, waktu masih sekolah sampai kuliah beberapa semester tapi karena dulu Papa pindah dan ngikut ke mamamu jadi otomatis kuliah Papa juga ikut pindah, yah Mama sama Papa kesini cuman mau memperpanjang tali silaturahmi sama keluarganya Rania. " Jelas pak Subroto.
"Iya Alvaro, jadi karena kita pikir pasti pak Herman lagi gak ada di rumahnya karena sibuk ngurus rumah sakit makanya kita datangin aja tempat kerjanya, sekalian rencananya nanti mau ke ruangan kamu, eh malah kamunya yang kesini sama Rania. " Timpal Mama Alvaro..
Alvaro dan Rania kemudian mengangguk-angguk pertanda mereka sepertinya sudah mengerti jika orang tuanya adalah kawan lama yang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun.
..."Kruk.. kruk.. "...
Suara perut Rania terdengar lagi menandakan cacing-cacing di perutnya sepertinya akan segera mengamuk jika tidak di beri makanan secepatnya.
Perut Rania yang keroncongan juga didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
"Hehehe, maaf Rania udah lapar banget. " Rania memegangi perutnya yang memang sudah kelaparan sejak tadi.
"Ya udah kalau gitu bagaimana kalau kita makan sama-sama aja sekalian kebetulankan kita lagi kumpul gimana. " Ucap Mama Rania antusias.
__ADS_1
"Ah, iya benar sekali kita makan di restoran seafood yang ada di mall dekat sini saja bagaimana?. " Mama Alvaro lebih antusias lagi.
"Tapi sepertinya, Alvaro gak usah ikut deh soalnya masih ada kerjaan lain sebenarnya tadi aku cuman mau nemenin Rania sekalian antarin dia pulang, aku tidak terlalu lapar. " Alvaro menolak ajakan makan bersama itu karena berpikir dia mengajak Rania makan karena merasa bersalah kepada gadis itu telah mengurungnya di dalam ruangannya, namun karena ternyata keluarganya dan keluarga Rania ada disini dan berencana untuk makan bersama, Alvaro berpikir untuk lebih baik dia tidak ikut saja.
"Pak Alvaro kok ngomong gitu sih, saya kan kaparan gara-gara bapak ngurung saya di ruangan bapak, eh sekarang mau lari dari tanggung jawab. " Omel Rania, membuat semua orang yang ada di ruangan itu kembali terkejut mendengar penuturannya.
"Kamu ngurung Rania?. " Tanya pak Baskoro. Sementara semua orang tua yang lain sontak melihat ke arah Alvaro.
"Hah? bukan gitu maksudnya.... " Ucapan Alvaro terpotong karena Rania, langsung menyambung pembicaraan Alvaro.
"Iya, soalnya kami sudah berpacar...aw sakit " Rania merintih kesakitan karena Alvaro langsung mencubit lengangannya.
"Ahhhh iya yah Rania kamu laparkan ya udah yuk, Ma, Pa, pak Herman dan Tante kita berangkat sekarang aja ke restoran seafood itu. " Alvaro tiba-tiba saja berdiri dan langsung meniyakan rencana makan malam bersama itu.
Suasana hening sekitar 10 detik
"Wah iya kayaknya emang enak makan kepiting nih, udah lama juga gak makan yang seafood-seafood gitu. " Papa Rania pertama kali mengeluarkan suaranya untuk memecah keheningan itu.
"Ya udah ayo kita semua berangkat. "
Dua keluarga itupun melakukan makan malam bersama malam ini, Alvaro dan Rania hanya mengikut pasrah saja.
Sesampainya mereka di restoran tersebut tidak lupa Rania mengambil gambar dengan berselfi ria di restoran tersebut dan dengan sengaja duduk di samping Alvaro.
Rania merasa sedang Jackpot alias menang banyak hari ini. Karena saat di sekolah semua makanannya di bayar full oleh Melinda dan malam ini Rania bisa makan enak bersama keluarga Alvaro, sebentar lagi keuntungan taruhan juga sepertinya akan di dapatkannya.
"Ahhhh senang sekali. " Batin Rania.
###
Keesokan harinya sepulang sekolah Rania segera menunggu Alvaro keluar dari ruangan guru untuk menanyakan maksudnya semalam saat Laura datang ke ruangannya dan Alvaro mengaku-mengaku kalau Rania adalah tunangannya, Rania juga harus memastikan Alvaro mau menjadi pacar pura-puranya selama satu minggu.
"Rania?. " Sapa suara seseorang.
"Eh gun?. " Rania membalas sapaan orang itu yang ternyata Gunawan.
"Kamu ngapain duduk disini?. " Tanya Gunawan yang memang sedang mencari-cari Rania sejak tadi dan ternyata gadis itu sedang duduk di bangku depan ruang guru.
"Nunggu pak Alvaro. " Jawab Rania.
"Hah ngapain nungfuin oak Alvaro? ada tugas? . " Tanya Gunawan lagi.
__ADS_1
Rania hanya mengangguk, gadis itu sedang malas berbicara dengan Gunawan.
5 menit berlalu Alvaro belum juga keluar dari ruangan guru, Rania sedang malas untuk masuk ke dalam, suatu guru yang lain memang sudah pulang tapi Rania lebih memilih untuk menunggunya saja di luar. Sementara Gunawan masih setia menemani Rania menunggu.
" Rania. " Panggil Gunawan lagi.
"Iya Gunawan?. "
"Pak Alvaronya udah pulang kali, aku anterin kamu pulang aja yuk. "
"Gak kok, ada di dalam tadi aku liat dia masuk, cuman belum keluar aja. "
"Hm yaudah deh aku temenin kamu nunggu aja. "
"Gak usah Gunawan, bentar lagi bakalan ujan tau kamu duluan aja entar aku bisa minta nebeng ke pak Alvaro. " Ujar Rania melihat cuaca sangat mendung saat ini. Rania tidak tega jika Gunawan harus basah-basahan demi dirinya.
"Gapapa kok Rania, kalau sama kamu mah hujan badai angin halilintar akan ku terjang. " Gombal Gunawan.
"Hahahaha bisa aja kamu. " Membuat Rania yang tadinya sedang bad mood sedikit senang.
Tidak lama kemudian Alvaro keluar, tanpa menengok ke arah Rania dan langsung menuju ke mobilnya.
Rania yang melihat itu sontak berdiri dan akan mengejar Alvaro.
"Gunawan, jangan lupa pake mantel yah entar kamu sakit kalau kena air hujan, Hati-hati yah aku mau ngurusin sesuatu dulu sama pak Alvaro. Dahh. " Teriak Rania ke Gunawan yang hanya bengong melihat kepergian Rania.
"Hah gagal lagi. " Gumam Gunawan merasa kecewa, tidak bisa mengajak Rania pulang bersamanya hati ini.
###
"Pak Alvaroooo. " Teriak Rania kepada Alvaro yang akan masuk ke dalam mobilnya.
Alvaro sontak berhenti dan melihat ke arah Rania yang berlari ke arahnya.
"Huhhhh aduhhhh capek. " Keluh Rania dengan nafas ngos-ngosan.
"Kenapa kamu Rania? lari kok kayak orang yang lagi di kejar setan aja, di siang bolong gini. " Alvaro kebingungan melihat tingkah Rania.
"Saya lagi gak di kejar setan pak, tapi saya yang ngejar bapak. " Ucap Rania kemudian setelah nafasnya sudah mulai normal kembali.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen, vote dan subscribe yah teman-teman untuk membantu author berkembang. Berkomentarlah sesuai isi cerita dan jika ingin promosi berikan komentar kalian terlebih dahulu terkait isi ceritanya. Terima Kasih, I love you guys.