
Episode sebelumnya...
"AKU TIDAK AKAN PERNAH KALAH, HAHAHA. " Rania berteriak sambil tertawa-tawa di dalam kamar mandinya. Sepertinya Rania memang memiliki kepribadian ganda (wkwkwk).
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Waktu sudah menujukkan pukul 18.00 namun Alvaro belum juga berada di dalam ruanngannya, Rania sendiri sudah sejak tadi mondar mandir melewati pintu ruang kerja Alvaro itu.
"Hmmm, apa orangnya gak datang ke rumah sakit yah?. " Gumam Rania berbicara dengan dirinya sendiri.
Karena merasa sudah sangat bosan satu jam terakhir menunggu Alvaro di dekat ruangan dokter itu, Rania memutuskan untuk pergi ke ruangan papanya, biasanya jam segini mama Rania juga ada di rumah sakit untuk membawakan makanan untuk papanya itu. Perut Rania juga sudah agak lapar lagi.
Rania berjalan-jalan santai sambil bersenandung-nandung ria lagu Ayu ting-ting.
"Di geboi-geboi mujair nang ning nung nang ning nung pak gulipak, bang dung ding, ser Mustofa oh Mus... .. " Rania menghentikan senandungnya karena melihat Alvaro yang sedang berjalan dari kejauhan menuju ke arahnya.
Rania segera memperbaiki penampilannya dan mengecek suaranya.
"Ekhem ekhem tes, tes, Halo pak Alvaro, ekhem tesss. " Rania mencoba membuat suaranya sebiasa mungkin.
Alvaro yang sudah semakin dekat dengan Rania, kini terlihat mempercepat langkahnya setelah menyadari bahwa Rania ada di lorong menuju ke ruangannya.
Rania bersiap-siap akan berbelo ke lorong yang lain agar seakan-akan dirinya tidak sedang menunggu Alvaro di lorong itu berharap Akvaro akan segera memanggilnya ketika melihatnya akan pergi.
Rania menghitung mundur di dalam pikirannya.
"3... 2...1..."
Dan benar saja.
"Raniaaaa, tunggu Raniaaaaa. " Teriak suara Alvaro memanggil namanya.
Rania berpura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan langkah kakinya, mengabaikan panggilan laki-laki itu.
"Rania, heii. " Teriak laki-laki itu sekali lagi.
Rania kemudian menghentikan langkah kakinya dan dengan gaya bak model iklan mengibaskan rambut bondingnya dan memutar tubuhnya menghadap Alvaro yang kini hanya berjarak tiga langkah darinya.
__ADS_1
"Bapak manggil saya?. " Tanya Rania seolah-olah tidak tau.
"Iya, ada yang mau saya omongin sama kamu. " Ucap Alvaro.
"Tapi, saya sedang tidak punya banyak waktu pak, sekarang, lain kali aja yah. " Rania tidak boleh asal nurut saja setelah diirinya di bentak oleh laki-laki ini beberapa minggu lalu, Rania masih merasa sakit hati kepada Alvaro.
"Tolong, lima menit aja. " Alvaro terluhat bersungguh-sungguh.
"Kena kau hahaha. " Batin Rania tertawa melihat Alvaro yang terlihat akan melakukan apa saja kali ini asal Rania mau berbicara dengannya.
"Oke, bicara saja disini. " Ujar Rania lagi.
Alvaro kemudian memperhatikan sekelilingnya, ada banyak orang yang sedang berlalu lalang akan sangat aneh jika kami-laki itu meminta maaf di depan banyak orang, sementara Rania yang memang sengaja ingin Alvaro meminta maaf kepadanya di tempat ramai tampak santai menunggu apa yang akan di katakan oleh laki-laki di depannya ini.
"Kita bicara di ruanganku saja, ayo. " Alvaro mengulyrkan tangannya kepada Rania kembuat gadis itu sontak memundurkan kakinya satu langkah.
"Tidak mau, aku mau disini saja, nanti bapak bentak-bentak saya lagi, sakit tau hati saya di gituin. " Rania kemudian mengeluarkan uneg-unegnya.
"Rania disini banyak orang gak enak di dengar orang. "
"Oh jadi bapak, malu? tapi kenapa waktu itu bapak gak malu yah bentak-bentak saya di tempat umum juga., jahat banget pak Alvaro ini. " Sindir Rania.
"Rania, saya cuma gak mau orang lain mendengar alasan kenapa saya menolak cinta ka... " Akvaro menghentikan omongannya karena Rania segera menarik tangan laki-laki itu menuju ke ruangannya.
Alvaro yang tangannya di tarik hanya pasrah saja mengikuti langkah gadis itu hingga sampai di depan pintu ruangannya.
"Ya udah buka. " Perintah Rania kepada Alvaro untuk membuka kunci ruangannya sendiri.
Alvaro mengeluarkan kunci dan membuka ruangan kerjanya itu lalu masuk ke dalam di ikuti Rania dari belakang.
Mereka berdua akhirnya duduk di atas sofa panjang tempat Alvaro biasa beristirahat dan tidur saat sedang lembur di rumah sakit.
"Rania." Panggil Alvaro.
Suasana di antaranya menjadi canggung karena sudah hlberminggu-minggu mereka tidak berkomunikasi.
"Jadi mau ngomong apa pak Alvaro? ini waktunya terus berjalan tau, waktu saya mahal loh pak, waktu adalah uang perut saya juga lagi lapar dan bapak saat ini sedang mengambil waktu saya. " Omel Rania.
"Oke Rania, pertama-tama bapak mau minta maaf sama kamu karena sikap bapak beberapa mi ggu yang lalu, bapak menyadari bahwa hal itu tidak pantas di lakukan seorang guru kepada muridnya, dan saya menyadari bahwa hari itu saya sangat salah karena membentak kamu di tempat umum. " Alvaro menghentikan sejenak omongannya.
"Saya minta maaf karena waktu itu saya sangat kasar dan sudah membentak kamu tapi... "
__ADS_1
Alvaro belum selesai bicara Rania langsung memotongnya.
"Oke saya bakalan maafin bapak tapi dengan satu syarat. " Ucap Rania dengan sangat percaya diri.
"Syarat?. " Alvaro mengernyitkan alisnya.
"Iya, syaratnya saya bakalan maafin oak Alvaro kalau bapak mau jadi pacar saya selama satu minggu. " Lanjut Rania.
"Hah?. " Akvaro yang mendengar itu sontak kaget karena beberapa minggu ini ia berpikir bahwa Rania mungkin sudah berubah pikiran dan tidak akan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal itu lagi, tapi ternyata masih sama saja.
"Rania, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. " Tegas Alvaro.
"Kenapa pak Alvaro? apa susahnya membalas dengan mengatakan iya. "
"Rania, kita ini guru dan murid, saya guru kamu dan kamu adalah murid saya, kita bagaikan orang tua dan seorang anak, tidak ada orang tua yang berpacaran dengan anaknya. "
"Siapa bilang bapak orang tua saya, emangnya bapak mau gitu sama mama saya? mendingan juga bapak milih saya dari pada mama saya yang udah tua. "
"Rania maksud saya bukan seperti itu tapi.... "
Belum sempat Alvaro menghentikan ucapannya terdengar suara ketukan di pintu.
..."tok.. tok.. tok.. "...
..."tok.. tol.. tok.. "...
"Tunggu sebentar saya buka pintu itu dulu. " Alvaro beranjak dari sofa dan membuka pintu ruang kerjanya.
Sedetik kemudian Alvaro terlihat terkejut melihat seseorang yang berada di luar pintunya, Rania yang melihat itu menjadi penasaran dan ikut berjalan ke pintu.
Rania ikut membuka pintu yang baru terbuka sedikit, sehingga pintu itu terbuka lebar dan menampilkan seorang perempuan dewasa yang sedang berdiri sambil membawa sebuah tentengan yang berisi buah-buahan di tangannya.
"Alvaro." Perempuan itu mengeluarkan suaranya dan perhatiannya langsung teralihkan oleh Rania yang juga tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Ayo masuk, ngapain bengong di pintu. " Rania mengeluarkan suaranya setelah merasakan ada suana yang canggung di antara kedua orang dewasa itu.
"Oh iya, silahkan masuk Laura. " Ucap Alvaro kemudian.
"Ah iya terimakasih. " Perempuan yang ternyata adalah Laura itu kemudian masuk dan Rania langsung mengarahkannya duduk di sofa dan langsung mengambil tentangan buah yang di bawa oleh Laura, Rania membuka bungkusannya dan mengambil satu buah apel dan langsung menggigitnya.
Alvaro masih terlalu, berdiri di tempatnya semula. Ia sungguh tidak berharap bahwa Laura akan datang ke tempatnya bekerja.
__ADS_1
Bersambung...
klik like, komen, vote dan subscribe untuk membantu author menjadi lebih berkembang. jika ingin promo harap berkomentar di postingan terbaru yah guys. Tolong kerja samanya. Terima kasih, i love you.