Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 63 : Canggung


__ADS_3

Episode sebelumnya....


Rania sendiri tidak menyangka jika dirinya bisa berkata seperti tadi kepada Alvaro.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Hari-hari berlalu seperti biasa, yang berbeda hanyalah Rania yang sudah tidak lagi pernah membuat kegaduhan di dalam kelasnya.


Bahkan beberapa minggu terakhir gadis itu terlihat sangat giat pergi ke perpustakaan yang biasanya waktu istirahat adalah waktu yang paling di senangi oleh Rania karena dirinya bisa bebas berlarian kesana kemari.


Bukan hanya teman sekelas Rania yang heran memperhatikan hal itu, Melinda sebagai sahabat terdekat Rania juga lebih heran lagi.


"Rania? Kamu kesambet apaan, beberapa minggu terakhir kok susah banget di ajak jalan-jalan, bosan tau aku kalau main ke rumah kamu, kerjaannya liatin buku aja. " Keluh Melinda, saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan daerah hal yang tak biasa Rania lakukan selama bertahun-tahun Melinda berteman dengannya.


"Aku mau fokus belajar. " Balas Rania.


"Hmmm itu mulu jawabannya. " Melinda merasa bosan mendengar jawaban Rania yang itu-itu saja.


"Ssssttt jangan berisik!. " Rania menempelkan jari telunjuknya ke bibir Melinda yang sebentar lagi pasti akan kembali mengomel.


###


Di tempat lain Alvaro sedang menikmati waktu luangnya dengan bersantai bersama mamanya di halaman belakang.


"Alvaro." Panggil Mamanya.


"Hmmm." Alvaro hanya bergumam.


"Jadi, kapan kamu mau bawa Rania kesini, perasaan udah lama banget mama Minta kamu buat bawa gadis itu kesini. " Ujar Mama Alvaro.


Perasaan Alvaro yang tadinya dalam keadaan tenang langsung gugup, tidak tau harus menjawab apa. Beberapa minggu lalu ia sudah mencoba untuk berbicara kepada Rania namun kesempatan untuk membawa Rania ke rumah Alvaro selalu saja tidak pernah tepat.


Setiap kali berbicara dengan gadis itu selalu berujung perdebatan. Alvaro bahkan sudah tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Rania beberapa minggu terakhir sejak gadis itu menyatakan perasaan kepadanya.


"Ranianya lagi sibuk, bentar lagi mau ujian nasional, mama. " Jawab Alvaro setenang mungkin.


"Ah banyak alasan kamu, besok biar mama aja yang ke rumah sakit, siapa tau dia ada datang, udah lama mama gak ngobrol sama dia. " Cecar Mama Alvaro sangat ingin bertemu lagi dengan Rania.


"Dia gak bakalan ke rumah sakit soalnya akhir-akhir ini lagi fokus belajar, mama gak usah gangguin anak orang yang lagi mau fokus belajar dong. " Alvaro terus-terussan mencari alasan agar mamanya tidak pergi menemui gadis itu.


"Hmm kamu agak ang deh Alvaro. " Mama Alvaro menatap curiga kepada anaknya itu.


"Aneh kenapa? Biasa aja kok. " Balas Alvaro.


"Mama dengar-dengar Laura udah cerai sama suaminya. " Ujar Mama Alvaro ia kini duduk di samping anaknya.


"Oh, masak sih. " Alvaro pura-pura tidak tahu.


"Awas lo kamu, Alvaro, bisa jadi dia cerai sama suaminya karena mau balik lagi sama kamu. " Ucap Mama Alvaro memberi tahu anaknya seperti ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi.


"Ah hahahaha gak mungkin lah, lagian si Laura itu juga pasti udah gak ada perasaan lagi sama aku, Mama ini ada-ada aja. " Alvaro menyembunyikan fakta bahwa Laura masih mengejar-ngejar diriny, Alvaro tidak ingin masalahnya semakin rumit jika mamanya tahu dirinya sudah putus dengan Rania dan akhir-akhir ini Laura sering menemuinya di rumah sakit.


"Kalau kamu gimana?. " Tanya Mama Alvaro, memandangi wajah anaknya.


"Gimana apanya Mama?. " Alvaro bertanya balik.


"Ya gimana perasaan kamu ke dia, awas yah kalau kamu balik lagi sama dia!kamu mau ngasih makan anak orang? anaknya Laura itu ada tiga, Mama gak sudi ngasih mereka makan apalagi kalau sampai harus ngebesarin mereka! Mama masih sakit hati sama ucapan mamanya Laura dulu, sakit banget hati mama!. " Oceh Mama Alvaro.


Mama Alvaro, mengenang saat dulu dirinya dan Pak Subroto memohon-mohon agar Alvaro dan Laura yang saling mencintai segera dinikahkan saja karena mereka berdua tidak ingin di pisahkan dan sudah sering pergi bersama.

__ADS_1


Namun, bukannya di terima dengan baik Pak Subroto dan Mama Alvaro malah di lempari garam, seakan-akan mereka adalah ular yang tidak di izinkan masuk ke dalam rumah.


Alvaro hanya diam mendengar cerita mamanya, ia sendiri sebenarnya tidak tau perasaannya saat ini.


Disisi lain ia kasihan melihat keadaan Laura saat ini yang tidak memiliki satu orang pun disisinya, sementara disisi lain ia juga sangat ingin membangun hubungan baru bersama Rania. Alvaro tidak ingin terus-terussan terjebak di masa lalunya.


"Alvaro, kamu dengarkan tadi Mama mgong apa?. " Mama Alvaro menepuk pundak anaknya yang sedang melamun.


Alvaro segera tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya ma aku dengar kok, tenang aja aku gak bakalan balik sama Laura lagi. " Alvaro menenangkan mamanya, gawat juga jika Alvaro memberi tahu mamanya tentang kebenaran yang sedang terjadi saat ini, bahwa Alvaro sedang membantu Laura, mamanya bisa serangan jantung mendadak karena kaget.


###


Keesokan harinya.


Rania yang baru saja keluar dari gerbang sekolahnya di kagetkan oleh suara klakson mobil yang singgah tepat di sampingnya.


"Sialan!. " Umpat Rania tanpa sadar, ia segera menutup mulutnya.


"Ya ampun mulutku berdosa banget. " Lirih Rania.


"Rania." Panggil seseorang yang berada di dalam mobil yang singgah tepat di sampingnya tersebut.


"Pak Alvaro?. " Rania sedikit heran, sejak dirinya menyatakan perasaannya beberapa minggu yang lalu, ia dan Alvaro sudah tidak pernah berkomunikasi lagi, namun saat ini laki-laki itu menyapanya.


"Ayo masuk, saya antar. " Teriak Alvaro.


Rania tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam mobil Alvaro.


Hening, suasana di dalam mobil itu terasa canggung.


"Rania.. "


Ucap mereka berbarengan.


"Kamu duluan aja.. . " Ujar Alvaro.


"Ah bapak aja yang duluan. " Balas Rania.


"Kamu kan perempuan jadi kamu aja yang bicara duluan. " Ujar Alvaro lagi.


Rania menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Suasana macm apa ini?." Batin Rania.


"Ah, hahaha pak Alvaro lagi ngapain?. " Tanya Rania basa basi, sebenarnya ia sendiri tidak tau apa yang ingin ia katakan kepada laki-laki itu.


"Ah bego, ya jelaslah dia lagi bawa mobil. " Batin Rania menyadari pertanyaan bodohnya.


Alvaro yang mendengar pertanyaan Rania, mengulum senyumnya.


"Kamu gak liat saya lagi bawa mobil. " Balas Alvaro, melirik ke arah Rania yang wajahnya saat ini sudah memerah karena malu.


"Hehehehe." Rania cengengsan.


"Kamu mau di antar kemana?. " Tanya Alvaro kemudian.


"Mau ke rumah sakit. " Jawab Rania.


"Tumben, beberapa minggu ini aku perhatiin kamu udah jarang banget kesana. "

__ADS_1


"Pak Alvaro, sejak kapan perhatian sama aku. " Goda Rania.


Alvaro melirik ke arah Rania sekali lagi, gadis itu sudah mulai usil kembali. Alvaro merindukan Rania yang selalu menentang ucapannya.


"Sejak kamu jadi sering diam dan gak pernah nyapa saya lagi. " Jawab Alvaro sambil tersenyum menatap wajah Rania sekilas.


Rania langsung berseri-seri mendengar ucapan Alvaro barusan.


"Dihh udah bisa ngegombal sekarang pak. " Sendir Rania.


"Yah kan kamu yang ngajarin. " Balas Alvaro.


"Idihhhh najissss. " Rania merasa geli mendengar ucapan Alvaro.


"Hahahaha." Alvaro tertawa mendengar ucapan Rania yang terkessn tidak sopan, tapi sejujurnya Alvaro lebih menyukai Rania yang seperti itu, apa adanya.


Mobil Alvaro melaju dengan kecepatan sesang di jalan Raya bersama kendaraan yang lain, tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di rumah sakit.


"Makasih yah pak, tumpangannya. " Ujar Rania, tulus.


"Iya sama-sama, Rania. " Jawab Alvaro.


Rania kemudian ingin bergegas turun dari mobil Alvaro , namun laki-laki itu menahan tangannya.


"Rania... " Panggil Alvaro.


Rania sontak menatap wajah Alvaro.


" I-iya pak?. " Jawab Rania, sedikit gugup.


Deg


Deg


Deg


Rania merasa jantungnya akan copot, jika Alvaro tidak segera melepaskan pegangan tangannya.


"Ah maaf Rania. " Alvaro yang menyadari jika Rania gugup segera melepaskan tangan Rania.


Suasana kembali canggung di antara mereka berdua.


"Saya mau bilang sesuatu sama kamu." Tutur Alvaro kemudian, memecah keheningan.


"Ya udah bilang aja pak. "


"Saya sudah memikirkan perkataan kamu beberapa minggu yang lalu... "


Rania semakin degdegan, perasaannya campur aduk, apakah hari ini ia akan di tolak?. "


"Saya pikir kamu ada benarnya juga, hari ini saya juga membuat sebuah keputusan yang besar di dalam hidup saya, Rania. " Lanjut Alvaro.


Rania menatap keluar kaca mobil, tidak siap jika ia akan di tolak oleh Alvaro. Ia sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari dan meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu bersedih jika Alvaro akhirnya tidak membalas perasaannya.


"Saya akan belajar membuka hati saya untuk kamu. " Lirih Alvaro.


Rania sontak terkejut, mendengar ucapan Alvaro dan mental wajah laki-laki itu.


"HAH?. " Rania memastikan pendengarannya barusan.


"Iya, saya akan membuka hati saya untuk kamu dan memperlakukan kamu lebih baik, saya akan menunggu sampai kamu lulus. " Ujar Alvaro memperjelas ucapannya.

__ADS_1


Bersambung...


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author.


__ADS_2