
Episode sebelumnya...
"Saya lagi gak di kejar setan pak, tapi saya yang ngejar bapak. " Ucap Rania kemudian setelah nafasnya sudah mulai normal kembali.
###
Happy Reading and Enjoy Guys..
###
Setelah mengucapkan hal itu Rania langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil Alvaro lalu duduk di kursi penumpang.
"Ayo pak masuk, kenapa bengong aja, tuh bentar lagi ujan pak. " Rania menurunkan kaca mobil dan menunjuk langit yang memang sudah sangat gelap sementara Alvaro masi berada di luar mobil.
Alvaro yang tersadar dari kebingungan nya bergegas masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya tersebut.
"Pak anterin aku pulang yah. " Perintah Rania.
"Hah? emangnya saya supir kamu, kamu ngapain naik mobil saya?. " Tanya Alvaro sinis.
"Kan aku tunangan bapak, bapak sendiri yang bilang kemarin. " Jawab Rania dengan percaya diri.
"Rania, saya ngomong gitu karena keadaan, bukan karena kita beneran tunangan, seharusnya di umur kamu yang udah segini mesti ngerti mana yang beneran dan mana yang cuman terpaksa.... "
"Oh jadi cuman terpaksa nih?. " Rania langsung menimpali perkataan Alvaro.
"Rania, maksud saya kita berdua nggak mungkin bisa punya hubungan lebih, saya guru kamu... "
"Dan kamu murid saya kita nggak mungkin bisa punya hubungan khusus. " Rania memotong ucapan Alvaro dan menyambung nya dengan kalimatnya sendiri mengikuti nada bicara Alvaro.
"Rania, yang kemarin itu saya terpaksa bilang begitu karena situasinya terdesak. " Alvaro mencoba menjelaskan posisinya lagi kemarin saat Laura datang ke ruangannya dan hanya itu yang bisa Alvaro katakan kepada Laura agar , Laura bisa melihat bahwa Alvaro juga bisa menemukan seseorang yang lain bukan hanya Laura saja yang bisa.
"Hmm ya udah kalau gitu kita bisa impas dong pak Alvaro. " Ucap Rania kemudian.
__ADS_1
"Bisa impas?. "
"Iya, karena kemarin saya udah bantuin bapak dan pura-pura jadi tunangan bapak, yah sekarang giliran bapak yang harus balas budi sama saya, buat jadi pacar saya selama satu minggu. "
"Hah?. " Alvaro terkejut mendengar ucapan Rania, padahal hal itu sudah didengarnya kemarin namun tidak menyangka Rania akan segetol ini untuk mengajak dirinya berpacaran.
"Ngapain terkejut sih pak, kan kemarin Rania udah ngomong sama bapak, gimana sih pak Alvaro ini. " Rania merasa sebal karena Alvaro begitu gampang melupakan permintaannya, sementara Alvaro sendiri dengan bebas dan tanpa kendala bisa segampang kemarin mengklaim dirinya sebagai tunangan di hadapan Laura.
"Rania, apa kata orang kalautina-tiba saya jadi pacar kamu, apa kata murid lainnya, apa kata guru? apalagi kalau sampai orang tua kamu tau. " Alvaro masih bersikeras menolak ajakan berpacaran Rania.
"Pak, Alvaro ini gimana sih, padahal kemarin udah di bantuin untung aja aku gak teriak kalau pak Alvaro bohong, padahal aku bisa lohemilih untuk mengatakan tidak dan bilang ke mbak-mbak Laura itu kalau pak Alvaro bohong, tapi sayaemilih untuk membantu bapak, tapi balasan Pak Alvaro ke saya kayak gini. " Rania merasa kecewa, berpikir bahwa rencananya akan lancar-lancar saja, namun nyatanya Alvaro tetap tidak bisa di luluhkan hatinya.
"Rania.... "
"Pak Alvaro ini kayaknya emang bukan manusia, gak punya hati banget, gak tau diri. " Rania yang merasa kecewa akhirnya menumpahkan kekesalannya dengan mengatai Alvaro lalu gadis itu turun dari mobil.
Lagi-lagi Rania meneteskan air matanya, entah mengapa Rania merasa sangat sensitif jika sudah berhadapan dengan Alvaro.
"Berengsek, sialan, gak tau diri!. " Umpat Rania menutup daun pintu mobil Alvaro dengan keras.
Seragam Rania sudah basah kuyup, setidaknya air hujan membantu menutupi air matanya, hatinya sudah terlanjur merasa kecewa.
"Rania, heiii masuk ke mobil kamu bisa sakit. " Teriak Alvaro yang berusaha mensejajarkan mobilnya dengan langkah kaki Rania yang sudah tidak berlari namun berjalan dengan cepat karena merasa kakinya yang pernah keseleo sakit lagi.
Rania tidak menghiraukan panggilan itu, ia
Merasa benci pada Alvaro yang tidak mau membantu dirinya.
Alvaro juga tetap berusaha mengikuti Rania dan akan mengantarkannya pulang sampai ke depan rumah gadis itu. Percuma saja Alvaro terus berteriak menyuruhnya masuk ke dalam mobil, panggilannya saja tidak dihiraukan oleh Rania yang seragamnya sudah terlanjur basah yah sudah sekalian basah saja semuanya.
12 menit kemudian, Rania sudah sampai di depan pagar rumahnya, kakinya sudah terasa sangat keram apalagi udara yang sejuk dan tubuhnya yang basah oleh air hujan yang dingin membuat kakinya semakin terasa sakit, Rania mengangkat kakinya dengan susah payah untuk masuk ke dalam rumahnya, sementara Alvaro masih mengejar Rania dan ikut membelokkan mobilnya ke dalam gerbang rumah Rania.
Bibi yang baru saja akan menutup pintu depan karena hujan yang semakin deras melihat Rania yang berjalan sempoyongan ke arahnya.
__ADS_1
"Ya ampun non Raniaaaa. " Teriak Bibi dan langsung membantu gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Buuuu, Buuuu, ini Rania badannya panas banget. " Teriak Bibi lagi mencoba memanggil Mama Rania yang berada di dalam rumah.
"Ssssshhhh." Rania hanya mendesis, merasa tubuhnya sangat dingin, kepalanya sangat berat dan tubuhnya sangat lemas. Gadis itu pingsan sebelum selangkah lagi dirinya mencapai daun pintu rumahnha, untungnya ada Bibi yang langsung menangkap tubuh Rania dan mengangkat Rania dengan susah payah masuk ke dalam rumah.
Alvaro yang melihat itu langsung keluar dari mobilnya dan berlari ke teras rumah Rania, Alvaro lagi-lagi merasa bersalah harusnya tadi dia tidak bersikap seperti itu kepada gadis tersebut.
"RANIAAA." Teriak mama Rania yang melihat anaknya sedikit di angkat oleh Bibi ke dalam rumah.
"Bantuin Bu, badannya non Rania berat. "
Mama Rania segera membantu Bibi namun karena tubuh Rania yang memang agak berat dan lebih tinggi dari mereka berdua membuat prosesnya sedikit sulit, tidak lama kemudian Alvaro muncul dari pintu dan langsung menggendong Rania seorang diri membuat Mama Rania dan Bibi kaget melihat kemunculan laki-laki itu secara tiba-tiba.
"Alvaro?. "
"Iya tante, ini mau di bawa kemana?. "
"Bawa ke kamarnya aja, di atas lantai dua searah sama tangga. " Mama Rania yang tersadar dari kekagetannya langsung mengarahkan Alvaro dan menuntuntun laki-laki itu ke kamar Rania dengan berjalan lebih dulu ke arah anak tangga.
Sesampainya di dalam kamar Rania langsung di baringkan di atas tempat tidurnya, Mama Rania langsung membuka pakaian anaknya itu u tuk segera di gantikan dengan pakaian kering.
Alvaro yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya dan berjalan ke sisi ruangan yang lain.
"Bibi ambil pakaian kering di dalam lemari." Perintah Mama Rania yang langsung diikuti oleh bibi.
Setelah mengganti pakaian Rania dengan pakaian yang lebih hangat, Mama Rania memeluk anak gadis itu.
Rania yang tubuhnya tiba-tiba menggigil membuat mamanya kebingungan, padahal dirinya sendiri adalah mantan perawat namun melihat anaknya yang sakit seperti ini membuat Mama Rania jadi kehilangan akal dan langsung berlari ke lantai bawah untuk mengambil kotak p3k yang ada di kamarnya dan tidak lupa untuk menghubungi suaminya agar segera pulang.
Alvaro yang melihat kondisi Rania, segera menyuruh bibi untuk menyediakan air hangat untuk mengkompres tubuh Rania, tidak lama kemudian Mama Rania muncul membawa kotak p3k berisi obat-obatan dan mendapati Alvaro sedang memeluk Rania mencoba menghangatkan gadis itu.
Mama Rania tidak langsung masuk dan hanya berdiri di depan pintu, sepertinya Mama Rania menyadari sesuatu di antara kedua orang anak muda itu.
__ADS_1
Bersambung...
Like, komen, subscribe dan vote untuk membantu author biar lebih semangat lagi. Terima kasih, I love you.